9. Perasaan yang Nyaman

1011 Kata
Sabrina bingung, apa yang harus ia deskripsikan di pagi hari yang cerah itu. Karena hari yang cerah ini tidak sesuai dengan suasana yang terjadi di dalam unit apartemen ini.  Sejak semalam, Carlos tidak lagi banyak bicara. Setelah mereka memasuki unit apartemen Carlos, lelaki itu langsung mengunci kamarnya. Tidak terlihat lagi, walau batang hidungnya sedikitpun. Ketika Sabrina mengintip kamar Carlos, pintunya masih tertutup rapat. Bahkan ia dapat merasakan aura dingin menguar dari balik pintu itu.   Sabrina menarik nafas panjang, kemudian merengut. Setelah itu ia kembali melanjutkan kegiatannya memotong berbagai macam buah meskipun dengan pikiran yang masih kacau.   Apa pertemuan Carlos dengan klien-nya tidak berjalan lancar? Ataukah ... karena dirinya yang datang tiba-tiba, Carlos mendapatkan masalah?   Wajah Sabrina semakin merengut, ketika memikirkan hal itu.   Apa benar, ia membuat masalah untuk Carlos?   Ketika Sabrina melirik pintu kamar itu lagi, bertepatan dengan itu pula pintunya terbuka, membuat Sabrina berjengit dan mengerjapkan matanya beberapa kali.   “Sabrina ... kau sedang membuat apa?” tanya Carlos dengan nada yang sangat datar.   “Ah? Ini ... Salad. Apa kau ingin sesuatu untuk di makan? Aku akan buatkan sesuatu.” Jawab Sabrina dengan sangat cepat.   Carlos mendudukkan dirinya di meja makan, duduk dengan memunggungi Sabrina. “Tak perlu, bawa saja salad itu kemari.”   Mendengar hal itu, Sabrina dengan cepat mengupas buah-buahan yang lain, kemudian memotongnya dengan cepat. Namun naa, pada potongan apel terakhir tangannya tergores pisau tajam itu hingga mengeluarkan cukup banyak darah.   “Argh.”   “Kenapa Sabrina?” Carlos segera mendekati Sabrina, ketika melihat darah mengalir dari jari telunjuk perempuan itu ia segera menarik tangan Sabrina untuk di basuh dengan air dari keran. “Duduk.” Ucap Carlos, setelah itu ia beranjak, meninggalkan Sabrina seorang diri.   Tak berapa lama kemudian Carlos kembali dengan sebuah kotak berwarna putih. Setelahnya, ia duduk lalu mengobati luka Sabrina dengan sangat telaten.   Sabrina menatap Carlos yang sedang sibuk mengobati lukanya, sementara wajahnya masih di tekuk. Ia masih kepikiran mengenai masalah Carlos. Apakah benar-benar karenanya ataukah karena hal lain?   “Carlos ... maaf.”   “Untuk apa?”   “Semalam ... semalam pasti aku mengacau ya? Kau pasti mendapatkan masalah, benar ‘kan?”   Carlos menarik nafas panjang kemudian mendongak, menatap Sabrina yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tidak, kau tidak melakukan kesalahan. Semalam, memang kacau. Tapi bukan karenamu.”   “Klienmu?”   “Aku akan menemuinya lagi nanti, saat ada penjadwalan ulang.”   Sabrina masih menatap Carlos dengan ragu. “Tapi ... aku benar-benar tidak melakukan kesalahan ‘kan?”   Kali ini Carlos terkekeh pelan, “Kau benar-benar menggemaskan Sabrina, aku bilang tidak ya tidak.” Ucapnya seraya senyuman kemudian diiringi usakan lembut pada puncak kepala perempuan itu.   Sabrina mendongak, menatap Carlos tepat pada manik matanya.   Deg!   Jantung Sabrina mendadak berdetak dengan sangat kencang. Apalagi ketika tangan kanan Carlos kembali terangkat, mengusak kepalanya. Rasanya ... jantungnya akan meledak sekarang juga. Detakannya semakin kencang, bahkan lebih kencang lagi dari kecepatan normal pada umumnya.   “Sabrina. kau tak mendengarkanku?”   Sabrina mengerjapkan matanya. “Hng?”   Carlos kembali tersenyum. “Bersiaplah, kita sarapan di luar.”   “Hah?”   Kali ini Carlos tergelak, tangan kanannya bahkan kini mengacak rambut Sabrina dengan sedikit lebih kencang. “Bersiap Sabrina. Mandi. Ganti baju.” Diktenya.   Sabrina mengerjapkan matanya lagi. “Memangnya kita mau kemana?”   Carlos menarik nafas seraya tersenyum saat menyadari Sabrina benar-benar melamun. “Sarapan. Diluar.”   “Ah! Ya! Baiklah! Aku akan bersiap sekarang.” Sabrina dengan cepat berdiri kemudian berlari menuju kamarnya.   Sementara itu Carlos menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman yang masih terpatri pada wajah tampannya. Setelah beberapa saat ia menghembuskan nafasnya pelan. Ia sedikitnya mulai menyadari bahwa sepertinya kehadiran Sabrina di sekelilingnya benar-benar hal bagus. Buktinya, ia yang sebelumnya masih merasa kesal, kini bisa tertawa. Padahal sebelumnya, ia tak pernah bisa mengatasi rasa kesalnya dengan cepat seperti ini.   Sabrina memang menggemaskan. Di seperti bayi besar. Pikirnya.   Carlos menggelengkan kepalanya pelan. Cukup. Apa yang kau pikirkan Carlos?   ***   Sabrina tersenyum lebar saat tangannya membawa nampan dengan setumpuk roti. Dari mulai muffin, roti limpa, croissant, bagel, breadstick hingga roti yang memanjang cukup besar baguette. Semua ada di atas nampan yang dibawa Sabrina.   Carlos yang melihatnya hanya menggeleng pelan. karena ia ragu Sabrina dapat menghabiskan makanan itu seorang diri. Sementara dirinya saja, hanya memesan sebuah roti pita dan itu akan cukup untuk mengisi perutnya.   “Habiskan. Jangan ada sisa.” Tegur Carlos, sebenarnya bermaksud bercanda. Namun Sabrina justru mengacungkan ibu jarinya. Menganggap ucapanya serius.   Ketika Carlos menyantap rotinya, iris matanya tak lepas dari Sabrina yang terlihat sangat menikmati roti itu. padahal tadi, ia berniat membawa perempuan itu makan disebuah restaurant tak jauh dari apartemennya, namun Sabrina justru ingin ke kedai roti ini. Dia bilang, aroma roti di toko ini selalu menggodanya. Namun ia tak pernah sempat untuk membeli satu pun roti dari tempat ini.   Carlos tersenyum, tangan kanannya terulur membersihkan ujung bibir Sabrina yang sedikit kotor.   “Hati-hati ... kau akan tersedak Sabrina.” tegur Carlos kemudian mengusak puncak kepala perempuan itu sesaat.   Uhuk!   Carlos menghela nafas kemudian memberikan segelas air pada perempuan itu. “Aku sudah bilang, pelan-pelan. jika terburu-buru begitu kau akan tersedak.”   Sabrina mendelik, menatap Carlos dengan mata menyipit tajam. “Gara-gara kau aku tersedak Carlos! Bukan makanannya.”   Carlos menaikkan satu alisnya. “Kenapa aku?”   “Kau ... kau ... .”   Karena kau yang tiba-tiba mengusak kepalaku! Kau gila? Jantungku sudah hampir copot dan kau melakukan itu lagi!   “Kenapa Sabrina? Hei! Malah melamun.”   Sabrina mencebik. “Pokoknya gara-gara kau! Kau yang membuatku tersedak.”   “Menyebalkan!” rutuk Sabrina lagi.   Carlos tersenyum simpul, ketika tangannya terangkat lagi Sabrina mundur. Menahan tangan itu agar tidak sampai di kepalanya.   “Mau apa?!” Seru Sabrina dengan wajah galaknya, padahal dalam hati ia sudah tak karuan karena melihat senyuman Carlos terus menerus.   Carlos mengerutkan keningnya. “Aku hanya mau mengusak rambutmu.”   “Tidak! Jangan!”   “Kenapa?”   Sabrina menatap Carlos dengan mata yang masih menyipit. Lelaki itu, benar-benar menyebalkan. Dasar tak peka!   “Ah aku tau.” Carlos mengerlingkan matanya. “Kau ... pasti kau merasakan jantungmu berdebar ya saat aku melakukan itu?”   Mata sabrina membulat. “Tidak! Siapa bilang?!”   “Ngaku saja ... .”   “Tidak! Aku bilang tidak!   “Orang bohong telinganya merah.”   Sabrina buru-buru meraih ponsel, kemudian menyalakan kamera untuk melihat telinganya. Tapi tidak merah! Matanya kembali menyipit menatap Carlos.   “Kau berbohong Carlos?!”   Carlos tergelak melihat reaksi Sabrina. “Ketahuan ‘kan ... kau berbohong.”   “Carlos! Ih! Dasar menyebalkan!”   Sabrina memukuli lengan Carlos dengan kencang, membuat lelaki itu mengaduh beberapa kali. Meski begitu gelak tawa bahagia justru terdengar begitu kencang. Menandakan kebahagiaan melimpah yang di rasakan antara kedua orang itu.   ***   Sementara di tempat lain, tanpa Carlos dan Sabrina sadari. Seseorang di dalam sebuah mobil mewah, menatap mereka berdua dengan begitu tajam dan penuh rasa cemburu. Bagaikan predator yang bersiap menyantap mangsanya.   Lelaki itu, mengepalkan kedua tangannya. Mencengkram kemudi dengan sangat erat, seolah ia ingin menghancurkan benda itu.   Setelahnya, dia menggeram marah.   Carlos ... siapapun perempuan itu ... akan aku singkirkan secepatnya.   ***   Bersambung ...   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN