Episode 27

1741 Kata
"Siapa nama cowok itu?" tanya Desta penasaran. "Tristan," jawab Gibran ragu. Dia tak ingin menaruh harap kepada Desta. Namun, Tristan terlalu mencurigakan setelah kejadian bunuh diri itu. "Oke, saya harus mencari tahu tentang dia," ujar Desta bertekad. "Tapi, dia pindah ke luar negeri satu bulan setelah kejadian itu," ucap Gibran. "Apa?" Desta tak percaya. Gibran mengangguk. "Kenapa?" Desta bertanya-tanya. "Kenapa harus pindah?" tanyanya lagi. Otaknya berpikir mencari jawaban. "Dia itu sangat pintar. Selalu jadi pusat perhatian di sekolah. Jago debat, jago pidato. Namun, entah kenapa dia mengundurkan diri dari organisasi OSIS, yang memang dia lah ketuanya." Gibran mengenang. "Benar, kan? Pasti ada apa-apa," jawab Desta. Gibran hanya mengangguk sebagai jawaban. "Oke, saya mau tahu alamat dia yang dulu," ucap Desta. "Untuk apa?" tanya Gibran bingung. "Dia juga kan sudah pindah ke luar negeri," katanya dengan tegas. "Aku cuma mau tahu tentang dia melalui tetangganya," ujar Desta. Gibran lagi-lagi mengangguk. "Oke, besok coba saya cari di sekolah. Nanti saya kabarin kalau sudah ketemu," jawab Gibran tegas. "Oke, thanks, ya," ujar Desta. Mereka berpisah tepat sebelum polisi berpatroli untuk penertiban jam malam Kota Jakarta. Desta menuju rumahnya dengan kecepatan kencang. Dia ingin cepat-cepat beristirahat di rumah. Setelah seharian dia bekerja di luar, rasanya kasur adalah tempat paling nyaman untuk istirahatnya malam ini. Lokasi tempatnya tadi hingga ke rumah lumayan jauh, Desta memakan waktu hingga tiga puluh lima menit, dengan kekuatan kencang. Maklum saja, jam-jam malam di kota itu jalanan pasti sepi. Mereka tak mau repot-repot berurusan dengan polisi karena terciduk tak menaati peraturan kota. Desta memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumahnya. Dia memasuki gerbang yang tak terkunci itu. Biasanya Dia akan menelepon ibunya untuk membukakan pintu. Namun, hari itu, rumahnya tak terkunci. Desta bingung, dia mengerutkan keningnya. "Tumben, apa Mama belum tidur?" tanya Desta penasaran. Dia membuka pintu itu dan mendapati rumahnya sangat berantakan. "Apa ini?" tanya Desta bingung. Dia berjalan melewati ruang tamu yang sudah tak beraturan. "Ma!" panggil Desta. "Ma!" panggilnya lagi. Tak ada jawaban. "Ma!" panggilan itu semakin seru. Desta berlari menuju kamar ibunya. Kamar itu gelap. Dia menginjak seperti genangan air. Desta menghentikan langkahnya. Dia mencari sakelar kamar ibunya. Setelah ketemu dinyalakannya lampu itu. Betapa terkejutnya Desta melihat ibunya terkapar tak bernyawa. Dia terbujur tepat di samping ranjang tempat tidur. "Ma!" teriaknya. Seketika dia langsung lemas. Darahnya masih sangat segar, menggenang di sana. "Ma!" teriak Desta sekuat tenaga. "Tolong!" Desta terus berteriak. Desta melihat kamar ibunya masih rapi. Hanya ruang tamu yang berantakan. Memang itu sering berantakan ketika ibu dan ayahnya bertengkar. Ayahnya kerap menendang meja atau kursi di sana. Tak ada tanda-tanda perampokan. Karena lemari tempat di mana berkas penting dan uang yang biasa ibunya simpan masih tertutup rapi. Desta lantas berpikir, orang yang dia kenal yang melakukan hal ini. "Ayah," ujarnya lirih. Dia yakin ini adalah perbuatan ayahnya. Desta keluar dari kamar itu, dia menuju ruangan kerja ayahnya. Wajahnya penuh amarah. Air mata yang menitik bahkan sudah bercucuran di pipi. Ruangan itu terkunci. Padahal setiap hari tak pernah dikunci sekalipun ayahnya ada di dalam atau ayahnya sedang pergi. Mengetahui ada hal yang tak beres, Desta mengetuknya dengan kencang. "Ayah! Aku tahu Ayah ada di dalam! Keluar!" bentak Desta dengan kencang. Tangannya terus mengetuk pintu itu dengan keras. Desta berusaha mendobrak. Dia mengumpulkan tenaganya. Beberapa kali percobaan gagal. Desta tak berhenti, dia mengambil sebuah palu dan berusaha membuka pintunya. Karena sudah tak sabar, Desta membuang palu itu dan kembali mendobrak pintu dengan tubuhnya. Dengan sekuat tenaga, akhirnya pintu itu benar-benar berhasil terbuka. "Maaf, maaf, maaf," ujar laki-laki paruh baya yang saat itu menggunakan kemeja kotak-kotak, dia duduk di pojok ruangan itu. Tubuhnya bergetar hebat, dia ketakutan. Air matanya mengalir. "Aku nggak bermaksud membunuh dia!" ucapnya suaranya tampak bergetar hebat. "Tangannya meminta ampun kepada Desta. Sudah dipastikan anaknya akan mengamuk saat itu juga. Seperti orang kerasukan, Desta mengamuk. Dia memukuli ayahnya hingga lemas. "Kenapa?" bentaknya dengan kencang. "Dasar pembunuh!" teriak Desta. Dia tak kuasa menahan tangisnya. "Kenapa, Ayah melakukan itu?" tanya Desta lemas. Tangannya masih memegang kerah baju ayahnya. "Kenapa?" tanya Desta lagi. Napasnya memburu. Dia menahan emosinya. Dia tak ingin emosinya meledak yang akan berakibat fatal. Setelah amarahnya sedikit mereda, dia segera melapor polisi. Dia tak ingin ayahnya kabur begitu saja. Namun, jika diperhatikan orang tua itu tak akan kabur karena rasa penyesalannya. Laki-laki paruh baya itu terlalu takut untuk berdiri dengan kakinya. Belum ada satu jam, rumah Desta ramai oleh petugas kepolisian. Terlebih bunyi sirine membuat tetangganya kepo dan keluar untuk menyaksikan. Garis polisi di pasang di kamar ibunya. Sedangkan ayahnya sudah berhasil diamankan. Desta tampak sangat lemas. Melihat tim forensik dan petugas kepolisian tengah menyelidiki. Dava datang dengan penuh rasa khawatir. Desta harus mengabari orang itu. Jika tidak, Dava akan marah karena merasa diabaikan. Dava memeluk Desta yang terkapar lemas di tempat duduk. "Yang sabar, Des," ujar Dava menguatkan. Tak lama Brian juga datang. Desta langsung histeris. Brian memeluk Desta dan ikut meneteskan air mata. "Nyokap gue!" ujar Desta lemah. Isak tangisnya semakin menjadi. "Ada gue! Ada gue!" Brian menepuk pundak Desta. Malam itu benar-benar akan diingat Desta. Laki-laki itu akan menjadi anak sebatang kara dalam dunia ini. Brian terus menemaninya. Saat tim forensik ingin membawa jenazah korban. Namun, Desta menolaknya. Dia tak ingin ada visum pada mayat ibunya. "Saya hanya berharap, Ayah saya menyesal seumur hidupnya. Hukum dia sampai dia sadar, sampai dia menyesal, dan merasa bersalah setiap hari," ucap Desta pada polisi yang bertugas. "Tapi, ini akan menjadi laporan. Hasil visum itu sangat penting," ujar Polisi itu meyakinkan. Desta mengangguk. "Mama udah bahagia, kok. Biarkan dia beristirahat. Dan saya rela Ayah saya dijebloskan ke penjara seumur hidup bila perlu." Desta sangat terpukul. Dia dibantu tim membersihkan semua sisa darah dalam diri ibunya. Para tetangga berdatangan. Itu juga setelah prosesi pemulasaraan jenazah selesai, dan polisi memperbolehkannya. Desta hanya terdiam di depan keranda ibunya. Di sampingnya ada Dava dan Brian. Hari itu Brian mengenakan kaca mata hitam dan masker yang juga berwarna senada. Mengantisipasi agar orang tak mengenali dirinya. Air mata Desta tentu saja tak berhenti mengalir. Dia ikhlas, namun kematian ibunya yang mendadak membuatnya sangat terkejut. Pernikahan orang tuanya sudah tidak sehat ketika ayah Desta bangkrut. Mereka selalu bertengkar dan mengatakan ingin berpisah. Terlebih sikap ayahnya yang kasar sering membuat Desta kesal. Namun, jika Desta menegur ayahnya, laki-laki itu luluh dan menahan emosinya. Hari ini adalah hari di mana Desta kehilangan ibunya. Rasanya campur aduk. Dia hanya menatap kosong keranda yang sudah ditutup rapat oleh kain berwarna hijau di depannya. "Semuanya berakhir," ujar Desta lemah. Brian mengangguk. Dia sangat mengerti perasaan Desta. Laki-laki itu terlalu sayang sama ibunya. Walaupun dia sering membangkang dan selalu marah jika ibu dan ayahnya bertengkar. Namun, di samping itu Desta benar-benar sangat perhatian. -____ Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Airin terbangun. Mulutnya terasa sangat kering sehingga yang pertama kali dia cari adalah air mineral. Dengan malas dia mencari botol bermerk Aqua di kamarnya. Membuka botol itu dan meminum habis isinya. "Ah," katanya setelah menelan semua sisa air mineral. "Baru jam empat?" tanyanya sembari menatap jam dinding kamar. "Ada apa tiba-tiba aku terbangun," katanya bingung. Dia kembali berjalan menuju tempat tidurnya. Tak lupa tangannya meraih ponsel miliknya. Ada panggilan dari Dava dan Brian. "Ada apa?" tanyanya lirih. Karena rasa penasaran, dia membuka chat dari kedua laki-laki itu. _Ibu dari Desta meninggal dunia_ Tulis Dava. Belum sempat membuka Chat dari Brian. Airin terkejut. Dia benar-benar tersadar dari tidurnya sekarang. Segera dia ke kamar mandi untuk mencuci muka, dia lantas berjalan menuju kamar ibunya. Bernapas lega karena Hilda juga ternyata sudah bangun. "Ma," panggil Airin. Hilda yang sedang membereskan tempat tidur menoleh. "Tumben sudah bangun? Ada apa?" tanya Hilda menghentikan aktivitasnya. "Aku harus ke rumah Desta, ibunya meninggal dunia," kata Airin panik. "Innalilahi wa Innailaihi Rojiun," ujar Hilda. Wanita itu mengangguk. "Hati-hati di jalannya." Airin mengangguk. Dia lantas mengambil kunci motor matic miliknya. Menggunakan motor akan lebih cepat sampai dibandingkan dengan mobil. Tadi sebelum berangkat Airin terlebih dahulu meminta lokasi rumah Desta. Untung saja Airin hapal wilayah perumahan Desta. Jadi, dia sampai lebih cepat. Airin memarkirkan motornya di depan rumah Desta. Banyak orang yang tengah melantunkan ayat suci Al-Qur'an di depan jenazah. Tepat di sampingnya Desta yang terduduk lemas memandangi kosong keranda di depannya. Airin menunggu di luar karena jika dia ke dalam, sudah pasti dia melewati banyak orang. Jadi, dia memilih menunggu di luar. Udara dingin pagi itu dia terjang karena rasa khawatirnya terhadap Desta. Tak lama Dava keluar. Dia mendekat ke arah Airin. "Kenapa ke sini? Kan bisa nanti pagi," ujar Dava. Airin tersenyum. "Nggak terlalu jauh, jadi aku langsung ke sini aja." Airin menjawabnya dengan polos. "Sama siapa? Naik apa?" tanya Dava penasaran. "Sediri, naik motor," kata Airin lalu tersenyum malu. Dava menggelengkan kepala. "Kalau memang dekat kan bisa dijemput," ujar Dava. Airin menggelengkan kepala. "Bagaimana keadaan Desta?" tanya Airin penasaran. "Dia sudah membaik," jawab Dava. Suasana pemakaman ibu dari Desta berlangsung penuh duka. Desta adalah anak satu-satunya. Dia kini sebatang kara. Belum lagi ayahnya yang sudah masuk penjara. Almarhumah ibunya terkenal dengan baik oleh para tetangga, sehingga mereka turut kehilangan. Mereka turut serta dalam mengantarkan jenazah dikebumikan. Air mata Desta terus keluar dari pelupuk matanya. Dia tak kuasa menahan tangis saat meletakkan jenazah ibunya di liang lahat. Dibantu oleh Dava dan Brian di bawah sana. Brian lagi-lagi mengusap pundak Desta. Bertujuan untuk menguatkan laki-laki itu. Sedangkan Airin, tahu persis apa yang dirasakan Desta hari ini. Hal itu sama seperti dia kehilangan Irene waktu itu. Setelah prosesi pemakaman selesai. Desta kembali ke rumahnya. Masih ditemani oleh Dava, Brian, dan Airin. "Makasih, ya. Udah temenin aku," ujar Desta. Entah kepada siapa dia berbicara. Yang jelas suaranya terdengar sangat lemah. "Des, yang sabar ya," kata Airin menimpali. Desta hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kak, sepertinya konferensi pers untuk film baruku, kita tunda dulu, bisa?" tanya Brian pada Dava. Terlihat laki-laki kelahiran tahun delapan puluh satu itu mengangguk pasti. "Nanti coba aku jadwalkan ulang dengan tim produksi." Dava berucap. Desta hanya terdiam, menatap kosong ruangan tengah yang biasa ibunya habiskan untuk bersantai. "Kenapa Bokap jahat banget, ya?" tanya Desta tiba-tiba. Semua orang menoleh ke arahnya. "Mungkin Ayah kamu nggak berniat, cuma setan tahu apa yang harus mereka lakukan. Dia merasuki pikiran Ayah kamu dengan kejahatan, makanya dengan berani Ayah kamu sampai kejam begitu," ujar Dava menjelaskan. Dia orang paling dewasa di antara Desta, Brian, dan Airin. "Rin, apa kamu merasakan sekehilangan ini ketika Irene pergi?" tanya Desta lagi dengan nada lemah. Airin terkejut. Bagaimana bisa dia membuka percakapan seperti itu di depan Brian dan Dava. "Apa?" tanya Brian penasaran. Airin bingung untuk menjelaskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN