“Okay! Satu … dua … tiga! Good! Lio kamu coba tatap Rumi, tapi Rumi menatap ke langit. Good, seperti itu. Satu … dua … tiga! Nice!” Sang fotografer tampak penuh semangat.
Adelio dan Arumi mengikuti arahan gaya dari fotografer agar bisa mendapatkan hasil foto yang bagus dan memuaskan. Tema yang diusung untuk pemotretan kali ini adalah Taman Surga. Adelio dan Arumi berhasil memerankan bidadari dan malaikat yang tampak sangat cantik dan rupawan. Sang fotografer meyakini jika majalah yang akan menerbitkan hasil foto mereka akan meledak di pasaran.
Sementara itu dari sisi area pemotretan tampak Adelia sibuk dengan ponselnya ikut memotret Adelio dan Arumi.
“Waahh … mereka benar-benar luar biasa! Aku iri sama mereka.” Adelia memuji kakak kembar dan juga sahabatnya.
“Kalau kamu mau, kamu masih boleh kok gabung di S&E Entertainment. Ibu Shanum pasti senang,” ajak Ghani yang berdiri di sebelah Adelia.
“Nggak mau ah,” tolak Adelia dengan cepat. “Aku mau jadi orang biasa saja. Si Lio yang jadi selebriti saja juga aku pasti direpotkan nantinya. Jadi aku tidak mau tambah repot,” tambahnya.
“Kenapa repot?” tanya Ghani bingung.
Adelia kemudian menurunkan ponselnya. Memutar tubuhnya menghadap pada Ghani.
“Kamu jangan pura-pura lupa, dulu bagaimana aku harus menyembunyikan pernikahan Arumi dengan Devandra. Sekarang sudah pasti jika Lio mempunyai kekasih maka aku pasti ikut terlibat. Jadi, bagaimana jika aku ikut menjadi selebriti? Sudah pasti semakin merepotkan saja,” jelas Adelia panjang lebar.
Tidak terlalu mengerti dengan ucapan Adelia, Ghani hanya mengernyit bingung sambil menggaruk kepalanya.
“Lagipula kalau jadi selebriti nantinya aku semakin sulit bertemu dengan Rangga,” lanjut Adelia dengan suara pelan.
“Eh? Siapa? Rangga? Kamu sama Rangga bukannya sudah putus?” berondong Ghani.
“Sssttt!!!” Adelia meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. “Jangan berisik deh! Jangan sampe Lio dengar, nanti dia marah-marah kayak nenek-nenek!” serunya menambahkan.
“Nenek-nenek? Kakek-kakek kali, Lia. Adelio kan cowok!” Ghani mengoreksi ucapan Adelia.
“Sama aja! Sudah deh jangan berisik ya,” kata Adelia dengan tatapan mengancam.
Di tengah perdebatan antara Adelia dan Ghani, pemotretan pun berakhir. Beberapa staff mengulurkan tangannya pada Arumi untuk membantunya. Namun, Adelio langsung menggandeng tangan Arumi tanpa perlu menunggu izin darinya.
“Aku bantu, Rumi. Ghani ada di sana.” Adelio mengarahkan dagunya ke tempat Ghani dan Adelia berada.
“Makasih ya, Lio,” ucap Arumi.
Dengan penuh perhatian Adelio menggandeng tangan Arumi dan mengantarkan wanita itu menghampiri Ghani. Hal tersebut membuat Adelia memincingkan matanya tajam.
“Aku harus buru-buru mencari pacar untuk Adelio. Kalau tidak menemukan yang baru, akan kubuat Adelio dan Quinsha balikan,” cetus Adelia pelan.
“Ghan, kamu bantu Arumi saja dulu. Aku akan menyusul nanti bersama Adelia,” kata Adelio saat ia dan Arumi sudah berada di hadapan Ghani.
Ghani pun menjawab, “Oke!” Kemudian Ghani memberikan lengannya pada Arumi. Dilingkarkan tangan Arumi pada lengan Ghani. “Yuk, Non. Aku anterin ke ruang ganti. Nanti sepulang dari sini kita mampir ke agensi dulu nemuin Bos Dave,” celoteh Ghani kemudian.
Kini tinggalah Adelia dan Adelio berdua di sisi area pemotretan. Mereka berdua berdiri saling bersebelahan. Adelio tampak melemparkan pandangannya lurus ke depan diikuti oleh sang adik.
“Lio, memangnya benar-benar tidak bisa kamu melupakan perasaanmu pada Arumi?” tanya Adelia secara tiba-tiba.
Adelio menolehkan kepalanya pada sang adik lalu membantah ucapannya. “Ah, apaan sih kamu, Lia! Jangan bahas yang aneh-aneh deh. Perasaanku sama Arumi juga biasa saja kok.”
Kemudian Adelia melihat ponselnya. Menggulir layar ponsel mencari sesuatu di sana. Setelah dia menemukan sesuatu yang ia cari, ia langsung memperlihatkannya pada Adelio.
“Ini apa? Dari cara kamu menatap Arumi saja sudah sangat jelas kalau kamu masih mempunyai perasaan sama dia.” Adelia menunjukkan foto ketika Adelio menatap Arumi saat pemotretan tadi.
“Kamu itu aneh ya, Lia. Konsep pemotretannya kan memang seperti itu. Fotografernya juga yang mengarahkan gayanya tadi. Kamu dengar kan?” Adelio berkelit.
“Sudahlah, Lio. Kita ini kembar. Jadi, aku masih bisa membaca apa isi hati kamu. Nggak perlu berbohong segala.” Adelia mendekatkan wajahnya dan memincingkan matanya pada Adelio.
Sulit mencari-cari alasan lagi pada akhirnya Adelio menghindari Adelia. Pemuda itu berjalan menuju ke arah Arumi dan Ghani pergi tadi.
“Tuh kan dia kabur!” gerutu Adelia. Kemudian Adelia pun menyusul kakak kembarnya itu.
***
Di sebuah restoran dua lantai yang cukup mewah kini seorang manager muda tengah membantu pelayan lainnya membawakan makanan yang dipesan oleh pengunjung di sana. Di lantai dua restoran tersebut terdapat sebuah televisi layar datar yang bisa ditonton oleh pengunjung. Dari televisi tersebut baik sang manager muda, pelayan, dan juga para pengunjung kini bisa melihat iklan yang dibintangi oleh Arumi dan Adelio memperomosikan restoran tersebut.
“Hey, lihat! Itu si tampan Lio kan? Wah … semakin hari dia semakin tampan ya,” kata salah satu pengunjung wanita di lantai dua restoran tersebut.
“Itu juga Rumi semakin cantik dan anggun. Aku yang perempuan saja seperti jatuh cinta melihatnya,” ucap wanita lainnya di sana.
Popularitas Arumi dan Adelio sedang bersinar terang. Semua ini mereka dapatkan dengan tidak mudah. Nama mereka berdua memang awalnya dikenal karena skandal yang terjadi beberapa tahun lalu. Pada waktu itu Arumi dan Adelio bukanlah siapa-siapa. Namun, karena mereka berdua diketahui sangat dekat pada saat pernikahan Arumi dan Devandra terbongkar maka pihak agensi yang menaungi mereka memutuskan untuk mendebutkan mereka berdua sebagai artis. Sementara Devandra memilih mundur, dan kini dia memilih untuk mengurus agensi yang disebutkan tadi.
Skandal yang terjadi pada waktu itu tidak hanya melibatkan Arumi, Adelio, dan Devandra saja, tetapi juga manager muda di restoran tersebut. Rangga.
“Permisi, ini pesanan anda. Selamat menikmati.” Rangga meletakkan pesanan sang pengunjung dengan senyum di wajahnya.
“Iya, terima kasih,” kata pengunjung tersebut. Akan tetapi matanya tidak melihat ke arah Rangga. Matanya sibuk memperhatikan layar televisi.
Rangga melihat ke arah layar televisi sama seperti yang lainnya. Kemudian tersungging senyum di wajah tampan Rangga. “Lama kita tidak bertemu ya, Rumi,” gumamnya.
Kemudian Rangga melangkahkan kaki menuruni anak tangga dengan membawa nampan kosong di tangannya. Tiba-tiba ponsel yang berada di saku celananya berdering. Dengan sigap Rangga merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Di layar ponselnya ia bisa melihat jika Devandra menghubunginya.
“Halo, Dev!” sapa Rangga saat menerima panggilan telepon dari Devandra.
“Rangga, lo sudah tahu kan kalau Adelia sudah balik ke Jakarta?” tanya Devandra di seberang sana.
Langkah kaki Rangga terhenti seketika. “Gue nggak tahu. Kapan dia balik?”
“Kemarin. Masa nggak ada kabarin lo sih? Adelio nggak bilang?” Devandra terdengar tidak mempercayainya.
“Gue kurang akur sama Adelio,” jawab Rangga.
“Arumi nggak kasih kabar juga? Eh, sorry gue lupa kalau gue hapus nomor lo di ponsel Arumi. Hehehe …,” kekeh Devandra.
Meski kedua pria itu sudah cukup akrab, tetapi Devandra masih menyimpan kecemburuan padanya. Karena Devandra pernah merasa hampir kalah darinya saat memperebutkan Arumi.
“Nanti gue coba hubungi Adelia. Semoga dia nggak mengganti nomor ponselnya,” pungkas Rangga seraya mengakhiri panggilan teleponnya.
Setelah itu Rangga langsung mencari kontak Adelia. Menekan tanda berwarna hijau di layar ponselnya untuk mengirim panggilan telepon. Akan tetapi sangat disayangkan panggilan tersebut tidak tersambung pada Adelia. Nampaknya Adelia sudah mengganti nomor ponselnya setelah sekian lama mereka berpisah.
“Ya ampun, Adelia, kamu benar-benar tidak ingin berhubungan lagi denganku? Apakah aku sungguh sangat menyakiti perasaanmu sampai-sampai kamu memutuskan hubungan kita? Memutus komunikasi kita juga?” lirih Rangga yang tampak sendu.
“Pak Rangga, ada sedikit masalah di kitchen.” Seorang pelayan memanggil Rangga. Mengajaknya pergi ke dapur karena ada masalah di sana.
Rangga pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Dia kembali memfokuskan pikirannya pada pekerjaannya.
Apakah yang sebenarnya pernah terjadi pada hubungan Rangga dengan Adelia? Mereka pernah bersama lalu berpisah karena suatu hal. Apakah yang membuat Adelia begitu sakit hati terhadap Rangga?