"Yaaahk, kamu gila ya! Mau kamu bawa kemana aku, berhenti!" Teriak Nanna. Tangannya tak berhenti memukul-mukul lengan Fikar. Tapi, laki-laki itu bergeming tetap fokus menyetir mobil. Dan kebisingan seorang Nanna tidak berhenti bahkan sampai mobil tersebut sampai di sebuah tempat yang sama sekali tak ia ketahui.
"Di mana ini? Jangan-jangan kau ingin menjualku ke om-om sini, hah!" Wajah Nanna merah padam menandakan kesabarannya sudah di ambang batas. Pria itu sejak tadi bisu seperti batu, Nanna sudah tak tahan.
Platak!
Sebuah sentilan mendarat mulus di kening Nanna, kini kulit putih itu memerah karenanya. Gadis itu makin melotot ingin kembali memaki namun, tertahan ketika Fikar mendahuluinya.
"Kau pikir aku se miskin itu, hm? Tubuh kerdil sepertimu ini bisa laku berapa?" Fikar dengan santai mengatakannya tanpa peduli berubahan wajar Nanna.
"Kurang ajar!" Nanna tentu merasa terhina dengan perkataan Fikar. Selama ini semua laki-laki yang bertemu dengannya selalu mengagumi kecantikan wajahnya. Tidak hanya itu, tubuhnya pun menunjang penampilannya semakin menarik di mata banyak lelaki. Kini sudah dua orang yang terang-terangan tidak menyadari betapa cantiknya dirinya. Tentu saja Derin bukan termasuk laki-laki yang terpikat olehnya, di tambah seorang laki-laki lagi, yah, Fikar! Dia orang yang menyebalkan dan judesnya minta ampun.
"Lagipula apa semua pikiranmu negatif semua saat bersamaku? Selama ini aku orang yang terbaik di kampus, tidak ada catatan kriminal yang kulakukan. Yah, kecuali prestasi..."
"Ckck..." Nanna baru tau selain menyebalkan, Fikar ternyata orang yang narsis. Dia baru saja memamerkan keunggulan dirinya dengan angkuh. Nanna mengakui jika Fikar memang orang yang terbaik di kampus, namanya sering sekali di sebutkan melalui pengeras suara. Contohnya seperti kemarin, saat nama Fikar di panggil ke gedung utama dosen untuk menerima penghargaan cerdas cermat tingkat Nasional yang dia ikuti.
Fikar keluar dari mobil namun, masih dalam posisi kepala yang menatap sosok gadis yang duduk cantik di dalam sana. "Cepatlah turun dari mobil atau kamu benar ingin ku jual sama om-om gendut itu!"
Mata Nanna memicing tajam, dia mendesis sebal sebelum akhirnya keluar paksa dari mobil. Hembusan angin langsung menerpa wajahnya, spontan mata itu tertutup menikmati kesejukan angin pantai saat itu. Benar, mereka kini berada di pantai tepatnya di sebuah dermaga. Entah apa gerangan yang membuat Fikar membawanya kemari, itu masih tanda tanya untuk Nanna.
Mereka tidak hanya berdua di sana, ada banyak pengunjung lain yang sedang bersama pasangan mereka. Ini memang salah satu pusat wisata dengan dermaga yang di rawat begitu indah, bahkan ada jalan kayu yang di bangun di atas air menuju ke tengah-tengah pantai. Di hias dengan beberapa rumah kecil untuk bernaung dan melakukan piknik kecil di sana. Amarah Nanna seketika lenyap saat menghirup udara segar pantai, malah saat ini dia sedang mengulum senyum manisnya.
"Heh... "
Telinga Nanna yang begitu peka menangkap suara tawa ejekan dari samping. Dia menoleh dan melihat pelaku utamanya. "Kamu ketawa? Ada yang lucu?" Ketusnya.
Fikar mengangkat bahu, "Tadi kau memaki-maki ku saat di perjalanan, menuduhku macam-macam, tapi sekarang kau malah senang? Memang gadis aneh!" Ejeknya kembali terkekeh.
"Ckck ... Salah siapa? Kamu memang laki-laki kurang ajar membawaku kemari tanpa meminta persetujuan, jadi jangan salahkan aku kalau menuduhmu yang tidak-tidak!" Cerocos Nanna tak mau kalah. Apa lalaki itu fikir dia akan diam saja? Tentu tidak, Nanna akan maju jika laki-laki menantangnya.
"Ya, terserah kamu saja. Sebenarnya aku membawamu ke sini untuk bersantai sedikit. Lelah bukan?"
Kerutan di kening gadis itu menandakan dia sedang bingung dengan maksu perkataan Fikar barusan. "Apa katamu, lelah? Hahaha ... Kamu bercanda ya, aku lelah karena apa? Tugas di kampus tidak terlalu banyak dan biasa saja." Nanna tertawa terbahak sambil menggelengkan kepala. "Ucapanmu itu tidak masuk akal. Sudahlah.... "
"Bukan itu maksudku. Tapi, ini berkaitan dengan perjuanganmu mendapatkan hati Derin, apa kamu tidak merasa lelah sama sekali?"
Tawa itu seketika terhenti, tatapa. Mata Nanna berubah serius dan datar.
"Selama hampir satu semester ini apa kamu tidak merasa waktumu hanya terbuang sia-sia? Bahkan kamu tidak fokus pada perkuliahanmu, tapi malah sibuk dengan percintaanmu." Merasa tak ada jawaban dari samping, Fikar membalikkan tubuhnya menghadap ke Nanna. Kedua tangannya berada di lengan Nanna, "Buka matamu, mau sejauh apapun kamu berjuang keras Derin tak akan melihatmu. Kamu berhenti saja."
Pelan-pelan kepalan tangan gadis uty menguat, dia juga mengeraskan rahangnya, "Apa urusannya denganmu?" Dengan sekali sentak tangan Fikar terlepas dari lengan Nanna yang tatapannya kini berubah tajam, "Memangnya kamu siapa? Kakak bukan, keluarga juga bukan! Tapi kenapa kamu malah sibuk mengurusi hidupku. Yang berjuang aku, yang sakit juga aku! Kenapa kau malah menasehatiku!"
"Aku tidak menasehatimu Nanna!" Serga Fikar dengan cepat. Nada suaranya naik satu oktaf dari sebelumnya.
"Kalau begitu apa? Sedang mengguruiku dan menekankan kalau aku salah dan kamu yang benar, hm? Sekarang aku tanya, apa aku mengenalmu?"
"..."
"Apa aku temanmu?"
"..."
"Apa aku kekasihmu?"
Semua pertanyaan yang Nanna ajukan membuat Fikar membisu. Gadis itu semakin melebarkan senyumnya. "Tidak kan? Kita tak ada hubungan apapun, tidak lebih hanya sebatas hubungan antara senior dan junior nya. Lalu untuk apa kamu bersikeras membuatku berhenti mengejar cinta laki-laki yang tidak mencintaiku balik? Untuk apa, hm?" Nanna tertawa puas setelah Fikat masih tak dapat menjawabnya.
"Karena aku kasihan."
***
Rosa mondar-mandir di teras rumahnya. Wanita itu sudah berada di sana sebelum matahari tenggelam. Menunggu seseorang datang dengan raut wajah cemas dan takut. Di tangannya ada sebuah ponsel yang setia detiknya di lihat, layaknya menunggu sebuah panggilan masuk di sana.
Di sisi lain, seorang pemuda baru saja tiba di rumahnya. Dia membuka helm di kepalanya dan hendak masuk, namun langkahnya berhenti di tangga teras saat matanya tak sengaja menangkap sosok wanita di rumah sebelah. Dia pun melihat gurat wajah wanita itu menunjukan dia sedang tak baik-baik saja. Tak berpikir lama, Derin membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari gerbang rumahnya menuju rumah tetangganya. Tatapannya bertemu tatap dengan Rosa.
"Nenek sedang apa di luar rumah?" Tanya Derin ketika sampai di hadapan Rosa.
"Nak ... Apa kamu melihat cucu Nenek? Nanna belum pulang sampai sekarang, ponselnya pun tidak aktif. Nenek takut terjadi apa-apa dengan cucu Nenek." Suara Rosa bergetar karena takut. Matanya pun telah berkaca-kaca.
Derin tidak tega melihat Rosa yang begitu cemas, mencoba menenangkan kegundahan hati wanita itu, "Tenanglah, Nek. Mungkin saja Nanna ada tugas kuliah tambahan, atau lainnya. Apa dia belum kasih kabar ke Nenek?"
"Belum, Nak. Tapi, jika memang Nanna ada urusan kampus biasanya dia selalu kasih kabar lebih dulu. Tidak biasanya gadis itu begini."
Derin tersenyum dan mengelus pundak wanita tua itu, "Jangan khawatir, Derin akan bantu mencarinya. Tunggulah di dalam rumah udara malam tidak baik untuk Nenek. Aku akan pergi mencarinya sekarang."
Sedikit rasa lega ketika pemuda yang di sukai cucunya itu mengatakannya. Rosa mengukir senyum tipis.
"Sege—"
Ucapan Derin terputus saat suara mesin mobil terdengar di luar gerbang rumah Rosa. Kedua manusia itu berbalik secara bersamaan dan melihat sebuah mobil putih terparkir di sana. Tak lama sosok laki-laki keluar dari mobil, membuat Derin langsung bereaksi. Alisnya yang tebal hampir menyatu saat keningnya mengernyit.
"Fikar?" Hanya bibir Derin yang bergerak tanpa suara. Dia bertanya dalam hati, untuk apa orang itu datang ke rumah Rosa? Derin belum bisa menebak maksud dan tujuan laki-laki itu namun, saat Fikar membuka pintu mobil untuk seseorang pernyataan nya kini terjawab. Seorang gadis turun dan menatap ke arah Derin. Pandangan mereka bertemu cukup lama sebelum Rosa memanggil gadis itu.
"Cucuku ... Akhirnya kamu pulang Nak...."
Nanna tersadar mengalihkan pandangannya ke Neneknya. Dia menyinggungkan senyum dengan tangan melambai. Lalu gadis itu berbalik menghadap Fikar.
"Tunggu apa lagi, pergilah! Kalau kamu menunggu aku berterima kasih, itu tidak akan pernah ku ucapkan. Kamu telah membawaku pergi tanpa persetujuanku, walau cuman sebentar. Tapi itu sungguh kurang ajar!" Ketus Nanna masih terbawa suasana hati yang tidak baik. Setalah perdebatan panjang di pantai bersamaan laki-laki itu, Nanna ingin cepat-cepat pergi. Bahkan dia berdoa semoga tidak takkan bertemu lagi. Tapi itu mustahil karena Fikar adalah senior satu universitas—fakultas lagi.
Fikar terkekeh, "Sepertinya setelah ini kamu akan menjauhiku bukan?"
"Tentu saja! Kamu bukan laki-laki yang baik!" Balas Nanna tanpa perduli perasaan Fikar. "Kalau perlu kita jangan bertemu lagi!" Ucapan itu menjadi penutup percakapan mereka. Nanna berjalan meninggalkan Fikar dan menutup pintu gerbang. Tak ada lagi kontak mata setelahnya, Nanna langsung melangkah masuk mendekati Rosa.
Tatapan Fikar tertuju pada Derin yang juga sedang menatapnya. Tiba-tiba Fikar tersenyum lebar sebelum akhirnya melambai pada Derin lalu masuk ke mobilnya. Kendaraan itu kini pergi meninggalkan rumah tersebut.
Betapa senangnya Rosa ketika cucunya itu kini memeluknya erat. Nanna berulang kali meminta maaf karena telah membuat sang Nenek cemas.
"Kalau begitu Derin pamit pulang ya Nek," Derin masuk ke dalam percakapan cucu dan Nenek itu. Kini dia di tatap oleh dua orang itu.
"Tinggallah untuk makan malam bersama dulu." Ajak Rosa dengan senyum cerah.
"Mungkin lain kali saja Nek, Derin harus mengerjakan tugas kampus segera. Maaf Nek." Tolak Derin secara halus. Karena Alasan itu, Rosa tidak bisa lagi memaksa Derin untuk tetap tinggal.
Derin pun pamit, tapi sebelum meninggalkan rumah tatapannya kembali beradu tatap dengan Nanna. Meski hanya beberapa detik saja. Kini dia berada di dalam kamarnya, membuat tasnya ke atas tempat tidur sebelum membaringkan tubuhnya di sebelah tasnya. Matanya terpejam rapat namun, dia tidak tertidur.
Beberapa saat kemudian mata itu terbuka lebar dan tatapannya terhunus ke langit-langit kamar. Sedetik kemudian dia bangkit dan merogoh tasnya mencari sesuatu di sana. Benda elektronik pipih berhasil dia dapatkan dan jari-jari jempolnya mulai bergerak lincah di sana. Ternyata dia sedang menelfon seseorang. Dia menelfon Cakra sekali namun, panggilan pertama tidak terjawab.
"Jawab Cakra!" Geramnya saat panggilan kedua pun belum di terima.
Dan saat panggilan ketika akhirnya orang di sana mengangkatnya, "Hoi, sorry bro!" Suara Cakra menyapa pendengaran Derin.
"Lo dari mana aja!"
"Hehehe ... Gue baru pulang kencang sama pacar gue lah. Nih, baru sampe rumah. Kenapa, ada apa, dan bagaimana? Kalau nelfon begini penting nih," berteman lama dengan Derin membuat Cakra sedikit banyak tau tentang laki-laki itu. Derin memang lebih sering chat lewat w******p dan jarang menelfon. Dia hanya akan melakukannya ketika ada sesuatu hal yang mendesak dan penting.
"Lo punya nomor Fikar?" Derin langsung to the point. Dia juga terlalu malas basa basi.
"Fikar? Buat apa?"
"Jawab aja punya apa enggak? Buruan!" Desaknya.
"Cahelah santai woi. Kan di grup Wa fakultas ada tuh, Lo bisa ambil dari sana!"
"Kalau punya kenapa gue harus repot nyari, buruan kirim! Gue tunggu, awas lu kalau lama!" Derin dengan cepat mematikan sambungan telepon secara sepihak sebelum Cakra berbicara panjang lebar.
"Astaga nih, bocah! Demi apa, dia gak mau repot tapi, malah ngerepotin gue. Wah, benar-benar nih mahkluk gak tau diri!" Maki Cakra sepuasnya. Selagi orangnya gak ada manfaatin kesempatan. Bahaya kalau Derin sampai dengar, tamatlah riwayat Cakra yang handasome.
Meski mulutnya terus berbusa mengata-ngatai Derin tapi, Cakra tetap mengirimkan nomor Fikar pada Derin. Dia adalah orang baik.
Derin menerima pesan dari Cakra di w******p, membuatnya terburu-buru menekannya nomor tersebut lalu menelfonnya lewat fitur panggilan app. Dan pada deringan kedua panggilan di angkat.
"Halo, ini siapa?" Suara Fikar menyapa lebih dulu.
Derin menyipitkan mata, "Gue Derin." Menekan setiap katanya.
Jeda beberapa saat karena kedua orang itu saling diam. Hanya suara-suara background yang mengisinya pertanda suasananya sedang hening.
"Ah, ternyata teman lama menelfonku. Ada apa Derin? Ada sesuatu hal yang ingin kau katakan? Atau kau menelfon untuk memulai pertemanan baru kita, hm?"
"Cih, hentikan omong kosongmu! Gue gak sudi berteman dengan orang sepertimu!" Balas Derin dengan darah mendidih. Setelah beberapa tahun ini mereka tak berbicara, betapa muaknya Derin harus melakukannya kali ini.
"Oh ... Lantas?" Balas Fikar santai tidak merasa sakit hati dengan ucapan menusuk dari mantan teman lamanya. Status mereka saat ini adalah musuh, mungkin saja akan abadi.
"Jauhin Nanna, jangan jadikan dia korban Lo selanjutnya sialan!" Suara Derin berubah berat dan penuh ancaman di dalamnya.
"Heh? Apa aku tidak salah dengar? Kau ... Ingin aku menjauhi Nanna? Hahaha ... Sepertinya tidak akan bisa, aku menyukainya." Fikar tertawa, namun tawa itu tidaklah asli karena lucu. "Apa sekarang seorang Derin mulai jatuh cinta pada gadis pejuang itu? Wah, ini berita bagus!"
"b******k Lo Fikar!" Teriak Derin murka. "Gue gak main-main, kalau sampai Nanna jadi korban Lo, gue yang akan maju! Gue gak akan segan untuk hancurin Lo!"
Tut!
Kali ini bukan Derin yang mematikan sambungan telepon, melainkan Fikar. Derin melempar ponsel ke tempat tidur dengan bertenaga menendang kayu ranjang tempat tidurnya hingga sedikit bergeser dari posisi awal. Derin mengatur napasnya yang memburu untuk sesaat.
Di saat di rasa dirinya cukup tenang dia melangkah ke arah jendela kamar dan menyibak gordennya. Pandangannya langsung di perlihatkan sebuah jendela yang gordennya pun terbuka, menampakkan seorang gadis sedang bermain dengan kucing peliharaannya.
Nanna sangat gemas mengangkat kucing gemuk peliharaan Neneknya dan mengajaknya berputar-putar. Kucing itu lantas berteriak ketakutan dan malah mencakar punggung tangan kanannya. Derin bisa melihat ekspresi wajah Nanna yang berubah menjadi kesakitan, kala gadis itu menoleh ke arah jendela, Derin segera menutup gordennya.
-Bersambung....