Siska : Akhirnya, aku bersedih dengan tenang. Ya, setidaknya aku bisa mengadukan semua kegundahan dalam setiap sujudku. Dicky tersenyum dan memeluk, saat dia melihat perubahanku. Aku mulai bangkit perlahan, memerhatikan kondisi dan janin dalam kandunganku. "Papinya Andra gimana? Udah baikan," tanyaku di sela waktu sarapan. "Berusaha baik, itu yang aku lihat," sahut Dicky. "Oma?" Aku bertanya ragu. "Papi Andra belum cerita lagi, tapi yang aku tau, nanti dia bakal ke Jakarta. Buat ketemu kamu." Dicky meminum susunya, lalu berdiri. "Bu, Ayah berangkat dulu!" pamitnya. "Oh, iya, Yah. Bentar," sahut Wulan yang sedang berada di kamar. Aku terdiam, memikirkan bagaimana perasaan Oma saat mengetahui kondisi cucunya. Aku harus melakukan sesuatu. "Dicky, bisa bantu aku," pintaku pelan. "Apa?

