Episode 05

1830 Kata
Keduanya tersadar saat beberapa detik berlalu. Airin yang sudah menyeimbangkan tubuhnya kini menepis tangan Brian. "Maaf," ucap Brian. Airin hanya terdiam. Entah kenapa hari itu dia hanya diam melihat Brian, tak seperti biasanya yang selalu mengumpat saat tengah melihat Brian langsung maupun di televisi. Airin tampak malu, namun dia menutupinya. Memilih pergi meninggalkan tempat kejadian itu. Berjalan cepat agar menjauh dari Brian. "Mata itu," ucap Brian lirih. Dia menatap kepergian Airin hingga perempuan itu kini berada di seberangnya. "Ada masalah?" Suara seorang laki-laki mengagetkan Brian. Dia menoleh dan menggelengkan kepala cepat. "Enggak," jawab Brian berbohong. "Kenapa harus ke wilayah ini? Bukankah ini ..." Ucapan laki-laki yang merupakan manager Brian terhenti ketika bosnya itu memilih pergi. "Ayo!" Brian memilih berjalan menuju mobilnya. Duduk di kursi penumpang yang berada di depan. Dia memejamkan matanya sebentar. Mengingat kejadian yang baru saja dia alami. "Setelah lulus SMA, apa lo tahu kabar teman-teman?" Brian melempar pertanyaan. Baru saja Desta berniat menyalakan mesin mobil, tapi mengurungkannya. Ia lebih tertarik dengan ucapan Brian. "Gara-gara Airin?" Pertanyaan Desta membuat Brian menoleh secepat kilat. Desta pasti akan terpancing, pikirnya. "Apa benar dia adalah cewek itu?" tanya Brian lagi. "Hei, nama Airin itu banyak! Bahkan dalam satu sekolah nggak cuma satu nama Airin, apalagi Jakarta ini luas, gue yakin Airin itu ada lebih dari seratus," ujar Desta menegaskan. "Tapi nama panjangnya sama," jawab Brian sekenanya. "Jangan berpikiran kolot, dari dulu sampai sekarangpun nama orang banyak yang sama, entah itu nama panggilan ataupun nama panjangnya. Udahlah, itu cuma masa lalu. Lo hanya fokus sama karir lo yang sekarang." Desta berpidato. "Ingat, masa lalu lo, nggak bisa muncul di saat-saat seperti ini. Itu hanya akan membuat karir lo hancur." Desta lantas menyalakan mesin mobil dan melajukannya, meninggalkan jalanan itu. Brian terdiam. Dia memilih menatap luar jendela kaca mobilnya. Menghela napas dan memilih merenungi kata-kata Desta. "Ah, jangan katakan ini pada Kak Dava. Dia bakal sangat cerewet kalau tahu gue nyari seseorang," ucap Brian. Brian memiliki dua orang manager dan satu stylish. Dava yang merupakan orang penting yang akhirnya membuat nama Brian menjadi besar. Tak sampai di situ, Brian meminta Desta juga menjadi managernya untuk membantu pekerjaan Dava, awalnya Dava menolak, namun, dengan kekuatan rayuan Brian akhirnya dia setuju. Stylish yang seharusnya selalu bersama Brian hanya bertemu di lokasi syuting atau di lokasi yang akan dikunjungi Brian. Karena laki-laki itu hanya nyaman dengan seorang Desta yang merupakan temannya sejak SMA. "Oh ya, nanti siang ada acara makan siang sama Pak Candra, dia adalah sutradara untuk film Bubble," ucap Desta datar. Brian hanya menganggukkan kepala tanpa suara. Dalam perjalanan itu, keduanya terdiam hampir setengah jam. Desta memilih sibuk dengan mobil yang dikemudikannya, dan Brian sibuk dengan pikirannya sendiri. Airin terus mengingat kejadian tadi. Ada yang aneh, kenapa sekarang hatinya berdebar. "Apa aku gila! Kenapa deg-degan gini?" Airin mencoba tenang. Untung saja penumpang busway hari itu cukup ramai, jadi dia bisa mengalihkan perhatiannya untuk penumpang lain. Dia mencoba memutar lagu melalui hetset yang sudah terpasang manis di kuping. Airin mencoba menikmati alunan musik yang menyala. Sesampainya di studio tempatnya bekerja, belum sampai dia masuk, Airin bertemu dengan Ken. "Mau ke mana?" tanya Airin penasaran. Ken terlihat sangat buru-buru. Wajahnya panik, namun langkahnya tetap pasti. "Ada urusan, hari ini kamu nggak perlu ke mana-mana, pantau aja sosial media, dan stand by di depan ponsel!" perintah Ken. Airin hanya menurut. Ia semakin penasaran dengan apa yang akan Ken kerjakan, biasanya kalau tentang artis dan skandalnya dia selalu mengajak Airin berbagi tugas. "Apa mungkin ada masalah dengan keluarganya?" tanya Airin lirih. Ia menatap kepergian mobil Ken yang melaju dan menghilang dari pandangannya. "Ah, nanti juga dia cerita," ucap Airin. Ia lantas masuk dan menaiki anak tangga. Kepergian Ken membuat Airin mendapat kesempatan emas. Dia bisa langsung mencari tahu tentang Brian dari awal kariernya. Airin berkutat pada layar laptop. Satu persatu judul ia ketikkan di papan pencarian internet. Muncul berita tentang Brian dan awal mula dirinya menjadi artis yang top saat ini. "Wah!" gumam Airin spontan. Dia melihat artikel saat kepulangan Brian ke Indonesia. Banyak sekali orang yang menyambutnya, tentu saja para fans fanatik dan juga fans musiman dia. Karena saat itu dia benar-benar digilai oleh para gadis muda. Sampai sekarang pun wajah ke Korea-an nya masih tetap menghiasi layar kaca dan bertambah banyak orang yang menyukainya. Di dalam artikel itu terlihat sebuah foto yang menampilkan Brian dengan senyum yang sangat lebar. Dia melambaikan tangan kepada para fans yang sudah menunggunya. "Tentu saja banyak penggemarnya. Wajahnya tampan. Tapi, aku nggak yakin aktingnya bagus." Airin menatap sinis foto Brian. Lantas terpikir sebuah ide, dia harus menonton film atau drama yang dibintangi Brian. Mungkin Airin sama seperti hatters para artis yang mencari tahu keburukan atau kelemahan sang artis. Airin segera menutup laman internet dan beralih ke YouTube. Dia hanya menuliskan nama Brian di sana. Banyak sekali muncul gambar Brian yang dia kenal maupun tak dia kenal. Airin segera mencari, satu persatu ia buka video Brian. Tak menunggu waktu lama, karena tepat, dia membuka channel YouTube milik Brian yang asli. "Ah, ini?" Airin tersenyum kecut. Dia membaca satu persatu judulnya. Memilih secara acak dan membukanya. "Hai guys! Annyeong! Aku Brian. Setelah kemarin kita membahas tentang budaya negeri ginseng ini, kali ini aku bahas tentang Kota Busan! Wah, kalian pasti belum tahu kan, tempat terindah dan tersembunyi di kota Busan. Oke, jangan lupa subscribe dan bunyikan loncengnya! Like dan komentar juga sangat diperbolehkan, lho!" Brian menampilkan pembukaan dengan gaya khasnya. "Aish, apa yang bermanfaat coba?" gerutu Airin. "Kampret kayak gini ngapa dicintai banyak orang?" "Oke balik lagi dengan Brian di sini. Sedikit cerita yah. Jadi, tiga hari kemarin itu aku sama tim ke Busan, awalnya niat kita emang cuma ada acara di sana dan sekalian ketemu klien juga. Tapi, karena waktu kita masih banyak, jadi aku putuskan untuk sekalian berlibur juga." Brian tampak sangat santai membawakan acara berjudul 'The Brian's Show'. Airin dengan malas menghentikan video. "Nggak jelas, nggak guna," ucap Airin kesal. Tapi anehnya dia masih penasaran dengan video yang lain. Dia lantas mencari kembali apa yang ada di bawah video tadi. Matanya tertarik pada judul yang bertuliskan 'My First Love'. Karena menurut Airin semua pembukaan Brian sama, ia lantas mengatur jalannya Video. Dia men-skip beberapa menit, dan kembali memutarnya. "Jadi gini, dia itu benar-benar memiliki hati yang hangat, dia sarkas, pemberani, itu yang aku suka. Bodoh ya, bisa suka sama cewek kayak gitu." Brian menjelaskan. Airin yang menonton video itu langsung tertawa. "Baru tahu kalo sendirinya bodoh? Dasar gila! Punya perasaan juga sama cewek!" "Aku penasaran, apa dia masih sama seperti dulu atau ..." Belum juga selesai, Airin kembali menghentikan durasi video itu. "Kampret! Nggak penting banget!" Airin menghela napas kasar. Ia menyandarkan tubuhnya dan memainkan kursi yang ia duduki sambil memutar-mutar. "Apa aku yang gila? Bukan seperti ini cara mencari tahu tentang dia." Airin menatap langit-langit ruangan itu. "Seandainya kamu masih ada, nggak mungkin Kakak seperti ini." Ponselnya berdering. Membuyarkan lamunan Airin. Seketika wanita itu mengerutkan kening. "Ken?" Dia membaca nama Ken di layar smartphone-nya. "Ada apa?" Airin menjawab tanpa basa-basi. "Id Card kamu ada di Brian," ucap Ken. "Apa? Kok, bisa?" Airin tak percaya. "Iya! Dia pengen kamu dateng buat ngambil," ucap Ken. "Sendiri?" Airin bertanya lagi. "Iya, lah! Aku nggak bisa antar sekarang. Ada urusan penting." Ken menjelaskan. "Apa? Ada yang lebih penting dari hilangnya id card-ku? Kamu di mana? Kenapa nggak bisa temani aku?" ujar Airin khawatir. "Maaf, serius! Ini lebih genting. Yang perlu kamu pikirin tuh cuma Id card. Kenapa bisa ada di tangan tuh artis." Ken berceramah. Terdengar jelas jika Airin mengembuskan napas. "Kalau dia berbelit, cari alasan supaya aman." "Oke, oke. Lantas aku harus ketemu dia di mana?" tanya Airin. "Aku kirimin alamatnya sekarang." Ken memutuskan panggilan teleponnya. Airin hanya menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tak lama sebuah pesan w******p masuk dan menampilkan nama Ken lagi. Benar dia mengirimkan alamat yang harus Airin datangi. "Jauh banget!" keluh Airin. Dia membaca alamat yang memang lumayan jauh dari tempatnya sekarang. Tetapi, dia menginginkan Id Card nya kembali. Ia pun segera mengambil tasnya. Berjalan menelusuri lorong gedung dan menuruni anak tangga. Bergegas menuju halte. "Untung aja nggak dikasih durasi waktu. Gila aja sih, jauh banget." Dia memilih duduk di kursi yang berada di halte. Menunggu busway yang akan datang menjemputnya untuk menuju alamat tujuannya. Lebih dari sepuluh menit Airin menunggu busway, namun tak juga muncul. Baru saja ia melirik jam tangan di lengan kirinya, wanita itu mengeluh dan lagi melihat jalan raya yang pagi itu terasa sudah lengang. "Wah! Itu dia!" Sebuah busway mendekat ke arahnya. Tepat berhenti di depan Airin. Segera wanita itu naik. Untung saja penumpang tak banyak, jadi dia bebas memilih tempat duduk. Airin kembali membuka ponselnya. Ia melihat lagi alamat yang Ken kasih kepadanya. "Ini kan apartemen mewah, wajarlah dia artis." Airin berbicara sendiri. Ia sadar bahwa perkataannya akan mengundang mata penumpang lain. Ia segera menutup mulutnya cepat. Hampir satu jam dia duduk, akhirnya sampai pada tempat di mana dia harus turun. Seorang satpam yang tengah berjaga di lobi utama apartemen itu tersenyum ramah kepada Airin. "Ada yang bisa dibantu, Mba?" Padahal Airin juga tak terlihat kebingungan. Mungkin saja memang sudah tugas staff keamanan menanyakan orang asing yang masuk ke gedung pencakar langit itu. Airin tersenyum canggung. "Apa sudah ada janji dengan pemilik kamar?" Pertanyaan itu sontak membuat Airin ingin tertawa. Seperti berada di hotel dan akan bertemu dengan klien saja dia mendapat pertanyaan itu. "Sudah, Pak," jawab Airin. "Oh begitu, silakan," ujar scurity bernama Juanda itu. "Makasih, Pak." Airin pun pergi setelah sang satpam melebarkan tangannya, isyarat untuk Airin bisa masuk. Airi mencari letak elevator. Tak menunggu waktu lama, matanya langsung menangkap lima buah pintu yang berjejer rapi di ujung lobi utama. Terlihat ada beberapa orang yang juga menunggu. Airin mencoba bersikap biasa. Seolah-olah dia juga tinggal di hunian enam belas lantai itu. Setelah pintu terbuka, Airin masuk. Untung saja tak banyak yang berada di dalam elevator. Ia menekan angka dua belas. Satu persatu lantai ia lewati, dan tepat di lantai dua belas pintu kembali terbuka setelah tadi sudah terbuka di lantai sebelumnya. Airin berjalan dengan percaya diri. Dia kembali melihat ponsel miliknya. Mencari nomor pintu yang Ken berikan. Hanya ada enam pintu di sana. Jadi dia tak memakan waktu lama untuk menemukannya. Wanita itu mengatur napasnya. Ia mengatur emosi, mengatur wajahnya sepolos mungkin, sebelum dia benar-benar menekan tombol bel. Setelah siap. Dia menekan bel. "Saya Airin," ujar Airin berbicara melalui intercom yang berada tepat di depannya. Tak ada jawaban dari dalam. Ia kembali menekan tombol lagi. "Apa bener yang ini?" Airin mencocokkan alamat yang diberikan Ken. "Benar, kok." Airin menghela napas. Ia kembali menekan tombol bel lagi. "Apa ada orang?" tanya Airin tanpa basa-basi. Masih sama, tak ada jawaban. Airin mengembuskan napas. Dia celingukan, dan memutuskan untuk pergi. Namun, baru dua langkah, si pemilik apartemen membuka pintu. Segera Airin menoleh, membuat dua pasang mata bertemu. Brian tentu saja mengenali Airin Karena kejadian tadi pagi. Namun, ekspresi wajah Airin berbeda, dia terlihat terkejut, walaupun tahu siapa yang dia datangi hari itu. "Kamu?" tanya Brian ragu. Pikirannya melayang pada kejadian tadi pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN