Sapaan menyeramkan

1018 Kata
Puk! Sebuah kertas menepuk wajah itu hingga sang empu melunturkan senyum malu-malunya ketika itu juga. "Lo kenapa senyum-senyum kagak jelas kayak gitu? Gue lagi marah karena pekerjaan Lo yang gak beres ini, malah seneng lagi!" Omel Ernan. Nanna menormalkan eskpresi wajahnya dan tersenyum kecil, "Ma-Maaf Kak ..." Meminta maaf dengan gaya imut. Matanya di buat bulat dan seimut mungking. Nanna tak lupa mengedipkan matanya. "Nih bocah kenapa dah," Ernan geleng-geleng kepala dengan tingkah Nanna yang berubah aneh. "Udah, udah, gue mau latihan. sekarang juga Lo beresin surat ini dan antar ke kelas gue besok pagi-pagi. Gue udah beri tanda kesalahan Lo di mana jadi gak ada alasan Lo salah lagi." Ucapnya dengan nada serius. Tapi hal yang dia lihat sekarang malah membuat Ernan tak habis pikir, lihatlah Nanna tetap menatapnya dengan tatapan seperti tadi. Tak tahan lagi akhirnya Ernan menyentil kening gadis itu cukup keras hingga terdengar bunyi. Pletak! "Aduh, sakit Kak ... Kok, di sentil sih?" Ringis Nanna mengelus-elus keningnya yang mungkin telah memerah saat itu. "Makanya kalau orang bicara tuh di dengerin! Lo dengar apa yang gue ucap tadi apa enggak?" Nanna langsung diam dan otaknya mendadak beku. Matanya ke sana kemari seakan mencari tahu tentang apa yang tadi di katakan Ernan. Sungguh Nanna tidak mendengarnya di karena sibuk menjalankan rencana untuk bertingkah menggemaskan di depan Ernan agar Derin menganggap mereka sedang mempunyai hubungan spesial. "Hehehe ... " Plak! Cengengesan dari Nanna mendapat pukulan ringan kertas surat yang di pegang Ernan, "Untung stok kesabaran gue masih ada, Nan. Kalau enggak ... " Nanna was-was dengan tatapan elang si ketua himpunan yang bagai ingin melahapnya hidup-hidup. "Ampun, Kak. Janji Nanna akan dengerin kok." "Ernan, Lo mau latihan apa pacaran? Buruan ke sini woi!" Suara teriakan nyaring dari salah satu laki-laki pemain basket membuat Ernan mengalihkan pandangannya ke laki-laki itu. Ternyata laki-laki yang berteriak tadi adalah Cakra. Ernan menghela napas, memberi kode dengan tangan seperti mengatakan 'Tunggu' untuk teriakan Cakra. Ernan balik menatap si gadis cantik itu, dan dengan cepat menjelaskan apa yang dia ingin sampaikan. Setelah merasa semua selesai dia menyuruh Nanna untuk pergi. "Udah dengar kan? Sekarang Lo boleh kembali ke kelas, jangan lupa selesai tugas Lo cepat karena gue gak mau tau besok udah sempurna oke?" "Siap, Kak. Nanna janji!" Memberi hormat. Ernan mengangguk lalu mengusir Nanna dengan gerakan tangan, kemudian dia masuk ke dalam lapangan dan ikut bergabung dengan yang lain. Pandangan Nanna kembali pada Derin yang tak lagi menatapnya. Laki-laki itu telah sibuk bermain basket dengan teman-temannya. Tapi, tak apa. Nanna mengingat bagaimana tadi Derin sedang memperhatikan dirinya. Setidaknya dia sudah sedikit berhasil. Gadis itu berjalan mundur tanpa mengalihkan pandangan dari Derin, tujuh langkah kemudian barulah dia membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa melunturkan senyumannya sedikitpun. Di saat Nanna telah lenyap, bersamaan dengan itu Derin menatap jejak hangat Nanna yang telah pergi. Tatapan yang tak bisa di artikan sama sekali, karena pandangan Derin tetap sama seperti pertama kali bertemu Nanna. Mungkin hanya orang-orang tertentu yang bisa membaca arti dari tatapan tersebut. Bola di tangan Derin di rebut paksa oleh seseorang, "lo ada masalah apa? Akhir-akhir ini sering banget melamun. Kerasukan tau rasa Lo!" Cakra memeletkan lidah sebelum membawa bola tersebut menuju ke ring musuh. *** "Uh, akhirnya aku bebaaaass!" Teriak gadis yang baru keluar dari kelas seniornya. Yah, dia bebas dari tugasnya beberapa hari ini. Sebagai sekretaris kegiatan yang mengurus surat undangan, di mana dia harus memperbaiki setiap kesalahan mulai dari A-Z. Tapi, hari ini lelahnya terbayarkan, tugasnya selesai. Nanna baru saja mengantarkan surat-surat undangan ke kelas Ernan pagi itu, jadi dia tak punya urusan lagi dia akan menjalankan rutinitas paginya yaitu, pergi ke kelas Derin dan mengantarkan kue coklatnya. Saat tiba di pintu kelas tersebut, hal yang biasanya tidak dia lihat sekarang ada di hadapannya. Yah, sosok Derin sedang duduk di kursinya. Laki-laki yang sedang fokus mendengarkan musik dari aerphone miliknya, terlihat sangat menawan. Mata coklak indah itu, tertutup bagai menikmati apa yang sedang laki-laki kerjakan. Tanpa Nanna sadari dia telah menggigit jempol jarinya gemas sekaligus berbunga-bunga. Sangat jarang dia bisa menikmati keindahan ciptaan tuhan yang satu itu. Bahkan jika mereka bertetangga Nanna tidak pernah melihatnya. 'Nan, tujuan kamu ke sini untuk antar kue kan? Yaudah antar, sebentar lagi jam masuk matkul pertama!' tiba-tiba sebuah suara terdengar di pikirannya sekaligus menyadarkan gadis itu dari kegiatannya. "Eh, iya, ya. Aku kan ke sini mau antar kue coklat ini." Menatap kotak bekal yang dia pegangnya. "Tapi ... Aku masih ingin lagi lihat pemandangan indah ini. Oke, tunggu sebentar lagi deh." Keputusannya berubah secepat kilat. Hati dan pikirannya sedang berdebat. Pikirannya mengatakan dia harus segera menyelesaikan karena dia akan segera masuk ke kelasnya. Tapi, hatinya mengatakan untuk tidak buru-buru, dia harus menikmati sepuas-puasnya mahkluk ciptaan Tuhan yang paling indah, karena kapan lagi bukan? Dan hati Nanna kalah berdebat dengan pikirannya sendiri hingga dia tetap pada tempatnya. "Ekhm!" Suara deheman pertama terdengar dari seseorang. "Ekhm!" Suara deheman selanjutnya terdengar lagi. Namun, itu hanya seperti angin lalu yang tidak terdengar di telinga sang gadis. "Ekhm permisi!" "Oh, yah Tuhan!" Nanna mundur selangkah dengan tangan yang memegang dadanya. Dia kaget. "Hais, kamu buat aku kaget!" Pekik Nanna yang kesal melotot pada laki-laki berpakaian rapi dengan kemeja yang melekat pas di tubuhnya. Suara pekikan Nanna mengambil seluruh atensi mahasiswa yang ada di dalam kelas, hingga gadis itu kini menjadi pusat perhatian seluruh kelas, tanpa terkecuali Derin yang melepas aerphonenya dan menatap keributan yang terjadi di pintu kelas. Lalu di ikuti Cakra yang tadinya sedang menjahili teman belakang tempat duduknya. Dan terakhir sosok Fikar yang sibuk dengan bukunya sekarang malah mengabaikannya. "Apa aku pernah buat masalah atau ganggu hidup kamu? Perasaan enggak kan?" Nanna makin nyolot. Laki-laki di hadapan gadis itu malah terkekeh geli, lantas menepuk pundak Nanna, "Yah, memang kamu gak pernah buat masalah sebelumnya. Tapi, hari ini kamu melakukannya. Mengganggu waktu mengajar saya, juga berteriak kepada saya." Di saat itu juga mata Nanna membola sempurna, cukup lama dia dalam keterkejutan. Hingga dia merasakan belakang tubuhnya seperti ada sesuatu yang menatapnya. Pelan-pelan wajah itu berpaling dari laki-laki itu dan menoleh ke belakang. Keterkejutannya di tambah berkali-kali lipat saat itu juga melihat dirinya menjadi tontonan satu kelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN