Fikom

1087 Kata
Seorang wanita sedang di landa rasa cemas menunggu di luar pintu kamar seseorang. Rosa benar-benar kasihan pada cucu kesayangannya yang sudah dua hari ini mengurung diri dalam kamar saja. Dan seperti kemarin, pagi ini Rosa kembali membujuk Nanna adat mau membuka pintu dan makan. "Nan ... Ayo buka pintunya, Nenek bawakan makanan kesukaan kamu nih, udang balado." "..." Tak ada balasan. Rosa mencoba kedua kalinya untuk membujuk Nanna lagi, namun hasilnya tetap saja sama. Tak ada cara lain, Rosa akhirnya memutuskan untuk pergi menyebrang ke rumah sebelah. Tetangganya yang menjadi penyebab cucunya mengurung diri dan mogok makan dua hari ini. Tok ... Tok ... Tok ... Pintu di ketuk beberapa kali, tak lupa Rosa pun memanggil-manggil nama Derin. Dan tak lama kemudian, sosok yang dia panggil keluar dengan pakaian santainya lengkap dengan Headphone berwarna putih yang terpasang di satu telinganya saja. "Oh, Nenek Rosa? Ada yang bisa aku bantu Tante?" Derin mencopot Headphone satunya lagi dan tersenyum kecil meski lebih tepatnya seperti itu senyum canggung. "Kamu mau bertanggung jawab kan?" Kening Derin sontak mengernyit dalam saat Rosa tiba-tiba bertanya demikian. "Bertanggung jawab apa ya, Nenek?" "Ikut ke rumah dan bujuk cucu Nenek keluar kamar dan makan," memegang tangan Derin dengan erat seakan Rosa tak membiarkan pemuda itu bisa kabur darinya. Derin susah payah menelan ludah melihat tangannya yang ada di genggaman Rosa. Tatapannya berangsur-angsur kembali naik ke atas. "Loh, memangnya dia kenapa Nek?" "Udah, kamu ikut Nenek saja. Ayo ...." Derin di tarik oleh Rosa menuju ke rumahnya. Dan laki-laki itu pasrah saja, dia sulit untuk menolak permintaan Rosa yang telah dia anggap seperti Nenenknya sendiri. Mereka sampai di rumah itu, dan naik lantai dua menuju ke sebuah kamar yang daun pintunya berwarna coklat tua. Dia yakin itu adalah kamar milik Nanna, karena tujuannya di bawa kemari memang Nanna kan? Derin menatap Rosa penuh tanda tanya saat itu. "Ayo!" Derin memasang wajah bingungnya ketika tidak paham dengan ucapan Rosa. "A- ayo apa Nek?" "Ayo dobrak pintunya!" Imbuh Rosa menunjuk pintu. "Hah? Nenek gak bercanda kan? Pintunya bisa rusak kalau aku dobrak." Derin menggeleng tak setuju. "Atau begini saja, Nenek punya kunci cadangan kamar ini gak?" Rosa menggeleng pelan, "Tidak ada, dua-duanya Nanna yang pegang, Nak. Udah dobrak aja, kamu mau cucu Nenek kenapa-kenapa di dalam?" Rosa mendorong punggu Derin untuk mendobrak pintu kamar. "Ayo cepat dobrak, Nak!" Napas panjang Derin keluar dan akhirnya menuruti keinginan Rosa untuk mendobrak pintu. Satu kali percobaan belum berhasil, namun percobaan kedua kalinya berhasil membobol hingga engsel pintu rusak. Rosa segera masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. *** Wanita itu berlari menuju selimut tebal yang terlibat membungkus seseorang di dalamnya. Dengan cepat dia mengibaskan selimut itu hingga tersingkap dan memperlihatkan sosok gadis tang tengah meringkuk bagai seorang bayi. Matanya yang tertutup rapat dan keadaan yang acak-acakan sangat berantakan. "Nanna!?" Pekik Rosa khawatir dan meraih Nanna ke dalam pelukannya. Tubuh Nanna pun terangkat setengah hingga membuat gadis itu membuka mata kaget. "Eugh ... Nenek apaansih! Punggung Nanna sakit nih," keluh si gadis seraya mengelus punggungnya karena sakit. Rosa mengabaikan pertanyaan Nanna dan melepaskan pelukan. Sekarang dia menekan pipi si gadis hingga bisa melihat wajah itu. "Ya Allah, Nan? Kenapa kamu mengurung diri di kamar? Gak makan dua hari? Kamu mau cari sakit, hah?" Rosa melampiaskan kekhawatirannya dengan menggebu-gebu. Ini juga salahnya, seharusnya kemarin dia tak perlu menyuruh Nanna melakukan itu agar tidak berbuat hal semacam ini. Rosa harusnya juga paham jika kedua orang itu tidak akan pernah bisa saling jatuh cinta. Dia hampir membunuh cucunya sendiri. "Nanna gak kenapa-kenapa kok, Nek." "Nggak kenapa-kenapa gimana coba?! Lihat kamu tambah kurus karena dua hari tidak makan? Dasar kamu ya!" Nanna meringis mendengar teriakan Nenenknya. Dia merasa bersalah karena membuat smag nenek khawatir. Tiba-tiba Nanna teringat jika dia sudah mengunci pintunya, dia juga memegang kunci asli dan cadangan, tapi bagaimana caranya sang Nenek bisa masuk ke kamar? "Nenek masuk ke kamar Nanna gimana caranya?" Tanya Nanna berkedip beberapa kali. "Nak Derin yang dobrak pintu kamu." Seketika pupil mata Nanna membesar mendengar nama laki-laki itu. Tunggu, apa neneknya serius? "Tuh, orangnya di belakang kamu." Sontak saja Nanna menoleh kebelakang dan detak jantungnya berhenti beberapa saat ketika matanya bertatapan langsung dengan mata laki-laki itu. "De— Derin?" Dua manusia itu saling pandang dalam keheningan, Rosa merasa suasana menjadi sedikit canggung dan suhu di sekitar mereka berubah dingin. "Ekhm!" Dia berdehem untuk meminimalisir keadaan. Nanna dan Derin mengalihkan tatapannya secara bersamaan ketika itu juga. Nanna menoleh kembali pada Rosa, "Nenek kok, panggil Derin ke sini sih?" Menatap sang Nenek dengan pelototan mata. "Loh, Terus Nenek harus gimana? Masa Nenek yang dobrak pintu, encok dong. Jadi, Nenek panggil Nak Derin untuk bantu." Jelas Rosa membuat sang cucu menepuk jidat. "Aduh, Nenek ...." "Hm, sepertinya tugasku di sini sudah selesai. Kalau begitu aku izin pamit ya Nek," perkataan Derin mengambil atensi dua perempuan itu. "Tunggu Nak Derin!" Rosa mencegat Derin yang hendak berbalik badan, "Bagaimana kalau kita bertiga sarapan bersama. Ini sebagai balas budi Nenek karena kamu sudah mau nolongin. Kamu mau ya?" Ajak Rosa dengan senyum lebar. Derin meremas tangannya sendiri bingung harus menjawabnya. Dia merasa tak nyaman berada di situasi sekarang, apalagi gadis yang bernama Nanna itu tak berhenti menatapnya, layaknya dia seperti makanan enak. Tapi, di sisi lain dia juga tak enak menolaknya. Nenek Rosa adalah sosok yang baik dan sudah dia anggap seperti Nenenknya sendiri. "Ba- baiklah. Tapi, Derin gak bisa lama ya, Nek. Soalnya Derin mau keluar ada urusan penting yang harus di kerjakan hari ini." Dan itu adalah jawaban yang keluar setelah dia bergelut dengan pikirannya sendiri. "Iya, sebentar saja kok." Senyum Rosa dengan lembut. Krek ... Krek ... Ketiga orang di dalam kamar itu seperti menangkap bunyi suara. Derin yang menyadari jika dialah orang yang membuat bunyi itu terdengar mencari sumber suara. Dan pandangannya tertuju ke kakinya, di mana dia sedang menginjak sesuatu yang berada di bawah ranjang. Dengan rasa penasaran dia pelan-pelan menunduk untuk mencari tau asal suara itu bersumber dari mana. "Eh, ya sudah ayo makan. Aku sudah lapar, ayo ke bawah!" Nanna menahan bahu Derin yang hampir menunduk sepenuhnya. Derin menatap wajah Nanna yang gugup dan ketakutan. Apa ada yang gadis itu sembunyikan? "Kenapa diam? Ayo turun sarapan!" Mendorong punggung Derin menjauh dari tempat tidurnya. Beberapa langkah kemudian, Nanna berhenti dan mengengok ke belakang. Neneknya masih di atas tempat tidurnya. "Nenek aayoook ...." "Eh, iya, iya." Rosa ikut turun dan berjalan ke arah Nanna dan Derin. Dan akhirnya mereka bersama-sama keluar dari kamar tersebut. Tapi, seorang Derin masih penasaran dengan apa yang ada di bawah ranjang Nanna, suara apa yang bernyanyi tadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN