Di dalam sebuah gedung bertingkat yang eksterior dindingnya sebagian besar adalah kaca, dengan bagian atas gedung terdapat tulisan S&E ENTERTAINMENT, kini Devandra tengah melakukan pertemuan dengan beberapa orang staffnya membicarakan agenda para selebriti dalam naungan agensinya tersebut.
“Ini adalah konsep iklan yang diminta untuk Rumi. Rumi nantinya akan mengenakan dress pendek yang membuat kaki jenjangnya terlihat indah saat mengenakan sepatu yang akan diiklankan. Saya yakin ini akan menjadi nilai jual yang tinggi bagi mereka, dan juga bagi agensi kita,” kata salah seorang staff pria yang ikut pertemuan bersama Devandra di ruang rapat.
Dahi Devandra mengernyit. “Tolak. Tidak ada yang boleh melihat kaki jenjang Rumi!” jawabnya dengan tegas.
“To-tolak? Tetapi ….”
“Suruh Adelio yang membintangi iklannya, jangan istri saya!” pungkas Devandra dengan cepat.
“Lio? Mana bisa, Pak. Ini kan iklan sepatu perempuan. Masa Adelio harus mengenakan dress pendek dan memakai high heels?” tanya pria tersebut yang tampak bingung.
“Y-ya … nggak apa-apa kan? Siapa tahu jadi banyak yang beli sepatunya kalau Lio yang membintangi,” sahut Devandra yang bersikeras agar Arumi tidak membintangi iklan tersebut. Devandra tidak akan terima jika kaki jenjang nan indah milik istrinya dipertontonkan secara close up.
“Lalu bagaimana dengan permintaan brand ambassador untuk salah satu produk skincare? Mereka meminta Rumi dan Lio yang menjadi brand ambassador mereka. Akan ada pemotretan secara berpasangan,” ungkap seorang staff wanita yang juga berada di dalam sana.
“Kalau itu bagaimana jika saya saja yang menggantikan Adelio? Bukankah lebih baik jika pasangan suami istri muda seperti saya dan Arumi yang menjadi brand ambassador? Saya yakin akan banyak pasangan suami istri yang akan membeli produk mereka.” Dengan sangat yakin Devandra mengajukan dirinya sendiri.
Seluruh staff yang tengah mengikuti rapat bersama Devandra langsung memberikan tatapan tak percaya setelah mendengar hal tersebut. Biar bagaimanapun Devandra hanya akan berusaha menjauhkan Arumi dengan Adelio. Dia beruntung sekali mempunyai kewenangan untuk hal tersebut. Akan tetapi berbeda bila Ibu Shanum, mamanya, berada di sana.
Sayangnya Ibu Shanum saat ini lebih sering menimang cucunya di rumah. Viola, balita berusia dua tahun, putri dari pasangan suami istri Devandra dan Arumi, cucu kesayangan Ibu Shanum karena masih menjadi satu-satunya.
“Okay! Rapat kita tutup di sini karena saya ingin kembali ke ruangan saya. Rumi pasti sudah menunggu saya,” ucap Devandra seraya beranjak dari kursinya.
Seluruh staff yang berada dalam ruangan hanya bisa menggaruk kepala mereka dan juga mengendikkan bahu mereka dengan sikap tidak profesional yang ditunjukkan oleh Devandra sebagai pemimpin. Devandra masih tidak profesional, membawa urusan pribadi ke ranah pekerjaan.
“A-ru-mi!” Dari arah pintu Devandra mengeja nama sang istri.
Arumi menolehkan kepalanya. “Loh, kamu sudah selesai rapat? Nggak buru-buru kan?” tanyanya.
“Nggak dong! Kan aku sudah hebat, jadi rapat juga selesai dengan cepat,” jawab Devandra.
Kedua mata Arumi memincing tajam. Arumi kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Devandra. Mendekatkan wajahnya menatap curiga pada sang suami.
“Yakin kerjanya sudah benar? Jangan sampai nanti Mama Shanum dapat aduan dari staff kamu lagi deh,” ujar Arumi.
“Kamu nggak percaya sama kinerja suami kamu? Wah kamu meremehkan aku, Rumi! Aku jadi merasa tersinggung nih.” Devandra memalingkan wajahnya dan juga mensedekapkan kedua tangannya.
“Terakhir kali kamu menukar jadwalku agar tidak melakukan kegiatan yang sama dengan Adelio. Apa sekarang juga begitu?” tanya Arumi.
Devandra menoleh cepat ke arah Arumu. Dia menelan air liurnya lalu tersenyum kikuk di hadapan sang istri.
“Benar kan?” Arumi menunggu jawaban Devandra.
“Ng-nggak kok!” jawab Devandra. “Justru sekarang aku dapat job bareng kamu. Lumayan kan kita bisa kerja bareng, Rumi sayang,” sambungnya.
“Kamu lupa kalau sudah pensiun dari dunia selebriti dan sekarang kamu bekerja sebagai pemimpin agensi S&E Entertainment? Mana bisa kamu menandatangani kontrak lagi, Dev!” Arumi mengingatkan Devandra dengan tegas.
“Loh kenapa nggak bisa?”
“Ya pokoknya nggak bisa!” tandas Arumi.
Kemudian secara tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Devandra secara kasar hingga menimbulkan suara yang membuat Devandra dan Arumi terperanjat.
“Apa-apaan ini, Dev! Masa iya lo kasih gue job jadi model sepatu high heels wanita! Lo kira gue cowok apaan, Dev?!” Adelio memasuki ruangan seraya menghujani Devandra dengan omelan.
Di belakang Adelio tampak Ghani menggaruk kepalanya kebingungan harus berbuat apa untuk mencegah pertengkaran antara Devandra dan Adelio agar tidak terjadi.
“Itu pengalaman baru loh buat lo, Adelio. Belum ada selebriti pria yang melakukan itu,” ungkap Devandra seolah meledek pria tersebut.
“Ya tentu saja tidak ada! Tidak ada pria yang memakai sepatu hak tinggi!” balas Adelio dengan lantang.
“Devandra! Kamu buat masalah lagi ya!” Suara Arumi menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Sontak saja mulut Devandra seketika terbungkam. Tak hanya Devandra, tetapi juga dengan Adelio dan Ghani. Ketiga pria itu membeku. Ketakutan dengan aura menyeramkan saat Arumi dikuasai oleh amarah.
“Devandra, kita selesaikan semua ini di rumah!” tegas Arumi pada suaminya.
“Rumi, jangan bilang kalau kamu mau ….” Devandra menggantung kalimatnya. Senyum dari bibirnya mulai terbit.
“Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Justru aku akan mengadukan semua ini sama Mama Shanum biar kamu mendapat hukuman!” sanggah Arumi atas pemikiran yang tidak-tidak dari suaminya.
“Diadukan ke Mama? Jangan, Rumi! Jangan adukan lagi ya atau nanti kontrak Adelio akan kubuat menjadi bintang iklan pakaian renang wanita!” ancam Devandra.
Mendengar hal tersebut Adelio langsung mengerling tajam dengan dahi mengernyit ke arah Devandra.
“Enak saja lo! Jangan sembarangan deh kalau mau ngasih kerjaan tuh!” geram Adelio.
Arumi melangkah menghampiri Adelio. “Lio, ayo ikut aku mengadukan Devandra!” ajak Arumi kemudian.
Adelio tersenyum lebar dan menjawab, “Ayo!”
Arumi dan Adelio kini berjalan berdampingan keluar dari ruangan tersebut. Devandra menjadi kebingungan. Dia memanggil-manggil nama sang istri.
“Rumi! Arumi! Kamu jangan gitu dong!”
Kemudian Devandra menarik lengan Ghani dan memintanya untuk segera mengejar Arumi beserta Adelio.
“Ghan, jangan diam saja dong! Cepat kejar mereka berdua!” perintah Devandra.
“Iya, Bos!” jawab Ghani.
“Kejar sampai dapat ya. Awas saja kalau nggak dapat, gaji lo bakalan gue potong!” ancam Devandra.
“Duh, jangan dipotong dong. Makin tipis aja deh gaji saya dipotong sana-sini,” keluh Ghani. Ia pun langsung mengejar Arumi dan Adelio sesuai dengan perintah Devandra.
"Non Rumi! Lio! Berhenti!"
***
Sementara itu di tempat lain, Adelia terlihat mengunjungi sebuah restoran tempat di mana seorang pemuda bekerja. Manager restoran muda yang tidak lain adalah mantan kekasihnya.
Adelia sudah bersusah payah sembunyi-sembunyi pergi dari lokasi pemotretan kakak kembarnya. Gadis itu tidak mau jika sang kakak memberondongnya dengan banyak pertanyaan jika izin terlebih dahulu.
“Selamat datang! Untuk berapa orang?” Seorang wanita mengenakan seragam pelayan menyambut Adelia saat masuk ke restoran.
“Hmm … untuk satu orang saja,” jawab Adelia.
“Mau di lantai atas atau di bawah?” tanya pelayan tersebut.
“Di bawah saja, dekat jendela ada?” Adelia menanyakan kursi yang biasa ia tempati saat beberapa tahun yang lalu.
Pelayan tersebut pun mengantarkan Adelia ke meja kosong dekat jendela. Adelia mengikuti sambil mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.
“Silahkan duduk,” kata pelayan tersebut setelah menarik kursi untuk Adelia.
“Terima kasih.” Adelia melemoar senyum pada sang pelayan lalu duduk di kursi tersebut.
“Ini menunya silahkan dilihat-lihat dulu. Jika ingin pesan, ada teman saya berjaga di sana.” Pelayan tersebut menunjuk seorang pelayan wanita lain yang berdiri tak jauh dari temoat Adelia duduk saat ini.
“Oh, okay! Terima kasih ya,” ucap Adelia.
Setelah sang pelayan pergi, Adelia melihat-lihat buku menu yang diberikan oleh pelayan tersebut. Sedikit banyak menu di restoran tersebut berubah. Ada nama-nama menu yang baru dilihat oleh Adelia.
“Permisi, apa sudah siap pesan?” tanya seorang pemuda yang kini sudah berdiri di samping Adelia.
“Iya, sudah. Saya mau yang ini,” tunjuk Adelia pada sebuah gambar di buku menu tersebut.
“Baik, sudah saya catat. Apa ada pesanan lain lagi? Untuk minumnya saya sarankan anda memesan orang juice yang sangat menyegarkan,” saran pemua tersebut.
“Ide bagus!” jawab Adelia seraya menolehkan kepalanya pada sang pelayan.
Namun, kemudian Adelia tampak terkejut hingga kedua matanya membesar dan mulutnya menganga. Tubuhnya juga sedikit ditarik mundur agar tidak terlalu dekat dengan pemuda tersebut.
“Rangga!” Adelia menyerukan nama pemuda tersebut.
Rangga menyunggingkan senyum lembut pada gadis di hadapannya itu. “Adelia, akhirnya kita berjumpa lagi.”
Adelia mematung. Ia tergugu. Padahal tujuan ia datang ke sana karena ingin bertemu dengan Rangga. Akan tetapi setelah orangnya sudah ada di depan mata Adelia malah tidak bisa berkata-kata. Adelia bahkan bisa mendengar degupan jantungnya yang seperti berkejaran.