Hari telah berganti, Senin pun kembali datang. Hal itu artinya adalah Carlos akan sangat sibuk dengan pekerjaannya sementara Sabrina hanya akan diam di apartemen seorang diri. Awalnya ia ingin ke tempat Wendy lagi. Namun setelah di pikirkan lebih jauh, banyak yang harus ia kerjakan di apartemen ini. Di mulai hal sederhana seperi membersihkan setiap sudut dari debu, hingga belanja bulanan. Isi lemari pendingin milik Carlos telah kosong, hanya tersisa beberapa bahan yang tak akan cukup sekalipun itu untuk makan siangnya.
“Carlos, apa aku boleh membersihkan kamarmu? Maksudku ... aku ingin membersihkan apartemen ini. Jadi ... sekalian.” Ujar Sabrina ketika Carlos masih menyantap sebuah pai yang ia buat.
Calos menatap Sabrina sekilas. “Tak perlu. Aku biasa membersihkannya sendiri setiap pagi.”
“Ah? Begitu?” Sabrina tersenyum canggung.”Maaf ... aku tidak bermaksud lancang.”
“Tak masalah.”
Sabrina mencuri pandang lagi pada Carlos yang masih menikmati makanannya. Setelah ia bersama Carlos selama tiga hari ini, ada satu hal yang ia ketahui dari Carlos. Sikap lelaki itu mudah sekali berubah. Ia pikir hari ini hubungan mereka bisa lebih mencair daripada kemarin. Karena ia merasa, kemarin hubungan mereka sudah cukup dekat. Tapi sepertinya tidak begitu. Carlos hanya akan menjadi Carlos yang seperti itu. Dia masih saja datar dan juga dingin, seolah lelaki yang bersamanya kemarin bukan Carlos yang ada dihadapannya sekarang. Bahkan sejak dia keluar dari kamarnya dia belum terlihat tersenyum sama sekali. Sangat berbeda dengan Carlos yang bersamanya kemarin, yang banyak tersenyum dan juga tertawa.
“Hari ini pekerjaanku sangat banyak. Aku mungkin akan pulang malam sekali.” Ujar Carlos, lalu menatap Sabrina. “Jangan pernah membukakan pintu untuk siapapun selama aku tak ada. Jika ada yang menekan bel, abaikan saja.”
Sabrina mengangguk kecil. “Bagaimana jika aku ingin berbelanja?” Ia menghela nafas. “Tak ada makanan apapun yang tersisa untuk makan siangku.”
“Kau bisa ke supermarket.” Carlos merogoh saku jasnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu, lalu ia berikan pada Sabrina. “Pakai ini, beli yang menurutmu penting.”
Sabrina menganggukkan kepalanya pelan, sebenarnya ia ingin menolak jika memiliki uang. Tapi sekarang uangnya benar-benar menipis. Tak akan cukup untuk berbelanja bahan makanan sesuai dengan yang Carlos butuhkan.
“Kalau kau mau keluar, jangan sampai lupa password-nya Sabrina.” ujar Carlos. “Akan aku kirimkan nanti, bersama pin kartu itu.”
Sabrina mengangguk lagi, kemudian menundukkan kepalanya. Jujur saja, ia tak memiliki ide lain untuk menanggapi ucapan Carlos selain dengan mengangguk. Karena Carlos yang di hadapannya ini sedikit meyeramkan. Apalagi kalimat-kalimat yang lelaki itu ucapkan cenderung sangat datar. Membuatnya semakin tak berani mengutarakan setiap ucapannya.
Carlos menatap Sabrina yang masih menundukkan kepalanya, lalu menghembuskan nafasnya pelan. ia tau, perempuan di hadapannya ini pasti takut kepadanya. Tapi ia berusaha mengabaikan itu.Toh nanti dia akan terbiasa dengan sikapnya ‘kan?
“Jika ingin bekerja, lakukan saja. Jangan melewatkan sarapanmu.” Ujar Carlos seraya berdiri. “Aku berangkat sekarang.” Pamitnya.
Mendengar hal itu, Sabrina segera berdiri kemudian mengantar Carlos hingga lelaki itu keluar dari apartemennya.
“Hati-hati di jalannya Carlos. Sampai juma makan malam nanti.”
Carlos mengehentikan langkahnya, kemudian berbalik. “Tidak. Jangan menungguku.”
Sabrina tertegun mendengar penolakan itu. ia menggigit bibir bagian dalamnya lalu menunduk. Tak berani menatap raut penuh intimidasi yang Carlos berikan untuknya. Ia pikir Carlos akan memberikan respon yang baik, karena kemarin Carlos bilang dia menyukai makanannya. Tapi ternyata seperti ini ... Carlos seperti tidak ada minat sama sekali untuk makan malam di apartemen.
“Aku mungkin akan makan malam di luar seperti biasanya.” Lanjut Carlos. “Masuklah, aku pergi.”
Sabrina menatap punggung kokoh itu dalam diam. Carlos ... lelaki itu, benar-benar lelaki yang akan sangat sulit di gapai. Meskipun kemarin dia sangat berbaik hati padanya. Tapi ternyata hari ini berbeda dengan hari kemarin. Jika kemarin kedekatan mereka seolah sudah melompati dinding pembatas, maka sekarang hubungan mereka bagaikan memiliki dinding pembatas yang sangat tinggi dan sulit untuk di lalui kembali.
Carlos ... benar-benar lelaki yang sulit, tidak seprti lelaki pada umumnya. Namun meski begitu ... sayang sekali, hatinya telah memilih. Hingga, sesulit apapun yang akan ia hadapi. Sepertinya ia akan bertahan. Apalagi jika mengingat Carlos adalah tuannya.
Sabrina menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya, ketika mengingat fakta itu.
Sadarlah Sabrina ... dia tuanmu. Benar. Dia tuanmu. Bukan seseorang yang harus kau impikan menjadi pendamping hidup.
***
Setelah seharian membersihkan apartemen, dari mulai ruang tengah, dapur, balkon, kamarnya, gudang dan juga membersihkan setiap kaca yang berada di apartemen itu. Akhirnya siang hari itu Sabrina telah berada disebuah supermarket. Pandangan mata perempuan itu terus menyisir setiap bagian rak bahan makanan. Menelitinya satu persatu kemudian mengambilnya, jika bahan tersebut sesuai dengan yang ia inginkan.
Sabrina menghembuskan nafasnya pelan saat tangannya memegang satu set daging sapi bagian paha. Ia ragu untuk mengambilnya, karena ia masih belum tau daging bagian mana yang di sukai Carlos. Ia takut, jika Carlos tidak menyukai bahan-bahan yang ia beli.
“Seharusnya kau tanyakan dulu padanya tadi, Sabrina.” gumamannya pelan. “Dasar bodoh.” Lanjutnya pelan seraya menyimpan daging itu kembali.
“Carlos tidak pemilih, dia memakan apapun yang lezat.”
Sabrina mengalihkan pandangan pada seseorang yang tiba-tiba berdiri di sebelah kanannya. Dia salah seorang lelaki yang bersama Carlos semalam.
“Ah aku lupa mengenalkan diriku.” Lelaki itu menatap Sabrina kemudian mengulurkan tangannya. “Aku Andreas. Kau Sabrina bukan?”
“Hng?” Sabrina mengerjapkan matanya satu kali, setelah itu membalas uluran tangan Andreas.”Ya ... Saya Sabrina. Anda mengingatnya?”
Andreas tersenyum simpul. “Ingatanku cukup tajam Sabrina.” ucapnya. “Bagaimana jika aku membantumu berbelanja?”
“Tidak.” Sabrina menatap Andreas dengan segera, merasa bersalah dengan ucapannya. “Maksudku ... .”
“Aku mengerti, kau pasti mengira aku orang jahat ‘kan?” Andreas terkekeh. “Tak masalah kalau kau berpikir begitu. Kalau kau takut padaku, kau bisa tanyakan pada Carlos tentang statusku.” Ia menjeda ucapannya beberapa detik. “Aku klien Carlos, aku juga masih di kota ini karena harus menandatangani kontrak bersama Carlos sore nanti.”
Sabrina membasahi bibirnya pelan kemudian meneguk ludahnya kasar. Ia menatap Andreas dengan tatapan yang masih terlihat penuh rasa bersalah. “Sir ... maafkan aku, aku tidak bermaksud berpikir kau orang yang jahat. Aku ... aku hanya di minta berhati-hati oleh Carlos. Karena aku ... .”
“Kau baru lepas lelang ‘kan?” Tanya Andreas. “Aku tau, Carlos mengatakannya.”
Hatinya sedikit berdenyut. Sakit. Ia pikir Carlos tidak mengatakan apapun tentang pelelangan itu pada orang lain. Nyatanya dia juga mengatakannya pada Andreas? Sabrina menarik nafasnya panjang lalu mendesah kecewa. Padahal awalnya ia berharap jika pelelangan itu akan menjadi rahasia antara dirinya dan Carlos. Namun ternyata, ada orang lain yang mengetahui tentang hal ini.
Jujur saja, ia cukup kecewa ketika mendengarnya.
Andreas memberikan senyumannya pada Sabrina lagi. “Tak perlu terkejut ... Carlos mengatakan hal itu padaku karena saat kau hampir di lelang, Carlos sedang bersamaku, dan seharusnya Carlos makan malam denganku. Kebetulan kami sedang membicarakan project kerjasama antara perusahaanku dan perusahaan keluarga Wesley.”
Sabrina mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia pikir Carlos membeberkan statusnya tanpa alasan. Ternyata karena harusnya malam itu Carlos bersama lelaki ini... Sabrina merengut. Perasaan bersalahnya yang sempat menghilang kini kembali lagi.
“Jadi aku benar-benar mengacau?”
Andreas terkekeh pelan, “Tak perlu di pikirkan. Carlos mengambil langkah benar dengan menyelamatkanmu segera. Sementara perjanjian kami bisa di lakukan kapanpun Sabrina.” Andreas menatap Sabrina lagi. “Jadi bagaimana? Mau aku temani? Kebetulan aku juga ingin berbelanja, tapi ternyata tak asik jika berbelanja sendiri.”
Sabrina melirik Andreas dengan ragu. Haruskah ia menemani lelaki di sampingnya ini? Karena bagaipun dia tetap saja orang asing baginya, meskipun dia klien Carlos. Tapi ... jika ia tidak memperlakukannya dengan baik, ia takut semuanya akan berdampak buruk pada karir Carlos. Ia takut Carlos terkena masalah lagi karenanya.
“Sabrina?”
Sabrina mengerjap setelah tersadar dari lamunan panjangnya. Ia kemudian menatap Andreas lalu tersenyum tipis. “Ah ... ya Sir. Mari ... saya temani.”
“Tidak perlu formal begitu Sabrina, santai saja seperti sebelumnya.”
Sabrina melirik Andreas lagi kemudian mengangguk kecil.
“Jadi kita mau kemana dulu?” tanya Andreas.
“Aku akan membawa dulu beberapa daging ini, kemudian akan membeli sayuran dan buah-buahan.” Jawab Sabrina dengan cepat.
Setelah mengatakan itu ia mengambil dua set daging, kemudian berjalan kearah lain dengan Andreas yang berada di sampingnya.
Mereka benar-benar berbelanja bersama, belanjaan Andreas bahkan di simpan pada trolly yang sama dengan yang Sabrina dorong. Meskipun awalnya ia berpikir bahwa Andreas mungkin saja jahat, tapi ternyata dia cukup baik. Mereka bahkan berbicara lebih banyak dari yang ia duga, Andreas membicarakan tentang perusahaannya, sementara Sabrina hanya membicarakan mengenai kehidupan masalalunya secara singkat. Lelaki itu meskipun terlihat dingin, tapi ternyata cukup cakap dan pintar sekali mencairkan suasana, lelaki itu juga dengan mudah membuatnya cukup nyaman untuk berbicara panjang lebar, hingga Sabrina merasa sangat mudah beradaptasi dengan lelaki itu.
“Ayo ... kita pulang bersama, kebetulan aku juga menginap di salah satu apartemen di gedung apartemen Carlos.” Ujar Andreas ketika mereka sampai di parkiran. Awalnya Sabrina ingin memanggil taksi, dan menunggunya disana. Tapi ternyata lelaki itu lebih dulu menawarinya tumpangan.
Sabrina mengangguk begitu saja, bahkan ketika lelaki itu membawakan belanjaannya yang cukup banyak ia hanya diam, membiar kan lelaki itu melakukannya. Sabrina bahkan hanya diam, ketika lelaki itu memasukan belanjaannya pada jok belakang. Ia hanya menunggu sampai akhirnya Andreas berjalan ke pada pintu sebelah kiri.
“Masuk Sabrina.”
Sabrina mengangguk kemudian duduk disamping Andreas.
“Aku membuatmu repot. Terimakasih bantuanmu Sir.” Ucap Sabrina setelah memasang sabuk pengamannya.
Andreas mengedikkan bahunya. “Tak masalah Sabrina. lelaki sejati harus bersikap seperti lelaki. Lagipula kau saudara Carlos. Salah satu klien-ku, jadi aku harus memperlakukanmu dengan baik juga.”
Saudara?
Sabrina melirik Carlos yang mulai mengemudi. Bagaimana mungkin dia mengatakan ia saudaranya Carlos?
Andreas melirik Sabrina kemudian tersenyum. “Orang lain mungkin akan mengira kalian sepasang kekasih Sabrina. Tapi aku tidak. Karena aku tau kau saudaranya.” Ujar Andreas pelan.
“Lagipula, kau tak mungkin kekasih Carlos.” Tambah Andreas lagi.
Sabrina menoleh kearah Andreas. “Maksudmu?”
Apa setidak pantas itukah ia untuk Carlos hingga Andreas mengatakan hal itu? dan ... dia bilang, tak mungkin? Apakah sesulit itu baginya untuk bersama lelaki impiannya? Apa sebegitu tak sebandingnya ia bersama Carlos? Begitu?
“Karena Carlos tidak menyukai perempuan, Sabrina.” Andreas melirik Sabrina sesaat, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Dia gay.”
***
Bersambung ...
***