Siska : Kupandangi kartu undangan di tangan. "18 Januari ... kemarin, harusnya kita menikah." "Andra, andai saja semua terjadi. Mungkin sekarang kita sedang berbulan madu, bersama anak kita." Aku mengusap perutku. "Maafin aku Andra, aku tidak bisa menjaganya. Aku tidak menepati janjiku." Luruh tubuhku, di atas ranjang. Menangis, entah yang keberapa ribu kali. Kukira, semua tak akan seperti ini jadinya. Mengingat kembali hari itu, di saat sebuah perjanjian terikrar antara aku dan Nyonya Wirata. Kami duduk berhadapan di kantin rumah sakit. Entah apa alasannya, dia memilih meja paling sudut. "Katakan apa maumu?" Aku menatap nanar ke arahnya. "Saya ... hanya ingin Andra bisa selamat, Ta-Tante." "Dan setelah Andra sehat, kamu kembali lagi padanya. Begitu?" Aku menautkan alis, pertanda

