Episode 06

1806 Kata
"Masuk!" Brian memerintah. "Apa?" Airin terkejut. Brian mengurungkan niatnya masuk ke dalam. Dia kembali membalikkan badannya. "Masuk,"perintah Brian mengulangi. "Kenapa nggak dikembalikan saja Id Card ku, pekerjaanku masih banyak, nggak bisa buang-buang waktu kayak gini," jawab Airin beralasan. Dia terlihat menahan amarah. Terlihat dari sorot matanya yang seperti burung elang. "Buang-buang waktu? Bukankah waktu kamu banyak, sampai harus menghadiri acara fanmeeting saya tanpa undangan?" ujar Brian memancing. Airin terdiam seketika. Dia hanya bisa menggerutu di dalam hatinya. "Aish," gumamnya lirih. Dia masih mencoba sabar, dan menahan kekesalannya. "Lalu? Aku harus ngapain? Apa nggak bisa di luar aja," ucap Airin ketus. Brian tersenyum tipis. Dia hanya memunculkan kepalanya di pintu. Menoleh ke arah kanan dan kiri. "Saya nggak mau tetangga saya pada terganggu." Brian beralasan. "Sepertinya juga suara kamu bakal menggelegar kalau lagi marah," lanjutnya. "Aish," gerutu Airin lirih. "Kalo nggak mau ya sudah, besok paling kamu dipanggil polisi, dan diperiksa sama mereka." Brian mengancam. "Apa?" Airin tak percaya ucapan Brian. Laki-laki itu mengangguk perlahan. "Apakah kamu seorang penguntit, atau penjahat yang bisa kapan aja menyerang saya, betul?" ujar Brian pasti. "Kamu bertindak tanpa berpikir, kamu nggak tahu konsekuensinya nanti seperti apa, dan ..." Belum sempat melanjutkan, Airin sudah menyerobot ucapannya. "Oke, oke," jawabnya dengan terpaksa. Mau tak mau Airin hanya mengalah, ia menerima tawaran Brian untuk masuk. Mengikuti langkah sang artis yang terlihat sangat santai. Matanya meneliti ruangan itu dengan detail. "Duduk!" Lagi-lagi Brian memerintah. Perlakuannya biasa, malah terbilang sopan. Namun, membuat Airin sangat muak. Brian tak langsung duduk bersama Airin, dia malah berjalan menuju dapur dan membuka lari es. Mengambil dua buah minuman kaleng. Kembali berjalan menuju Airin. Meletakkan minuman yang di bawanya di atas meja. "Nggak perlu repot-repot," ujar Airin ketus. "Lagipula aku cuma mau ambil id card-ku." Mata Airin enggan melihat ke arah Brian. Bahkan dia memilih melihat pemandangan lain. Alih-alih menjawab ucapan Airin, Brian malah menatap Airin serius. "Apa benar kamu Airin Arunika?" tanya Brian. Airin menoleh. Melihat Brian sangat serius menatapnya, membuat dia menjadi gugup. "Iya," jawabnya singkat. "Kenapa tiba-tiba kamu berada di sana, tanpa kartu undangan. Kamu tahu kenapa, semua acara yang saya lakukan harus datang menggunakan kartu undangan, entah itu dari pers, penggemar, ataupun staff produksi yang akan bekerja sama dengan saya. Karena banyak sekali orang yang ingin menjatuhkan saya. Penjahat itu bisa saja menyerang saat saya sedang lengah." Brian menjelaskan dengan serius tapi santai. "Mau kamu apa?" Airin sudah terlalu muak menghadapi Brian. "Mau saya?" Brian tersenyum. "Wah, sepertinya sudah berpengalaman dengan hal seperti ini," kata Brian memancing. "Sepertinya kamu juga sering datang ke acara artis tanpa undangan. Penyusup?" tanya Brian. Airin geram. Dia tak ingin melihat wajah Brian, namun laki-laki itu ada di hadapannya sekarang. "Apa yang harus aku bayar, atau apa yang harus aku lakukan?" tanya Airin. "Rupanya kamu tahu, rencana saya." Brian lagi-lagi tersenyum. Dia kembali menatap Id card yang masih ada di tangannya. "Kamu seorang paparazzi. Perusahaan kamu cukup terkenal di kalangan netizen. Menguak skandal kencan artis? Wah, sepertinya memang kamu penguntit." Brian menilai Airin. "Apa pernah sekolah intel?" Nada bicara Brian seperti meledek Airin. "Stop! Penguntit? Kamu mengatakan seorang wartawan penguntit? Kamu nggak sadar dengan ucapan kamu barusan? Bisa saja aku unggah, dan kamu, juga karir kamu akan bermasalah." Airin tak gentar melawan Brian. "Wah!" Brian menganggukkan kepala mencerna ucapan Airin. "Bener juga." Brian tersenyum kecut. Dia bertepuk tangan. "Sekarang kembalikan Id card-ku, dan kita nggak perlu ketemu lagi." Airin menyodorkan tangannya meminta. "Saya akan kasih, dengan satu syarat," ucap Brian mencoba bernegosiasi. "Apa?" Airin terkejut. Tak disangka Brian benar-benar berbelit hanya karena sebuah Id Card. "Syarat apa?" tanya Airin penasaran. Bukan penasaran, lebih tepatnya dia ingin cepat selesai urusannya bersama Brian. "Kerja sama dengan saya." Brian meneliti wajah Airin. Tentu saja wanita itu dibuat terkejut lagi. "Kerja sama?" Hampir saja Airin meledakkan tawanya. Dia menahan dan menatap wajah Brian serius. "Gila kamu, seorang artis papan atas minta kerja sama dengan penguntit?" Airin tersenyum kecut. Brian menatap sinis Airin, membuat wanita itu kini hanya terdiam dan membalas tatapan itu. "Kerja sama apa?" Tiba-tiba saja mulut Airin berkata seperti itu. "Cari tahu tentang kehidupan ayah saya," ucap Brian. "Apa?" Airin terkejut. Bagaimana bisa dia menjadi seorang penguntit sungguhan. "Gila!" jawab Airin sekenanya. "Bukankah sudah ahlinya kamu memata-matai selebriti?" desak Brian. "Iya tapi ..." Belum sempat Airin menjawab, Brian mengangkat tangannya. "Kalau menolak, saya harus lapor polisi sekarang," ujar Brian sembari tangannya meraih ponsel yang ada di meja. "Nggak gitu caranya, atau kamu sering mengancam?" tanya Airin. "Gampang, kok. Kamu cuma melaporkan semua kegiatan Ayah saya di luar," ujar Brian. Airin sedikit memikirkannya. Dia terdiam. "Bagaimana?" tanya Brian menunggu jawaban Airin. "Daripada harus berurusan dengan polisi, dibui, nggak bisa kerja, nggak bisa ketemu keluarga, dan ..." "Oke, oke," jawab Airin setuju. "Keluar dari pekerjaan kamu, saya akan bayar kamu dua kali lipat, dan ada bonus jika kerjaan kamu memang terbukti benar." Brian meletakkan id card Airin di atas meja. Segera Airin mengambilnya dengan kecepatan kilat. Airin berdiri, dia berniat untuk pergi dari tempat itu. Brian tersenyum sinis. Baru beberapa langkah, ponselnya bergetar. Menampilkan sebuah nomor baru di sana. Wanita itu menghentikan langkahnya. "Itu nomor saya, hubungi jika kamu sudah siap untuk bekerja." Suara Brian benar-benar membuat Airin geram. Ia tak menoleh dan kembali melangkah. ____ "Ken!" Airin menggumam kesal di dalam elevator. Sudah dipastikan dialah dalang dari semuanya. Sudah dipastikan dia yang memberikan nomor Airin. Perempuan itu mengacak rambutnya frustasi. Menyesal datang ke tempat itu. "Bagaimana bisa aku harus ketemu dia setiap hari. Itu semakin membuat aku sakit dan mengingat Irene." Airin menggerutu. Panjang umur. Ken meneleponnya di saat yang tepat. Di saat dia ingin memaki partner kerjanya itu. "Apa? Puas? Dan kenapa kamu harus kasih nomor telepon aku?" ujar Airin marah-marah. Ken segera menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinganya. Mengembuskan napas lalu kembali mendekatkan ke arah telinga. "Apa, sih? Gimana pertemuannya?" Sudah keahlian Ken dalam mengalihkan pembicaraan. "Udah deh, jujur. Kenapa kamu kasih nomor handphone aku?" tanya Airin lagi. "Dia yang minta. Managernya bilang dia butuh kontak kamu," jawab Ken tegas. "Buat apa? Sekarang jadi runyam semuanya." Tepat pintu elevator terbuka. Airin keluar. "Kamu di mana? Kita harus ketemu," ucap Airin. "Sorry, aku nggak bisa. Ada urusan yang lebih penting dari kamu," kata Ken datar. Airin mengerutkan kening. Ada yang aneh dari Ken. Dia selalu mementingkan permintaan Airin, sejak mereka berdua bekerja sama. Tidak, Ken selalu menomor satukan keluarganya, dan kedua adalah Airin. "Apa? Yang lebih penting dari aku?" tanya Airin ragu. Dia curiga dengan Ken. "Ada masalah di rumah?" tanya Airin. "Enggak, kok. Ini pekerjaan sulit, kamu nggak perlu tahu." Ken menutup panggilan teleponnya dengan cepat. Ia menatap ibunya yang terbaring lemah di depannya. Selang infus yang tersalur melalui tangan kirinya. Wajah pucat pasi wanita di depannya itu kini membuat Ken sangat khawatir. "Aku nggak mungkin bilang kalo Nyokap sakit. Sudah pasti dia bakal kalang kabut." Ken menghela napas. Airin sudah sangat dekat dengan keluarga Ken, terutama ibunya. Dia sangat hormat layaknya ibu kandungnya sendiri. Hubungan dengan saudara perempuan Ken juga sangat dekat. Airin kerap memberikan hadiah untuk gadis belia yang merupakan adik dari Ken. Ken meraih tangan ibunya. Dia mengusap punggung tangan itu dengan lembut. Menatap serius wajah ibunya yang masih terlelap. "Kalau Airin tau Mama begini, dia akan kalang kabut. Dia orang paling khawatir dibandingkan aku," ucap Ken lalu mengulas senyum tipis. "Sepertinya dia lebih cocok jadi anak Mama, selalu aja buat Mama senyum kalo lagi bareng," ujar Ken lagi. "Apa Ken pantas buat dia?" tanya Ken. Tanpa jawaban, itulah yang diterimanya. Ken hanya tersenyum. ____ Brian menatap langit-langit apartemennya. Baru saja akan memejamkan mata, ponselnya berdering. Segera dia membuka mata dan melihat siapa yang menghubungi. "Aish," gerutunya. Dengan malas dia meraih ponsel berwarna hitam itu dan menyeret tombol hijau. "Maaf," ujarnya setengah hati. Padahal orang yang menghubunginya belum membuka suara. "Kenapa tiba-tiba batalin jadwal? Ada masalah?" Suara Dava terdengar emosi. Seakan sudah tau apa yang akan Dava bahas, Brian hanya menghela napas. "Jangan kayak anak kecil. Ada yang lebih penting dari pekerjaan kamu?" tanya Dava serius. "Maaf, tadi aku benar-benar tak enak badan," jawab Brian berbohong. "Lalu Desta? Kenapa tiba-tiba nggak bisa dihubungi?" Dava mencari kesalahan. "Apa kamu sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter?" Dava orang yang tegas, namun dia sangat peduli dengan Brian. "Nggak perlu, aku cuma butuh istirahat hari ini," ujar Brian memelas. "Kamu yakin?" Dava tak percaya. "Iya, jadwalkan ulang untuk bertemu dengan Pak Sutradara. Desta biar aku yang urus." Brian ingin cepat mengakhiri percakapan dengan Dava. "Kamu jangan kasih Desta memelas, dia itu kerja sama kamu. Kamu harus tegas sama dia, jangan seenaknya." Dava berceramah. "Iya, oke oke," jawab Brian. "Udah? Aku mau tidur," kata Brian. "Oke, hubungi aku kalau ada apa-apa. Kalau butuh apa-apa juga," ucap Dava. "Oke." Brian langsung mematikan panggilan itu. Belum juga dia meletakkan ponselnya. Sebuah bantal mendarat manis tepat di kepala. "Sialan lo, pasti Kak Dava ngomel tentang gue!" Suara Desta. "Bakalan kena semprot dah," ujarnya. Brian tertawa renyah. Ternyata Desta ada di apartemennya sedari tadi. Desta tak ingin menemui tamu Brian hari itu. Dia beralasan untuk melanjutkan tidurnya hari itu. "Katanya mau tidur? Hari ini gue bebas tugasin lo," ucap Brian. "Kampret," ucap Desta. Dia mengambil posisi duduk di samping Brian. Memang tadi pagi niat Brian adalah pergi menjalankan jadwalnya. Tetapi dia sangat penasaran dengan pemilik Id Card yang dia temukan. Awalnya juga Desta tak menyetujuinya, tetapi dia mengalah karena kerasnya permintaan Brian. Desta harus memutar balikkan mobilnya menuju apartemen bosnya itu. Brian bahkan sengaja meminta Desta untuk tetap tinggal. Namun, dia memilih untuk berada di kamar. "Oh ya, gimana? Udah ketemu? Sama Airin?" tanya Desta bertubi-tubi. Brian mengangguk. Dia menatap langit-langit. "Kok kayaknya gue udah kenal banget sama dia," ucapnya datar. "Kayak pernah ketemu, atau familiar banget sama mukanya," ujarnya ragu. "Wajah itu nggak asing di mata gue," katanya lagi mengingat wajah Airin. "Ngaco! Kalian baru ketemu hari ini," jawab Desta. "Serius! Tatapan matanya itu nggak asing. Bahkan suara dia, cara dia bicara ..." Ucapan Brian menggantung. "Stop! Pikiran lo makin liar kalo mikirin tuh cewek," ucap Desta. Brian menoleh. "Gue cuma kenal dia nggak sampai setahun. Tapi gue inget banget cara dia ngomong, cara dia ..." "Inget! Dava! Dava! Dava!" Desta mengingatkan dengan tegas. "Aish," gerutu Brian. Dia selalu mengingat Dava. Mengingat ucapan laki-laki itu sampai ke ujung memori otaknya. "Lupakan masa lalu, hidup kamu sekarang berbeda! Brian adalah seorang artis top!" Itu adalah kata-kata Dava pertama kalinya Brian terkenal di ranah hiburan. Brian menghela napas kasar. Dia kembali menatap kosong ruangan itu. Merenungkan apa yang seharusnya tidak dia pikirkan. "Jangan sampai lo hancur karena kebodohan lo sendiri. Ingat masa lalu lo itu bisa saja jadi bomerang hidup lo sekarang," ucap Desta tegas. Brian terdiam sejenak. Dia kembali menyandarkan kepalanya pada sofa. Menatap langit-langit lagi dengan tatapan datar. "Sorry, bukannya gue larang lo berpikir tentang cewek itu, tapi kenyataannya masa lalu lo nggak seindah seperti orang lain." Desta menepuk bahu Brian. "Benar, masa lalu itu sangat menyakitkan." Brian menerawang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN