8. Hubungan yang Pelik

1462 Kata
Sabrina mendadak risau, ketika hampir lewat jam makan malam ia tak juga di jemput oleh Carlos. Padahal Millian sudah berada di rumahnya sekitar dua jam yang lalu. Namun Carlos tak juga menampakkan batang hidungnya. Kerisauan yang dirasakan Sabrina itu terasa oleh Wendy yang duduk disebelahnya. Wanita itu melirik Sabrina yang terus saja menautkan kedua tangannya.   “Carlos pasti akan menjemputmu. Tenanglah.” Ujar Wendy.   “Dia hanya sedang menemui janji dengan klien untuk makan malam, Sabrina.” ucap Millian menambahi. “Jika mau, kau bisa kembali dengan sopir Wendy.”   “Tapi aku harus membawa barang-barangku dulu di flat. Aku tak mungkin memakai pakaian ini lagi.” Sabrina merengut. “Tau begini tadi siang aku berangkat sendiri ke flat.”   “Carlos bilang kau jangan di biarkan sendiri.” Ucap Millian. “Bisa saja orang-orang itu masih mengincarmu Sabrina. jangan gegabah.”   “Benar Sabrina.” Wendy menyentuh lengan Sabrina. “Atau ... mau kita antar ke flat? Rasanya aku juga ingin bertemu Thalia. Dia pasti kesepian, karena sekarang dia harus sendirian.”   “Aku tak yakin Thalia ada di flat, dia sangat sibuk Wendy.” Sabrina menatap Wendy yang terlihat merengut, beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar pada Wendy. “Tapi jika kalian ingin mengantarkanku tak apa. Aku tak akan menolak.”   “Benar?” tanya Wendy.   Sabrina mengangguk, membuat senyuman pada wajah Wendy melebar. Sabrina terkekeh seraya mengusak kepala Wendy beberapa kali. “Manja banget sih. Ijin dulu saja pada Millian.”   “Millian ... Papa ... boleh ‘kan ikut bersama Sabrina?”   Millian tak kuasa untuk tidak mencium kedua belah pipi Wendy yang begitu menggemaskan, ia menciumnya hingga beberapa kali sebelum menyetujui permintaan istrinya itu. “Baiklah sayang, kita antar Sabrina ya ... .”   “Kita?”   Millian mengangguk. “Papa, Mama dan Bubu.”   Sabrina menatap Wendy dan Millian yang terlihat sangat bahagia, Meski awal hubungan mereka penuh dengan masalah dan sangat berliku. Namun ia sangat bersyukur ketika pada akhirnya mereka dapat bersama, hidup bersama dan juga menjadi keluarga bahagia yang sangat utuh.   Bohong jika Sabrina mengatakan ia tak iri. Sejujurnya ia sangat iri, bahkan hingga ke tahap ia selalu membayangkan sosok pasangan semanis Millian. Pasangan yang begitu perhatian, lembut dan terlihat sangat penyayang. Sosok pasangan idaman setiap wanita. Namun ... dibalik itu semua, ia bahagia. Sangat bahagia atas kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya itu, di banding dengan perasaan iri yang cenderung negatif, iri yang ia rasakan justru menjadikannya sebagai motivasi dan harapannya agar mendapatkan pasangan sebaik Millian.   Memang tak akan ada seseorang yang persis seperti Millian. Tapi minimal, mendekati sosok lelaki itu.   “Jangan menatap kami begitu.” Tegur Wendy.   Sabrina mengulas senyumannya. “Aku hanya iri padamu Sabrina. Aku juga ingin mendapatkan pasangan dan bisa bahagia seperti kalian.”   Wendy terkekeh pelan. “Kau akan menemukannya nanti ... ah! Kenapa tidak Carlos saja? Bukankah dia baik? Apalagi sekarang kalian tinggal bersama.” Ucapnya tiba-tiba   Wajah Sabrina memerah, dadanya tiba-tiba berdetak dengan kencang kala membayangkan hal itu. Carlos ... dia memang sangat baik padanya. Carlos juga ... sebenarnya masuk dalam kategori lelaki impiannya. Tapi masalahnya hanya satu ... apakah Carlos mau bersamanya?   “Jangan berkata begitu Wendy ... kau ... membuatku tak enak.” Ujar Sabrina dengan suara yang sangat pelan. jujur saja, sebenarnya ia sangat malu. Apalagi disini ada Millian yang notabennya orang terdekatnya Carlos. Terlebih ketika melihat Millian hanya diam. Membuatnya semakin malu, bahkan sangat malu.   Sementara di sisi lain Millian hanya tersenyum simpul. Selain dirinya dan beberapa orang di sekitarnya. Memang tak ada yang mengetahui tentang penyimpangan orientasi s*x yang terjadi pada Carlos. Termasuk Wendy, maka pantas sang istri menjodohkan sahabatnya dengan asisten pribadinya itu.   “Kenapa tak enak?” Tanya Wendy, ia mengalihkan pandangan pada Millian. “Bagaimana menurutmu Millian? Bukankah Carlos akan menjadi pasangan yang baik?” tanya Wendy, membuat Sabrina semakin mengulum senyumannya karena malu.   Millian tak mengatakan apapun lagi, ia hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya itu.   “Sudah ... sebaiknya kita berangkat sekarang, sebelum terlalu malam ‘kan? Kasihan Bubu kalau terlalu malam.” Ujar Millian mengalihkan pembicaraan. Namun Wendy tidak merasa seperti itu, dia justru berseru senang kemudian berdiri. Millian tersenyum seraya mengusak puncak kepala Wendy. “Bersiaplah, aku akan mengabari Carlos terlebih dulu.”   ***   Carlos benar-benar meninggalkan kantor untuk menemui Andreas. Kini ia bahkan sudah duduk tepat di hadapan lelaki itu. Di tengah-tengah restaurant, dengan meja yang telah di tata sedemian rupa. Terlihat sangat mewah, dan sangat menggambarkan seorang Andreas. Namun ia sedikit di buat terkejut ketika menerima alamat restaurant tempat mereka bertemu, bukan karena mewahnya atau karena ratingnya tapi karena alamat yang lelaki itu berikan adalah sebuah restaurant yang terletak tepat di lantai dasar gedung apartemennya.   “Aku tidak tau makanan seperti apa yang kau suka Carlos, jadi aku memesan semuanya.” Ujar Andreas ketika para pelayan berbondong-bondong membawakan makanan untuk mereka berdua.   “Kau bisa tanyakan Mr. Keys. Tak perlu berlebihan seperti ini.” balas Carlos seraya menatap Andreas yang kini tersenyumbegitu lebar.   “Tadinya aku bahkan akan memesan private room, tapi aku pikir kau tak akan nyaman.”   Carlos menatap Andreas tajam, melihat semua hal yang lelaki itu lakukan membuatnya mengingat kembali perkataan Millian. Benarkah demikian? Carlos menghembuskan nafasnya pelan. tak ingin berpikir lebih jauh lagi.   “Kau sudah membuat saya tak nyaman Mr. Keys. Saya rasa untuk membicarakan bisnis ini terlalu berlebihan.”   Andreas tersenyum simpul. “Menurutku ini bukan apa-apa. Justru aku merasa seharusnya aku membawamu ke tempat yang lebih baik.”   Carlos menatap Andreas lagi yang masih saja tersenyum. Lelaki itu meliriknya lagi sebelum memotong steak di atas piringnya. “Sudah, nikmati saja makanannya. Aku tidak memintamu menghabiskan semua makanan ini Carlos. Kau hanya perlu memilih makanan mana yang kau inginkan.”   Carlos mengangguk kecil. Kemudian menatap Andreas lagi. “Lalu ... kapan kita akan menanadatangani dokumennya Mr. Keys?”   “Nanti saja, kau tau ... aku harus membawa kuasa hukumku untuk melakukan sebuah perjanjian. Sementara sekarang, aku hanya sendiri.” Andreas menatap Carlos lagi. “Lagipula kemarin aku hanya memintamu untuk menemaniku makan malam. Aku tidak mengatakan akan menandatangani perjanjian itu sekarang.”   Carlos mengatupkan rahangnya. “Lalu untuk apa anda meminta saya untuk datang?” tanya Carlos setengah menggeram marah.   Andreas tersenyum, sementara kedua tangannya sibuk menukar steak yang telah di potong itu dengan steak yang masih utuh dihadapan Carlos. “Nikmati makan malammu dulu Carlos. Kau bisa marah setelahnya.”   Saat tak menerima tanggapan dari Carlos, Andreas kembali mendongak. Lalu berujar. “Aku akan menandatanganinya setelah makan malam selesai.”   Setelah mendengar ucapan itu, barulah Carlos menyantap steak di hadapannya ini. Ia kembali terdiam setelah satu suap steak itu masuk kedalam mulutnya, seraya menatap kearah Andreas lagi. Lelaki itu ... benar-benar tertarik padanya ya? Sampai-sampai memperlakukannya semanis ini? kemarin dia bahkan membukakan pintu, lalu sekarang memotongkan steak untuknya.   Carlos menarik nafasnya lagi. Ia tidak boleh membiarkan Andreas memasuki hidupnya, ia tak boleh membiarkannya masuk tanpa ia sadari. Ia tak boleh lengah, tidak boleh barang sedikitpun.   Ingatkan ia untuk mencari cara agar membuat lelaki itu menjauh dan tidak mendekatinya lagi. Karena sampai kapanpun, ia tak akan pernah mau berdekatan dengan lelaki itu.   Ketika Carlos kembali menyantap makanannya, sebuah panggilan membuat lelaki itu mendongak.   “Carlos.”   Carlos terdiam beberapa saat, rahangnya mengatup, matanya menajam saat melihat seorang lelaki dari masa lalunya berdiri tepat di hadapannya. Dia Darren Davidson, mantan kekasihnya yang ia putuskan beberapa tahun lalu. Carlos meneguk ludahnya kasar. Bagaimana bisa ... dia ada disini?   “Ah ... Hai Mr. Davidson.” Itu bukan sapaannya, melainkan sapaan Andreas. Lelaki itu bahkan berdiri seraya mengulurkan tangannya.   “Aku tidak berbicara padamu.” Balas Darren kemudian mengalihkan pandangan lagi padanya. “Carlos ... kita harus bicara.”   “Tak ada yang perlu di bicarakan lagi Darren.”   “Carlos.”   “Kau tak mendengarkannya?” Andreas yang menanggapi itu. “Kau tak lihat kami sedang apa? Pergi dari hadapan kami sekarang juga.”   “Tidak! Aku tidak akan pergi.” Darren menggeram. “Kau pikir kau siapa? Berani memerintahku Mr. Keys?”   “Kau tanya aku ini siapa?” Andreas menyeringai, ia melirik Carlos sekilas sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku ... .”   Carlos memejamkan matanya seraya menarik rambutnya ke belakang. “Sebaiknya aku saja yang pergi.” Ujar Carlos sebelum berdiri.   “Tidak, Carlos kau belum makan apapun.” Andreas meraih lengan Carlos. Namun segera lelaki itu tepis.   “Aku tidak suka keributan.”   “Tapi Carlos.”   “Carlos!” seruan seorang wanita terdengar. Mengintrupsi keributan yang terjadi. Hingga membuat Carlos dan kedua lelaki itu menoleh kearah pintu masuk. Tempat dimana seorang perempuan cantik berjalan, mendekati mereka.   Dia Sabrina ...   “Carlos!” Serunya lagi dengan cukup kencang. “Carlos, maaf aku mengganggu makan malammu. Aku datang karena ... aku tidak tau password apartemenmu.” Ujar Sabrina, tanpa menyadari atmosfir yang mulai memanas di sekitarnya. Perempuan itu justru dengan polosnya merangkul lengan Carlos dan juga bergelayut manja disana.   “Sabrina ... .” tegur Carlos.   “Ah!” Sabrina melepaskan rangkulannya itu. kemudian menatap Carlos dengan salah tingkah. “Maafkan aku. Hm... Sir maafkan mengganggu makan malamnya.” Ujar Sabrina pada dua orang lelaki yang masih berdiri disana.   “Carlos ... siapa dia?” tanya Darren.   Carlos melirik Sabrina, kemudian merangkul bahu perempuan itu, menariknya agar mendekat.   “Ini Sabrina.”   “Siapa?” tanya Darren lagi.   Carlos mengatupkan rahangnya sebelum kembali berujar. “Aku rasa itu bukan urusanmu Darren. Kau tak berhak bertanya apapun lagi padaku.” Setelah itu Carlos mengalihkan pandangan pada Andreas. “Mr. Keys ... maafkan aku. Tapi aku sudah tidak berminat lagi makan malam disini. Sampai bertemu lagi. Permisi.”   Banyak pasang mata yang menarap kearah Carlos dan juga Sabrina, namun hanya ada satu pasang mata yang menatapnya dengan mata menajam dan juga berkilat marah, tatapan penuh api cemburu dan ambisi, seolah tak terima dengan semua hal yang baru saja dia lihat.   Tangannya bahkan kinimengepal keras, berusaha menahan luapan amarah yang sudah tak tertahankan lagi.   Carlos ... bagaimanapun caranya, aku yang akan mendapatkanmu.   ***   Bersambung ...   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN