"Bisa pertemukan aku sama Tristan?" tanya Airin lemah. Gibran menoleh.
"Semoga aja bisa," kata Gibran. "Kita bisa minta bantuan temannya nanti," lanjutnya. Airin merasa tenang.
"Aku ingin dia membayar semuanya," ucap Airin penuh emosi.
Desta lagi-lagi mengerutkan kening. Dia menatap Airin aneh.
"Pasti ada sesuatu, kan?" tanya Desta. "Kamu tahu sesuatu, iya, kan?" selidiknya.
Airin hanya mengembuskan napas.
Hari terus berganti. Hubungan Airin dengan Brian masih hanya saling komunikasi jarak jauh. Namun, karena perbedaan waktu yang jauh, membuat Brian jarang menelepon, hanya bertukar kabar.
Airin seperti biasa, menjalani hari-harinya dengan membaca berita dari internet. Ken memintanya untuk kembali bekerja dengannya. Namun, dia masih mempertimbangkan.
Ken juga sering datang ke rumah Airin. Sering meminta bantuan Airin dalam pekerjaannya. Mau tak mau Airin menerima.
_____
Ponsel Airin berdering. Dia yang baru saja menyelesaikan mandi, segera berlari dari pintu ketika ponselnya terus berdering. Firasatnya benar, bahwa Brian yang menghubunginya sore itu.
"Halo," kata Airin. Satu tangannya mengusap rambut dengan handuk kecil agar lebih cepat kering.
"Sedang apa?" tanya Brian.
"Baru aja selesai mandi," kata Airin.
"Apa kamu nggak kangen sama aku? Padahal udah dua hari ini aku nggak kasih kabar," kata Brian.
Airin tersenyum tanpa diketahui oleh Brian. "Kangen, tapi aku yakin kamu sibuk, jadi aku nggak mau ganggu," jawab Airin.
"Iya," ucap Brian singkat. "Oh ya, urusanku udah selesai, aku bakal langsung pulang," kata Brian.
"Benarkah?" tanya Airin tak percaya.
"Iya, ternyata lebih cepat dari dugaanku. Jonathan membantuku banyak, jadi udah kelar sekarang. Besok, aku akan langsung pulang," kata Brian.
"Serius?" Airin tak percaya.
"Iya," jawab Brian bahagia. Dia terlihat sangat senang.
"Wah," kata Airin. Entah kenapa kepulangan Brian tak membuat dirinya bersemangat.
"Oh ya, aku mau kamu besok ikut jemput aku," kata Brian.
"Pasti banyak wartawan di sana," jawab Airin. "Aku nggak bisa bertemu kamu di sana," katanya menolak dengan halus.
"Benar," jawan Brian. "Tapi, aku akan meminta bantuan Kak Dava agar pihak bandara memperketat penjagaan. Tapi, para wartawan tak tahu jika aku akan pulang besok." Brian menjelaskan. "Please, mau, kan? Ikut Desta jemput aku," pinta Brian.
"Oke, nanti aku usahakan," kata Airin mengalah. Brian kegirangan. Dia terlihat sangat bahagia.
Mereka mengobrol hampir dua jam, sampai akhirnya Airin memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu.
"Sepertinya, aku harus bantu Mama siapin makan malam," kata Airin.
"Ah, oke." Brian setuju. "Sampai ketemu besok," ujar Brian.
"Iya," jawab Airin singkat.
"Miss you," ucapnya lagi.
"Miss you too," jawab Airin.
Panggilan terputus. Airin mengembuskan napas lega. Dia menatap langit-langit kamarnya.
"Apa yang aku lakukan benar? Apa berkencan dengan dia adalah benar?" tanya Airin.
Desta sudah menghubungi Airin untuk ikut bersamanya. Desta mengatakan akan menjemput Airin pukul satu siang.
Siang itu Airin langsung bersiap. Sebelum Desta sampai di depan rumahnya dia sudah menunggu di kamar. Setelah mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya Airin segera meluncur pergi.
Hari itu Hilda tak ada di rumah, Karena harus mengunjungi saudara yang sakit. Jadi, terpaksa Airin meminta izin melalui pesan singkat.
Setelah memastikan mengunci pintu rumah, Airin segera menuju mobil di mana Desta menghentikannya. Tak basa-basi dia langsung membuka pintu penumpang yang berada di depan.
"Ayo!" ujar Desta bersemangat. "Cie, yang mau ketemu pacar," ledeknya.
"Apaan, sih, Des. Kayak anak kecil," jawab Airin ketus.
"Rin, kenapa dulu kamu nggak bilang kalau kamu suka sama dia. Mungkin kalau dulu kamu bilang, dia nggak bakal pergi, dia nggak akan seperti sekarang. Mungkin juga, dia masih cupu sama seperti dulu," kata Desta lalu tertawa.
"Des, sekarang dia bos kamu. Jangan macam-macam, kalo nggak pengen aku laporin," kata Airin.
"Oke, oke," kata Desta menghentikan tawanya. "Bu Bos galak amat," ledeknya. "Sifat lo sama persis kayak dulu. Tukang ngadu," kata Desta ceplas-ceplos.
"Sialan!" gerutu Airin tak terima. Desta tertawa lagi.
Mereka sampai di bandara pukul satu lewat empat puluh lima menit. Kedatangan Brian diperkirakan sampai di jam dua lima belas menit. Itu artinya mereka masih punya waktu setengah jam. Desta memilih menunggu Brian di tempat yang strategis. Agar nanti, jika dia datang langsung melihatnya.
Sepertinya juga tak ada wartawan di sana. Terlebih hati itu tak terlalu ramai. Benar, kepulangan Brian dibilang sangat rahasia. Dava juga belum terlihat di berbagai sisi.
Airin duduk terdiam, begitu juga Desta sibuk memainkan ponselnya.
Mata Airin melihat dua orang dengan membawa tas ransel. Dia mengenalnya.
"Sepertinya ada wartawan," kaya Airin. Desta menoleh. Dia mencari-cari maksud ucapan Airin.
"Mana?" tanyanya.
Kedua orang tadi berjalan menuju arah jarum jam angka dua. Mereka tampak sedang mencari berita.
"Udah pergi," kata Airin tenang.
"Syukur deh," jawab Desta. "Kak Dava kok belum muncul juga?" tanyanya bingung.
"Dia mau datang juga?" tanya Airin. Desta mengangguk cepat.
Airin tiba-tiba bangkit dari duduknya. Hingga Desta menoleh secepat kilat.
"Mau apa?" tanya Desta penasaran.
"Aku mau ke toilet," jawab Airin.
"Oh, oke," kata Desta. "Perlu di antar?" tanyanya lagi.
"Nggak perlu, aku bukan anak kecil," jawab Airin sedikit ketus. Membuat Desta tertawa kecil.
Airin berjalan menuju toilet. Hari itu bandara yang awalnya terlihat sepi, kini sudah banyak pengunjung. Mungkin sebagian dari mereka akan menjemput saudaranya yang datang dari luar negeri, seperti yang dilakukan Airin sekarang.
Airin terus berjalan lurus, entah apa yang dipikirkannya, sampai dia tak melihat petugas tengah membawa serentetan troli bandara. Untung saja seseorang menyelamatkannya.
Airin terkejut, matanya terkesiap. Sosok tinggi, putih, tampan, dan juga maskulin yang menolongnya itu tengah menatapnya nanar.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan suara berat.
"Iya,"jawab Airin singkat.
Airin sangat tidak asing dengan wajah itu. Dia mencoba berpikir jernih.
"Ya sudah, lain kali hati-hati." Laki-laki itu berjalan melewati Airin. Menjauh dan semakin jauh. Airin yang buru-buru ingin ke toilet segera berlari kecil. Namun, saat otaknya mengingat sesuatu, dia berhenti dan terkejut.
"Tristan! Iya, dia adalah cowok itu!" seru Airin. Namun, apa daya saat dia menoleh, sosok itu sudah tak ada lagi di sana.
"Aku yakin, itu adalah Tristan!" katanya lagi. Airin segera menuju toilet. Setelah dia membuang hajatnya, ia segera kembali pada Desta.
Desta bingung saat melihat Airin tergopoh-gopoh.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Desta sambil celingukan.
"Des! Sepertinya Tristan kembali ke Indonesia!" kata Airin tegas. Desta mengerutkan kening.
"Kamu yakin?" tanya Desta tak percaya. Airin mengangguk cepat.
"Tadi aku ketemu dia!" katanya lagi. "Dia nolongin aku, posisi kita dekat banget," kata Airin menjelaskan.
"Memangnya kamu sudah pernah lihat dia?" tanya Desta.
"Aku lihat fotonya, aku yakin itu dia, Des," ujar Airin yakin.
"Nanti coba aku tanya sama Gibran." Desta bangkit dari duduknya. "Ayo! Sepertinya pesawat yang ditumpangi Brian sudah mendarat," kata Desta.
Airin mengikuti langkah Desta. Pikirannya nggak fokus, terlebih tadi saat dia melihat Tristan.
"Aku yakin, dia adalah Tristan," kata Airin lagi. Desta menoleh.
"Iya, semoga aja benar. Biar masalah ini cepet terkuak," kata Desta. "Tapi, sekarang kita ketemu Brian dulu," lanjutnya. Airin mengangguk mengerti.
Tepat pukul dua lewat lima belas, Brian muncul. Seperti biasa, penampilannya selalu tertutup rapat dengan masker dan topi. Kali ini juga di harus menggunakan kaca mata hitam agar tak ada yang mengenali. Namun, tetap saja Desta dan Airin bisa melihat bahwa dia adalah Brian.
Laki-laki itu melambaikan tangan. Airin menebar senyum manis siang itu. Setelah dekat, Desta mengambil alih koper di tangan Brian.
Brian langsung berhambur memeluk Airin. Membuat Desta sedikit kesal.
"Gue kayak pembantu beneran ini," protesnya. Brian dengan jelas mendengar dan tertawa.
"Ayo, kita harus buru-buru pergi dari sini," ujar Airin dalam dekapan Brian. Brian setuju, dia mengangguk sebagai jawaban.
"Kak Dava nggak ke sini?" tanya Desta. Mereka sudah berjalan beriringan.
"Bukankah harusnya aku yang tanya seperti itu?" tanya Brian balik. Desta mengedikkan bahu. Brian tersenyum.
"Dia ada di dalam tadi. Meminta petugas, untuk memastikan tak ada wartawan di sini," kata Brian. Desta lega.
"Syukurlah," katanya.
Ponsel Desta berdering. Dia segera mengambilnya dari dalam saku celana.
"Kak Dava," katanya lalu segera menjawab panggilan itu.
"Halo, Kak." Suara Desta menggema.
"Des, sudah ketemu Brian, kan? Langsung pulang, kita ketemu di apartemen, oke," kata Dava.
"Oke," jawab Desta singkat.
Setelah panggilan selesai, Desta kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana.
"Ayo! Kita harus pergi dari sini, sebelum ada wartawan yang datang," kata Desta. Brian langsung meraih tangan Airin untuk berjalan lebih cepat.
Ketiganya mengembuskan napas lega secara bersamaan. Kini Desta duduk di depan sendiri. Karena Brian meminta Airin menemaninya di belakang.
"Kayak supir pribadi beneran." Lagi-lagi Desta protes.
Brian tertawa, begitu juga Airin.
"Protes mulu," kata Brian. "Tinggal bawa mobil yang bener," ujar Brian.
"Iya, iya," jawab Desta mengalah.
Tangan Brian sama sekali tak lepas dari tangan Airin. Namun, wajah Airin hari itu berbeda. Dia terlihat sedang memikirkan hal lain.
"Kenapa? Diam aja? Ada masalah?" tanya Brian. Airin segera menoleh. Dia menggeleng cepat.
"Enggak," jawabnya singkat.
Brian mengangguk mengerti. Dia lantas tersenyum. Namun, benar-benar Airin tak biasa hari itu. Biasanya dia selalu bawel dan selalu menyela ucapan Desta. Tapi hari ini dia lebih banyak diam.
Benar, otaknya sedang memikirkan Tristan tadi. Dia benar-benar ingin menemuinya lagi.
"Oh ya, gimana kalau malam ini kita party, aku yang traktir semua," ujar Brian.
"Party? Tapi ..." Airin melihat Desta dari kaca spion di atasnya. Mata mereka bertemu.
"Kenapa? Nggak mau?" tanya Brian.
"Mmm ..." Airin ingin membuat alasan. Namun, dia bingung harus mengatakan apa.
"Gimana kalau besok aja, kamu pasti capek." Desta menimpali. "Lagipula malam ini aku nggak bisa," katanya.
Airin mengangguk cepat. "Iya, besok aja," jawab Airin segera.
"Oke," jawab Brian akhirnya mengalah.
Sesampainya di apartemen Brian, mereka bersantai. Desta mengambil air mineral dingin di dalam lemari es dan meletakkan di atas meja. Membuka berbagai cemilan agar bisa mengisi perut mereka.
Tak lama, Dava datang. Dia langsung memeluk Brian.
"Bagaimana liburannya?" tanya Dava.
"Liburan apaan," kata Brian. Dava lantas tersenyum.
"Sekarang semua sudah tahu masa lalu kamu. Banyak yang merasa iba, banyak juga yang kecewa karena kebohongan kamu, bukan bohong, tapi lebih ke kecewa karena identitas asli kamu." Dava menjelaskan.
Brian mengangguk. "Masalah kontrak iklan, banyak juga yang menarik kontrak mereka, memilih meninggalkan kamu, tapi ada juga yang ingin bekerja sama. Karena mereka tak melihat masa lalu kamu, tapi melihat kemampuan kamu sebagai seorang aktor," kata Dava. "Jadi, semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu mau mulai berakting lagi, atau kamu akan memulai kerja sama dengan mereka, itu keputusan kamu. Aku tugasnya hanya mengurusi semua kebutuhan kamu."
Brian lagi-lagi mengangguk.
"Pemberitaan akhir-akhir ini juga masih seputar kasus Monic," timpal Desta.
"Mungkin, Ken juga menarik berita itu. Dia merasa bersalah atas apa yang dia lakukan." Airin menambahkan.
"Sepertinya aku harus istirahat dulu. Nanti, jika ada yang mau pake aku, aku akan mempertimbangkan," kata Brian. Dava setuju dengan kemauan Brian.
Setelah bercerita panjang lebar, akhirnya Airin pamit pulang. Karena waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Brian ingin mengantarnya, namun Dava melarang.
"Biar aku saja yang antar," kata Desta. Brian mau tak mau setuju.
Setelah berpamitan, Airin dan Desta keluar. Dava masih di dalam bersama Brian.
"Des, apa kamu sudah hubungi teman kamu itu?" tanya Airin.
"Nanti aku hubungi dia. Lebih baik kamu pulang dan beristirahat, aku lihat kamu kacau banget hari ini," kata Desta. Airin mengangguk lemas.
Jalanan malam itu tampak ramai lancar. Tak ada macet, dan tak ada halangan apapun. Jadi, Desta lebih cepat sampai mengantarkan Airin.
"Thanks, ya." Airin berterima kasih. Desta mengangguk.
"Pasti Brian kelimpungan sekarang," katanya.
Airin bingung. "Kenapa?" tanyanya.
"Karena sikap kamu yang tiba-tiba seperti ini," kata Desta.
"Maaf," ucap Airin menyesal. "Ya sudah, aku pulang." Airin turun.
Dia berjalan masuk ke dalam gang rumahnya. Gang besar yang harusnya mobil bisa masuk. Namun, Airin memilih turun di depan jalan.
Netra Airin melihat sosok laki-laki yang tengah berdiri di samping mobilnya. Laki-laki itu tampak sedang mengamati rumahnya.
"Siapa?" tanya Airin lirih. Dia mencoba mendekat. Namun, saat laki-laki itu mengetahui keberadaan Airin dia segera masuk ke dalam mobil. Airin sekilas melihat wajahnya.
"Tristan?" tanya Airin.
Benar, Tristan lebih dulu melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan pelataran rumah Airin.