7. Ada yang Berbeda

2073 Kata
Pagi itu rasanya sangat berbeda bagi Carlos. Biasanya ia hanya akan di sambut dengan kesunyian jika keluar dari kamarnya. Namun kali ini, ia di sambut oleh harum masakan dan juga bunyi berisik penggorengan yang di lakukan oleh Sabrina. Carlos memandangi perempuan itu beberapa saat,  dia tampak sangat manis meskipun hanya menggunakan piama miliknya yang terlihat kebesaran.   Selang beberapa saat perempuan itu menoleh ketika ia mengambil tempat duduk tak jauh darinya, dia kemudian tersenyum.   “Oh, kau sudah bangun? Apa hari ini kau akan ke kantor?” tanya Sabrina.   Carlos menggumam. “Ya ... aku harus mengerjakan pekerjaanku yang tertunda kemarin. Kau mau tetap di sini atau bertemu Wendy?”   “Boleh aku ke tempat Wendy?” mata Sabrina berbinar kala Carlos menyebutkan nama sahabat perempuan itu.   “Jika kau mau. Setelah itu kita ambil barang-barangmu di flat.”   Sabrina mengangguk seraya tersenyum dengan begitu lebar. “Baiklah, sekarang sebaiknya kau makan. Sementara aku akan mandi dan bersiap dulu.” ujarnya seraya memberikannya satu piring pancake dengan toping madu dan juga butter.   “Kau sendiri sudah sarapan?” tanya Carlos sebelum Sabrina memasuki kamarnya.   “Nanti saja, aku akan memasak di rumah Wendy.”   Carlos menghembuskan nafasnya pelan kemudian menikmati pancake lembut tersebut. Biasanya ia hanya akan sarapan dengan roti dan juga selai, tapi kali ini rasanya sedikit berbeda jika ada orang lain di tempatnya. Lihatlah, pagi ini saja ia sudah di siapkan pancake. Mungkin setelah ini ia juga tak perlu bingung untuk makan malam, karena akan ada Sabrina yang menyiapkannya.   Tak perlu memakan waktu lama bagi Sabrina untuk membersihkan diri, hingga akhirnya ia kembali ke meja makan dengan mengenakan kemeja dan sebuah rok yang dikenakannya semalam. Bersamaan dengan itu pula pancake diatas piring Carlos pun sudah habis.   Carlos menatap Sabrina sekilas sebelum mengalihkan pandangannya pada segelas kopi yang tersedia di hadapannya.   “Sudah?” tanya Carlos yang segera di angguki oleh Sabrina.   “Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan Wendy, Carlos.” Ujar Sabrina dengan sangat antusias. “Kau sudah sarapannya? Kalau sudah bagaimana jika kita berangkat sekarang? Aku sangat merindukan Wendy, Carlos.”   Carlos menarik ujung bibirnya ketika melihat tingkah Sabrina yang menurutnya begitu menggemaskan. Benar-benar berbeda dengan Sabrina yang selama ini cenderung kaku terhadapnya.   “Ayo.”   Carlos memimpin jalan, sementara Sabrina berjalan satu langkah di belakang Carlos dengan senyuman yang tak lepas dari wajah cantiknya itu. Sabrina benar-benar bahagia sekarang, setelah semalam Carlos benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik. Kali ini ia akan bertemu dengan Wendy yang sudah beberapa bulan tidak ia temui. Rasanya sudah sangat lama, dan ia telah memendam rindu yang teramat dalam untuk sahabatnya itu.   “Kau senang?”   “Tentu saja.”   Carlos menarik ujung bibirnya lagi. Sabrina ... benar-benar menggemaskan dan sangat manis. Seperti seorang adik perempuan yang ingin ia lindungi dan ia manjakan.   ***   Carlos benar-benar mengantarkan Sabrina menemui Wendy. Ia tersenyum simpul saat melihat Sabrina yang berseru bahagia begitu melihat Wendy, perempuan itu bahkan segera memeluk Wendy dan memberi banyak ciuman.   “Apa Millian sudah berangkat?” tanya Sabrina.   “Baru saja.” Jawab Wendy. ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Carlos. “Carlos, terimakasih kau sudah menolongnya. Aku sangat bahagia begitu mendengar kau memenangkan lelang itu.”   Carlos mengangguk kecil. “Aku sudah terlalu banyak menerima kata terimakasih. Kalau begitu aku berangkat sekarang. Sampai nanti.”   “Katakan pada Millian, jangan pulang terlalu larut. Ini Weekend.”   “Ya ... akan aku sampaikan.” Ujar Carlos sebelum memasuki kendaraannya lagi, setelah itu ia menginjak pedal gas, meninggalkan pekarangan rumah mewah itu.   “Jadi bagaimana semalam? Apa kalian melakukannya?” tanya Wendy seraya menggiring Sabrina memasuki rumahnya itu. Rumah yang cukup mewah yang ia dan Millian tempati setelah menikah.   Sabrina merasakan pipinya tiba-tiba memanas. Ia yakin, sekarang pasti wajahnya sangat memerah seperti tomat masak.   “Assa ... terjadi sesuatu hm? Hm?” goda Wendy lagi pada Sabrina seraya menyenggol-nyenggol lengannya.   Sabrina mengulum senyumannya. “Tidak terjadi apapun Wendy.” ia kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, setelah itu ia mendudukkan diri diatas sofa ruang tengah rumah itu.   “Jangan berbohong, katakan saja. Jujurlah ... aku tak akan mengatakannya pada siapapun.”   Sabrina tergelak. “Lihat kau juga tak percaya kan? Aku juga tak percaya Wendy, ketika dia mengatakan kalau dia memenangkan lelang dan membeliku dari mucikari laknat itu bukan untuk melakukannya bersamaku. Dia bukan menginginkan itu.”   “Benarkah?” Wendy membulatkan matanya. “Aku tak menyangka Carlos seperti itu. harus aku tanyakan nanti pada Millian.”   Senyuman Sabrina mengembang. “Dia sangat baik Wendy ... saaaangat baik. Dia benar-benar berbeda.” Sabrina duduk menghadap Wendy. “Wendy ... aku merasa ... dia adalah malaikat pelindungku yang orangtuaku kirimkan untukku dari surga.”   “Dia bagaikan malaikat tak bersayap untukku.” Lanjut Sabrina seraya menatap menerawang, membayangkan sosok Carlos yang begitu tampan.   “Apa sebaik itu? benar-benar baik?”   Sabrina mengangguk, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. “Ah! Aku jadi malu sendiri Wendy.”   “Malu kenapa?”   Sabrina menatap Wendy dengan bibir yang tertekuk ke bawah. “Kemarin ... saat aku masih berpikir dia memenangkan lelang untuk hal itu, aku ... .” Sabrina menggigit bibir bagian dalamnya. “Aku sempat menciumnya. Karena aku pikir, harus aku yang memulai.”   “Tapi ... Wendy! dia menolakku dengan lembut. Meskipun saat itu aku masih malu karena tindakan impulsifku, tapi ... aku merasa sangat tersentuh karena ucapannya. Dia bilang dia mengkhawatirkanku dan dia tak ingin aku kembali kesana. Dia tak ingin aku terluka Wendy. Dia juga mengatakan akan melindungiku.”   Senyuman Wendy merekah, mendengar rentetan kalimat yang Sabrina utarakan padanya. Sejujurnya, ia sangat lega melihat sahabatnya yang berada di hadapannya ini, ia senang ... jika memang ia tak salah memilih Carlos untuk menyelamatkan sahabatnya. Ia bahagia ... jika Sabrina benar-benar bahagia. Karena selama ini, Sabrina bukan hanya sekedar sahabat. Tapi keluarganya.   “Ah aku lupa!” Seru Sabrina, ia kemudian menunduk menempelkan telinganya pada perut Wendy. “Hai bubu. Apa kabar sayangku? Rindu pada aunty hm? Rindu?” bisiknya seraya mengelus permukaan perut Wendy yang telah membuncit itu.   Dug!   Sebuah tendangan Sabrina rasakan. Membuat perempuan itu menatap kearah Wendy dengan cepat. “Wendy! Bubu menendangku. Dia mendengarkanku.”   Wendy terkekeh pelan lalu mengangguk. “Hm. Dia merindukan aunty-nya. Apalagi masakannya, sangat rindu. Bubu sampai belum sarapan karena menunggu aunty Sabrina datang.”   Sabrina membulatkan matanya, “Kau belum sarapan Wen?”   Wendy menggeleng. “Aku sudah bilang ‘kan kalau aku ingin masakanmu?”   “Tapi kau harus sarapan Wendy! bagaimana jika aku tidak jadi datang? Atau datangnya siang? Hm?”   Wendy tertawa pelan. “Sudah, jangan mengomel. Sekarang kau sudah disini dan ayo ... masak. Aku sudah tak sabar mencicipi masakanmu lagi.”   Sabrina mendengus pelan seraya menatap Wendy, “Baiklah-baiklah, karena aku sedang berbaik hati, aku akan masak sekarang. Kau ... duduk saja. Mengerti?”   “Siap aunty!”   Sabrina terkekeh lagi ketika melihat tingkah ke kanakkan Wendy. tangannya bahkan sempat terangkat mengacak-acak pelan puncak kepala sahabatnya itu.   “Sabrina ... .” Panggil Wendy sebelum Sabrina benar-benar beranjak. Membuat perempuan itu menoleh.   “Kenapa Wen? Hey kenapa matamu berkaca-kaca begitu? Apa aku menyinggungmu?”   Wendy menggelengkan kepalanya. “Aku senang ... aku bahagia melihatmu bisa tertawa secara bebas lagi Sabrina. Aku senang, sekarang bisa melihatmu tanpa beban lagi. tanpa kebingungan dan pusing lagi. aku senang ... sangat. Aku bahagia melihatmu bisa bahagia lagi Sabrina. aku sangat bahagia.”   “Terimakasih kau sudah bertahan dimasa-masa sulitmu.” Lanjut Wendy.   Sabrina menarik Wendy dalam pelukannya. Ia membelai punggung sahabatnya itu beberapa saat. Ya ... ia memang sangat merasakan perubahan yang terjadi dalam dirinya. Terutama hatinya, dadanya yang dulu terasa sangat sempit kini lapang kembali. Sesak yang selalu membelenggunya kini tiada lagi. Ya ... ia memang merasakan perbedaan itu, dan ... ia yakin semua ini berkat Carlos ... berkat Wendy juga yang berani memberitahu Carlos.   “Seharusnya aku yang berterimakasih Wendy. kau menyelamatkanku. Kau yang membuatku bahagia seperti sekarang. Terimakasih sudah menolongku. Terimakasih juga sudah mengirimkan Carlos.”   Wendy menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengirimkan Carlos untukmu Sabrina. Dia sendiri yang datang untukmu. Untuk melindungimu. Dia ... dia datang karena memang sangat tulus ingin melindungimu ... bukan karena aku.”   Sabrina tersenyum lagi. “Apapun itu ... aku sangat berterimakasih.” Ia mengurai pelukannya pada Wendy kemudian memberikan senyumannya lagi. “Sudah ... kalau kau sedih nanti Bubu sedih. Kalau kalian sedih nanti Millian marah padaku.”   Wendy terkekeh pelan. “Tak akan berani. Dia marah padamu aku akan memarahinya.”   Setelah itu keduanya tergelak bersama.   Hari itu mereka benar-benar menghabiskan waktu seharian itu bersama. Melepas rindu dan melepas cerita yang belum sempat mereka ceritakan satu sama lain. Tertawa bersama, bahkan menangis bersama kala menonton sebuah film. Menebus waktu bersama mereka yang baru saja bisa meraka penuhi saat ini.   ***   Sementara itu setelah menyelesaikan membuat dokumen perjanjian yang akan di tanda tangani Millian dan Andreas, Carlos masih berada di kantor untuk membicarakan beberapa hal mengenai project bersama Andreas pada Millian. Terutama keanehan Andreas yang menyetujui proposal pengajuan project mereka tanpa membacanya sedikitpun.   “Aku pikir dia akan sulit, tapi tidak sesulit itu.” ujar Carlos di akhir ceritanya.   “Bagus kalau begitu. Apalagi yang kau pikirkan Carlos? Kau tak perlu bersusah payah meyakinkannya.” Balas Millian.   “Tapi aku merasa dia merencanakan sesuatu.” Carlos menatap Millian dengan datar. “Kita harus tetap berhati-hati, bagaimanapun dia mencurigakan Millian.”   Millian justru tertawa mendengar kalimat yang Carlos ucapkan. Membuat lelaki itu menoleh dengan menatapnya tajam.   “Apa yang kau tertawakan?” tanya Carlos dengan kening bertautan, heran.   “Bukankah semuanya sudah sangat jelas Carlos?” tanya balik Millian seraya menghentikan tawanya.   “Apa maksudmu?”   “Tentu saja karena Andreas menyukaimu. Makanya dia memberimu kelonggaran.” Millian menepuk pundak Millian yang duduk disampingnya beberapa kali. “Terlalu lama sendiri, sepertinya membuatmu tak peka ya?” goda Millian, membuat Carlos memandang Millian malas lalu melongos.   “Hei! Kau kenapa begitu Carlos? Memang benar ‘kan? Sudahlah ... terima saja jika memang dia menyukaimu. Lagipula kau juga belum memiliki kekasih ‘kan?”   Carlos mendelik. “Kau mau memanfaatkanku?”   “Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Lagipula ... apa kurangnya Andreas? Dia sama-sama tampan  dan mapan seperti ... .”   “Sebaiknya kau segera pulang Millian, sudah sore. Aku bisa di cincang istrimu, jika kau pulang terlambat.” Carlos segera memotong ucapan Millian yang hampir saja melebar. Jujur saja, ia sangat muak, jika ada yang membicarakan masa lalunya.   Millian tergelak mendengar kalimat itu. Ia kemudian mengerlingkan matanya. Menggoda yang lebih tua kembali. “Nanti kau menyesal ... .”   “Tidak Millian! aku tidak akan menerimanya sekalipun dia berlutut dihadapanku!” Tegas Carlos.   Millian kembali tergelak mendengar kalimat yang baru saja Carlos ucapkan itu. Ya ... Carlos memang seorang gay. Dia memiliki penyimpangan seksual itu sejak muda, dia tidak pernah memiliki kekasih seorang perempuan sama sekali, kekasih terakhirnya saja seorang laki-laki. Lelaki kaya raya yang tampan dan juga tentu saja sangat mapan. Setelah itu ... tak ada lagi. Tak ada yang menjadi kekasihnya, entah itu seorang lelaki ataupun perempuan. Saat ia sesekali bertanya mengenai pasangan, Carlos hanya mengatakan, dia memutuskan untuk sendiri sampai waktu yang tidak di tentukan.   “Terus saja tertawa sampai kau tersedak.” Sindir Carlos lagi. “Aku akan pergi sekarang.”   “Hei! Carlos. Kau marah aku goda begitu?”   “Untuk apa? Aku ada janji makan malam bersama Andreas. Puas?!” ujar Carlos sakratis.   “Oh. Oke. Baik-baiklah padanya Carlos ... siapa tau cocok ‘kan?”   “Sialan.” Umpat Carlos sebelum meninggalkan Millian seorang diri.   Millian menggelengkan kepalanya pelan. Carlos hanya akan menjadi Carlos. Selalu saja seperti itu jika berbicara mengenai pasangan. Dia cenderung sangat berhati-hati, hingga membuatnya tidak memiliki kekasih lagi hingga saat ini.  Bahkan fakta mengenai Carlos yang rela pergi meninggalkan klien demi menyelamatkan Sabrina, begitu mengejutkannya. Sangat mengejutkannya. Karena selama ini, ia tak pernah melihat Carlos sangat peduli seperti itu pada seseorang. Terlebih pada seorang perempuan. Tapi pada Sabrina ... Carlos benar-benar lain. Carlos bahkan memperlakukan Sabrina seolah dia adalah berlian langka yang sangat berharga. Dia begitu melindungi perempuan itu. Sampai rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri selama berkendara, demi menyelamatkan Sabrina yang sedang di lelang. Sedikitpun, ia tak mengerti mengapa Carlos memperlakukan Sabrina seperti itu, karena ada satu hal yang bisa ia pastikan. Perasaan Carlos itu ... bukan cinta. Itu bukan perasaan seperti yang terjadi pada pasangan pada umumnya.   Bukan cinta, bukan juga perasaan sayang. Ya ... bukan perasaan sejenis itu.   Tapi anehnya, mengapa Carlos memperlakukan Sabrina dengan begitu spesial?   ***   Bersambung ...   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN