"Apa?" tanya Brian lagi. "Kehilangan siapa?" tanyanya ragu. Wajahnya penuh selidik.
Desta segera tersadar. "Maaf, kenapa aku berbicara ngawur," ujarnya. Dia sedikit menyesal dengan ucapannya baru saja. Airin mengembuskan napas lega. Hal itu malah membuat Brian semakin penasaran.
"Apa kamu pernah kehilangan seseorang?" tanya Brian pada Airin. Tentu saja Airin langsung gugup.
"Mmm," jawabnya ragu. Dia mencari alasan supaya Brian tak curiga.
"Maksudku, saat dia kehilangan Ayahnya." Desta membenarkan.
"Ah," ucap Brian. Dia mengangguk. Padahal dia masih kepo. Namun, menghentikan rasa keponya karena di sana juga ada Dava.
Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Pikir Brian.
______
Brian tahu bahwa Airin memang sudah kehilangan Ayahnya sejak tahun pertama SMA. Dia sangat sedih waktu itu. Hingga tak masuk sekolah berhari-hari. Ayahnya meninggal karena kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Kala itu adalah pertemuan pertamanya Brian dengan Airin. Di mana Airin datang terlambat ke sekolah. Tak seperti biasanya dia terlambat. Hari itu benar-benar kacau.
Yang menarik perhatian Brian adalah, Airin terus memerintahkan cowok itu untuk mendekat. Demi tak kena marah sang guru, Airin menjadikan Brian alasan kenapa dia terlambat.
"Lo bisa bantuin gue?" tanya Airin lirih. Hari itu Attar yang mengenakan kaca mata dan membawa serta buku di tangannya berjalan santai.
"Pasti nih anak abis di-bully di belakang," batin Airin. Terlihat Attar sangat berantakan hari itu.
"Bantu apa?" tanya Attar ragu.
"Lo pura-pura sakit, dan gue yang nolong lo," ujar Airin.
Attar menggelengkan kepala cepat. "Enggak, gue nggak mau bohong," kata Attar terbata.
"Please! Cuma hari ini," pinta Airin memohon. "Nama gue Airin," kata Airin memperkenalkan diri.
"Lo!" Airin melirik name tag di baju OSIS Attar. "Ah, Attar," kata Airin lagi. "Kita sekelas, kan?" tanya Airin lagi. Attar mengangguk.
"Oke, nggak ada waktu lagi. Please, bantuin gue," kata Airin memohon. Dia menarik lengan Attar dan menuntunnya.
Walaupun sudah pasti cowok itu menolak, namun tetap mengikuti langkah Airin. Mungkin mereka sudah saling faham. Namun, tak pernah berbicara atau berinteraksi langsung.
Hingga pada siang hari. Airin mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dengan tragis. Kala itu Airin seperti orang kerasukan. Dia berteriak histeris, padahal masih pada jam pelajaran.
Saat di sela-sela pelajaran, seorang guru masuk dan berbicara pada guru yang tengah mengajar. Tampak wajahnya sangat serius. Airin mendengar namanya disebut. Membuat Airin bingung.
Tak biasanya ada hal langka seperti ini.
"Rin, kemasi buku-buku kamu," perintah Pak Agus sang guru matematika.
"Ada apa, Pak." Airin tampak bingung.
"Enggak ada apa-apa, kemasi dan pulang." Agus memerintahkan.
Langsung kelas manjadi gaduh. Mereka iri melihat Airin dipersilakan pulang. Airin semakin curiga. Dia lantas mengemasi buku dan mengambil ponselnya di dalam laci. Tak sengaja ponsel itu menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk.
_Ayah meninggal_
Pesan singkat yang dikirimkan ibunya itu berhasil membuat Airin histeris. Semua orang terkejut dibuatnya. Airin lemas hingga tak sadarkan diri.
_____
Airin ikut mengangguk. Setidaknya Brian tak curiga tadi saat Desta menyebut nama Irene.
"Bagaimana kalau kita pesan makanan? Pasti Desta belum makan," ujar Airin menyarankan, dia sengaja mengalihkan perhatian orang-orang dari ucapan Desta tadi. Padahal dirinya juga belum sarapan tadi pagi.
Hari sudah menunjukkan pukul satu siang. Airin melirik jam tangannya.
"Mumpung makan siang belum kelewat," ucap Airin lagi. Dava mengangguk setuju. Begitu juga Brian, yang mengangguk cepat.
"Pizza!" celetuk Brian bersemangat. Pizza adalah makanan kesukaan Desta. Dia sengaja mengucap kata Pizza. Karena Desta sangat menyukainya. Dia bisa saja makan satu loyang penuh jika Brian mengizinkan.
"Setuju?" tanya Brian pada Desta.
"Setuju!" Dava dan Airin menjawab secara serentak.
Desta menoleh. Padahal Brian sudah sangat berharap Desta menerima sarannya. Namun, sayang ditolak.
"Aku nggak lapar," ujar Desta lirih. Airin mengembuskan napas berat. Dava menatap Brian. Laki-laki itu hanya mengedikkan bahu.
"Des, kamu harus makan, walaupun cuma sedikit. Masa depan kamu masih panjang, kamu nggak boleh sakit." Dava berceramah. "Apalagi nanti pihak kepolisian bakalan bolak-balik manggil kamu buat proses pengadilan Ayah kamu," lanjutnya.
"Serius, aku nggak lapar, Kak," ucap Desta lemah. "Aku pengen temenin Mama," katanya.
"Des! Mama kamu udah bahagia. Ikhlasin dia, supaya tenang." Airin kini mengambil alih percakapan. "Aku tahu persis kok rasanya seperti apa." Wanita itu menatap Desta lekat. "Tapi, kamu ingat, hidup kau nggak sampai di sini, nggak sampai hari ini," kata Airin mencoba menyemangati.
Desta mengangguk. Dia kini menatap Airin nanar. "Thanks, ya. Mungkin hari memang berat buat aku, tapi makasih, berkat kalian aku nggak kesepian," ujar Desta.
Brian menepuk bahu Desta. "Semangat Brother," ujarnya. "Masih ada gue, Kak Dava, sama Airin," katanya. Dava mengangguk setuju, begitu pula Airin.
Mereka akhirnya memutuskan untuk tidak memesan makanan. Rumah Desta sudah tampak sepi pelayat. Namun, rumah itu masih terbuka lebar. Suasana haru juga masih menyelimuti rumah itu.
"Bokap tega banget," ujar Desta lagi. Kini dia sangat menyesal kenapa dirinya tak pernah menyetujui perceraian orang tuanya. "Harusnya aku dulu ijinin mereka pisah." Desta mengenang. "Kalau saja aku ijinkan, pasti Mama sekarang masih bersama aku di sini," ujarnya.
"Sabar," ujar Dava. "Ambil hikmahnya. Ibu udah bahagia, Ayah juga bakal merenungi perbuatannya di penjara. Percaya sama aku, setelah dia sadar dengan apa yang dia perbuat, pasti dia akan menyesal seumur hidup, merasa bersalah di sepanjang hidupnya. Percaya itu," ucap Dava. Desta hanya mengangguk pelan.
Benar juga perkataan Dava. Tuhan lebih sayang ibunya. Tuhan yang memilih ibunya untuk berada di samping-Nya agar merasa bahagia.
Setelah satu Minggu kepergian ibunya. Desta hidup seperti biasa. Sibuk dengan pekerjaannya. Kali ini dia sudah bisa mengikuti jadwal Brian lagi.
Rumahnya sudah di desain dengan penempatan barang-barang dengan posisi baru. Ia sebenarnya ingin menjual rumah itu. Namun, bagaimana nanti jika ayahnya bebas. Mereka tak akan punya tempat tinggal. Bahkan kamar yang penuh dengan darah juga sudah bersih. Semuanya sudah tampak rapi.
Desta menghela napas lega. Kini dia melirik jam tangannya dan bergegas untuk pergi ke tempat Brian.
"Gue harus bisa melalui ini," ujarnya bertekad. Dia menaiki bus untuk menuju apartemen Brian.
Tiga puluh menit, akhirnya Desta sampai tepat di depan gedung apartemen berlantai empat puluh dua itu. Dia mengembuskan napas lega. Mulai berjalan ke sana.
Dia menyapa satpam yang tengah bertugas untuk mengatur jalannya lalu lintas tepat di pintu gerbang utama. Di mana para pemilik apartemen akan keluar atau masuk.
Pagi ini begitu cerah. Desta berusaha semangat. Memulai kehidupan baru tanpa seorang ibu.
Dia masuk ke apartemen Brian tanpa mengetuk pintu. Sudah dipastikan sang pemilik tempat itu belum bangun. Karena hari ini dia memiliki jadwal di siang hari.
Tempat itu sangat berantakan. Bukan berantakan tak beraturan, melainkan berantakan akan sisa makanan yang tak dirapihkan.
Desta menghela napas berat. Satu minggu tak ditemani di apartemen rupanya seperti ini keadaannya.
"Dasar pemalas!" protes Desta. Desta mengambil kantong plastik, dan memisahkan sampah-sampah itu.
Dia benar-benar membersihkannya. Menyapu lantai, hingga mengepelnya.
Tetapi, sang pemilik rumah mungkin masih terlelap di kamar yang masih terlihat tertutup rapat.
Ponsel Desta berdering. Dia segera mengambilnya dari saku celana. Melihat nama Gibran, dia langsung bersemangat.
"Halo, ada apa? Apa ada perkembangan?" tanya Desta bertubi-tubi setelah menjawab panggilan Gibran.
"Apa kabar?" tanya Gibran. "Turut berbela sungkawa, katanya Ibu kamu meninggal," kata Gibran.
"Ah, iya. Makasih ya," jawab Desta.
"Saya menemukan keberadaan Tristan sekarang," ucap Gibran.
"Apa? Di mana?" tanya Desta antusias.
"Dia ada di Korea, tepatnya di Busan. Katanya baru akan pulang setelah pendidikan bangku kuliahnya selesai," ujar Gibran menjelaskan.
"Kapan?" tanya Desta.
"Dua tahun lagi," jawab Gibran. Seketika Desta lemas saat mendengar itu.
"Gila! Itu terlalu lama," pekik Desta.
"Tapi," ucap Gibran. Desta seperti menemukan lampu dalam cahaya yang gelap.
"Apa?" tanyanya segera.
"Akhir tahun ini dia akan pulang ke Indonesia, menghadiri acara pernikahan Kakaknya," ujar Gibran.
"Serius? Wah, saya harus ambil kesempatan," ujar Desta bertekad.
Gibran mengangguk, tanpa disadari oleh Desta.
"Ya udah, nanti coba saya cari tahu lagi tentang dia." Gibran akhirnya mengakhiri pembicaraannya.
"Kalau begitu, saya kembali kerja dulu," ujarnya mengakhiri.
"Oke, oke. Makasih, ya," kata Desta.
"Siap," jawab Gibran.
Desta menghela napas lega. Namun, seketika dia terkejut dengan adanya Brian di depannya. Entah datang dari mana, yang jelas Desta tak menyadarinya.
"Kaget!" protesnya kesal. Brian tersenyum licik.
"Serius banget, telepon siapa?" tanya Brian kepo. Dia mengambil posisi duduk di sofa.
"Wah, rapi, udah bersih, ini baru namanya rumah," ujar Brian.
"Ya lo, jadi orang males banget! Disuruh sewa pembantu nggak mau, siapa lagi kalo bukan gue yang ngerjain," ujar Desta ketus. Brian tertawa.
Setelah Desta menyelesaikan kerjaannya. Dia duduk di samping Brian. Menatap sahabatnya itu lekat.
"Apa?" tanya Brian penasaran. Dia sampai menarik garis pada dahi wajahnya.
"Gue mau minta cuti lagi," ujar Desta.
"Untuk apa?" tanya Brian bingung. "Bukankah seminggu kemarin udah cukup? Ah, mau proses persidangan Bokap lo?" tanya Brian.
"Ah, masih lama sih, masih akhir tahun," ujar Desta lalu tersenyum.
"Mau pacaran di tahun baru?" tebak Brian. Desta menggeleng cepat.
"Sejak kapan gue pacaran? Gue kan setia sama lo," ledek Desta.
"Ih, ogah!" tolak Brian. "Gue mah masih normal!" katanya lagi.
"Yan, seandainya Airin tahu, lo adalah Attar, apa semuanya akan baik-baik aja?" Tiba-tiba pertanyaan Desta mengarah ke hal yang serius.
"Kenapa? Apa sudah terbongkar?" tanya Brian penasaran.
Desta hanya menggelengkan kepala pelan. Dia tak ingin Brian mengetahuinya.
____
Ken menatap dua foto yang sangat berbeda. Satu adalah foto siswa SMA dengan kacamata baca, dan satu lagi adalah foto Brian yang sekarang. Ken begitu mengamatinya secara bergantian.
"Operasi plastik?" tanya Ken.
Airin langsung terbelalak. Dia mengangguk cepat menanggapi ucapan Ken.
"Bener!" katanya antusias. "Pasti dia operasi plastik!" lanjutnya lagi. "Wah, benar-benar berubah drastis," katanya. Matanya bergantian melihat dua foto di atas meja itu.
"Tapi, apa kamu yakin, jika anak ini adalah Brian yang sekarang?" tanya Ken memastikan. Dia menunjuk foto Attar dan menatapnya, hingga foto itu didekatkannya supaya lebih jelas.
"Yakin Ken, dia adalah Attar, teman SMA ku yang dulu." Airin meyakinkan. "Aku juga udah konfirmasi ke Desta, dan benar!"
Ken mengangguk. "Untuk menutupi identitas SMA nya dia mengoperasi wajahnya? Agar identitasnya nggak terkuak. Wah, hebat juga," ucap Ken. Airin mengerutkan kening. Dia tahu Ken memiliki maksud tertentu.
"Jangan bilang kamu bakal ungkap di publik," ujar Airin.
"Kenapa? Bukankah ini kelemahan dia. Balas dendam paling cantik adalah menghancurkan karir dia." Kata-kata Ken membuat Airin menggelengkan kepala cepat.
"Jangan! Aku nggak setuju," tolak Airin tegas.
"Nggak setuju? Kenapa? Rin, ini kesempatan kamu! Kesempatan emas buat balas dendam!" ujar Ken tegas.
"Ken, itu benar-benar akan menghancurkan dia dan karir dia," ucap Airin.
"Apa kamu jatuh cinta sama dia?" tanya Ken.
Airin terkejut.
"Iya, kan?" tanya Ken lagi.
"Entahlah, aku kasihan melihat dia," ujar Airin datar.
"Kasihan?" tanya Ken kesal.
Airin mengangguk. "Dia juga menderita selama ini," kata Airin.
"Rin! Balas dendam kamu lebih penting!" Ken tak setuju.
Airin mengangguk. "Benar, tapi, untuk menghancurkan dia aku rasa itu berlebihan."
Mungkin Airin tak sadar dengan apa yang dipikirkannya.
"Rin! Ini itu tentang nyawa Irene!" bentak Ken. Dia ingin menyadarkan Airin.
"Mungkin rasa itu tumbuh lagi," kata Airin. Ken hanya bingung. Mencoba mencerna ucapan Airin.