Episode 26

1740 Kata
Airin dan Desta menunggu di luar. Pasalnya Dava tengah berbicara dengan Brian di dalam mobil. Mereka terlihat sangat serius. Dava berbicara panjang lebar. Walaupun Brian hanya terdiam, sesekali laki-laki tampan itu mengangguk tanda mengerti. "Apa hidup Brian selama ini baik-baik saja?" tanya Airin. Desta mengerutkan kening. Dia menatap Airin bingung. "Kenapa?" tanya Desta. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Desta tak mengerti arah pembicaraan Airin. Dia mengarahkan matanya ke arah Brian yang masih duduk di dalam mobil. "Lihat, dia sangat baik-baik saja," jawabnya tegas. Airin mengangguk. Dia menatap Brian. Sangat terlihat bahwa laki-laki itu tengah bermasalah. "Syukurlah," jawabnya setelah itu. Desta semakin bingung. Dia menatap Airin serius. "Kenapa? Kenapa tiba-tiba nanya tentang Brian?" tanya Desta mengulangi. Dia penasaran, karena Airin aneh. "Rin, aku bakal cari tahu tentang kematian adik kamu, aku janji itu," ujar Desta meyakinkan. "Please, kalau kamu tahu sesuatu tentang Brian. Diam, cukup tahu aja," katanya tegas. "Kapan? Kapan kamu bisa kasih tahu informasi tentang kematian adikku?" tanya Airin. "Sudah terlalu lama kejadian itu, apa mungkin, faktanya bisa terkuak?" tanya Airin. "Mungkin! Semua hal di dunia ini mungkin, Tuhan bakal tunjukkin jalan, pasti itu," kata Desta. Airin hanya terdiam. Dia masih menatap Brian yang masih duduk di dalam mobil. "Aku akan bayar orang buat selidiki kasus dia." Desta meyakinkan. "Bayar orang? Siapa? Wartawan?" tanya Airin penasaran. "Bahkan kasus itu ditutup begitu saja waktu itu," ujar Airin. "Bukan," jawab Desta tegas. "Ada, dia bakal jadi informan yang akurat," jawabnya lagi. "Kasus itu baru tiga tahun, kan? Nggak mungkin sekolah melupakan gitu aja. Oke, mungkin kasus itu langsung lenyap seketika di pemberitaan media. Tapi, pasti ada orang-orang yang masih bisa dihubungi dan mengingat semua tentang adik kamu," jelas Desta. Airin mengangguk. Benar juga ucapan Desta, bagaimana bisa pikiranku tidak sampai sana. Pikir Airin. Perempuan itu kini beralih menatap Desta. Membuat si pemilik mata cokelat itu mengerutkan keningnya. "Apa kamu ingat tentang Attar?" tanya Airin lagi. Desta tentu saja terkejut. Dia membulatkan matanya. Menoleh ke arah Brian, dan sepersekian detik kembali pada Airin. "Attar?" tanya Desta mengulangi. Airin mengangguk. "Kenapa?" tanya Desta ragu. "Ada apa dengan dia?" tanya Desta. Suaranya terdengar sangat jelas bahwa pertanyaan itu tampak ragu. "Enggak, aku hanya ingin tahu kabar dia," ucap Airin lagi. "Rin, lupain masa lalu," kata Desta tegas. "Lagipula, kita udah dewasa, bagi aku masa sekolah itu nggak akan bisa buat masa sekarang berubah," ujar Desta lagi. "Lupain?" tanya Airin mengerutkan kening. "Bagaimana bisa aku lupa, ketika orang itu muncul di depanku lagi dan menjadi orang lain," jawab Airin tegas. Desta membulatkan kedua bola matanya sekarang. "Rin, lo?" Pertanyaan Desta tertahan. Dia tak percaya dengan ucapan Airin baru saja. ____ Tadi saat Airin dan Desta akan pergi ke butik untuk membeli baju. Ponsel Airin tertinggal. Jadi, dia harus kembali ke apartemen Brian untuk mengambilnya. Saat dia sudah berada di dalam, dia mendengar suara Brian berteriak. Saking penasarannya, Airin mendekat. Dia yakin suara itu dari kamar Brian. Dia mendekatkan telinganya ke pintu yang sedikit terbuka. Mendengar dengan jelas semua ucapan Brian yang masih berada di dalam. Perasaanya bercampur aduk. Terkejut hingga membuat kakinya lemas. Airin benar-benar dibuat terkejut oleh fakta yang baru saja dia dengar. Fakta bahwa Brian adalah Attar. Teman sekolahnya dulu. "Nggak mungkin! Nggak mungkin!" ujar Airin lirih. Dia menahan mulutnya agar tak berbicara keras. "Dia orang yang sangat berbeda!" gumamnya terus. Sebelum rasa terkejutnya membludak, Airin memutuskan untuk pergi. Dia masih belum percaya perkataan Brian tadi. ___ Dava keluar dari mobil yang ditunggangi Brian. Dia memerintahkan Desta untuk segera masuk dan meninggalkan tempat ini. "Antar dia pulang, jangan nyalain televisi, ambil ponselnya, dan biarkan dia beristirahat," kata Dava memerintahkan. Wajahnya begitu tegang. Terlihat urat syarafnya yang mengeras. "Pasti ada masalah," batin Airin. Dia mengikuti langkah Desta menuju mobil. Airin mengambil posisi duduk di depan bersama Desta. Ia melihat Brian hanya memejamkan matanya. Tak banyak berbicara, Desta segera meninggalkan tempat itu sesuai perintah dari Dava. Jalanan malam itu masih terbilang ramai. Mungkin mereka adalah penggemar Brian yang sudah menunggunya selama berjam-jam di luar gedung. Desta melihat Brian dari spion mobilnya. Dia masih melihat Brian memejamkan mata. Sesekali mata Desta kembali pada jalan yang lurus di depannya. "Apa ada masalah? Apa Kak Dava ngomel?" tanya Desta. Pertanyaannya membuat Brian membuka mata. "Enggak!" jawab Brian ketus. "Lihat saja jalanan di depan lo," ucap Brian. "Apa benar dia adalah Attar?" batin Airin bimbang. Dia mengingat betul Attar seperti apa. Fakta bahwa dia sangat penurut dengan semua ucapan Desta. Tapi saat ini, dia benar-benar berbeda. Bahkan Desta harus mengalah dan mengimbangi semua sifat keras kepala dia. "Nggak mungkin, kan?" batinnya terus bergejolak. "Yan! Sepertinya Nyokap lo bakal balik ke Indonesia," ucap Desta. Hal itu membuat Brian kini benar-benar membuka matanya dan mengubah posisi duduknya. "Apa? Kapan?" tanya Brian penasaran. Desta mengangguk, tangannya masih sibuk dengan setir mobil. "Tadi Jonathan telpon gue. Terapi Nyokap lo udah hampir selesai. Bahkan dokter juga menyarankan agar dia kembali ke Indonesia untuk penyembuhannya." Desta menjelaskan. "Mungkin dengan bertemu sama lo dan Bokap, beliau bisa sembuh, iya nggak?" Desta berasumsi. "Bokap? Lebih parah kalau sampe Nyokap tahu Bokap selingkuh." Nyatanya Brian tertarik dengan pancingan Desta yang membahas ibunya. Airin hanya berada di tim menyimak. Dia tahu bahwa ibu dari Brian ada di luar negeri. Namun, tak tahu pastinya ada di mana dan dia tak ingin kepo dengan masalah orang lain. Mereka sampai di apartemen Brian. Malam itu Brian hanya diantar sampai pintu lobi. Karena Desta harus mengantar Airin. "Sampai sini aja, anterin dia pulang," ujar Brian. Desta mengangguk. "Gue nggak perlu ke atas, kan?" tanya Desta. Maksudnya adalah dia ikut dengan Brian ke apartemennya. Memastikan sang artis aman hingga di dalam rumah. Brian menggelengkan kepala cepat. "Antar aja dia," ujarnya lalu keluar. Di apartemen itu terbilang aman. Penjagaannya sangat ketat. Terlebih banyak scurity yang bertugas patroli setiap lima belas menit. Karena apartemen itu sangat elit dan juga penghuninya adalah orang-orang kaya yang harus dalam keadaan aman. Desta lantas melajukan mobilnya lagi. "Rin," panggil Desta. Airin menoleh. "Apa?" tanyanya. "Oke, to the point aja deh ya," ujar Desta. "Sejak kapan lo tahu dia adalah Attar? Dan lo yakin? Apa yang membuat lo yakin? Mereka adalah orang yang berbeda," kata Desta meyakinkan. "Aku dengar sendiri. Tadi, saat aku balik buat ngambil ponselku yang ketinggalan. Aku mendengar suara Brian berteriak. Benar, aku penasaran. Aku dekati dan aku mendengar semuanya." Airin menjelaskan kronologinya. Desta menghela napas. Dia terlihat menyesal. Bukan menyesal karena sudah terbongkar, namun menyesal akan kecerobohan Brian. Dia sangat tahu Brian pasti memikirkan hal yang dikatakan Airin sebelumnya. Brian sangat anti dengan cerita masa lalu. Dia akan merasa sangat bersalah. Dia merasa sudah membohongi dunia dengan topengnya yang sekarang. "Dan apa rencana kamu sekarang?" tanya Desta penuh selidik. "Entahlah, aku masih ragu. Dia sangat berbeda, aku masih belum percaya bahwa dia adalah Attar," ujar Airin. Brian mengangguk. "Benar, itu sifat asli dia," kata Desta. "Dia nggak bisa mengekspresikan kemauannya karena tuntutan dari ayahnya dulu. Sehingga rasa ketakutan itu selalu menghantuinya setiap hari," ujar Desta menjelaskan. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Airin. Desta menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak. Dia menderita selama ini, terlebih saat pemberitaan tentang kematian adikmu, itu membuat dia sangat syok dan langsung down begitu aja." Desta berusaha menjelaskan secara rinci. "Terlebih saat ayahnya membersihkan semua media tentang pemberitaan itu, sudah jelas dia semakin merasa bersalah." Airin mengangguk. "Benar, aku sangat marah waktu itu. Kenapa polisi tiba-tiba menutup kasus adikku? Kenapa tiba-tiba pemberitaan semua tentang adikku hilang begitu aja? Semua ulah Ayahnya dia," ujar Airin. "Benar," ucap Desta. "Aku bakal bantu kamu kembali mencari tahu kasus itu, aku yakin bakal ketemu titik terangnya," ujar Desta. "Tapi Brian juga bersalah, kan?" tanya Airin. Desta menggelengkan kepala. "Enggak!" jawabnya singkat. "Please, jangan sakiti dia. Aku tahu persis dia orang yang seperti apa," pinta Desta. "Bagaimana aku yakin jika buka dia penyebabnya," kata Airin ketus. "Kasih aku waktu, aku akan cari tahu semua," ucap Desta. "Oke," kata Airin setuju. "Aku tunggu kabar dari kamu," ucap Airin. Desta sudah sampai di depan gang rumah Airin. Seperti biasa, Airin memang turun di sana. Dia tak ingin membuat keributan dengan suara mobil masuk komplek rumahnya yang akan mengganggu istirahat ibu dan tetangganya. Rumah Airin begitu sepi. Entah kenapa hari itu dia mengingat Irene. Dia menatap tempat duduk yang biasa Irene tempati, anak itu selalu duduk di depan televisi ketika sedang lelah. "Kenapa harus dia?" tanya Airin dalam hati. Airin segera masuk ke kamarnya. Dia terlalu lelah hari ini. Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit yang sudah lusuh. "Ren, apa kamu bahagia di sana?" tanya Airin. "Kakak yakin, kamu bahagia, kan?" ujarnya lagi. Airin mengembuskan napas berat. Saat ini dia merasakan sangat kelelahan. Terlebih pikirannya bercabang. "Attar, Attar, Attar," ucapnya berkali-kali memanggil nama itu. _____ Desta tengah menikmati sebatang rokok di depan sebuah mini market. Dia juga meminum kopi seduh yang disediakan di sana. Sepertinya malam ini dia tengah menunggu seseorang. Habis tadi dia mengantar Airin pulang, ternyata dia tak langsung pulang ataupun kembali ke tempat Brian. "Mas Des," panggil seseorang. Nadanya sudah terdengar akrab dengan Desta. Dia menoleh dan melambaikan tangan. "Maaf harus nunggu," ujar seorang laki-laki bernama Gibran. "Enggak, kok, Mas. Saya baru sampai," ujar Desta. "Duduk," katanya mempersilakan duduk. Gibran duduk di depan Desta. "Sorry, harus malam banget gini ketemunya. Kalau siang suka ribet sama urusan Brian," ujar Desta. "Enggak apa-apa, saya juga kan kalo siang di sekolah." Gibran adalah pegawai TU (tata usaha) di sekolah di mana Irene bersekolah. Dia juga kerap menyapa anak-anak yang memang bolak-balik ke ruangan dia, entah itu yang akan membayar uang SPP, atau ke koperasi sekolah yang memang letaknya berdampingan. "Jadi bagaimana? Ada perkembangan tentang Irene?" tanya Desta. "Sekolah sudah bungkam tentang masalah itu. Ya karena sudah ditutup mulut sama Pak Wiratayudha." Gibran menjelaskan. "Irene seperti apa kalau di sekolah? Apa dia kena pembullyan di sana?" Desta terus menyelidiki. Gibran menggelengkan kepala pelan. Di sekolah kami sama sekali nggak ada pembullyan, memang banyak anak nakal, tapi mereka hanya sekedar nakalnya. Ya, namanya juga ABG lagi nyari jati diri," kata Gibran. Desta hanya mengangguk mengerti. "Tapi," ucap Gibran. Desta segera menoleh, menatap Gibran penuh tanya. "Dia dekat dengan seorang cowok." Gibran memberi tahu. "Siapa?" Desta langsung berantusias. "Entah mereka pacaran atau tidak. Pernah sekali saya memergoki mereka bertengkar di belakang gedung sekolah, saya pikir itu akan buruk. Jadi, saya menghentikannya. Irene menangis saat itu," ujar Gibran. "Apa itu sudah lama dari kejadian bunuh diri?" tanya Desta. Gibran menggelengkan kepala. "Tepat sehari sebelum Irene bunuh diri." Desta menemukan satu titik terang. Bahwa ada hal lain yang menyebabkan Irene bunuh diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN