Chapter 99

1206 Kata

Tak ada yang berbicara satu sama lain sepanjang perjalan pulang menuju rumah Kahayang. Kahayang sendiri lebih banyak melamun menatap sisi kiri jalanan. Tangannya yang satu, menggigit kuku-kuku jemari tangannya, sedang tangan satunya mengetuk pahanya dengan gelisah. Pikiran Kahayang begitu penuh dengan kekalutan membuat gadis itu tak bisa tenang. Mobil tak bisa dilaju cepat, bahkan mobil sering terjebak pada kemacetan. Ini masih pagi dan kesibukkan jalanan masih saja menjadi momok meskipun ini sudah pukul setengah sembilan. Sambara berulang kali melirik ke arah Kahayang. Sejujurnya hatinya sangat iba. Bahkan hatinya meminta Sambara untuk mengatakan kebenarannya. Tetapi, isi kepala Sambara lebih berkuasa. Otak Sambara mengingatkan perihal sayembara, perihal luka masa lalu, dan perihal keba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN