Mulai hari ini Nanna resmi menjadi salah satu mahasiswi di salah satu universitas yang bisa di bilang cukup terkenal di Indonesia. Demi mewujudkan motto hidupnya yang "Harus mengikuti Derin!" Maka dari itu gadis itu putuskan untuk mengambil jurusan yang sama dengan Derin Alkasli, mahasiswa jurusan ilmu komunikasi semester 5. Toh, memang keinginannya datang di Indonesia untuk mengejar laki-laki itu kan? Jadi, Nanna harus mengikuti jejaknya meski jurusan yang dia ambil bukanlah passion nya karena hobinya sejak dulu ialah menjadi seorang desainer. Tapi, lagi-lagi tak mengapa, ini semua demi masa depannya.
"Ini pasti kursinya, ya tidak salah lagi." Gumam gadis cantik itu seraya meletakkan sebuah kotak bekal ke meja kursi lipat chitose, yang di duga itulah tempat duduk dari laki-laki yang bernama Derin . "Semoga Derin suka dengan kue coklatnya."
Nanna menjadi gadis yang sangat aktif di dapur. Setiap hari mencoba membuat berbagai macam jenis makanan yang dia pelajari dari internet. Dia mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin menjadi sosok istri idaman untuk Derin. Jika dulunya Nanna sangat pemalas dan taunya hanya makan, sekarang dia seperti seorang chef. Eits, jangan salah. Makanan yang dia masak pun sangat enak, Neneknya sendiri yang menilai.
Nanna memandangi bekal itu beberapa saat dengan senyuman yang terus terpancar di wajahnya. Hingga sebuah suara membuatnya menoleh.
"Ekhm, permisi?" Terdengar suara seorang laki-laki yang tidak di kenali Nanna.
Nanna menoleh dan tatapannya pun beradu dengan laki-laki itu. siapa dia? Nanna tidak tau laki-laki asing itu, tapi aura dari orang tersebut sangat terasa jika laki-laki itu seorang mahasiswa yang pandai di balik kaca matanya. Dan janganb lupa dia juga Tampan, eh tapi tak lebih tampan dari Derin- nya! "Ya?"
"Apa ini kotak bekal kamu?" Laki-laki itu menunjuk ke arah kursi di mana tempat bekal miliknya berada.
"Betul, Aku ingin memberikannya pada pemilik kursi ini. Memang kenapa?"
"Untuk aku?"
Kening Nanna berkerut di ikuti dengan tatapan matanya yang menyipit bagai mengintimidasi. "Enak aja! Ini untuk Derin Alkasli bukan untuk kamu!" Sedikit ketus menjawabnya. Dia tidak mengira laki-laki yang dia duga pintar itu ternyata sangat kepedean.
"Oh, aku kira ini untukku karena katamu tadi ini untuk pemilik kursinya kan? Dan ini adalah kursiku. Apa aku salah?"
Di situlah mata bulat Nanna semakin membulat. Jawaban dari laki-laki itu sangat menekankan jika yang salah adalah dirinya. Pernyataan yang lain muncul di kepalanya, jadi dia salah menaruh bekal itu? Terus kursi Derin yang mana?
Gadis itu berbalik dan mengambil kotak bekal miliknya dan memeluknya erat-erat. Dia menunduk tak berani menatap laki-laki itu dengan wajah merah karena menahan malunya.
"Ekhm, aku lupa kursi Derin di mana. Bisakah kamu memberitahukan nya padaku?" Dia bertanya tanpa mengangkat wajahnya.
Terjadi jeda beberapa saat, mereka dalam keheningan. Nanna masih menunggu jawaban dari laki-laki di hadapannya.
"Kursi barisan ke dua dari belakang di sudut kiri." Spontan Nanna mengikuti arah telunjuk laki-laki itu, "Yang dekat dengan jendela." Imbuhnya menambahkan.
Kepala Nanna mengangguk-angguk tanda mengerti, dia kembali menatap laki-laki itu. "Oke, kalau begitu aku pergi!" Usai mengatakannya Nanna pun pergi ke bangku milik Derin.
Tanpa di sadari siapapun, laki-laki itu tersenyum tipis menatap punggung Nanna. Kemudian dia duduk di kursinya lalu mengeluarkan sebuah buku bersampul putih. Mengambil pulpen lalu tangannya pun bergerak di atas kertas menuliskan sesuatu di sana.
"Seorang gadis yang tidak tau meminta maaf dan berterima kasih. Tapi dia cantik."
***
Nanna terburu-buru keluar dari ruang kelasnya setelah jam mata kuliah pertama selesai. Gadis itu menuju ke lantai dua, kemana lagi jika bukan ke kelas Derin. Namun, sebelum dia naik ke atas tangga seorang laki-laki yang sedang menuju turun ke bawah membuatnya mengurungkan niatnya untuk naik.
Dia laki-laki yang dia temui di kelas Derin tadi pagi, dugaannya dia adalah teman sekelasnya.
"Kamu mau ke kelas lagi untuk bertemu Derin ya?" Tanya laki-laki itu kala dia ada di hadapan Nanna.
"Apa urusannya denganmu, pergilah!" Lagi dan lagi Nanna berucap tanpa mengenal sopan santun. Padahal dia tau laki-laki itu adalah salah satu seniornya.
Laki-laki itu hanya tersenyum kemudian membalas, "Aku hanya ingin memberitahumu jika Derin sedang tidak ada di kelasnya. Tapi, kalau tidak percaya. Kamu boleh memastikannya sendiri." Lalu laki-laki itu pun berlalu. Nanna masih diam di tempat untuk beberapa saat.
"Kalau dia tidak ada di kelas, lalu dia ada di mana?" Tanyanya pada diri sendiri. Nanna hendak mencari Derin tapi, tiba-tiba bunyi perutnya membuatnya tersadar jika dia butuh makan. "Okedeh, ke kantin dulu terus cari Derin!" Putusnya dan dia pun pergi menuju kantin.
Tiba di kantin.
Suasananya sangat ramai dan penuh dengan dentingan sendok juga ramai dengan percakapan oleh mahasiswa lainnya. Ini pertama kalinya Nanna berada di kantin kampus sejak dia menjadi mahasiswa baru. Kaki gadis itu membawanya menuju ke sebuah kursi kosong yang ada di hadapannya. Dia duduk dengan tenang dengan membaca daftar menu makanan di sana.
"Wah, ada bakso! Enak nih, aku belum pernah lagi makan makanan legend ini semenjak tiga tahun lalu." Nanna telah lama jatuh cinta pada makanan itu. Kejadiannya, waktu itu Nanna di ajak sang Nenek untuk keluar rumah dan jalan-jalan. Dan Nanna tak sengaja melihat gerobak bakso di pinggir jalan, dia pun meminta sang Nenek untuk membelikan makanan itu.
Akhirnya Rosa memutuskan memesan dua bakso untuk mereka dan makan di sana. Ternyata Nanna sangat menyukainya bahkan sampai makan 3 mangkok.
Nanna selesai memesan makanan dan minuman. Dia pun kembali menunggu pesanannya selesai. Hingga sebuah suara yang dia kenali sedang menyapa dan ternyata berada di dekatnya.
Nanna menoleh kebelakang, "Yaakh!" Pekik Nanna saat menyadari orang yang duduk di belakangnya ternyata laki-laki yang dia temui tadi pagi dan di tangga tadi. "Ah, kenapa kita bertemu lagi sih! Kamu ikuti aku ya!"
Laki-laki dengan santai menjawab, "Kamu kali yang ikuti aku. Lupa ya, aku duluan yang ke kantin?"
Nanna berniat untuk membalas, tapi dia memilih membalikkan tubuhnya untuk menghindari tatapan mata itu dan perdebatan panjang terjadi. Abaikan saja.
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan yang dia pesan akhirnya tiba di mejanya. Nanna langsung saja memakan bakso itu seperti orang yang kelaparan. Dia tidak malu saat banyak pasang mata sedang memandang ke arahnya. Dia tau, dia memang cantik. Bahkan saat sedang makan rakus begini dia tetap cantik. Percaya diri.
Acara makan Nanna terganggu ketika sebuah ketukan di meja makannya terdengar. Nanna tak mengangkat kepala dan hanya melirik dari ekor matanya saja. Dia tetap fokus pada baksonya setelah dia tau sosok itu adalah seorang perempuan, terlihat dari pakaian yang orang itu kenakan.
Untuk beberapa saat Nanna mengabaikan nya. Berusaha tidak peduli dengan orang yang terus mengetuk meja dengan keras, hingga akhirnya...