Rencana?

1305 Kata
Hampir seminggu ini Nanna di abaikan oleh Derin. Bahkan Derin selalu berangkat ke kampus di pagi buta demi menghindari Nanna. Tapi, jangan salah. Gadis itu tidak habis akal mencari cara agar bisa bertemu dengan laki-laki itu. Nanna nekad datang ke rumah Derin sebelum subhu dan memergoki saat laki-laki itu hendak melarikan diri lagi. Tapi lagi-lagi Nanna kalah, Derin pergi begitu saja setelah mengatakan hal yang tidak ingin Nanna dengar. "Mending Lo jauh-jauh deh dari gue, dan inget gak usah sok kepedean kalau gue bisa suka sama Lo nanti. Gak bakal, Nan!" Nanna tidak memasukkan perkataan itu dalam hati, dia hanya menganggapnya bagai angin lalu. Karena baginya, usahanya pasti takkan sia-sia. Dia bisa mendapatkan Derin, pasti! Awalnya ingin mengejar laki-laki itu sebelum benar-benar pergi dari hadapannya. Tapi, Derin lebih cepat darinya menstater motor nya dan menghilang. Saat ini dia ada di dalam kamarnya, Nanna masih di atas tempat tidur bermalas-malasan seperti kucing pemalas. Dia bersembunyi di bawah selimut tebal dan sedang melamun. Hingga suara pintu yang terbuka tak membuatnya sadar. Dia sadar ketika merasakan sentuhan tangan yang mengusap-usap kepalanya. Dia tau siapa, itu pasti Neneknya, Rosa "Kok masih belum siap-siap? Bukannya pagi ini ada mata kuliah ya?" Tanya Rosa. Nanna hanya mengangguk sebagai jawaban dan hal itu membuat sang Nenek menghela napas, "Apa Derin masih menjauhi mu?" Nanna yang mendengar nama Derin di sebut memperbaiki posisinya menjadi duduk tegap di hadapan Rosa. "Iya, Nek. Derin masih gak mau bertemu sama aku, katakan Nek Nanna harus gimana?" Menggamit tangan Rosa dan wajahnya berekspresi sedih. Rosa tau apa yang terjadi antara dua remaja itu. Nanna telah menceritakan semuanya dan kesimpulan yang bisa dia ambil adalah, Derin masih belum suka pada cucunya hingga laki-laki tega mengusir Nanna dari hidupnya. Rosa pun tak bisa banyak membantu, karena ini melibatkan urusan hati yang sangat sensitif. Memang, Rosa bisa saja datang dan memohon pada Derin untuk mencoba menerima Nanna dalam hidupnya tapi, dia lagi-lagi berpikir akan masa depan cucunya bila semua atas dasar sandiwara saja. Rosa mengehela napas dan berpikir sejenak, dia mencari jalan keluar dari masalah Nanna. "Ah, Nenek punya ide," Rosa menjentikkan jari di depan wajah Nanna. "Apa Nek? Apa?" Nanna dengan wajah cerah bertanya semangat pada Rosa. "Ayo Nek cepat katakan?" "Nenek mau tanya dulu, apa setiap kue coklat yang kamu berikan ke Derin itu di makan sama dia?" Pertanyaan dari Rosa membuat Nanna bungkam dan berkedip beberapa kali. "Em, Nanna gak tau Nek. Pagi-pagi Nanna selalu taruh tempat bekal itu di meja Derin terus pergi. Lalu Nanna hanya datang lagi ke kelas itu kalau jam pulang, Nanna gak tau Derin makan atau enggak, tapi Nanna selalu nemuin tempat bekal itu kosong. Yang berarti, Derin makan kue buatan Nanna dong Nek." Ceritanya dengan senyum kecil. Bahagia memikirkan Derin yang memakan kue buatannya. "Nenek ikut senang kalau memang begitu. Tapi, kita gak boleh terlalu senang, karena belum tau kebenaran nya. Coba deh sebentar kamu cari tau, apa benar Derin makan kue itu atau enggak?" Saran Rosa sedikit khawatir. Pasalnya ini ada akibatnya untuk sang cucu. Bila nanti Nanna tau kebenarannya apa dia tetap baik-baik saja. Tapi, lagi dan lagi, ini harus di lakukan agar Rosa tau sudah sejauh mana perjuangan Nanna untuk mendapatka hati Derin. "Oke, Nek. Nanti Nanna cari tau." "Kamu tau gak kenapa Nenek suruh kamu cari tau?" Tanya Rosa lagi yang mengundang gelengan kepala dari Nanna. "Agar kamu bisa mengetahui sudah seberapa besar perjuangan kamu menetap di hati laki-laki itu. Maka ini salah satu caranya untuk tau itu." "Oh, gitu. Iya Nek. Nanna akan buktikan sendiri hari ini. Kalau gitu Nanna siap-siap ke kampus sekarang ya!" Gadis itu langsung bangkit dari tempat tidur lalu berlari masuk ke kamar mandi dengan semangatnya. Rosa masih berharap cemas, semoga saja semua pikiran negatifnya tidak benar adanya. *** Nanna riba di kampus, dan seperti biasa dia akan langsung menuju ke kelas Derin lebih dulu untuk memberikan bekal kue coklat buatannya. Sampai di kelas itu, yang tertuju di hadapannya hanya kursi Derin seorang. Dia sampai di sana dan tak menemukan pemilik kursi itu. Ini sudah biasa terjadi, Derin memang sering tak ada di kelas jika pagi. Laki-laki itu pasti sibuk sana sini mengingat dirinya adalah ketua BEM. Nanna meletakkan bekal itu di kursi dan menepuk-nepuk tempat itu sebelum berbalik dan pergi. Pas sewaktu dia hendak keluar dari kelas, dia tak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki yang hendak masuk. Alhasil, Nanna hampir limbung jika saja tak berpegang pada pintu. "Oh, kamu?" Laki-laki itu sadar dan menunjuk Nanna dengan senyum kecil. "Antar kue lagi, ya?" Tanyanya melirik kotak bekal di atas meja Derin. "Ck, bukan urusanmu!" Nanna berdiri tegap dan mengelus pundaknya yang tak sengaja bertabrakan dengan Fikar, laki-laki yang menabraknya tadi. "Lain kali gak usah ya, kamu gak capek apa buat itu dan kasih ke Derin?" Nanna dengan mata tajam menatap Fikar dengan Sirat permusuhan, "Ya, terserah aku, lah. Yang buat kue kan aku, urusannya sama kamu apa?" Ketusnya dan mendorong bahu itu kemudian pergi begitu saja. Fikar tertawa kecil dan menggeleng kepala sesaat sebelum dia melangkah menuju bangkunya. Di sana dia kembali membuka buku diary miliknya dan menuliskan sesuatu. "Seorang gadis yang terlalu memaksakan dirinya dengan berjuang, tapi tak siap di sakiti." Yah, itulah yang bisa dia simpulkan jika Nanna memang seorang gadis yang akan tersakiti setelah perjuangannya. Gadis itu terlalu keras pada dirinya sendiri, mengejar seseorang yang belum pasti bisa dia dapatkan dan mungkin mustahil. Derin yang dia kenal tak pernah tertarik dengan seorang gadis, dan itu telah terbukti dari Derin yang tak pernah pacaran. Mengapa bisa dia sampai tau? Itu karena dia dan Derin teman dekat sejak SMA. Dan itu sebabnya, Fakir banyak tau tentang laki-laki itu. *** Nanna keluar dari kelas dan berlari naik ke lantai dua menuju kelas Derin setelah jam pertama selesai. Saat ini dia akan membuktikannya sendiri, melihat apakah kue itu habis di makan oleh laki-laki itu? Derin menatap kotak bekal biru langit di atas kursinya dengan tatapan tanpa minat. Dia baru saja selesai melaksanakan rapat bersama anggota BEM lainnya dan kembali ke kelas dua jam setelahnya dan ini sudah masuk jam istirahat. Dia duduk di kursi dengan helaan napas yang keluar sebagai pertanda dia lelah, yah dia sudah lelah di hadapkan dengan banyak urusan kampus dan di tambah kehadiran bekal itu membuat moodnya semakin buruk. Dan ini terjadi setiap harinya. Nanna selalu saja memberikannya kue coklat itu. Derin membuka penutup bekal dan melihat tampilan kue coklat di dalam sana dengan datar, sesaat kemudian dia berbalik dan bersuara. "Siapa yang mau makan kue coklat buruan ke sini, gue kasih gratis!" Ucapnya menyodorkan kotak bekal itu ke teman sekelasnya. Sontak saja beberapa laki-laki dan perempuan langsung datanv menyerbu ke tempat Derin, mengambil kue itu satu persatu hingga tak ada lagi yang tersisa. Mereka yang selesai, mengucapkan terima kasih lalu kembali ke tempat duduk masing-masing. Derin menatap puas kotak bekal yang telah kosong tersebut lalu menutupnya dan menyimpannya di tempat semula. Derin pun mengeluarkan ponsel dan sibuk dengan kegiatannya. Tanpa di sadari, ada sosok gadis yang sejak tadi mengintip dari balik pintu kelas, dia tak lain adalah Nanna. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat setelah melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Kue buatannya di bagi-bagikan kepada teman-teman Derin begitu saja, tanpa di cicipi peluh laki-laki itu. Ada rasa kecewa yang ada dalam hatinya saat itu. "Kamu kenapa?" Sosok Fikar muncul di belakang punggung Nanna. Gadis itu tidak menoleh sedikitpun, tanpa menjawab Nanna pergi begitu saja. Fikar melihat ke arah perginya Nanna dengan kening berkerut, dia mencari tahu apa yang terjadi pada gadis itu. Dia menatap ke dalam kelas di mana banyak mahasiswa yang sedang makan kue coklat dan di yakini itu adalah buatan Nanna. Seyum smirk itu muncul setelah paham dengan cepat apa yang membuat Nanna sedih. Derin pasti membagi-bagikan kue itu ke teman sekelas mereka dan Nanna melihatnya. "Sudah ku bilang, kau gadis yang tak siap untuk sakit hati." Ucap Fikar dalam hati dengan terkekeh geli. -Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN