"Kamu cinta sama dia?" tanya Ken lagi.
"Ken!" Airin rupanya tak ingin menjawab pertanyaan Ken yang memang tak ada jawabannya dari dia.
"Rin, ini tentang nyawa adik kamu, dia penyebabnya," ucap Ken terus mengulangi. Airin menggelengkan kepala.
"Pasti ada sesuatu yang lain, yang membuat Irene bunuh diri," kata Airin menerawang.
"Apa? Apa sesuatu yang lain itu? Pacar? Kasus pembullyan? Atau masalah dengan guru?" tanya Ken tak percaya. "Irene anak baik, dia ceria, dia punya pribadi yang baik, nggak mungkin dia melanggar aturan sekolah, menjadi korban pembullyan, atau punya pacar yang memang dari dulu kamu larang." Ken menjelaskan.
"Ken, aku yang lebih kenal dia," Kata-kata Airin membuat Ken berhenti berbicara.
Keduanya kalut dengan perasaan masing-masing. Airin lantas mengambil minuman dan beranjak dari duduknya. Mini market tempat mereka duduk nampak sudah ramai sejak tadi pagi.
"Aku harus kembali kerja," kata Airin berpamitan. Ken menoleh. Lantas beralih pada jam tangannya.
"Baru jam segini, kata kamu ada jadwal nanti siang," jawabnya. Airin menelan ludah. Dia tak ingin berlama-lama dengan Ken, takut laki-laki itu membahas tentang perasaannya. Dia bertemu Ken kali ini hanya ingin mengatakan tentang Brian.
Airin sudah berbalik badan. Namun, mengurungkan niatnya ketika Ken kembali berbicara.
"Untuk masalah perasaan aku, oke, kamu nggak akan terima, iya, kan?" tanya Ken. Airin menoleh. Dia menatap Ken serius.
"Tapi, ingat satu hal. Aku siap menerima kamu, ketika kamu datang nanti. Aku siap membantu jika nanti memang kamu butuh bantuan," ucap Ken. "Tapi, jika laki-laki itu menyakitimu, aku nggak segan-segan buat habisin dia." Ken tak menoleh lagi ke arah Airin. Dia beranjak dan melewati Airin.
Airin mengembuskan napas, sejak tadi dia menahannya. Ken, jika sudah berbicara pasti langsung serius. Membuat hati siapa saja berdebar saat mendengar suaranya.
Airin sudah pasti menolak perasaan Ken. Terlebih sekarang dia dekat dengan Brian. Bukan dekat karena saling suka, namun dekat karena pekerjaan. Namun, Brian sering kali memberikan perhatian lebih kepada Airin. Membuat Airin sedikit goyah. Balas dendam yang merupakan tujuan utamanya menjadi goyah karena perasaan pribadi.
Airin lemas, dia kembali duduk ditempatnya yang semula. Melihat Ken hingga punggungnya mengecil.
"Ken! Kenapa harus punya rasa sama aku?" tanya Airin lemas. "Kita terlalu dekat untuk mengubah status," ujarnya lagi.
Ponselnya berdering. Nama Brian tertera di layar ponsel itu. Sebelum mengangkat telepon Brian, Airin mengembuskan napas.
"Kenapa?" tanya Airin tanpa basa-basi. Dia tersadar bahwa yang meneleponnya adalah Brian. "Ah maaf, ada apa?" tanya Airin.
Brian sempat bingung.
"Kamu di mana? Bisa ke apartemen sekarang? Soalnya jadwalnya maju," kata Brian.
"Ah, bisa. Aku ke sana sekarang," kata Airin.
Airin bergegas. Dia segera berjalan menuju halte. Pikirannya sangat kacau. Ken dan wajahnya terus menghantuinya.
Dia ingat semua. Kebaikan Ken. Pasalnya dia yang menyelamatkan karir Airin. Dia yang menariknya dari keterpurukan. Ken yang mencari cara untuk menguak kasus Irene. Ken selalu ada di saat Irene butuhkan. Namun, siapa sangka kebaikan dia malah menumbuhkan buih-buih cinta. Airin sudah menganggap Ken seperti saudara. Makanya dia sangat terkejut saat Ken tiba-tiba mengungkapkan perasaan.
Airin tiba di apartemen Brian. Dia berjalan menuju elevator. Seperti biasa, gedung itu terlihat sepi. Hanya ada staf keamanan yang berjaga dan staf apartemen yang mondar-mandir saat bekerja.
Airin menghela napas, saat dirinya sudah masuk ke dalam elevator.
"Attar, Attar, Attar, kenapa kamu beda banget sama yang sekarang?" tanya Airin lirih. "Ken mungkin benar, dia operasi plastik," ujarnya lagi.
Airin melihat angka-angka yang semakin bertambah di atas pintu elevator. Tepat di angka dua puluh dua pintu terbuka. Airin harus keluar dari sana segera.
"Ini adalah momen yang tepat untuk balas dendam. Tapi, Desta selalu meyakinkan aku bahwa bukan Brian pelakunya," katanya lagi.
Lagi-lagi dia mengembuskan napas. "Sial! Kenapa aku malah kasihan?" gerutu Airin.
Dia menekan bel pintu apartemen Brian. Tak lama pintu itu terbuka, dan menampilkan Desta. Airin tersenyum kecut pada laki-laki itu. Membuat Desta menarik garis keningnya.
"Ada apa cemberut gitu? Sakit?" tanya Desta. Airin mengikuti langkah Desta. Dia tak mendapati Brian di sana.
"Brian mana?" Alih-alih menjawab pertanyaan Desta, ia malah menanyakan sosok Brian.
"Ada di kamar," jawabnya.
"Kenapa tiba-tiba jadwal berubah?" tanya Airin lagi. Desta mengangguk.
"Harusnya jam satu, tapi dimajuin jadi jam setengah satu. Otomatis, kita sampai sana itu jam sebelasan, karena buat persiapan Brian." Desta menjelaskan.
Airin melirik jam tangannya. "Ini udah jam sepuluh, mana cukup perjalanan satu jam." Airin memprotes.
"Cukup, aku tahu jalanan anti macet di daerah sana," ujar Desta. Airin mengangguk mengerti.
Brian keluar kamarnya. Dia mendapati Airin tengah duduk berdampingan dengan Desta.
"Sudah datang?" tanyanya. Lalu dia mengambil posisi duduk di sofa sendiri. "Udah disiapin semua?" tanya Brian lagi.
Airin yang sejak kedatangan Brian hanya bengong, kini tersadar. "Oh, belum. Sebentar," katanya segera bergegas.
"Mereka orang yang sangat berbeda. Mana mungkin Attar adalah Brian. Bagaikan langit dan bumi perlakuan mereka," batin Airin. Dia kini sudah sampai di kamar di mana barang-barang Brian diletakkan.
"Yan!" panggil Desta. Mengalihkan pandangan Brian yang sedari tadi melihat ke arah Airin yang sudah menghilang di balik pintu.
"Apa?" tanya Brian. Dia menatap Desta. Sepertinya dia akan memulai pembicaraan yang serius.
"Tentang Airin." Desta memulai berbicara. Brian mengangguk mengerti.
"Apa?" tanyanya lagi.
"Bagaimana jika nanti dia tahu, kalau lo adalah Attar," kata Desta serius.
Brian mengerutkan kening. Dia tertawa kecil. "Nggak mungkin, lah," jawabnya santai.
"Seandainya. Jika dia tahu," ucap Desta.
"Des, apa gue pernah menampakkan sosok Attar akhir-akhir ini. Attar udah nggak ada. Itu masa lalu, bahkan gue nggak ingat kalau dia pernah ada di dunia ini," kata Brian.
"Tapi, Yan, lama-lama akan terbongkar," ujar Desta.
"Dan kamu nggak bisa selamanya simpan rahasia itu," ucap Airin tiba-tiba. Betapa terkejutnya Brian. Desta hanya memejamkan matanya sebentar. Dia merasa sudah gagal menjaga rahasia Brian selama ini.
"Kamu!" ujar Brian. Dia berdiri saking terkejutnya.
Airin mengangguk. Dia berjalan ke arah Brian.
"Aku nggak percaya kalau kamu sebenarnya adalah Attar. Tapi, aku yakin kamu punya alasan sendiri hingga kamu menjadi seperti sekarang," ujar Airin.
Brian sangat malu. Dia lemas, hingga terduduk di sofa. Tak percaya dengan fakta yang baru saja terungkap.
"Terus mau kamu apa?" tanya Brian serius.
"Mau aku?" Airin tak mengerti arah pembicaraan Brian. Namun, setelah beberapa detik, dia paham. "Ah," ujarnya kini mengerti. "Aku mau, kamu merasa bersalah seumur hidupmu," ujar Airin.
"Rin," timpal Desta.
"Des," kata Airin. Dia tahu Desta akan menghalanginya lagi. Dia melihat Desta menggelengkan kepalanya.
"Maksud kamu apa? Apa aku salah, kembali menjadi orang yang berbeda?" tanya Brian.
"Jelas! Salah besar!" kata Airin emosi.
"Kenapa?" Brian semakin tak mengerti.
"Kamu ingat? Irene, gadis yang bunuh diri karena kamu," ujar Airin.
"Airin," kata Desta lagi.
"Des, udah waktunya dia tahu," ucap Airin tegas.
"Irene?" tanya Brian lirih. "Kenapa kamu membahas itu," ujarnya ragu.
"Dia adalah adikku," kata Airin tegas. "Benar, dia adalah orang yang bunuh diri karena saking sukanya sama kamu!" Airin terisak. "Aku pengen hidup kamu hancur! Hidup kamu nggak akan pernah bahagia, dan hidup kamu menderita selamanya." Airin menangis.
Brian sangat terkejut. Dia melihat ke arah Desta. Dan laki-laki itu mengangguk. Seakan tahu apa yang akan ditanyakan Brian.
Brian merasa sangat bersalah. Dia terkejut, dia juga kasihan melihat Airin yang sudah terduduk lemas di lantai.
Airin mengusap air matanya. Dia bangkit dan menatap Brian.
"Aku berhenti kerja, aku ingin kamu setiap hari menyalahkan diri sendiri," ujar Airin. Dia mengambil tas miliknya dan pergi meninggalkan apartemen itu.
"Rin," panggil Desta. Dia mengejar Airin. Membiarkan Brian sendirian.
Desta berhasil mencegah langkah Airin tepat di depan pintu elevator.
"Kenapa kamu ngelakuin itu? Apa ada masalah? Kita udah sepakat nyari bukti lain," kata Desta.
"Des, dia nggak akan pernah sadar bahwa dia penyebabnya." Airin berbicara kesal.
Desta menggelengkan kepala. "Enggak, aku yakin bukan dia pelakunya," ujar Desta yakin.
"Lalu siapa? Kamu? Aku? Atau siapa?" tanya Airin sedikit dengan nada tinggi.
"Ada, teman sekolah dia," ujar Desta.
"Apa? Siapa?" Airin penasaran.
"Aku lagi selidiki, tunggu sebentar lagi. Please, jangan buat kegaduhan di media sosial, oke," pinta Desta.
Airin melangkah meninggalkan Desta tanpa menjawab ucapan laki-laki itu.
______
Seorang artis top berinisial 'B' adalah korban Bullying di masa SMA.
Artis berinisial B melakukan operasi plastik demi mengubah jati dirinya. Dulu dia adalah seorang siswa yang menjadi korban bullying di sekolah.
Kini dia adalah artis itu dan selalu menjadi pusat perhatian di dunia hiburan. Menjadi salah satu artis paling top di tahun ini.
______
Postingan singkat yang diunggah di sebuah media resmi Secret membuat Brian dan stafnya kalang kabut.
Rasa ketakutan Brian memuncak. Benar, sebentar lagi identitasnya akan terbongkar. Trauma itu akan datang lagi. Dava sibuk mencari tahu siapa yang mengunggahnya. Karena Dava tak tahu bahwa Ken dan Airin adalah pendiri Secret. Namun, Desta sudah bisa menebak siapa dia. Airin adalah orangnya, itu adalah asumsi dia.
"Bagaimana ini, bagaimana ini?" Brian ketakutan. Sejak artikel itu di rilis, Brian mengurung diri. Semua jadwalnya dia batalkan. Bahkan jadwal untuk syuting Minggu ini juga dibatalkan.
"Yan, Airin nggak bisa dihubungi," ujar Desta panik. Brian sangat panik dia ketakutan.
Ponsel Desta berdering. Ternyata dari Dava. Dia segera mengangkatnya.
"Halo," jawab Desta.
"Des, jangan biarkan Brian membaca komentar netizen. Hampir semua postingan di i********: adalah artikel itu. Please, jangan sampai Brian tambah down. Aku lagi cari cara buat cari pelakunya," ujar Dava panik.
"Oke. Tapi, aku tahu siapa pelakunya," kata Desta.
"Apa? Siapa?" tanya Dava penuh dengan amarah.
"Airin," ujar Desta.
"Airin? Kenapa? Kenapa dia melakukan itu?" tanya Dava.
"Panjang ceritanya. Tapi, aku belum konfirmasi ke dia. Nomornya nggak bisa dihubungi," ujar Desta.
"Oke, oke, tunggu aku di sana. Aku akan pergi ke tempat Brian." Dava sangat panik.
Pasalnya komentar netizen sangat banyak, banyak yang mendukung, banyak pula yang mencela Brian.
***
Airin baru selesai berkunjung ke makam Irene. Waktu itu sudah sore. Langit jingga turut serta dalam kerinduan Airin terhadap adik semata wayangnya.
"Kamu bahagia di sana. Sebentar lagi semuanya akan terungkap," kata Airin sembari mengusap pusara Irene.
Setelah berjalan ratusan meter menuju mobilnya, akhirnya dia sampai. Duduk di kursi pengemudi dan mengembuskan napas lega. Hari ini adalah tepat tiga tahun kematian Irene. Airin sengaja datang sendiri tanpa ibunya.
Airin mengambil ponselnya. Ternyata dia lupa mengaktifkan setelah tadi dia charging. Setelah menyalakan kembali ponselnya. Satu persatu notif masuk, panggilan dari Desta, banyak sekali pesan. Ada juga panggilan dari Dava.
"Ada apa?" tanya Airin bingung. "Apa mungkin mereka tak setuju aku keluar dari pekerjaanku?" tanya Airin.
Namun, ada satu pesan yang menarik perhatiannya. Pesan dari Ikbal yang merupakan rekan sesama wartawan. Airin langsung membukanya dan memang cukup membuat dia terkejut.
-Secret memang hebat. Bisa menghancurkan karir artis yang lagi top- Pesan itu ditulis dan dikirim oleh Ikbal.
"Secret?" tanya Airin lirih. Dia segera membuka aplikasi i********:. Banyak sekali postingan tentang artis berinisial B. Airin terkejut. Dia membuka akun milik Secret, dan benar ada berita tentang Brian.
"Ken!" kata Airin nggak habis pikir.