Wajah Sambara tak bisa tenang. Tegang dan khawatir. Sembari menyetir, salah satu tangannya yang lain memegangi terus jemari Kahayang. Jemarinya bahkan tak melepaskan jemari Kahayang saat mengganti kopling. Tak sedikitpun Sambara mau melepaskan jemari Kahayang. Terus diremasnya dengan lembut jemari mungil yang terasa basah di telapak jemari Sambara. Sambara juga berkali-kali menatap wajah Kahayang yang begitu pucat dengan kedua mata yang terpejam. Sandaran tempat duduk sudah diturunkan, sehingga duduk Kahayang bisa sedikit pada posisi merebah. Setiap kali Kahayang bergerak untuk memperbaiki posisi, Sambara menjadi gugup. Sambara sudah tak memikirkan lain-lain, termasuk kemungkinan orang tua Kahayang yang akan sangat terkejut dan kemungkinan juga akan sangat marah melihat putri mereka pula

