Klontang!
Sendok yang Nanna pegang melayang dan jatuh membentur lantai hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Perhatian dari banyak orang semakin banyak ke arah meja Nanna karena hal tersebut.
"Sssssh! Ada apa, sih!" Nanna mendesis seperti ular dengan garang bangun dan menggebrak meja cukup keras. Kini dia sadar sepenuhnya jika orang yang mencari masalah dengannya adalah Fani. Tapi, itu tak mampu membuat nyali perempuan cantik itu menciut, malah dia semakin memasang wajah menantang untuk seniornya itu. Nanna memang sudah menyimpan dendam sejak awal Pkkmb karena hal itu.
Dan hei, di sini jelas-jelas yang salah adalah Fani. Nanna tidak mencari masalah sama sekali, dia hanya makan bakso sejak tadi, kan?
"Oh, sekarang berani ya Lo teriak ke gue?" Fani melototkan mata dengan wajah marah. "Eh, lo gak nyadar diri. Ingat, di sini tuh, gue senior lo!"
Nanna tertawa geli bagai mengejek, "Ya, aku tau anda itu senior di sini. Tapi kan, kamu duluan yang cari masalah." Oh, jangan salah. Siapa bilang Nanna seorang gadis yang penakut. Dia tidak seperti kucing yang penurut dengan majikannya.
"Lo!"
Gerakan tangan Fani yang hendak menyerang wajah cantik Nanna tertahan kala Nanna yang lebih sigap menangkapnya. Tapi, dengan liciknya Fani mengambil menuman jeruk Nanna di atas meja lalu menyiramkan nya ke wajah cantik itu. Baju yang di kenakan oleh Nanna menjadi basah dan lengket.
"Rasain, lo emang harus di kasih pelajaran. Gimana enak?"
Plak!
Tangan itu melayang dan mendarat mulus di pipi kanan Fani. Yah, Nanna menampar seniornya itu dengan begitu beraninya.
Mata Fani membulat sempurna, wajahnya menjadi meram padam karena baru saja di tampar. Kala dia bersiap untuk balik menampar sebuah suara yang keras menghentikan aksinya.
"Stop!"
Dua gadis itu menoleh ke arah pintu masuk kantin dan di sana telah berdiri seorang laki-laki tampan dengan jas almamater menambah wibawanya seorang Derin. Laki-laki itu berjalan dengan langkah tegap menuju ke arah Nanna dan Fani.
Nanna langsung terlihat gelagapan dan salah tingkah ketika laki-laki itu semakin mendekat. Dalam pikirannya di penuhi dengan banyak pertanyaan, apa Derin melihatnya tadi bersikap kasar? Atau apakah Derin melihatnya menjadi gadis dengan perilaku buruk? Aaahk, itu membuat Nanna panik bukan main. Pasalnya dia harus terlihat sempurna di mata seorang Derin, gadis lembut yang manja dan penuh perhatian. Tapi ....
"Apa kalian berdua sudah puas berkelahi di tempat umum seperti ini? Gak mikir ya, semua orang sedang memperhatikan kalian berdua?"
Nanna sontak membuang muka tak ingin melihat wajah marah milik Derin. Baginya ini adalah sebuah petaka kepergok seperti sekarang. "Ah, jika saja aku tidak meladeni senior gila ini, aku tidak akan terkena marah seperti sekarang! Huh, image ku bisa hancur di hadapannya Derin!" Makinya dalam hati.
"Nih, cewek ini udah berani ngelawan dan teriak ke gue. Rasanya gue mau hukum tuh cewek biar tau cara memperlakukan seorang seniornya di kampus!"
"Eng- enggak kok Kak, aku gak kayak gitu."
Bantahan dari Nanna membuat Fani melototinya dengan tajam. "Bohong! Cewek ini beneran kurang aj—"
"Stop Fani! Udah cukup Lo permalukan diri sendiri di depan mahasiswa lain. Lo sebagai senior harusnya beri contoh yang baik ke semua orang, bukannya kayak gini!" Mungkin nada suara Derin seperti bentakan. Hingga Fani menunduk.
Nanna yang melihat Fani di marahi Derin tersenyum tipis merasa di bela dan di lindungi. Tapi kenyataan membuat gadis itu bangun dari mimpi.
"Lo kenapa senyum-senyum? Di sini Lo juga salah, enggak seharusnya Lo nampar senior Lo di depan banyak orang. Pokoknya kejadian kayak gini jangan sampai terulang, atau Lo ... " Memberi tatapan mautnya pada Nanna hingga sang gadis itu ikut menunduk.
"Iya Kak." Jawan Nanna dengan anggukan kecil.
"Sekarang Lo ikut gue!" Ucap Derin seraya membawa seorang gadis keluar dari kantin. Bukan, bukan Nanna melainkan Fani yang di bawa oleh Derin.
Nanna sakit melihatnya. Melihat tangan Derin yang menggegam Fina pergi, dia cermburu! Sangat! Tangannya bahkan terkepal kuat menahan amarahnya. Dengan kesal dia mengeluarkan uang 50. Ribuan dari kantong celana dan menyimpannya di meja kemudian pergi dari sana.
Di sisi lain, seorang laki-laki tersenyum diam-diam. Senyum itu terlihat misterius.
"Woi, ngapa Lo? Gak kesambet setan kan Lo, Fik?" Seorang cowok lannya menyadarkan temannya karena tersenyum aneh itu. Dia bernama Eza teman dari Fikar, seorang laki-laki yang sefakultas dengan Derin.
Fikar menyurutkan senyum dan mengangkat wajah dari makannya, "Nggak aku gue gak apa-apa, kok. Makanan enak jadi gue senyum." Jawab Fikar yang melirik kepergian dari Nanna yang baru keluar dari pintu masuk kantin.
"Gak jelas jawaban Lo, Bambang! Daritadi Lo asyik makan, gak dengar apa cewek yang di belakang Lo bertengkar sama Fina teman sekelas Lo itu?" Ungkit Eza.
"Gue tau, tapi bukan urusan gue kan?"
Jawaban santai itu membuat Exa mengerang frustasi dengan teman balok esnya. Fikar memang seorang laki-laki yang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Selagi bukan urusannya dia takkan ikut campur. Entahlah, Eza kadang merasa temannya itu sudah tak punya hati dan perasaan.
"Ah, serah Lo Bambang! Capek gue!"
***
Nanna sedang di toilet umum. Membersihkan bekas jus jeruk di bajunya dengan air juga tisu. Dia tak henti-hentinya mengomel di dalam sana, menyalahkan Fina si pembuat masalah.
"Huh, sepertinya hidupnya gak akan mudah di sini. Apalagi senior satu itu, ada dendam apa sih sampai segitunya cari masalah sama aku terus?" Katanya dengan tangan yang terus bergerak membersihkan bajunya. "Lihat saja nanti, dia yang pasti meminta maaf ke aku lebih dulu!"
Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan seorang gadis, dan sepertinya Nanna tidak menyadari karena saking sibuknya membersikan bajunya. Hingga tepukan di punggungnya menyadarkan dirinya.
"Oh, astaga!" Nanna membalikkan badan spontan dan bersandar pada wastafel. Satu tangannya memegang dadanya. "Kamu Selina!"
Yah, gadis itu tak lain adalah Selina. Teman sekelasnya.
"Iya ini aku," Selina tersenyum, tapi pudar saat melihat baju Nanna yang basah. "Loh, loh, baju kamu kok basah gitu? Kenapa?"
Nanna menahan tangan Selina saat ingin menyentuh bajunya, "Bukan apa-apa, tadi gak sengaja ketumphan jus jerukku. Udah gak usah di pikirin.
"Bohong pasti, kamu cewek yang berkelahi dengan senior kita di kantai? Benar kan?"
Nanna membulatkan bibirnya kala tuduhan Selina tidak meleset sama sekali, tepat sasaran. Sepertinya dia takkan bisa lagi berbohong jika bersama gadis itu, dia pandai menebak.
"Ya, itu aku. Hehehe ...."
-Bersambung.....