Jam mata kuliah terakhir telah usai. Terlihat semua mahasiswa fakultas ilmu komunikasi sedang bersiap-siap untuk segera pulang. Begitupun dengan Derin yang memakai tas dan bangkit berdiri. Ketika dia hendak melangkah, seseorang menahannya dengan manarik tas yang dia kenakan.
"Ada yang kelupaan bro!" Sahut Cakra, orang yang menarik tas Derin dari belakang. Derin pun mau tak mau menghadap pada temannya itu dengan wajah sedikit bingung.
Satu keningnya terangkat seperti menjawab Cakra.
"Lo lupa bawa bunga yang di kasih Nanna. Noh, di atas meja Lo." Menunjuk bunga Anyelir putih di atas meja di samping kotak bekal yang telah kosong.
"Lo ambil aja, gue gak suka." Balas Derin santai dan hendak kembali berjalan. Tapi lagi-lagi Cakra menarik tas laki-laki itu. "Gue lagi buru-buru, Cak! Nggak usah gangguin gue!" Sela Derin menyorot laki-laki itu dengan tatapan tajamnya.
"Oh, lagi buru-buru? Oke, kalau gitu gue bantuin!" Dengan cepat membuka tas Derin dan memasukkan bunga pemberian Nanna ke dalam tas tersebut lalu me-res nya kembali. "Udah, sekarang Lo boleh balik."
"Apa-apaan sih, Lo! Keluarin gak bunga itu!"
"Lo kejam amat dah. Setidaknya Lo hargain kek cewek itu. Tau gak rasanya kalau dia balik ke kelas Lo buat ambil kotak bekal dan lihat bunga itu gak Lo bawa? Dia bakal kecewa Derin... "
"Bukan urusan gue!"
Plak! Tinjuan Cakra mendarat di lengan Derin sedikit bertenaga. Takutnya kalau dia mengeluarkan semua tenaga untuk menghajar laki-laki tidak punya hati dan perasaan seperti Derin, bisa-bisa Cakra akan di tuntut karena tindakannya.
"Gile, gue jadi ragu kalau Lo jantan tulen. Apa Lo gak bisa ngehagain perjuangan cewek itu sedikit aja. Dikit aja Der!" Cakra sedikit terbawa emosi. Di kelas mereka tersisa sedikit orang karena beberapa di antaranya telah pulang terlebih dahulu. "Atau jangan-jangan Lo ga—"
"Jaga ucapan Lo! Gue ini cowok normal b**o!" Derin tidak terima dengan tuduhan Cakra yang mengira dirinya Gay. Memang kenyataannya dia normal, hanya saja dia tak bisa seperti laki-laki lainnya yang tau cara memperlakukan seorang perempuan.
"Oh, jadi lo normal? Oke gimana kalau Lo buktiin ucapan Lo itu dengan gak nolak siapapun cewek yang deketin Lo. Yah, caranya dengan Lo ngehargain apa yang dia berikan ke elo, gimana?"
Tatapan Derin berubah tajam dan menusuk, "Maksudnya Lo mau gue nerima Nanna gitu? Hahaha ... Jangan bercanda. Lo tau gue kayak gimana, gue gak bisa Cak. Sumpah, gue risih kalau mesti dekat-dekat dengan adik jenior itu."
"Ya udah, kalau gitu gue anggap elo gak normal. Terserah sih, gue cuman ngetes sejauh mana kelakian Lo juga." Cakra terlihat masa bodoh dengan membuang pandangan dan melipat tangan di d**a.
Genggaman tangan Derin menguat, dia memejamkan mata berusaha meredakan emosi yang hampir menguasai dirinya. "Oke oke, gue bakal tunjukin ke Lo kalau gue memang laki!" Dia menerima dengan raut wajah pasrah.
"Heh, Kita lihat saja. Bye gue duluan, pacar gue udah nelpon." Cakra melambai singkat pada Derin lalu berlalu pergi lebih dulu dari kelas.
Kini tersisa Derin seorang di dalam kelas. Laki-laki itu masih dalam posisi yang tadi, namun kepala yang tertunduk dalam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Dan lebih tepatnya dia sedang berdebat dalam otaknya dalam mengambil keputusan untuk langkah yang sulit.
"Lo pasti bisa Derin. Tunjukin kalau Lo emang lakik!" Menyemangati dirinya sendiri meski dengan keraguan yang selalu melekat pada diri laki-laki tersebut.
Derin keluar dari kelas beberapa menit setelah kepergian Cakra. Karena dia tak begitu fokus sesuatu terjadi. Derin sengaja menyenggol lengan seseorang hingga menyebabkan orang tersebut jatuh dan beberapa buku yang di bawanya jatuh ke lantai begitu saja.
Dengan cepat berjongkok dan membantu memungut buku-buku yang berserakan di lantai. Di situlah dia sadar jika telah menabrak seorang gadis."Ma- maaf, maaf, gue gak sengaja." Meminta maaf.
Derin selesai memungut buku-buku tersebut, lantas akan memberikannya kembali pada gadis itu, "Oh, Lexa?" Betapa terkejutnya dia kala menyadari jika gadis itu tak lain adalah Lexa, sekretaris bendahara BEM.
Lexa membuat senyum manis di wajah cantiknya, "Gak pa-pa kok."
Derin mengelus belakang lehernya, "Gue bener-bener minta maaf. Kalau gitu gue duluan—"
"Tunggu!"
Langkah kaki Derin terhenti selangkah dari tempatnya tadi, dia menoleh kebelakang menatap gadis itu kembali. "Ya, ada apa?"
Lexa maju kemudian memberikan sebuah kunci motor ke hadapan Derin, "Kunci kamu tadi jatuh, ini."
Derin terkekeh kecil karena kelalaiannya. Dia mengambil kunci itu, "Makasih."
"Sepertinya kamu banyak pikiran ya? Apa ... Ada masalah?"
"Eh, enggak ada. Lo belum pulang jam segini?" Derin menggeleng tegas dan mengganti topik pembahasan.
Sosok Lexa terdiam beberapa saat ketika laki-laki di hadapannya yang tidak menjawab pernyataannya. Gadis itu tau ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada Derin. "A- aku belum telfon supir rumah. Mungkin sebentar lagi."
"Gak usah telfon biar gue yang antar Lo pulang. Ayok ...."
Mata gadis itu sedikit melebar karena ajakan tiba-tiba dari Derin. Apa dia sedang bermimpi? "Hah?"
Derin menjadi sedikit gemas dengan ekspresi wajah Lexa yang terlihat lucu saat kaget. Apa ajakannya barusan terdengar horor? "Gue yang bakal antar Lo pulang ke rumah." Jelas Derin untuk kedua kalinya.
Sepasang manusia itu sedang berjalan menuju parkiran kampus. Di balik itu, ada sosok gadis lainnya sedang mengikuti mereka dengan sembunyi-sembunyi. Di tangan gadis itu ada sebuah kotak bekal yang isinya telah kosong. Yah dia tak lain adalah Nanna, gadis ysng sejak tadi membuntuti Derin dab juga Lexa saat di kelas tadi. Nanna menyaksikan secara love sosok Derin yang mengajak seorang gadis cantik untuk pulang bersama. Hati Nanna panas karena tercakar api cemburu, ini benar-benar jujur dari perasaannya.
"Apa dia gadis yang Derin sukai selama ini?" Pikiran Nanna di penuhi dengan pernyataan-pernyataan itu hingga rasa sesak di d**a mulai menggerogotinya. Dia tetap mengikuti diam-diam hingga Derin dan gadis itu naik ke atas motor bersamaan.
Genggaman erat di tempat bekal karena melihat kedekatan Derin dengan gadis itu. Apalagi ketika gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Derin, hal yang selama ini Nanna idam-idamkan. Tapi malah di dahului oleh gadis itu.
"Kamu benar-benar tega Derin. Apa kamu tidak bisa melihat ketulusanku? Aku mencintaimu, sungguh!" Bisiknya dalam hati yang tela menangis pedih bersamaan dengan motor Derin yang mulai berjalan keluar dari gerbang kampus. Saat itulah Nanna menumpahkan air matanya saat motor tersebut telah menghilang.
"Kamu belum pulang, ngapain nangis di pojokan?" Sebuah suara menyentak kesadaran Nanna yang terlalu fokus menangis.
Nanna dengan cepat menghampus air matanya lalu menoleh pelan-pelan. Ternyata sosok itu adalah Fikar yang berdiri telat di belakang punggung Nanna. Fikar yang lebih tinggi dari Nanna pun tak perlu bertanya lagi apa yang menyebabkan gadis itu menangis. Dia melihat semuanya juga, sama seperti Nanna yang melihat perlakuan Derin bersama Lexa.
"Ckck ... Apa urusanmu, sana pulanglah!" Usir Nanna dengan tatapan sinis.
Fikar tertawa lantas berdiri sejajar dengan Nanna, " pasti gara-gara cewek itu kan, kamu nangis?" Tebaknya yang memang benar. Laki-laki itu mengabaikan pengusiran Nanna dan malah tetap berada di sana. "Aku tau —"
"Tau apa?" Nanna dengan cepat memotong ucapan Fikar. Tatapan matanya pun menajam. "Lebih baik kamu urusi saja hidupmu, jangan menggangguku!" Tekan gadis itu.
Helaan napas panjang keluar dari bibir Fikar, "Ikut aku!" Tanpa aba-aba menarik tangan Nanna menuju parkiran mobil.
"Hei, lepaskan aku. Kamu apa hah? Jangan macam-macam atau aku laporkan ke polisi!" Ancam Nanna yang panik. Dia memberontak sekuat tenaga berusaha lepas dari cengkraman tangan Fikar yang menarik tangannya ke sebuah mobil putih.
Tapi, laki-laki itu tidak menggubris perkataan Nanna sedikitpun. Tenaganya yang lebih besar membuatnya dengan mudah membawa Nanna masuk ke dalam mobilnya. Tidak sampai di situ, Fikar juga mengunci pintu mobil dengan cepat agar gadis itu tidak melarikan diri.
Fikar yang duduk di kursi pengemudi melirik Nanna yang tidak lelah berteriak minta tolong, berharap seseorang datang dan menyelamatkan nyawanya. "Diam atau kucium?"
-Bersambung....