Sabrina menatap pantulan dirinya di sebuah cermin di dalam ruang ganti club. Kemudian ia tertawa miris, menatap tubuhnya sendiri yang kini hanya dibalut oleh lingerie seksi berwarna merah. Benda yang sebenarnya tidak berguna., karena tetap saja mempertontonkan lebih dari sembilan puluh lima persen bagian tubuhnya. Benar-benar mengerikan, bahkan sangat mengerikan. Apalagi saat Sabrina menelisik tubuhnya sendiri, menatapnya dengan sangat intens. Ia pikir, ia hanya akan di lelang kemudian harus melayani pemenang lelang. Tapi ternyata yang terjadi lebih buruk dari yang ia duga. Sebelum lelang itu di laksanakan, seluruh peserta lelang termasuk dirinya justru terlebih dulu harus mempertontonkan tubuhnya didepan para tamu. Para lelaki hidung belang yang haus akan belaian itu. Seluruh peserta akan berjalan di catwalk sebelum akhirnya kembali ke ruang tunggu untuk menunggu giliran lelang.
Tok tok tok!
Sabrina terjengit saat mendengar ketukan itu. Kesadarannya seolah kembali sempurna, setelah pikirannya terus melayang melanglang buana.
“Sabrina ... keluarlah, acara akan segera dimulai.”
“Y ... Ya. Aku keluar sekarang.”
Sabrina menatap dirinya sendiri kembali, untuk terakhir kalinya. Menatap tajam, berusaha membangun pertahanan terkuat dari dinding yang sebenarnya telah sangat rapuh. Sabrina, tak ada waktu lagi untuk menangis. Angkat dagumu, percayalah hari ini dan seminggu yang akan datang akan segera berlalu. Pikir Sabrina. Setelah itu ia menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya sebelum keluar dari ruang ganti tersebut.
Semua pandangan terasa terfokus pada Sabrina, ketika perempuan itu berjalan keluar dari ruang ganti. Mereka semua menatapnya, mengagumi bentuk tubuhnya dan juga kemolekan tubuhnya. Namun sayangnya Sabrina tak tau, ia harus merasa bersyukur di kagumi seperti itu, atau justru bersedih. Karena bisa saja saat ini hal itu menjadi petaka baginya.
“Berbaris. Acara sudah dimulai.”
“Sabrina kau urutan terakhir.” Ucap Madam Eve.
Sabrina mengatupkan rahangnya ketika melihat wanita paruh baya itu kini tersenyum sangat cerah. Dasar Iblis! Aku sumpahi kau segera ke neraka! Batin Sabrina, sebelum ia berjalan menuju belakang panggung mengikuti seniornya yang sudah berjalan lebih dulu.
Sorak sorai penonton semakin membuat Sabrina gugup, apalagi ketika peserta pertama memasuki panggung. Jantungnya mulai berdebar hebat ketika kakinya terus melangkah maju, semakin mendekati panggung. Rasanya ingin sekali Sabrina melarikan diri atau menghilang saat ini juga. Tapi ia sadar, itu tak mungkin. Ia tak bisa menghindari ini lagi, jika tak ingin mati di tangan wanita tua itu.
Sabrina menggigit pipi bagian dalam ketika kakinya mulai menginjak tangga panggung. Ia gugup dan juga takut. Sisa satu peserta lagi yang akan berjalan di catwalk, setelah itu dirinya yang akan melenggang disana. Apa yang harus ia lakukan? Apakah harus tebar pesona dengan memberikan ciuman jarak jauh? Memberikan senyuman penuh godaan? Atau tidak melakukan apapun? Jujur saja, ia tak ingin semakin menarik perhatian orang-orang. Bahkan rasanya akan lebih baik jika tak ada yang tertarik padanya.
“Sabrina giliranmu.”
Sabrina menarik nafas panjang, kemudian menaikan dagunya sebelum keluar dari belakang panggung. Bertepatan dengan langkah pertamanya, sorak sorai para tamu mulai bersahutan. Begitu gaduh, bahkan lebih gaduh daripada sebelumnya.
Tak ada senyuman, tak ada godaan bahkan tak ada pose menggoda. Sabrina benar-benar hanya berjalan ke atas panggung kemudian kembali lagi dengan cepat. Ia tak peduli dengan penilaian orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan tidak memedulikan tatapan Madam Eve yang menatapnya sangat tajam pada salah satu kursi penonton.
“Wanita itu. Lihat saja, aku akan mendapatkannya.”
“Aku yang akan memenangkan wanita itu.”
“Dia membuatku penasaran.”
Sabrina meneguk ludahnya kasar begitu mendengar kalimat-kalimat tersebut, begitu dirinya meninggalkan panggung. Bisakah ia berharap uang-uang orang itu mendadak menghilang agar mereka tak bisa memenangkan lelang terhadapnya?
“Kau sengaja ingin menarik perhatian seluruh pengunjung, Sabrina?” Tanya salah satu senior di club itu, Bella.
Sabrina menoleh. “Jika aku bermaksud begitu, aku akan dengan mudah menggoda mereka semua.” Jawabnya sakratis.
Bella tertawa pelan. “Kalau begitu kau salah strategi Sabrina.”
“Maksudmu?”
Wanita itu menepuk pundak Sabrina. “Kau seperti aku, dulu. Aku melakukan hal itu agar orang-orang tidak tertarik padaku. Tapi sayangnya cara itu salah Sabrina. Mereka semua justru akan sangat tertarik padamu, mereka akan memperebutkanmu dengan sengit. Apalagi ditambah dengan profil yang kau simpan di website.” Bella menatap Sabrina semakin intens. “Jangan terkejut, jika setengah dari mereka akan menawarmu dengan harga-harga yang fantastis.”
Perasaan takut semakin bertumpuk di benak Sabrina, apalagi setelah mendengar penuturan Senior-nya itu.
“Miss ... .”
Bella menggeleng. “Bella saja.” Ujarnya seraya tersenyum.
“Bella ... lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Tenang saja.” Ucap Bella. “Bukankah kau sudah memiliki langgananmu sendiri? Dia pasti akan memenangkanmu dengan berbagai cara. Karena aku juga begitu. Dia sudah datang, dia bahkan mengatakan akan berusaha memenangkan lelang, sekaligus menyelamatkanku dari tempat ini.”
“Tapi ... .” Sabrina meneguk ludahnya kasar. “Carlos sedang di luar kota.”
“Kau tidak mengabarinya?”
Sabrina menggelengkan kepala.
Bella menghembuskan nafasnya pelan. “Kalau begitu, kau harus bersiap saja Sabrina.” Bella tersenyum lagi. “Semoga kau beruntung.” Ujarnya pelan.
Apakah ia melakukan kesalahan dengan tidak mengabari Carlos? Apakah ia baru saja bertindak bodoh? Jika iya, tolong katakan.
Bodoh! Kau memang bodoh Sabrina! Dia bilang, katakan jika terjadi sesuatu bukankah itu sudah jelas jika dia memang ingin melindungimu? Kenapa kau bodoh sekali? Kenapa kau sangat bodoh?
Rasanya ingin sekali Sabrina menangis lagi, namun air mata itu tidak lagi menetes. Matanya sudah sangat panas, air matanya mungkin saja sudah mengering untuk hari ini. Ia tak bisa menangis lagi, ia juga tak bisa mengeluarkan air mata lagi. Sekarang ia hanya bisa diam, meratapi nasibnya yang beraja di ujung jurang.
Semua orang bergantian menaiki panggung untuk mendapatkan giliran di lelang. Satu persatu dari mereka semua bahkan mulai mendapatkan pasangan. Para Senior yang memang sudah mengetahui teknik dalam mengikuti lelang tersenyum bahagia karena mendapatkan pasangan yang telah mereka kenali, begitu juga Bella. Wanita itu kini bahkan tersenyum sangat cerah begitu pasangan yang sebelumnya dia ceritakan memenangkan lelang. Ya ... tak heran jika lelaki itu memenangkan lelang. Karena dia adalah satu-satunya pelanggan Bella yang merupakan seorang pengusaha muda dan tentu saja memiliki uang yang tidak berseri.
Tubuh Sabrina menegang ketika seorang senior yang sebelumnya telah turun panggung kembali. Ia meneguk ludahnya kasar. Gugup. Karena jika dia telah turun panggung artinya kini saatnya ia naik dan di lelang.
Benar saja, setelah beberapa saat namanya di panggil.
“Giliranmu Sabrina.”
Hati Sabrina berdenyut, sakit. Tangannya bahkan mulai berkeringat dingin. Ia tak siap! Ia tak mau di lelang layaknya barang seperti ini.
“Sabrina.”
Sabrina pasrah.
Ia akhirnya berdiri kemudian melangkah dengan lesu ketika mulai menaiki panggung tersebut. Tak ada rona pada wajah itu, karena Sabrina benar-benar merengut, tak berminat dengan acara ini. namun sayangnya hal itu tidak mengurangi sedikitpun antusiasme dari para tamu yang hadir.
Semua tamu mulai berseru dengan tak tertahankan lagi. Mereka bahkan menatapnya dengan tatapan sangat lapar, seolah dirinya adalah makanan siap santap.
Sabrina melirik pimpinan lelang yang juga tersenyum begitu lebar. Membuat Sabrina semakin mengerut dan menghembuskan nafasnya dengan berat.
“Sepertinya banyak sekali yang menantikannya. Baiklah kita mulai lelang ini dengan harga ... dua juta dollar.”
Sabrina menatap cepat pada pimpinan lelang lagi. Bagaimana bisa ia langsung dihargai dengan setinggi itu? Padahal peserta sebelumnya dimulai hanya dengan beberapa ratus ribu dollar saja. Tapi mengapa dirinya langsung dimulai dengan harga dua juta dollar?
Para tamu itu mulai mengacungkan papan seraya mengajukan harga, semakin tinggi bahkan semakin tinggi lagi. Seolah uang yang mereka ajukan tak bernilai sama sekali.
“Lima juta dollar.”
“Lima juta dollar? Ada lagi”
“Lima juta lima ratus ribu dollar.”
Sabrina semakin dibuat putus asa, kala penawaran itu tak juga berhenti. Jujur saja, penawaran-penawaran itu membuatnya takut. Ia takut, harus melayani mereka yang memiliki kink aneh seperti yang dikatakan rekan kerjanya. Ia benar-benar sangat takut.
“Enam juta dollar.”
“Enam juta dollar? Apakah ada lagi?”
Suasana tempat itu mulai hening, mereka terlihat sedang mempertimbangkan banyak hal karena memang harga tertinggi sudah tak main-main lagi.
“Sudah? Akan saya hitung mundur.”
“Lima ... Empat ... tiga ... .”
Sabrina menundukkan kepalanya, seraya mengigit bibir bagian dalam. Habislah sudah, ia akan habis ditangan tamu itu. Karena entah mengapa ia merasakan hal buruk saat melihat orang itu. lelaki m***m yang benar-benar membuatnya merinding dan takut secara bersamaan.
“Dua ... .”
“Sepuluh juta dollar.”
Sabrina mengangkat wajahnya, ketika mendengar tawaran tinggi itu.
Deg!
Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, saat melihat seseorang yang ia pikir tak akan datang, kini juatru berdiri di ambang pintu masuk. Kedua matanya menatap lelaki itu, hingga pandangannya terkunci dalam tatapan datar dan dingin yang lelaki itu berikan.
“Sepuluh juta dollar ... ada lagi?”
“Sebelas juta dollar.”
Sabrina menatap lelaki itu semakin intens saat mendengar tawaran yang lebih besar. Bisakah dia menolongnya? Bisakah dia memenangkannya? Karena sebelas juta dollar, bukan harga yang rendah. Itu sangat amat tinggi.
“Lima belas juta dollar.”
Sabrina terpaku. Lima belas juta dollar?
“Hey! Kau tidak pernah melakukan lelang ya? Bukan begitu caranya!” seru lelaki tua yang sejak tadi tersenyum m***m pada Sabrina. Namun lelaki itu tidak menghiraukannya, dia hanya terus memandangi Sabrina dengan tatapan yang sama, dingin dan datar.
“Lima belas juta dollar? Ada lagi?” pemimpin lelang kembali tersenyum. “Baiklah ... saya hitung kembali.”
“Lima ... empat ... tiga ... dua ... satu. Lelang ini di menangkan dengan lima belas juta dollar.”
Sabrina dapat melihat lelaki itu berjalan kearah panggung seraya melepaskan jas yang di kenakannya. Tak lama setelah itu, dia kemudian menaiki panggung, lalu memakaikan jas tersebut pada bahu Sabrina. Menutupi tubuhnya dari pandangan penuh nafsu seluruh tamu yang datang.
“Mr. Peter ... .”
Lelaki itu, Carlos. Dia tidak memberikan reaksi apapun. Lelaki itu hanya menatapnya dengan datar dan sangat dingin kemudian merangkulnya, menggiringnya untuk menuruni panggung.
Apakah lelaki itu sangat marah hingga tidak mengatakan apapun padanya?
Sabrina memejamkan matanya sesaat. Tapi ... setidaknya ia sedikit lebih lega, ketika Carlos memenangkan lelang itu. Karena bagaimanapun hanya Carlos yang ia tunggu dan ... jika itu Carlos. Ia akan sangat rela meski harus menyerahkan seluruh harga dirinya.
Sabrina melirik Carlos yang masih merangkulnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Lalu ... apakah setelah ini mereka akan benar-benar melakukannya?
***
Bersambung...
***