Mengintip

1020 Kata
Benda yang sebenarnya ada di bawah ranjang itu hanya sebuah bungkus makanan ringan yang sangat banyak. Dan Derin tak sengaja menginjaknya hingga menimbulkan bunyi suara yang cukup keras. Tapi hal itu bisa membuat Nanna semakin malu nantinya di hadapan Derin dan Neneknya sendiri. Hei, Nanna mengurung diri dalam kamar selama 2 dua hari tanpa keluar. Dan Rosa menganggapnya sama sekali tak makan apapun di dalam sana, padahal itu tidak benar karena Nanna punya banyak simpanan Snack dan manakan ringan lainnya. Jadi sudah di pastikan dia takkan mati kelaparan. Mengurung diri dalam kamar, Nanna lakukan hanya untuk menenangkan diri dan hatinya. Dia cukup kecewa dengan fakta kemarin, di mana usahanya selama ini belum berarti apa-apa di mata Derin. Tapi, hal itu tidak membuat Nanna mundur sama sekali, dia memang kecewa tapi, dia tak pernah ingin menyerah membuat laki-laki itu jatuh hati padanya. Baginya ini masih belum ada apa-apanya, masih levep bawah dan Nanna mampu melewatinya. Dia sadar usahanya memang belum ada apa-apanya, masih sangat jauh. Sampai di ruang makan, Rosa menyuruh Nanna dan Derin duduk di kursi sementara Rosa akan ke dapur untuk menyiapkan semuanya. Dan tinggallah di ruang makan itu mereka berdua, Derin menghindari kontak mata dengan Nanna dengan menenggelamkan pandangan ke ponselnya. Cukup lama keheningan terjadi di antara mereka berdua, hingga Nanna yang tidak tahan dengan keterdiaman itu memberanikan diri membuka suara. Dia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada, kapan lagi Derin ke rumah Nenek dan bertemu secara langsung begini? Meski saat ini jantungnya hampir meledak karena detakan nya yang kencang hingga dia cukup takut terdnegar oleh laki-laki di depannya. "Ehkm," deheman pertama Nanna tidak di respon, kedua, dan ketiga kalinya pun tidak. Kini ke empat kalinya dan akhirnya Derin meliriknya. Nanna tersenyum-senyam dan berkata, "apa boleh aku bertanya?" Setelah melirik Nanna dengan singkat, Derin kembali menatap ponselnya lagi, "Bilang aja kali." Sahutnya santai. Gadis itu menggigit bibir bawahnya pertanda dia sedang malu, "Hm, itu aku ... Mau tanya tentang hubunganmu?" "Hah? Hubungan apa, Lo kalo bicara yang jelas!" Sunggut Derin yang tidak mengerti. Sekarang ponselnya di letakkan di meja dan tatapannya lurus pada Nanna. "Apa kamu sudah punya pacar?" Tak ada yang berubah dari raut wajah Derin setelah menerima pertanyaan itu. Tetap datar. Ada apa dengan gadis itu? "Apa itu ada urusannya sama Lo? Kenapa juga gue harus kasih tau ke Lo?" Bibir Nanna manyun, "Hanya ingin tau saja, tidak boleh ya? Ya sudah ... Gak masalah kok kalau gak mau kasih tau." Itu yang dia katakan, namun dalam harinya dia mengomel menginginkan Derin menjawabnya. Dia ingin tau kenapa Derin sangat sulit membuka hati untuknya? Apa ini ada hubungannya dengan Derin yang telah punya kekasih hingga pesona seorang Nanna yang luar biasa ini di abaikan. "Lo emang mau tau banget?" Binar bahagia di mata Nanna terpancar jelas, gadis itu mengangguk beberapa kali. "Mau, mau!" "Ya, gue udah punya pacar. Namanya Lexa." Sebuah senyum smirk yang sangat tipis terukir di wajah itu. Nanna tak bisa lagi berpikir. Senyum bahagia yang tadi dia berikan perlahan-lahan pudar dan menghilang. Harapannya yang mengatakan bahwa Derin tak punya seorang pacar ternyata salah besar. "Ja- jadi ... Itu alasannya?" Usai sarapan bersama-sama, Derin pamit pulang begitupun Nanna. Dia kembali ke dalam kamarnya. Nanna menarik selimut kamarnya dan menyelimuti dirinya dengan rapat. Kaki itu melangkah ke meja belajarnya dan duduk di sana. Mengeluarkan sebuah buku kecil coklat bermotif kotak-kotak yang dia simpan baik-baik. Sebuah buku Diary yang telah lama tak pernah dia goreskan noda pena di kertas putihnya, itu sejak 3 tahun lalu. Yah, 3 tahun yang menjadi saksi jika buku itu bisa hadir karena kisah cintanya. Dia membelinya di sebuah toko tua yang sepi di negara kelahirannya. Di sana menjual alat-alat tulis juga banyak buku lainnya, tapi semua terlihat ketinggalan jaman hingga tak banyak orang yang tahu dan singgah ke sana. Namun, Nanna tak sengaja menemukan toko buku itu di dekat sekolahnya dulu saat pulang. Awalnya dia mengira itu hanya ruma ta berpenghuni, karena dari luar saja keadaannya nampak berantakan dan tidak terawat. Tapi, Nanna mencoba-coba masuk ke dalam sana dan ternyata itu sebuah toko buku dan pemiliknya seorang kakek tua yang berusia lebih dari 60 tahunan. Kakek tua itu membuat Nanna terkaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba di belakangnya ketika Nanna sedang melihat-lihat beberapa benda unik yang dia temukan di dalam sana. "Kau sedang mencari apa gadis muda?" "Waaah!" Pekik Nanna yang kaget. Dan langsung mengambil acak barang-barang yang bisa tangannya raih dan mengarahkannya ke kakek tua itu. Kakek tua itu nampak terkejut, namun tidak bergeming sama sekali. Malah memberi senyum kecil ke arah Nanna. "Ka- kamu siapa? Mau apa!" Menyodorkan pena tua yang berdebu ke arah si kakek. Meski seperti itu, tangan Nanna yang gemetar membuktikan jika dia sedang ketakutan saat itu. "Tenanglah gadis muda, aku ini hanya di kakek tua yang tak bisa lagi apa-apa. Aku adalah di pemilik toko ini." Mendengar itu, mata Nanna membola dan menurunkan pena senjata di tangannya. Dia berdiri tegap dan terlihat salah tingkah. "Ah- ma- maafkan aku, Kek. Maaf atas kelakuanku tadi." Si kakek tua, tersenyum lembut dan menggeleng. "Aku yang salah karena sudah menakuti mu. Kau pasti sangat kaget." Nanna mengelus keningnya yang berkeringat tadi Karana takut, tapi sekarang dia sedang malu. Tapi, di luar dugaan. Ternyata si kakek yang bernama Zilus itu sangat baik hingga memperlakukan dirinya layaknya seorang tamu. Kakek itu telah lama tinggal sendiri di toko tersebut setelah kepergian sang istri tercinta beberapa tahun lalu. Nanna larut dalam cerita itu hingga suara batuk itu menghentikan cerita tersebut. Kakek masih tetap terbatuk dan Nanna semakin khawatir. Untung saja di kakek mempunyai obat pereda hingga setelah meminumnya Kakek Zilus lebih baik. Setalah memastikan kakek Zilus baik-baik saja, Nanna akan pamit pulang karena tak terasa waktu telah sore hari. Ketika dia hendak pulang, di Kakek menahannya lalu memberikan buku diary kecil berwarna coklat itu ke tangan Nanna. "Nak, bawalah buku diary ini pulang bersamamu. Kamu bisa menuliskan kisah cintamu di sana, percayalah dia akan menjadi teman yang paling setia untukmu." Pesan kakek Zilus saat itu. Nanna pun menerimanya dengan senyuman, "Terima kasih, Kek. Nanna akan simpan buku ini baik-baik dan menulis kisah Nanna di sini." Nanna akhirnya meninggalkan toko tua itu dan Kakek Zilus. -Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN