11. Sikap yang Aneh

975 Kata
“Karena Carlos tidak menyukai perempuan, Sabrina.”   “Dia gay.”   Sabrina mendesah, ketika kalimat yang di ucapkan Andreas terus saja terngiang-ngiang di dalam ingatannya. Begitu sampai di apartemen, ia tidak langsung melakukan apapun. Selain hanya duduk diam memandangi televisi dengan pandangan yang kosong. Sungguh, ia sama sekali tidak menduga hal itu sama sekali. Carlos gay? Bagaimana bisa? Dia tidak terlihat seperti itu. dia terlihat sangat normal dan cenderung tidak menunjukan tingkah yang aneh. Justru selama ini dia sangat baik terhadapnya. Dia bahkan menyelamatkannya dan tidak memanfaatkan keadaannya. Dia juga tidak ...   Tunggu!   Apakah ini penyebabnya? Apakah ini penyebab Carlos tidak melakukan apapun padanya? Karena Carlos, gay? Jadi bukan karena dia benar-benar baik dan ingin melindunginya? Begitu?   “Tidak mungkin. Tidak. Carlos tidak mungkin gay.” Gumaman Sabrina pelan seraya menggelengkan kepalanya.   “Kau mungkin tak akan pernah percaya dengan ucapanku Sabrina. Karena kita baru bertemu. Tapi kau bisa membuktikannya sendiri. Coba saja goda dia. Aku sangat yakin, daripada tergoda dan terhanyut untuk melakukannya ... dia pasti akan melarikan diri. Menjauhimu.”   Sabrina meneguk ludahnya kasar, ketika ucapan Andreas kembali terngiang. Satu-satunya cara memang dengan membuktikannya atau bertanya langsung. Tapi ... kedua pilihan itu benar-benar mengandung resiko. Sabrina tak sebodoh itu dengan menggoda Carlos, lalu menyimpulkan jika Carlos menolaknya, dia berarti seorang gay? Tidak, tidak berarti seperti itu. Bisa saja Carlos memang lelaki yang sangat menghormati perempuan, atau bisa saja karena dia benar-benar ingin menjaganya dan ingin memperlakukannya dengan baik. Jadi kalaupun menolak, penolakan Carlos tidak bisa di asumsikan secara langsung bahwa Carlos gay. Namun ... jika ia mengambil langkah kedua. Bukankah itu sedikit tak sopan? Apalagi Andreas bilang, itu merupakan salah satu rahasia mengenai Carlos. Hingga tidak banyak yang mengetahui hal itu, sehingga akan sangat sulit mencari orang jujur yang bisa ia tanyai. Lagipula kalau selama ini Carlos memang merahasiakan fakta itu, tentu saja dia juga akan merahasiakan itu terhadapnya bukan? Terlebih jika mengingat ucapan setiap orang bisa saja mengandung kebohongan, apalagi ketika harus menyembunyikan rahasia sepenting itu.   Atau ...   Bisa saja Andreas yang berbohong?   Ya! Bisa saja dia yang berbohong. Untuk apa ia mempercayai Andreas yang baru ia kenal? Tentu saja ia harus lebih percaya pada Carlos bukan?   Suara password yang di tekan terdengar begitu menggema, menyadarkan Sabrina dari lamunan panjangnya. Ia segera berdiri kemudian berjalan kearah pintu dengan cepat.   Carlos sudah pulang? Bukankah dia bilang tak akan pulang tepat waktu?   Clek!   Pintu itu akhirnya terbuka. Carlos memasuki apartemen itu dengan pakaian yang sedikit lebih lusuh daripada sebelumnya.   “Carlos ... apa yang terjadi?” Sabrina meraih lengan Carlos, seraya menatap lelaki itu. Namun Carlos menepis lengannya, dia bahkan menghindari tatapannya.   “Carlos ... .”   Mengapa Carlos menepis tangannya seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi pada Carlos? Mengapa dia terlihat kacau?   ***   Carlos melemparkan tas yang ia bawa begitu memasuki kamarnya. Setelah itu menanggalkan jas yang sebelumnya ia kenakan kemudian ia campakkan begitu saja ke atas lantai. Harinya ... benar-benar buruk. Sangat buruk. Ia tak menduga semua yang Millian katakan kini menjadi kenyataan. Andreas ternyata benar-benar menyukainya, lelaki itu bahkan tak hanya menyatakan perasaannya. Tapi melamarnya. Garis bawahi, melamarnya! Dengan sebuah cincin berlian yang sangat mahal.   Sebenarnya itu tak membuatnya marah, lamaran itu tidak membuatnya marah sama sekali. Karena sebelumnya ia juga pernah menerima lamaran seperti itu dari orang lain. Namun kalimat yang di layangkan lelaki itu benar-benar menyakiti hatinya dan melukai harga dirinya.   ---   “Aku tak bisa menerimamu.”   “Kenapa?”   Andreas menghela nafas kemudian menghembuskannya kembali. “Ah ... apa karena wanita itu?”   “Apa aku harus mengatakannya?” Andreas menyeringai “Aku tau ... wanita itu bukan saudaramu ‘kan? Dia hanya wanita yang hidup sebatangkara dan miskin.”   Carlos menggeram. “Kau menyelidiki Sabrina?”   “Apakah itu penting?” Andreas mengedikkan bahunya. “Carlos jangan mau di bodohi wanita seperti dia. Dia hanya berpura-pura menjadi wanita lugu agar kau jatuh dalam perangkapnya. Dia hanya ingin menjeratmu perlahan-lahan, dia hanya akan memanfaatkanmu Carlos. Memanfaatkan uangmu. Jadi ... sebaiknya jangan coba-coba bermain dengan wanita rendahan itu Carlos. Semua wanita sama saja. Jalang rendahan.”   “Lagipula untuk apa kau menampungnya? Menyembunyikan orientasi s*x-mu? Hm?”   Rahang Carlos semakin mengeras. Ia kembali berujar dengan sedikit menggeram. “Bukan urusan anda Mr. Keys.”   Andreas justru tertawa pelan. “Tunggu. Kau tidak berpikir akan kembali lurus ‘kan? Jangan mengada-ada Carlos. Kau tak akan pernah bisa. Sebaiknya ... terima aku dan kau akan hidup tanpa kekurangan sedikitpun. Kau juga tak perlu bekerja di bawah kendali orang lain seperti ini. kau bisa memegang kendali, kau bisa memegang perintah jika sudah menikah denganku.”   “Mr. Keys. Saya rasa cukup.” Carlos menatap Andreas dengan tatapan tajam. “Saya datang untuk membicarakan mengenai bisnis Mr. Keys. Saya datang secara profesional dan hanya ingin kerja sama kita berjalan dengan lancar.”   “Semuanya akan sangat lancar jika kau mau membuka pahamu untukku.”   “Jangan kurang ajar Mr. Keys! Saya. tidak berminat sedikitpun dengan semua tawaran Anda.” Carlos mengatupkan rahangnya lagi. “Saya ... tidak membutuhkan harta yang anda sombongkan itu Mr. Keys.” Carlos berdiri kemudian berjalan mendekati Andreas, lalu membungkukan tubuh hingga wajah mereka sejajar. “Karena jika saya mau, saya bisa menghancurkan semua milik milik anda dalam sekejap mata.”   ---   Carlos menarik rambutnya ke belakang, lalu nyeka wajahnya dengan kasar.   Setelah di pikirkan lagi. Terbersit rasa menyesal dalam hatinya setelah mengeluarkan semua kalimat yang ia pikirkan tersebut pada Andreas. Sekarang ia sadar, tak seharusnya ia mengeluarkan ancaman seperti itu pada Andreas sekalipun ia merasa terhina. Seharusnya ia pergi saja, tanpa harus menanggapi omong kosong yang lelaki itu layangkan padanya. Ya ... seharusnya begitu. Salahnya yang terlalu cepat tersulut emosi. Salahnya ... Namun meskipun sekarang ia menyesal, rasanya itu tak akan ada gunanya lagi, karena semuanya sudah terlanjur. Sudah terlanjur mengibarkan bendera peperangan pada lelaki itu.   Carlos menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian menutup wajah dengan lengan kanannya. Ia yakin ini bukan akhir. Setelah ini Andreas pasti akan semakin penasaran tentangnya dan pasti akan semakin gencar mencari tau tentangnya.   Carlos menarik nafas kemudian meraih ponselnya, untuk menghubungi seseorang.   “Selamat malam Tuan Muda.”   “Morgan. Pastikan, tak ada yang membobol informasi pribadiku.”   Tok tok tok!   “Carlos ... .” itu suara Sabrina.   Carlos segera mematikan sambungan telepon itu, kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia melirik ke arah pintu sesaat sebelum membukanya.   Sabrina ... seharusnya tidak bisa mendengarkan ucapannya ‘kan? Tapi mengapa ekspresi perempuan itu terlihat lain?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN