Senior

1015 Kata
Di sisi lain, Cakra sudah kembali ke UKS bersama Ratna— mahasiswi petugas UKS yang bertugas di hari itu. Mereka baru tiba namun, langkah kaki mereka langsung tertahan di pintu masuk UKS ketika tak sengaja mendengar percakapan itu yang bisa terdengar hingga ke luar. "Oh, jadi lu gangguin gue sarapan pagi hanya untuk meriksa cewek yang pura-pura pinsang itu, Cak? Gila lo ya!" Ratna melayangkan tatapan nyalangnya pada Cakra. Untuk beberapa saat Cakra membisu, "Gu-gue mana tau dia cuman pura-pura doang," elaknya tak terima. Dia yang harusnya merasa paling tertipu di sana. Cakra sangat panik kala melihat gadis itu pinsang saat di lapangan, bahkan dia bergegas menuju UKS agar bisa mendapat pertolongan. "Siapa yang pura-pura?" Kedua manusia itu membeku saat mendengar suara lain dari belakang. Cakra maupun Ratna pun menoleh untuk memastikan jika dugaan mereka benar. "Eh, Elo Der? Kok di sini?" Cakra tersenyum melihat temannya itu, sedetik kemudian tatapannya beralih pada Ratna, "Rat, ngapain masih diam di sini? Sana buruan Lo periksa cewek itu!" Titahnya dengan kode mata. "Apaan sih, orang dia c*m--" Seketika Cakra menutup kulut Ratna yang hendak mengatakan sebenarnya di hadapan Derin. "Diem aja, udah buruan masuk!" Bisik Cakra dengan mata melotot pada Ratna, sebelum mendorong bahu gadis itu masuk ke dalam ruang UKS. Derin memperhatikan dengan seksama sejak tadi dan merasakan ada yang tidak beres. Matanya menajam pada Cakra saat laki-laki itu malah bersandar di depan pintu, menghalanginya masuk ke dalam. "Minggir Lo, gue mau cek keadaan Nanna!" Kata Derin mutlak. "Oh, jadi namannya Nanna. Lo belum bisa masuk, orangnya masih di periksa noh. Emang ngapain Lo di sini sih, kan udah gue bilang stay di lapangan aja!" Omel Cakra. "Di sini gue yang bertanggung jawab kalo terjadi apa-apa. Jadi mending Lo minggir Cak!" "Nggak usah Der, mending lu balik, biar gue aja yang pantau dia. Gue jamin dia bakal baik- baik aja kok." Derin mulai kesal dengan sikap Carkra yang keras kepala karena tetap tidak membiarkannya masuk. Dia sebenarnya bisa saja pergi dan tidak mengurus Nanna, namun kalian harus ingat jika mereka itu bertetangga. Apa jadinya jika Bi Rosa menanyakan keberadaan Nanna padanya. Apa yang harus dia jawab? Tidak mungkin Derin mengatakan 'Tidak tau' di saat posisinya di kampus sebagai ketua BEM, kan? Derin menarik tangan Cakra dengan sekali tarikan hingga laki-laki jatuh terduduk di tanah. "Derin, jangan masuk!!" Teriak Cakra yang panas dingin. Yang dia takutkan adalah ketika Derin nanti tau jika Nanna hanya berpura-pura pinsang. Itu bukanlah berita bagus. Cakra bisa pastikan jika Nanna akan menerima hukuman dari Derin, dan itu bahaya. Secara Derin termasuk orang yang tak mudah memaafkan kesalahan yang seseorang perbuat. Hukuman yang di berikan pun tidak main-main, bisa membuat orang yang pura-pura pinsang menjadi pinsang beneran. Setidaknya Cakra adalah laki-laki yang di ciptakan menjadi sedikit baik terutama pada Perempuan. Tapi, sudah terlambat. Derin sudah masuk ke dalam ruang UKS dan Cakra hanya berdoa semoga Nanna punya nasib keberuntungan. Perhatian tiga orang gadis dalam ruangan itu terpusat pada sosok laki-laki yang menerobos masuk. Dua gadis lainnya shock namun, satu orang gadis langsung tersenyum merekah menyambut kedatangan Derin. "Kamu ke sini untuk lihat aku, ya? Aah, so swseet Bengeeet!" Suara Nanna di buat se lucu mungkin agar terlihat menggemaskan. Tapi, bukannya mendapat senyuman balik malah tatapan tajam yang di berikan Derin padanya. "Dia sakit apa, Rat?" Derin malah bertanya pada Ratna yang mematung. Tatapan Ratna menembus ke belakang punggung Derin, melihat sosok Cakra yang memberikan kode untuk mengikuti permainan laki-laki itu. "Rat, gue tanya dia sakit apa?" Ulang Derin, kali ini suaranya dalam dan dingin. "Ah, em, itu ... Dia sakit-- anu ... Kekurangan gizi. Yah, kekurangan gizi!" "Hah, apa hubungannya?" Derin melirik Nanna dengan kernyitan halus di keningnya. "Lo sih, bukan anak kedokteran, ya mana tau hubungannya. Jadi gini, orang yang kekurangan gizi ketahanan tubuhnya akan melemah dan mudah sakit, jadi sering pinsang. Jadi Cewek ini mungkin gak terlalu suka makan, dan sering makan-makanan yang gak sehat gitu, makanya kena penyakit ini!" Jelas Ratna panjang lebar. Dalam hati dia mengutuk mulutnya yang mau-mau saja mengikuti keinginan Cakra. Membuat kebohongan tentang penyakit Nanna. Ratna bisa melihat Cakra bernapas lega dan memberikan dua jempol padanya. Huh, memang apa untungnya juga dia membantu manusia itu? "Ah, aduh ... Sa-sakiiit," suara keluhan dari Nanna membuat semua perhatian langsung tertuju pada gadis cantik itu. Nanna tengah memegangi perutnya dan meringis kesakitan. "E- elo kenapa?" Tanya Derin mendekat pada gadis itu. Raut wajahnya sedikit tidak tenang melihat wajah kesakitan Nanna. "Apa yang sakit?" "Perut aku sakit banget aduh ...." ringisnya dan tak lama terdengar suara perut yang sedang bernyanyi merdu. Suara itu mampu membuat ruangan seketika senyap dan mengambil atensi semua orang di sana. "Lo lapar?" Tampang Derin datar saat bertanya. Nanna yang malu menjadi salah tingkah namun, akhirnya dia tersenyum dan mengangguk. "Boleh temani aku makan di kantin nggak? Dan bisa gendong aku ke sana? Soalnya kaki aku sakit banget, kayaknya terkilir saat jatuh tadi." Derin terlihat mengamati Nanna dengan seksama. Cukup lama, hingga Nanna berpikir permintaannya itu tidak akan mungkin di iyakan. "Ah, nggak bisa ya? Yaudah deh, aku bisa nahan lapar sampai pulang ke rumah Nenek." "Gue bantuin Lo kali ini, tapi kalau kejadian kayak gini terulang lagi. Gue anggap lu hanya mencari kesempatan untuk modus sama gue, paham!" Derin langsung menggendong Nanna ala bridal style lalu keluar dari ruangan UKS. Saat Derin keluar dia berpapasan dengan Cakra yang tersenyum gugup. Derin hanya memberi sorot tajam pada temannya sebelum benar-benar pergi dari sana. Dan yah, Selina sejak tadi hanya menjadi patung hidup. Bagai menonton sebuah drama ter-dramantis yang di ciptakan oleh Nanna, gadis cantik dan banyak akal itu. "Wah, cewek itu punya bakat akting luar biasa. The best Drama Queen!" Puji Ratna bertepuk tangan. Sementara Cakra mendadak kasihan pada kehidupan sehari-hari Derin nantinya. Dia tak yakin laki-laki itu bisa mendapatkan kebebasan seperti saat sebelum Nanna datang di kehidupannya. "Kalau gue yang diposisi Derin gak masalah sih, Nanna nempelin gue. Ceweknya cantik dan tipe gue benget. Tapi gimana dengan Derin, cowok yang anti cewek?" Pusing jika harus mengurusi kehidupan Derin. Jatuh cinta saja anti mainstream, entah kapan hati laki-laki itu tersentuh oleh perjuangan seorang gadis yang mencintainya. -Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN