Tak Sadar

1003 Kata
Derin masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Rasa lelah langsung merasukinya saat itu hingga kepalanya berbaring di meja dengan tas yang menjadi bantal. Dia sedikit bangun untuk mengeluarkan aerphone hitam dari dalam tas kemudian memasangnya. Lepas itu Derin kembali berbaring ke tempat semula dengan nyaman. Music yang dia dengarkan membuatnya sedikit tenang hingga matanya terpejam menikmati. Namun, ketenangan itu terganggu ketika suara tepukan meja yang keras hingga Derin bangun dengan kaget. Dia menatap pelaku perusak suasana itu dengan tatapan membunuhnya. "Lo mau mati, hah?" Ketus Derin menendang tulang kering laki-laki yang sedang cecengsan setelah puas mengusiknya. Tapi, sekarang wajah laki-laki itu sedang menahan sakit karena ulahnya. "Hahaha, haduh, sakit Bro!" Tawa Cakra di sertai ringisan yang keluar dari bibirnya. "Assalamualaikum, Pa kabar nih? Rindu gue gak?" Menyapa Derin dengan wajah ceria seperti biasanya. Ini adalah pertemuan pertama mereka kembali setelah tidak berjumpa untuk waktu yang cukup lama. Suara itu kembali menganggu ketenangan sosok Derin dengan kedatangan Cakra manusia si pengganggu. Laki-laki itu beberapa hari tidak masuk ke kampus karena suatu urusan penting dan sangat mendadak, menyebabkan dia izin selama 2 Minggu mengikuti perkuliahan lewat daring. "Urusan Lo udah selesai? Gue kira Lo niat pindah kampus sekalian." Derin mendapat sebuah tinjuan telak di bahu kirinya dari Cakra karena ucapannya, "Lo lupa gue ini wakil ketua BEM, tanpa gue Lo hanya punya kepala tapi gak ada kaki. Gue masih di butuhkan!" Derin balas tertawa dengan ekspresi wajah yang puas karena melihat Cakra yang kesal dengan ucapannya, "Santai kali, gue cuman bercanda." Dan percakapan itu berakhir saat kedua orang itu saling diam. Tapi, anehnya mereka masih bertatapan mata meski mulut mereka rapat. Tak lama sebelah kening Cakra terangkat seperti seorang detektif yang mendapatkan sebuah bukti. "Gue perhatikan kok, Lo ada yang beda ya?" Kini giliran Derin yang mengangkat sebelah alisnya setelah menerima pertanyaan aneh dari temannya, "Maksud Lo?" "Aneh aja gue perhatiin Lo kok, makin ganteng aja tiap harinya? Lebih ganteng dari gue lagi. Apa jangan-jangan pelet Lo nambah ya?" Plak! Sebuah jitakan meluncur mulus di kepala Cakra ketika itu juga. Derin memasang wajah jengah setelahnya, "Jangan gadi-ngadi Lo!" Dan di akhiri dengan tawa membahana dari Cakra. Laki-laki itu menepuk pundak Derin sejenak lalu berjalan menuju ke tempat duduknya tepat di belakang bangku Derin. Ketika Derin hendak membaringkan kepala ke tasnya, suara panggilan Cakra kembali menganggu. Diapun dengan terpaksa menoleh ke belakang. "Hm, Lo baru datang udah mancing War, ya?" "Hehe ... Gue cuman mau minta kue coklat buatan adik senior kita yang ada di meja Lo itu. Sudah lama gue gak makan itu lagi, boleh gue ambil kan?" Lirikan mata Cakra yang tertuju pada tempat bekal di atas meja Derin, membuat Derin ikut menatap kotak bekal biru langit yang tidak tersentuh olehnya sejak tadi. Benda itu tak pernah absen walaupun kenyataannya Derin sama sekali tak memakannya. Dia hanya memberikannya pada teman-teman sekelasnya untuk menghabisinya secara percuma dan setelah itu, dia menyimpan kotak bekal tersebut di meja dalam keadaan kosong. "Oi, boleh gak? Atau Lo udah gak mau bagi-bagiin lagi kue coklat buatan Nanna, iye?" Cakra menoel bahu Derin untuk menyadarkan laki-laki itu. Tapi karena tak ada respon, Cakra mulai curiga dan matanya menyipit. "Wah, wah jangan-jangan tebakan gue bener lagi. Lo dah mulai suka sama Nanna bener, kan?" "Ck ... " Derin tertawa geli lalu mengambil kotak bekal itu. Kini benda tersebut berpindah ke meja Cakra. "Gak bakal terjadi. Nih, ambil aja semuanya, gue gak suka!" Derin langsung berbaring di meja dengan menyumbat kedua telinganya dengan earphone. Cakra mengedipkan mata beberapa kali tampak seperti orang yang tidak percaya. Namun, mungkin dugaannya masih salah sampai sekarang. Derin takkan membuka hati untuk gadis manapun. "Derin, Derin, betah amat Lo nge Jomlo." *** Tiga hari berlalu dan acara besar Dies natalis fakultas ilmu komunikasi semakin dekat. Namun, yang Nanna lakukan masihlah harus merevisi surat undangan yang dia perbaiki tadi malam. Dan lagi-lagi semua atas dasar kemauan dari Ernan, Si ketua himpunan yang tidak ada habisnya menyuruh ini dan itu. Padahal Nanna yakin sekali dia telah memperbaiki kesalahan penulisan surat seperti kata Ernan, tapi laki-laki itu tetap mendapati kesalahan sekecil apapun itu untuk di perbaiki lagi. Hingga Nanna berpikir, apa dia sedang di permainkan? Seperti siang ini, Nanna sedang jalan berdua bersama Ernan yang sedang memakai pakaian olahraga berwarna hitam, karena laki-laki itu hendak menuju ke lapangan basket untuk latihan seperti biasanya. Jadi, otomatis Nanna yang sedang konsultasi mengenai surat undangan itu pun ikut pergi ke lapangan basket. Sepanjang perjalanan Ernan begitu fokus melihat surat hasil revisi dan Nanna setia mengikuti dari samping. Tak ada percakapan yang terjadi hingga saat ini mereka berdua sampai di ruangan latihan basket umum. Secara bersamaan langkah mereka berhenti di pintu masuk. "Udah bener kan, Kak?" Nanna sudah bosan menunggu. Jadi dia putuskan untuk bersuara agar laki-laki itu sadarkan diri. Setelah sekian lama menunduk akhirnya Ernan mengangkat kepala dan melirik ke arah Nanna, "Yakin kamu udah revisi surat ini? Kok, gue lihat ini sama saja seperti surat kemarin, gak ada yang berubah." Seketika Nanna melotot di tempat, apa Katanya? Tidak ada yang berubah? "Ini surat baru, aku udah ganti kesalahan kemarin serius Kak." Ernan melirik ke dalam lapangan yang terlihat ramai dengan banyak laki-laki lain dari fakultas mereka yang ikut bermain basket. Ada juga beberapa mahasiswa/i yang menjadi penonton. "Masuk ke dalam, biar gue jelaskan mana kesalahan yang Lo belum ganti." Ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam, menuju ke lapangan basket. Dan yah, Nanna dengan patuh ikut masuk. Mereka berdiri di pinggir lapangan dan kefokusan gadis itu seketika berpindah yang awalnya menatap wajah Ernan kini menatap laki-laki yang sedang berada di tengah lapangan basket. Benar, dia Derin. Saat ini laki-laki itu sedang menatapnya dari jauh. "Oh, ya Tuhan. Dia menatapku? Serius? Apa dia cemburu melihatku berdua dengan kak Ernan? Itu artinya rencanaku berhasil iya kan?" Nanna menggigit bibir bawah menahan teriakan keluar dari bibirnya. Hatinya yang tadi di penuhi rasa kekesalan terhadap Ernan, sekarang sedang berbunga-bunga dan malah berterima kasih dalam hati pada Ernan. Tangannya berkeringat dingin, yang berarti dia sedang gugup sekaligus senang tak terkira. Ini suatu kemajuan yang bagus! -Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN