"Airin Arunika?" Lagi-lagi Brian menyebut nama itu lirih. Perhatiannya teralihkan ketika beberapa orang datang. Brian segera memasukkan id card itu ke dalam sakunya. Ia segera berdiri.
"Brian? Ada apa?" tanya salah satu seorang staf.
"Ah, ponselku tertinggal." Brian segera mengambil ponselnya dengan cepat.
"Ini!" Dia menunjukan ponselnya yang memang tertinggal. Segera dia pergi dan kembali ke ruang tunggu.
Brian menjatuhkan tubuhnya. Dia berniat mengambil kembali Id Card yang tadi ia temukan. Namun, gagal karena Dava masuk dan menginterupsi untuk segera meninggalkan ruangan itu.
"Ayo! Kita harus ke lokasi syuting. Mobil udah siap," ujar Dava. "Tunggu! Kenapa belum ganti baju?" tanya Dava penasaran.
Brian hanya menoleh, dan akhirnya membuka jas dan kemeja yang dipakainya. Dia mengambil sebuah kaos panjang yang tergeletak manis di sofa yang tadi dia duduki.
"Tunggu aku di mobil," perintah Brian. Dava pun mengalah dan akhirnya keluar lebih dulu.
Brian tak mengganti celana yang dipakainya. Dia hanya mengganti bagian atasnya saja. Setelah selesai, dia keluar menuju lobi gedung itu.
Seseorang telah menunggunya di lobi. "Lama banget!" protesnya. Brian melemparkan jas milik pribadinya kepada orang itu.
"Bawel! Tinggal tunggu aja di mobil," jawab Brian. Dia adalah Desta teman sebaya yang dia angkat sebagai manager junior Dava.
Di tempat lain, Airin tampak sangat gelisah. Dia mondar-mandir di tempat yang sama. Lagi-lagi tangannya mengangkat tali yang dikalungkan di lehernya.
"Masa ilang," ucapnya panik. Tak lama sosok Ken datang.
"Kok bisa?" tanya Ken tanpa basa-basi. "Yakin ada di ruangan ini?" tanyanya lagi.
"Semoga aja sih ada. Tapi, ruangannya udah dibersihkan." Airin pasrah. "Apa aku tanya staf aja, ya?"
Ken mengedikkan bahu. Dia menatap Airin sedikit kesal. "Ceroboh banget. Kenapa bisa ilang. Kalo ketahuan gimana?" Ken yang khawatir saat ini. Benar, kalau mereka ketahuan masuk tanpa undangan. Sudah dipastikan akan dituntut dan dipenjarakan.
Ken bisa masuk ke acara itu berkat rekannya yang merupakan staf di sana. Yang seharusnya mengikuti acara itu dengan menggunakan undangan pers, dia dengan mudah masuk tanpa pemeriksaan.
Airin memastikan Id Card miliknya hilang. Tak ada barang itu di ruangan tadi. Dia bahkan sudah mencari staf yang membersihkan. Wanita itu mengembuskan napas pasrah. Wajahnya yang gelisah tak bisa dipungkiri.
"Semoga aja aman," ujarnya datar. Ken yang duduk di sampingnya tak merespon. Hanya sibuk dengan kamera di tangannya. Setelah beberapa saat dia memasukan kamera ke dalam tempatnya.
"Ayo! Sebaiknya kita pergi, sebelum benar-benar ketahuan," ucap Ken. Dia menarik lengan Airin paksa.
Airin menyeret langkah kakinya. Dia ingin memastikan kembali Id Card yang sudah hilang itu. Namun, Ken mencegahnya. Ia tak ingin keberadaannya di sama malah akan dicuriga staf yang bertugas hari itu.
"Nanti kita cari akal kalo ada masalah," ucap Ken. Airin hanya menurut. Keduanya lantas menaiki mobil Audi berwarna hitam milik Ken.
"Lain kali please, jangan ceroboh." Ken menasehati. Airin hanya mengangguk mengerti.
Airin hanya terdiam di sepanjang perjalanan. Dia menatap luar kaca mobil dan menampilkan pemandangan malam. Untung saja angin tak masuk ke dalam mobil. Hanya ada udara pendingin mobil yang menyeruak ke tubuh Airin. Lagi-lagi dia mendengkus. Membuat Ken yang masih sibuk dengan stir mobil langsung menoleh.
"Tak apa, semuanya akan baik-baik aja," ujar Ken. Airin menoleh dan kembali mengangguk.
Ucapan Ken membuat sedikit hati Airin lega. Tapi, bagaimana nanti jika masalah muncul. Airin harus bersiap berhadapan dengan hukum. Bukan hanya dia, Ken juga akan bernasib sama dengan dirinya.
Ken memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan ruko yang terbuat semuanya dari kaca. Itu adalah kantor yang dia sewa selama ini. Ia segera turun diikuti oleh Airin yang masih terdiam.
"Ya udah kali, nggak perlu dipikirin. Semuanya bakal aman, kok." Ken mencoba menghibur.
Airin tersenyum tipis. "Aman menurut kamu, karena kamu bisa aja minta bantuan teman kamu itu," cetus Airin.
"Daripada mikir yang aneh-aneh mending pesen makanan, aku laper." Ken mulai menaiki anak tangga. Airin masih mengikutinya. Kini dia sibuk dengan ponsel yang baru saja diambilnya dari saku celana jeans yang dikenakannya.
Memesan makanan yang sudah menjadi langganan. Airin menelepon.
"Pesen dua porsi seperti biasa," ucap Airin. Sang pedagang seperti sudah sangat hapal dengan pelanggannya itu.
"Oke, siap. Ditunggu ya, Mbak," jawab orang di seberang dengan ramah.
Nasi goreng gila menjadi menu makan malam. Tempatnya tak jauh dari studio yang mereka sewa, tetapi keduanya selalu memilih untuk menelepon sang pedagang dibandingkan harus makan di tempat.
Airin membanting tubuhnya di sofa. Dia terduduk lemas. Lagi-lagi mendengkus. Sedangkan Ken sudah sibuk dengan laptop di meja kerjanya.
Ponsel Ken berdering, membuat laki-laki itu menoleh dan meraih barang canggih itu.
"Iya," jawabnya tanpa basa-basi. Airin memang penasaran, sehingga dia hanya bisa menatap Ken penuh tanya.
"Oh gitu, nanti kalau udah ada kabar, kasih tau gue, ya." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ken.
"Oke, sip. Gue tunggu," jawabnya lagi. Setelah panggilan terputus, Ken kembali meletakkan ponselnya di meja. Dia kembali fokus pada layar laptop.
"Siapa?" tanya Airin penasaran. "Udah ketemu?" Seakan tahu siapa penelepon yang menghubungi Ken.
"Belum, biar Anto yang cari. Dia belum nanya ke bagian security-nya," jawab Ken santai. Anto adalah temannya yang kebetulan menjadi tim produksi acara tadi.
Seperti menyerah, Airin mengembuskan napas lagi. Dia terlihat sangat pasrah. Ingin memaki dirinya sendiri yang sangat ceroboh.
"Santai aja, nanti juga ketemu, kok." Jawaban Ken sedikit membuat Airin tenang.
"Oh ya, apa ada fakta baru mengenai kasus Irene?" Airin membuka suara dengan topik lain. Ken hanya menggeleng.
"Belum tentu Brian penyebab kematian dia," ujar Ken.
"Udah jelas, Ken! Tertulis sangat jelas nama dia di buku diary Irene," ucap Airin tegas.
"Oke, lalu kamu mau apa, kalau misalkan dia adalah penyebabnya? Balas dendam? Dengan cara apa?" tanya Ken bertubi-tubi.
"Dengan cara yang sangat elegan!" Airin bertekad. Belum sempat Ken membalas pernyataan Airin, seseorang telah menimpalinya.
"Mbak Airin kan memang sudah elegan, nanti malah banyak yang naksir, lho!" Maman menimpali.
Airin dan Ken menoleh secara bersamaan.
"Lho, kok Mang Maman yang ngantar? Yanto ke mana? Tadi dia yang jawab telepon, kok." Alih-alih menerima dua bungkus nasi goreng, Airin malah kepo.
"Yanto lagi ngelayanin pembeli. Warung rame, tadi sekalian saya beli mie mentahannya." Suara medok Maman memang sudah sangat khas di telinga Ken dan Airin.
"Oh gitu toh," timpal Ken dengan menirukan logat Maman. Dia mendekat dan meraih kantong yang sudah tergeletak di meja.
Sebelum membuka bungkus kertas nasi, Ken mengambil dompet dan mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna hijau.
"Makasih ya, Pak." Suara Ken terdengar sangat ramah.
"Oke," ucap Maman lalu meninggalkan ruangan lantai dua itu. Membiarkan pelanggannya menyantap masakan nasi goreng yang dia masak tadi.
Airin segera mengambil satu bungkus nasi yang tersisa. Itu adalah makanan favoritnya. Nasi goreng gila, nama yang memang menjadi nama warung Mang Maman tadi. Sebenarnya nasi goreng gila ini sama dengan nasi goreng yang lainnya. Yang dimaksud gila itu, karena rasanya enak dan ayam juga telur orak-ariknya sangat terkenal banyak. Harganya pun terjangkau dan terbilang murah.
Airin menyuapkan nasi goreng itu penuh satu sendok dengan sekali suap. Matanya tak lepas dari Ken yang seperti orang kelaparan hari itu.
"Laper?" tanya Airin tak kentara. Mulutnya penuh dengan nasi yang mengantre untuk dikunyah.
Ken tak menghiraukan pertanyaan Airin, dia hanya sibuk dengan suapan demi suapan nasi di depannya. Hanya butuh waktu sepuluh menit, Ken bisa menghabiskan satu bungkus nasi goreng dengan tingkat kepedasan level enam. Ken mengakhiri makannya dengan menyeruput habis es teh manis yang juga dipesan dari Mang Maman.
"Wah, seperti surga," ucapnya bersyukur. Airin yang belum menghabiskan nasinya, bahkan separuh hanya tersenyum. Mungkin kalau Ken mengikuti lomba makan, dia adalah pemenangnya. Bukan mukbang, tapi makan tercepat.
Ken kembali ke mejanya, meninggalkan Airin menghabiskan nasi goreng.
"Bisa nggak, sih. Kerjanya besok aja," ucap Airin setelah menelan habis nasi dalam mulutnya. Ken menoleh dan menarik kursi lalu duduk.
"Udah kerja seharian, dan malam ini masih juga kerja? Apa nggak capek?" tanya Airin penasaran.
"Enggak! Kita harus lebih cepat dari mereka, kita harus posting yang luar biasa, supaya lebih banyak lagi followers kita nanti. Jadi nomer satu itu menyenangkan, menang itu jadi salah satu panutan orang, tapi inget tetep rendah hati, nggak boleh sombong," ujar Ken mencoba bernasehat.
"Alah, kamu sombong kalo Secret menjadi nomer satu dalam pencarian internet, rendah hati gimana, kalo mintanya saingan mulu," protes Airin.
Ken tertawa renyah. "Puas aja kalau hasil kerja keras aku tuh terbayar," ucap Ken. Airin hanya menggelengkan kepala dan kembali memakan nasi di depannya.
Malam itu, Ken selesai berkutat dengan laptopnya sekitar pukul sepuluh malam. Tentu saja Airin sudah tertidur pulas di sofa. Ken tersenyum, itu adalah kebiasaan Airin. Bukan Ken yang meminta dia menemaninya sampai malam, tapi memang Airin enggan pulang sebelum kerjaan selesai, walaupun dirinya sama sekali tak membantu.
Di tempat lain, Brian dengan wajah penuh penasarannya terus memandangi id card yang masih dia pegang. Kamar apartemen bak suite room itu masih terang tak seperti biasanya. Yang biasanya selalu gelap saat sang empunya sudah mau berisitirahat. Berbeda dengan sekarang, ia terus memandangi id card tanpa foto itu.
"Airin?" Brian tampak memikirkan sesuatu.dia seperti sedang berpikir serius. " Apa Airin yang dulu?"
Brian mengembuskan napas kasar. Membanting tangannya di atas kasur. Dia menatap langit-langit kamarnya.
Wajah maskulinnya seolah seperti tengah benar-benar penasaran.
"Benar, kalaupun kamu adalah Airin yang dulu, tetap saja kamu tak akan mengenaliku," ucap Brian. Ia memejamkan matanya sebentar, lalu kembali membukanya. Kembali mengangkat tangan agar ia bisa melihat id card lagi, ia mengubah posisinya menjadi miring.
"Kenapa harus datang?" ujar Brian. "Ah." Brian seolah memiliki ide. Ia mengambil ponsel miliknya, membuka aplikasi kamera dan memfoto id card itu.
Mengirim pesan melalui w******p, dengan tulisan 'Cari tahu tentang orang ini' beserta foto id card itu. Entah kepada siapa dia mengirimkannya.
Tak lama, orang yang baru saja mendapat pesan, langsung menghubungi Brian. Dia adalah Desta, teman sekaligus managernya.
"Airin? Siapa?" tanpa basa-basi Desta berucap.
"Mana gue tau, kalau gue tau, nggak mungkin nanya, kan?"
"Dan lagi, kenapa belum tidur? Besok harus berangkat pagi buat cek lokasi shooting," ucap Desta berceramah.
"Sebentar lagi," jawab Brian malas.
"Tidur! Jangan mencari tahu apa yang nggak penting, itu hanya masa ..." Ucapan Desta terhenti ketika Brian segera membalasnya.
"Apa lo juga berpikir dia adalah cewek itu?" Brian menyela.
"Sudah lah, lebih baik tidur. Gue lelah," ucap Desta tanpa basa-basi memutuskan panggilan.
Brian menggelengkan kepala. "Bagaimana bisa dia seenaknya memutuskan panggilan bosnya," ujar Brian, dia tersenyum.
Jika dalam percakapan hanya dengan Desta, Brian bisa menggunakan bahasa lo-gue seperti layaknya seorang teman dekat. Namun, dia bisa mengerti kan kondisi dan situasinya.
Rupanya malam itu membuat Brian tak tidur dengan tenang. Dia menyesal mensela ucapan Desta tadi. Dia yakin bahwa Desta mengetahui sesuatu.
____
Pagi-pagi sekali Airin bangun. Setelah semalam dia diantar pulang oleh Ken, dia melanjutkan kembali tidur tanpa mengganti bajunya.
Mendapati ibunya sedang sibuk di dapur. Airin tersenyum dan memeluk wanita paruh baya itu dengan hangat.
"Kenapa pagi-pagi selalu sibuk. Padahal hanya ada kita berdua," ucap Airin.
"Apa? Kenapa ucapanmu seperti seorang suami kepada istrinya," ujar Ibunya lalu tersenyum. Airin tak terima, dia menatap wajah ibunya yang juga tersenyum.
"Lebih baik kamu menikah, sudah waktunya juga."
"Mam, nikah lagi yang dibahas? Bukan tentang sudah waktunya, tapi aku belum siap," ucap Airin. Dia berpindah ke meja makan. Menyeruput s**u hangat yang sudah disiapkan untuknya.
Pagi itu masih memperdebatkan tentang pernikahan. Airin bukannya tak mau menikah, tetapi dia hanya ingin mencapai tujuannya sebelum dia menikah, membahagiakan ibunya yang merupakan satu-satunya orang yang dia sayang.
Wanita itu berangkat kerja dengan jalan kaki menuju halte. Entah kenapa dia lebih sering menggunakan kendaraan umum dibanding dengan mobilnya.
Nyatanya lamunannya hampir membuat dirinya celaka. Ia tak mendengar suara klakson mobil yang tengah melaju dengan kencang. Fokusnya terbagi. Seseorang menarik lengannya, membuat Airin sangat terkejut dan memutar tubuhnya. Lebih terkejut saat dia melihat Brian lah yang menolongnya hari itu. Tubuhnya hampir saja terjatuh. Namun, dengan sigap Brian menangkapnya.