Sabrina sesekali melirik takut pada Carlos yang kini tengah mengemudi. Hingga sejauh ini, tak ada kalimat lain dari Carlos selain mengatakan ‘ayo pulang’ padanya sekitar satu jam yang lalu, namun hingga saat ini dia benar-benar mendiamkannya. Hingga suasana dalam kendaraan itu terasa sangat dingin dan sedikit menakutkan.
Apakah setelah ini Calos akan marah padanya? Ataukah akan memperlakukannya dengan buruk? Sekarang ia pasrah, benar-benar pasrah dengan keadaan ini. ia akan menerima konsekuensi apapun dari Carlos. Ya ... apapun, meskipun sekarang ia sangat ketakutan.
Sabrina menarik nafas panjang kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi, setelah itu menatap kearah jendela disebelahnya, menatap jalanan yang tampak basah karena beberapa saat lalu hujan memang melanda dengan derasnya. Seolah mewakili dirinya yang ingin menangis tapi tertahan.
“Kita akan pergi kemana Sir?” tanya Sabrina ketika kendaraan itu memasuki area sebuah gedung pencakar langit dikawasan elit.
“Menurutmu?” tanya balik Carlos sebelum menghentikkan kendaraannya tepat di depan lobi. Setelah itu ia keluar, kemudian memberikan kunci mobilnya itu pada petugas valley sebelum akhirnya membukakan pintu di samping Sabrina dan membawa wanita itu memasuki gedung tersebut.
Sabrina menatap gedung tinggi yang tampak sangat mewah itu dengan mata yang tak berkedip. “Ini ... dimana?”
“Apartemenku.”
Ah ya ... seharusnya Sabrina tau jika ia akan dibawa pulang oleh tuannya, bukan di antarkan pulang ke tempat asalnya. Kenapa ia harus bertanya lagi? Seharusnya ia tak perlu bertanya dan juga tidak perlu terkejut dengan keputusan Carlos membawanya ketempat ini, bukan? Karena bagaimanapun, ia sudah menjadi milik Carlos. Setidaknya untuk satu minggu kedepan.
Sabrina menarik nafas panjang, Seharusnya ia sadar, tak akan ada seorangpun yang rela mengeluarkan yang yang begitu besar secara sia-sia. Tentu saja, akan ada maksud dan tujuan tertentu di balik kebaikan itu. Seperti sekarang, Carlos pasti ingin menagih layanan yang di tawarkan sebagai gift dari lelang itu. Carlos pasti akan menggunakannya dan memakainya malam ini. Ya ... lelaki itu pasti akan menghabisinya malam ini, sampai enam hari kedepan.
Suara lift berdenting menyadarkan Sabrina dari lamunan panjangnya. Ia mengerjapkan mata beberapa saat sebelum akhirnya membuntuti Carlos menuju salah satu pintu.
“Masuk.” Ujar Carlos setelah membukakan pintu untuknya.
“Mr. Peter.”
“Carlos. Panggil aku Carlos.” Ujar Carlos dengan cepat. ia kemudian menggiring tubuh Sabrina memasuki ruangan yang benar-benar mewah itu. Sebuah apartemen yang di d******i dengan warna hitam dan abu-abu. Sangat terkesan misterius dan dingin. Benar-benar menggambarkan Carlos, seperti yang biasa ia lihat.
“Sabrina.”
“Hm... ya ... Carlos.” Ujar Sabrina seraya mengalihkan pandangan pada Carlos.
Deg!
Debaran jantung Sabrina semakin bergetar kala iris matanya menangkap Carlos yang tengah melepaskan jas yang di kenakannya, kemudian lelaki itu melonggarkan dasi yang membelit lehernya, lalu membuka satu persatu kancing tangan kemeja hitam yang di kenakannya.
Carlos ... benar-benar menawan. Wajah yang sangat tampan dan juga tubuh yang begitu atletis, benar-benar menambah kesan gagah dalam diri lelaki itu. Bahkan gerakan itu seolah berputar seperti gerakan yang di perlambat dimatanya. Benar-benar lambat, hingga rasanya ... ia ingin melihat itu lagi.
Sabrina meneguk ludahnya kasar. Tunggu ... apakah mereka akan benar-benar melakukannya? Carlos akan melakukan hal itu padanya?
Sabrina membulatkan matanya, apalagi ketika melihat Carlos berjalan menuju salah satu pintu yang Sabrina yakini adalah sebuah kamar.
“Kemari.”
Sabrina membasahi bibirnya sebelum melangkah mendekati Carlos dengan sedikit ragu. Begitu ia sampai didepan Carlos, lelaki itu membuka kamar tersebut. Mereka ... mereka akan melakukannya? Benar-benar melakukannya? Sekarang?
“Carlos ... .” Sabrina meneguk ludahnya lagi. ia menatap lelaki itu kemudian berpaling. Tadi, ia sangat bersungguh-sungguh saat mengatakan akan merelakan semuanya untuk Carlos ... ia memang siap memberikan semuanya pada lelaki itu. Tapi ... haruskah malam ini? Haruskah sekarang ... ?
“Ini kamarmu. Kau bisa menempatinya mulai sekarang.”
“Hng?”
Carlos menatap Sabrina. “Aku khawatir orang-orang Madam Eve memaksamu kembali ke club, untuk itu tinggal saja disini.”
Aku khawatir ...
Dada Sabrina menghangat mendengar kalimat itu. wajahnya juga mendadak panas mendengarnya. Carlos ... mengkhawatirkannya? Benar-benar mengkhawatirkannya?
“Besok akan ku antar untuk membeli beberapa keperluanmu. Sekarang gunakan saja yang ada.”
“Ah ... ya ... .”
“Kalau butuh sesuatu, kamarku di ada di sebelah sana. Kau bisa memanggilku kapanpun.”
Sabrina mengangguk, ketika melihat salah satu pintu lagi tak jauh dari kamar yang akan ia huni. Namun ... bukan itu ... itu tak penting sekarang.
Sabrina meneguk ludahnya, ia mendadak sangat gugup.
“Jadi Carlos ... .” Apa kita akan melakukannya malam ini?
Carlos menaikan satu alisnya. “Kenapa Sabrina?”
“Tidak! Tidak!” Sabrina mengerjapkan matanya. “Aku hanya lapar. Ya! Aku lapar.” Ujar Sabrina cepat seraya berlalu begitu saja, meninggalkan Carlos yang tersenyum simpul.
Menggemaskan. Pikir Carlos.
***
Sementara Sabrina memasak dengan beberapa bahan makanan yang ada, Carlos duduk di ruang tengah dengan sebuah laptop didepannya. Lelaki itu tampak sedang sibuk berbicara dengan seseorang yang ada di sebrangnya.
“Saya akan kembali Senin depan Mr. Keys. Mohon maaf saya tidak bisa memenuhi undangan makan malam anda.”
Andreas tertawa pelan. “Tak masalah Carlos. Yang terpenting saudaramu sudah aman ‘kan? Kau tak perlu datang. Aku yang akan ke kantormu besok.”
Carlos mengangguk. “Sudah. Terimakasih anda telah mengkhawatirkannya. Baik, jika begitu. Saya akan segera menyiapka dokumen kerjasamanya Mr. Keys.”
“Tak perlu terburu-buru Carlos, lagipula aku kesana untuk berlibur.”
“Aku justru berharap kau bisa meluangkan waktu untuk makan malam denganku besok.”
“Saya usahakan. Terimakasih Mr. Keys. Saya pikir sekarang waktunya anda beristirahat. Selamat malam.”
Andreas tersenyum. “Sampai bertemu besok dan selamat malam Carlos.”
Carlos memutuskan sambungan panggilan video itu seraya menghembuskan nafasnya. Jika bukan karena pekerjaannya, ia tak akan sudi menghubungi orang itu. Tapi karena ia harus bersikap profesional, maka suka atau tak suka pun ia harus menghadapinya.
“Carlos ... kau ingin memakan sesuatu?” tanya Sabrina.
“Boleh.” Jawab Carlos seraya menutup laptop kemudian berjalan kearah Sabrina. “Yang kau masak saja.”
“Kau belum makan malam?”
“Belum sempat.”
Sabrina menganggukkan kepalanya, kemudian ia membawa dua buah piring pasta ke hadapan Carlos.
“Hmm... Carlos ... darimana tau kalau aku ... .”
“Mulai hari ini kau tak perlu datang lagi ke tempat itu.” ujar Carlos memotong ucapan Sabrina.
Sabrina menatap Carlos. “Kenapa? Aku masih ... .”
“Karena aku sudah membelimu.”
Membeli ...
Hati Sabrina berdenyut, sakit mendengar hal itu. Rasanya ia seperti barang saja. Meskipun kenyataannya ia memang diperlakukan layaknya barang ditempat itu.
“Lalu darimana kau tau ... .”
“Habiskan makananmu Sabrina.”
Sabrina meneguk ludahnya kasar mendengar nada dingin yang Carlos layangkan padanya. Setelah itu ia menganggukkan kepala ringan, tak berani membantah lelaki itu lagi.
Suasana benar-benar hening, tak ada lagi kalimat yang diucapkan Carlos ataupun Sabrina. Sampai akhirnya Carlos yang bertanya setelah makanan yang berada di atas piring masing-masing tandas.
“Apa aku membuatmu takut Sabrina?”
Sabrina hanya diam, tak berani mengangguk atau menggeleng. Ia hanya menunduk, tidak memberikan reaksi apapun dengan harapan Carlos akan mnegerti.
Carlos menarik nafas panjang kemudian melipat tangan di dadanya. “Aku mengerti. Maafkan aku.”
Sabrina mengangkat wajahnya. “Tidak, tidak Carlos kau tak perlu meminta maaf. Kau ... aku ... aku justru harusnya berterimakasih padamu karena kau telah menolongku dari tempat itu. aku berjanji akan mengganti uangnya bagaimanapun caranya. Kau tak harus meminta maaf Carlos.”
“Baiklah.” Carlos menatap Sabrina yang masih menatapnya. “Lalu mengapa kau tak mengatakan apapun padaku?”
“Carlos ... maafkan aku ... aku tidak mengatakannya karena aku tidak ingin menyulitkanmu. Selain itu,mereka memanfaatkanmu, aku berada disana karena mereka ingin memanfaatkan uangmu. Carlos ... kau sudah banyak menolongku, aku tak ingin kau mengeluarkan uangmu lagi untukku. Tapi ternyata ... kau ... datang.”
“Apa kau berpikir aku tak memiliki uang hanya karena aku seorang asisten pribadi, Sabrina?”
Sabrina menunduk, sejujurnya ia memang memikirkan hal itu. “Maaf.”
Carlos menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. “Sudahlah, tak perlu di pikirkan, kau tidak perlu menggantinya.”
“Tapi Carlos.”
“Aku bilang tidak Sabrina.” ujar Carlos kemudian beranjak, menuju balkon.
Sabrina menunduk lagi. Jujur saja, ia tak suka dengan nada bicara Carlos yang begitu mengintimidasinya seperti ini. Tak masalah dia berkata dengan nada dingin dan datar, asalkan jangan mengintimidasinya, itu sudah terasa cukup baginya.
“Sabrina, kemari.”
Sabrina mendongak, ia kemudian menghampiri Carlos lalu berdiri tepat disamping lelaki itu.
“Lihat langitnya.” Ujar Carlos seraya menunjuk langit malam.
Sabrina mendongak. Melihat hamparan bintang yang menghiasi langit malam itu. Disana, berbagai rasi terbentuk, begitu indah. Bahkan lebih dari indah meskipun sebelumnya air hujan turun begitu derasnya.
“Indah ... .” gumaman Sabrina.
“Bahkan setelah hujan lebat, langit bisa kembali menjadi indah lagi.”
“Bukankah seharusnya, bahkan setelah badai yang datang, akan ada pelangi yang indah?”
Carlos menyunggingkan senyuman tipisnya, ia melirik Sabrina sesaat. “Malam hari tak ada pelangi Sabrina.”
Sabrina terkekeh pelan. “Benar juga, bagaimana bisa aku mengatakan itu.”
Tak ada tanggapan dari Carlos. Bahkan Sabrina pun tidak melirik Carlos sama sekali. Ia sedang sangat menikmati pemandangan indah malam hari yang begitu langka ia lihat itu.
“Berbahagialah meskipun hidupmu sebelumnya terasa sulit atau bahkan hancur.” Carlos melirik Sabrina. “Aku tak ingin melihatmu terjerumus disana lagi Sabrina. kau mengerti?” tanya Carlos, yang ucapannya kali ini terdengar sangat lembut.
Sabrina menoleh menatap Carlos yang masih menatap langit. Senyumannya kembali mengembang. “Aku mengerti Carlos. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.”
Carlos hanya menggumam pelan untuk menanggapinya.
Sabrina kemudian menatap Carlos yang masih saja memandangi langit. Ia menggigit pipi bagian dalamnya kemudian menggigiti bibirnya juga secara perlahan. Ia gugup, sangat gugup. Ia berpikir, harus melakukan sesuatu untuk Carlos sebagai ucapan terimakasih. Tapi apa? Ia tak bisa memberikan apapun. Karena ia sendiri tak memiliki apapun untuk saat ini.
Ah ... tidak. Sebenarnya ia memiliki dua hal yang bisa saja ia berikan pada Carlos
Pertama.
Tubuhnya.
Kedua.
Harga dirinya.
Lalu ... haruskah ia menyerahkan dua hal itu pada Carlos malam ini?
Sabrina meneguk ludahnya kasar, sebelum memanggil lelaki itu.
“Carlos.”
Lelaki itu menoleh, menatap kearahnya.
Cup!
Sabrina mencium bibir Carlos. Membuat lelaki itu terdiam seraya menatap Sabrina yang masih begitu dekat dengannya.
“Sabrina.”
Sabrina meneguk ludahnya lagi dengan kasar. Kenapa ... ia mendadak gugup? Padahal harusnya tidak segugup ini.
“Ya ... .”
Carlos menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. “Aku memenangkan lelang bukan karena ingin sesuatu hal seperti itu darimu.”
Wajah Sabrina memerah, ia kemudian melangkah mundur. Menjauh dari Carlos.
“Lalu?”
Carlos menatap Sabrina dengan tangan yang terulur, mengusak puncak kepala Sabrina perlahan. “Karena aku ingin melindungimu Sabrina. Aku tak ingin melihatmu terluka dan sendiri lagi.”
Tangan Carlos yang lain membelai jawah Sabrina. “Sejak awal, aku bertekad ingin melindungimu, tapi aku belum memiliki cara untuk mengeluarkanmu dari tempat itu. Dan hari ini ... aku memiliki kesempatan itu, sampai akhirnya aku berhasil membebaskanmu dari sana.”
Carlos menatap Sabrina yang kini hanya menundukkan kepalanya. Telunjuk dan ibu jari tangannya menggamit dagu Sabrina hingga wanita itu mendongak, menatapnya.
“Sabrina ... kenapa kau sangat gegabah tidak memberitahuku tentang lelang itu? hm?” Carlos membelai kedua belah pipi Sabrina dengan dua tangan. “Bagaimana jika kau jatuh pada orang yang salah? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Apa kau tidak berpikir hingga sejauh itu?”
“Carlos ... aku ... aku sudah bilang, aku hanya tak ingin menyulitkanmu lagi. mereka memanfaatkanmu Carlos.”
Carlos mengulas senyumannya. Seraya menghembuskan nafasnya pelan. “Aku pasti akan sangat menyesal jika kau berada ditangan orang lain Sabrina, jika aku tak datang pasti aku akan sangat menyalahkan diriku sendiri. Beruntung Wendy mengabariku ... dia bilang Thalia mengabarinya kalau kau akan di lelang.”
“Wendy ... Thalia ... .”
Carlos mengangguk. “Sahabat-sahabatmu. Jangan marah pada mereka, karena jika mereka tidak mengatakannya padaku, mungkin aku yang akan murka. Aku yang akan marah habis-habisan pada mereka.”
Tangan kanan Carlos menepuk puncak kepala Sabrina beberapa kali. “Jangan berbuat bodoh lagi Sabrina. jangan membuatku khawatir lagi. Kau mengerti ‘kan?”
“Rasanya, aku hampir gila saat memikirkanmu disepanjang perjalanan tadi. Aku ... takut terlambat.”
Mata Sabrina berkaca-kaca begitu mendengar rentetan ucapan Carlos. Untuk pertama kalinya ia dapat mendengar ucapan sepanjang itu dari Carlos. Ia senang, ia bahagia. Ia juga entah mengapa dapat merasakan perasaan tulus dari ucapan lelaki itu. ucapan penuh kekhawatiran yang lelaki itu layangkan untuknya.
Hati Sabrina berdenyut sakit, ia merasa bersalah telah meragukan Carlos. Ia benar-benar salah menduga lelaki itu. Ternyata Carlos benar-benar tulus. Dia ingin melindunginya.
Sabrina menatap Carlos yang kini tersenyum. Senyuman lebar yang untuk pertama kalinya ia lihat. Terlihat sangat teduh, tampan dan sangat menawan. Ia benar-benar masih tak menduga, ada laki-laki sebaik Carlos, yang datang menolong tanpa pamrih, padahal sebelumnya mereka tidak mengenal sama sekali.
Carlos benar-benar berbeda dari lelaki lain. Carlos ... Apakah Carlos adalah lelaki yang di kirim dari surga untuk melindunginya?
“Carlos ... .” Sabrina menatap Carlos lamat, tangannya perlahan terangkat membelai wajah tampan itu. “Kau ... memang lelaki yang berbeda. Kau sangat baik Carlos. Padahal kita baru beberapa bulan saling mengenal. Kau ... apa kau malaikat pelindung yang di kirim orangtuaku dari surga?”
Carlos terkekeh pelan, ia meraih kedua tangan Sabrina lalu menggenggamnya. “Jangan terlalu memuji. Aku tidak sebaik itu Sabrina.”
Senyuman Sabrina masih mengembang dengan lebarnya. Ia menggelengkan kepalanya seraya menatap Carlos dengan dalam. “Aku tidak peduli, bagiku kau akan selalu menjadi yang terbaik Carlos.”
Carlos menatap mata bening Sabrina yang menatapnya dengan sangat berbinar. Tangan kanannya terangkat lagi membelai wajah Sabrina kemudian membelai alis, mata, hidung dan juga pipinya.
“Jangan begitu.”
Karena kenyataannya, aku adalah bagian dari mimpi burukmu selama ini ... Sabrina.
***
Bersambung ...
***