"Iya, itu pasti Tristan!" kata Airin yakin.
Airin tak mungkin mengejarnya. Karena mobil yang ditunggangi Tristan sudah menghilang dari balik gang rumah itu.
Perempuan itu menghela napas. Dia menyesal tadi tak langsung mendekati. Lantas, dia segera masuk dan mendapati ibunya sedang makan malam.
"Aku pulang, Ma." Airin dengan lemas berjalan menuju meja makan.
"Mama pikir, kamu pulang malam, jadi Mama makan duluan," kata Hilda, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Airin mengangguk mengerti.
"Enggak apa-apa, lagi pula aku belum lapar," jawab Airin. "Oh ya, Ma. Apa tadi ada tamu ke sini?" tanya Airin.
Hilda malah celingukan. Lalu menggeleng pelan. "Enggak ada, satu jam yang lalu ada mobil berhenti di depan rumah. Mama pikir kamu pulang, sepertinya tamu tetangga," jawab Hilda.
"Satu jam yang lalu?" tanya Airin.
Hilda mengangguk pasti.
"Berarti, dia ada di depan selama satu jam? Buat apa?" batin Airin.
"Ya udah, aku ke kamar dulu," kata Airin berpamitan. Hilda lagi-lagi hanya mengangguk.
Airin menaiki anak tangga dengan malas. Kakinya terlalu lelah untuk menopang tubuhnya yang kurus. Mengembuskan napas mungkin sudah dia lakukan setiap menit.
"Gimana caranya aku ketemu dia?" tanya Airin. Dia menutup pintu kamarnya. Berjalan menuju tepi ranjang dan duduk di bawah. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk mengambil kotak milik Irene yang dia simpan.
Airin membukanya kembali. Diambilnya ponsel Irene. Dia kembali membuka galeri yang terkunci.
"Benar, hari ini aku ketemu dia," kata Airin memandang foto Tristan.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Brian sudah menelepon. Airin yang masih dalam tidur nyenyaknya hanya mengabaikan. Namun, sepertinya suara dering ponselnya sangat menggangu, sehingga dia mengalah untuk menjawabnya.
"Halo," jawabnya dengan suara serak.
"Belum bangun?" tanya Brian. "Padahal hari ini mau aku ajak kencan," lanjutnya.
"Maaf, aku semalam tidur terlalu larut." Airin membuka matanya sempurna. Dia melirik jam dinding.
"Ah," keluhnya. Ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Hari ini punya acara apa? Mau temenin aku?" tanya Brian.
"Apa aman? Kamu artis, nggak aman kalau kita jalan di sekitar Jakarta," kata Airin. "Apalagi luar kota, karena fans kamu banyak, jadi dimana-mana pasti mereka ada," kata Airin. Brian tersenyum.
"Aku bisa, lho! Sulap jadi orang yang berbeda," kata Brian. Sepertinya dia tak sadar dengan ucapannya.
"Apa?" tanya Airin ragu. "Maksud kamu ..."
"Ah, maaf. Pagi-pagi udah ngomong kosong," kata Brian.
"Hari ini aku mau ke makam adikku," kata Airin ragu.
"Makam? Irene?" tanya Brian terbata.
"Iya," jawab Airin. "Mau nemenin?" tanya Airin.
"Sepertinya, enggak dulu. Aku belum siap." Brian menolak dengan halus. "Desta udah cerita banyak tentang kasus dia. Karena belum dipastikan apa penyebabnya, aku rasa, aku belum pantas untuk datang ke sana." Brian beralasan.
"Bukankah setiap tahun kamu datang?" tanya Airin.
"Ah, itu ..." Brian seperti ketahuan. Dia ragu akan mencari jawaban sebagai alasannya.
"Desta udah cerita. Kamu selalu datang setiap tepat di hari kematian dia. Mungkin dengan seperti itu, Irene udah seneng banget sama kedatangan kamu," ucap Airin.
"Oke, aku jemput kamu. Sekarang siap-siap, kita ketemu Irene," kata Brian. Airin tersenyum di tempatnya.
Dia tahu, Brian orang yang hangat. Dia baik, dan juga penyayang. Perlakuan itu sama persis dengan Attar. Sifat yang tak pernah hilang, walaupun kini dengan identitas yang berbeda.
Airin bersiap-siap. Kali ini dia mengenakan pakaian yang berbeda gaya. Tak seperti biasanya yang menggunakan jeans dan kaos, ditambah kemeja. Kini dia menggunakan kemeja panjang dipadu padakan dengan rok yang panjangnya sampai bawah lutut.
Airin juga mengoles tipis bibirnya dengan lipstik berwarna pink. Bedaknya diratakan tipis diwajahnya. Dia terlihat cantik hari itu. Terlebih saat membiarkan rambutnya terurai.
"Cantik banget," puji Hilda saat melihat anaknya menuruni anak tangga. "Pasti mau kencan," tebaknya.
Airin tersenyum. "Mama bisa aja," jawab Airin. "Kencan sama Artis tuh nggak enak, Ma. Selalu was-was diikutin sama wartawan," kata Airin.
"Kamu juga kan wartawan, paling yang ngikutin Ken," jawab Hilda.
Airin mengangguk setuju. "Ah iya, Ken. Aku belum dengar kabar dia lagi setelah dua hari kemarin." Airin berucap.
"Yang akur, Mama sreg banget sama dia. Bagi Mama, kamu aman sama dia," kata Hilda.
"Iya, Ma. Kita akur, kok. Tapi karena kesibukan aja, kita jadi jauh gini," jawab Airin.
"Kesibukan apa karena perasaan?" tanya Hilda.
Belum sempat menjawab, sebuah klakson mobil berdengung.
"Brian udah jemput, aku harus pergi." Airin segera mencium ibunya sebelum dia menagih jawaban.
Hilda hanya menggelengkan kepala.
"Harusnya kamu sudah nikah di umur segitu," kata Hilda sembari menatap kepergian anaknya yang menghilang karena terhalang tembok.
Airin tersenyum saat dia membuka pintu mobil. Kali ini hanya ada Brian di sana. Desta tak kelihatan batang hidungnya. Yang biasanya dia selalu nangkring di kursi kemudi.
"Ayo," kata Brian setelah Airin menggunakan sabuk pengaman. Airin mengangguk.
Menelusuri jalanan kota Jakarta di siang hari, sama seperti hari sibuk. Kendaraan selalu padat. Padahal jam kantor atau jam sekolah saat ini sedang berlangsung. Namun, masih banyak orang pengguna jalan yang memadati jalan raya.
"Abis ke makam, kita ke mana?" tanya Brian.
Airin menoleh dan mengerutkan keningnya. "Ke mana? Kok nanya ke aku?" tanya Airin balik.
Brian tertawa. "Iya, ya. Jadi terserah aku?" tanyanya lagi. Airin mengangguk.
"Aku masakin aja mau? Karena kalau kita di jalan atau suatu tempat, pasti ada aja yang kenal sama aku," kata Brian.
"Benar," jawab Airin. "Oke, kamu masakin aku," kata Airin setuju.
"Sekalian nanti aku suruh Desta buat siapin pesta nanti malam," kata Brian. Airin mengangguk setuju.
Keduanya sampai di makam. Mereka memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dan berjalan masuk ke dalam makam. Melewati banyak makan yang dipelihara dengan baik. Mungkin sang juru kunci menjaga makam-makam itu dengan baik.
"Apa kamu yakin, nggak apa-apa dengan kita datang bersama?" tanya Brian ragu. Airin mengangguk sembari tersenyum.
Mereka tiba di depan makam Irene. Airin tersenyum dan berjongkok. Makam yang sudah rata dengan tanah itu sangat bersih. Airin mengusap pusara bertuliskan nama Irene.
"Lihat, Kakak datang sama siapa?" tanya Airin. Dia menahan tangisnya. "Maafin Kakak, Brian sekarang milik Kakak," kata Airin lagi.
"Kakak janji, bakal jaga Brian dengan baik," kata Airin. Brian yang ikut berjongkok mengusap punggung Airin.
Airin bercerita panjang tentang Brian. Hingga tak terasa meneteskan air mata. Brian menguatkannya dengan memegang tangan Airin erat. Setelah hampir satu jam berjongkok, akhirnya Airin berpamitan.
"Sepertinya Kakak harus pulang, Kakak janji akan sering ke sini, dan ajak Brian," kata Airin. Brian mengangguk setuju.
"Selanjutnya, aku bakal bawain bunga yang indah buat kamu," timpal Brian.
Baru saja Airin berdiri, seseorang mendekat dengan membawa buket bunga. Airin bingung.
"Bapak, bukannya yang jaga makam di sini?" tanya Airin. Karena wajahnya sangat Airin kenal.
"Iya, Mbak. Saya dapat amanat dari orang yang barusan ke sini," kata Gusman menjelaskan.
"Orang? Siapa? Ke makam Irene?" tanya Airin penasaran.
Gusman mengangguk cepat. "Tadi dia menangis, seperti sangat kehilangan Mbak Irene ini," jawab Gusman polos.
"Laki-laki?" selidik Airin.
Gusman lagi-lagi mengangguk. "Iya, ganteng banget. Terus dia nangis, tadi sih saya nggak merhatiin banget, tapi dia nangis. Terus pas mau pulang, dia suruh saya ikut dia. Dan kasih bunga ini buat Mbak Irene," kata Gusman menjelaskan. "Sepertinya dia sangat kehilangan, sangat sayang, dan baru pertama kali saya lihat dia datang ke sini," jelas Gusman.
Airin mengangguk. Dia menyesal tak datang lebih awal.
"Tristan?" bisik Brian tepat di dekat telinga Airin. Perempuan itu mengangguk.
"Ya sudah, makasih ya, Pak." Airin mengambil alih bunga itu. Setelah Gusman pergi, dia meletakkan di atas pusara Irene.
"Kakak pulang, ya." Airin lantas kembali bangkit dan berjalan meninggalkan makam.
Brian membawa serta Airin ke apartemennya. Sebelum itu, dia mampir ke supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan yang dia butuhkan. Hampir dua jam berkutat di supermarket dan keranjang penuh dengan sayur, juga daging segar, buah juga turut serta. Tak lupa, dia menelepon Desta untuk ke apartemennya. Tentu saja pria itu setuju mendapat perintah dari Brian.
"Sekarang Desta nurut banget sama kamu. Padahal dulu kamu yang nurut banget sama dia," kata Airin. Brian tersenyum tipis.
Dia mengangguk mengiyakan.
"Kenapa bisa? Apa kamu ngancam dia?" tanya Airin lagi.
"Enggak, mana mungkin aku ngancam. Dia orang baik, pekerja keras, dan penuh semangat. Aku menyukai itu." Brian menjelaskan. Airin mengerutkan kening mencoba mencerna ucapan Brian.
"Apa hubungannya sama penurutnya dia saat ini?" tanya Airin lagi.
"Dia bilang, aku yang nyelametin dia dari keterpurukan." Brian mulai bercerita. Tangannya masih sibuk dengan kemudi. "Bokapnya bangkrut, hidup dia tak berarah. Dia menghubungiku saat aku masih di luar negeri. Dia meminta pekerjaan sama aku," kata Brian.
"Maaf, dia tau kamu operasi wajah?" tanya Airin ragu. Brian menggeleng.
"Waktu itu, aku udah jadi YouTubers, aku udah terkenal di kanal YouTube. Tapi, dia nggak tahu bahwa Brian adalah orang yang setiap hari dia hubungi dan mintai tolong." Brian menjelaskan.
"Lalu, saat kamu ke Indo?" Apa itu pertemuan pertama kalian, sebagai Brian." Airin bingung.
Brian menggeleng. "Aku mengundangnya untuk datang ke Korea, tentu saja dia terkejut. Dia nggak mendapati Attar yang jemput, malah Brian yang datang. Waktu itu aku udah sama Kak Dava. Desta terus mencecar berbagai pertanyaan, karena merasa tak percaya. Dia merasa sudah dibohongi sama Attar," kata Brian.
"Tapi setelah aku menceritakan semua masa lalu, semua kelakuan dia waktu sekolah, semua kejadian di sekolah, baru dia percaya."
Airin mengangguk. "Ah, jadi serumit itu pertemuan antara Brian dan Desta," kata Airin.
Brian mengangguk. "Dia bergantung sama aku, aku kasih dia pekerjaan, aku kasih dia makan, dan aku buat dia seperti sekarang. Waktu dia kehilangan kepercayaan dirinya, aku yang selalu ada buat semangatin," kata Brian. "Setelah Bokapnya bangkrut, keluarganya berantakan."
Airin mengangguk terus menerus. Dia mengerti sekarang. Kisah hidup Desta yang membuat si trouble maker di kelas itu berubah drastis. Dulu sifat pecicilannya kerap membuat siswa di kelas itu geram dan kesal.
Sesampainya di apartemen, Brian mempersilakan Airin untuk duduk.
"Kami duduk, aku akan sibuk di dapur," kata Brian. Airin menjawab dengan bentuk jangan oke, menandakan dia setuju.
"Desta kapan datang?" tanyanya.
"Paling sebentar lagi," kata Brian.
Brian sibuk dengan dunia masaknya. Dia mencoba menyajikan makanan terenak untuk Airin. Setiap kali Airin menghampirinya, Brian langsung menyuruhnya kembali ke tempat duduk semula.
"Pokoknya spesial hari ini, kamu jadi Nyonya saja," kata Brian.
Airin tersenyum.
Tak lama Desta datang dan langsung mencicip makanan yang sudah jadi.
"Desta," protes Brian, ia menepis tangan Desta jauh-jauh dari makanan yang sudah dia buat.
"Nyicip doang, pelit amat," kata Desta.
"Ini khusus buat Airin." Brian menegaskan.
"Sudah, sudah, Mana sini, aku udah lapar," kata Airin mendekat.
"Sebentar," kata Brian bergegas. Airin sibuk menyiapkan piring dan gelas untuk mereka makan. Desta juga membantunya.
Setelah makanan siap di atas meja. Ketiganya tampak sudah siap untuk menyantap.
"Enak banget, kamu datang tinggal makan," protes Brian. Desta cengengesan.
Tanpa basa-basi, Airin langsung menyambar ayam crispy cabai hijau. Dia merasakannya sangat lezat.
"Serius! Ini enak," katanya.
"Enak, kan?" tanya Brian semangat. Airin mengangguk cepat.
Mereka menikmati makan siang itu dengan lahap. Terlebih Desta tak malu-malu dia mencoba semua makanan yang dimasak Brian.
"Oh ya, Rin." Desta mulai berucap. "Lusa kita bisa ketemu sama Tristan," kata Desta.
"Serius?" tanya Airin. Desta mengangguk cepat.
"Gibran udah pastiin, katanya dia akan janjian sama temannya," katanya.
"Jadi kalian nggak buat perjanjian dulu?" tanya Brian.
Desta mengangguk mengiyakan.