Andra : Brakk! "Andra! Bisa ketuk pintu dengan sopan?!" Dicky berteriak histeris. "Tidak ada waktu!" sahutku penuh amarah. "Waw, lihat! Tuan Andra sudah berani melampiaskan amarahnya kembali padaku. Good," ejeknya. "Lalu aku harus bagaimana? Berteriak di pinggir jalan? Menceritakan semua keluh kesahku pada ilalang yang bergoyang, hah?" Aku merentangkan kedua tangan ke bawah. "Silakan. Biar semua orang dan isi semesta tau, jika seorang Andra bisa gila hanya karena satu wanita." Aku menatapnya sengit. Tak urung berpaling kemudian menjatuhkan tubuh di sofa, mengacak rambut kesal. Aku frustasi. Terasa gerakan di samping tubuh, sepertinya Dicky ikut duduk. "Kenapa?" tanyanya lebih pelan. "Arrgghhh ... s**t!" makiku kesal. "Baiklah, aku keluar dulu. Telepon aku jika amarahmu sudah me

