Episode 37

1102 Kata
"Apa kalian yakin, jika Tristan akan menemui kalian?" tanya Brian lagi. "Harus," jawab Airin. "Kamu nggak bisa paksa dia. Dia bisa aja laporin kalian ke polisi, sebagai penguntit misalnya," kata Brian. "Lalu harus gimana?" tanya Desta menimpali. "Kemarin dia datang ke rumah, tadi dia datang ke makam Irene. Apa mungkin dia berniat meminta maaf?" tanya Airin. "Datang ke rumah? Kapan?" Desta begitu penasaran. "Kemarin, pas aku pulang dia udah ada di depan. Tapi, pas aku mendekat, dia langsung kabur." Airin menjelaskan. "Mungkin dia berniat meminta maaf, dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, tapi butuh waktu," kata Brian. Desta mengangguk setuju. "Lalu bagaimana, Rin?" tanya Desta. Airin menggelengkan kepala pelan. Dia tak mengerti lagi dengan tujuannya. Padahal dia ingin sekali bertemu dengan Tristan. "Apa dia akan lama di Indonesia?" tanya Airin pada Desta. "Enggak, dia mengambil waktu dua minggu untuk di sini," kata Desta. "Aku harus ketemu sama dia," kata Airin menggebu. Mereka memikirkan cara agar Airin langsung bertemu dengan Tristan. Namun, karena Gibran mengatakan, jika Tristan akan bertemu temannya, jadi Airin dan Desta tetap berniat ke sana, walaupun mungkin tak bisa langsung menemuinya. Melupakan sejenak tentang Tristan. Brian mengadakan pesta kecil di atap apartemen. Tentu saja dia meminta persetujuan dahulu kepada staff apartemen karena menggunakan atapnya. Walaupun hanya ada Dava, dirinya, Desta, dan Airin. Tetap saja pesta itu terlihat ramai. Mereka memasak banyak makanan. Desta menyajikan berbagai macam makanan. Dava juga turut membawa cemilan dan minuman bersoda. Hanya Airin mungkin yang tak membawa apapun. "Aku punya kejutan," kata Dava. Ketiganya menoleh secara bersamaan. "Apa?" tanya Desta dan Brian berbarengan. Dava tampak tersenyum sumringah. Dia melihat kedua laki-laki di depannya secara bergantian. "Kepo!" jawabnya tegas. "Gaje!" protes Desta. Dava tertawa, begitu juga Airin. Dia dengan jelas melihat Desta kesal. "Bulan depan, ada yang mau kontrak Brian lagi," kata Dava. Desta terkejut, Brian tak percaya, dan Airin bersemangat. "Wah!" Airin bertepuk tangan. "Yakin?" tanya Brian ragu. Dava mengangguk segera. "Yakin, dia adalah pemilik Brand Fashion. Dia pengen kamu jadi modelnya," kata Dava. "Dan lagi, ada sutradara yang lagi deketin aku lagi," kata Dava. "Wah! selamat! Etos kita comeback!" Suara Desta menggema. Airin bertepuk tangan. "Jadi, untuk sebulan ini, mungkin kamu istirahat dulu, kamu bersantai, dan nikmati waktu nganggur kamu," kata Dava. Brian mengangguk. Airin terlihat ikut bahagia. "Oh ya, aku juga mau kasih informasi," kata Airin. Kini semua orang berbalik menatapnya. "Apa?" tanya Brian penasaran. "Aku akan kembali bekerja dengan Ken," kata Airin. Brian terkejut. Dia terlihat kecewa. "Apa? Kerja sama Ken? Kenapa?" tanya Brian. Airin mulai menjelaskan. "Sebagai seorang asisten bukan keahlianku. Lagi pula, aku takut jika nanti aku nggak profesional karena sudah menjadi kekasih kamu," kata Airin. Dava mengangguk setuju. "Benar, seorang asisten masih bisa aku handle, ada Desta juga yang memang setiap hari sama kamu," timpal Dava. "Coba, asisten kamu yang dulu, sama aja kan, ketemu di lokasi syuting, jarang dibolehin ke apartemen, karena kamu nggak suka sama orang asing," lanjut Dava. Brian mengangguk. "Berarti kita nggak bisa ketemu setiap hari?" tanya Brian pada Airin. Airin tersenyum. "Kita bisa video call, kan?" tanya Airin. "Kalo mau ketemu setiap hari, mending nikah aja, deh." Desta menimpali. "Hus, nikah, nikah, belum waktunya," kaya Dava. Desta cengengesan. "Udah pada tua juga," lanjut Desta. "Nikah itu, bukan masalah udah tua atau belum, udah dewasa atau belum, tapi kesiapan, nikah itu satu kali seumur hidup, kita nggak bisa main-main masalah pernikahan," kata Dava. "Bener," celetuk Brian datar. "Ya sudah, kenapa bahas pernikahan. Kita Abidjan saja makanan ini," kata Dava. Pukul sembilan malam, Dava pamit untuk pulang. Airin juga beberapa menit kemudian berpamitan. Brian menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Awalnya Airin ingin menolak, namun laki-laki itu memaksa. Airin menolak bukan karena tak ingin bersama Brian, namun karena Airin takut masih banyak wartawan yang mengejar berita tentang Brian. Di dalam mobil Brian memutar lagu milik Maroon 5, dia mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama musik itu. "Apa kamu yakin bakal kerja lagi sama Ken?" tanya Brian. "Aku takut, dia yang nggak profesional nanti, perasaan dia sama kamu masih ada," kata Brian. "Enggak, aku tahu dia. Oke, mungkin perasaan dia sama aku masih berlanjut, tapi jika masalah pekerjaan, dia nggak akan membawa masalah pribadi." Airin menjelaskan. "Oh ya? Bagaiman dengan pengunggahan beritaku? Itu karena dia cemburu, bukan?" tanya Brian. "Yan," ujar Airin. Dia ingin meyakinkan kekasihnya. "Aku suka pekerjaanku sebagai wartawan. Aku juga udah cari kerjaan di mana-mana tapi hasilnya belum ada," kata Airin. "Nanti, jika aku mendapatkan pekerjaan di perusahaan penyiaran, aku akan langsung menerima, aku pastiin itu," kata Airin. Brian mengangguk mengerti. Akhirnya Airin sampai di depan gang rumahnya. "Nggak sampai rumah?" tanya Brian. Airin menggelengkan kepala. "Takut tetanggaku keganggu. Udah malam juga," jawab Airin. Brian tersenyum. "Ya udah kamu selamat istirahat, selamat malam," kata Brian. Airin mengangguk dan tersenyum. "Besok aku temani kamu bertemu sama Tristan," kata Brian lagi. "Apa?" Airin mengurungkan niatnya untuk keluar. "Tapi di tempat umum, itu nggak akan aman," jawab Airin. "Aku bilang, aku bisa jadi orang lain," kata Brian. Airin mengulas senyum dan mengangguk. Seperti biasa, Airin pulang dengan keadaan rumah yang sudah sepi. Sudah dipastikan Hilda sudah tertidur. Airin langsung menuju kamarnya. Dia menjatuhkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar itu. "Apa aku mencintai Brian? Kita menjalin hubungan, namun sepertinya hambar, biasa aja," kata Airin. "Apa aku terlalu menghindar? Apa karena dia seorang artis?" tanyanya terus menerus. "Aku harus gimana?" tanya Airin lagi. ______ Ponsel Airin berdering. Rupanya matahari sudah hampir di ujung rumahnya. Airin membuka matanya dengan malas. Kamarnya tambah bising ketika ocehan Hilda juga turut mengiringi nada dering ponsel Airin. "Gimana mau dapat kerja, kalau Jan segini baru bangun," oceh Hilda. Dia adalah orang tersabar di dunia Airin. Namun, melihat anaknya seperti itu, tentu dia tak tinggal diam. "Iya, Ma." Airin hanya menjawabnya seperti itu. "Mama udah buatkan sarapan, jadi cepat mandi dan turun." Hilda memerintah. Airin mengangguk. Setelah Hilda menghilang dari balik pintu, Airin segera meraih ponselnya. "Iya, Des," kata Airin tanpa basa-basi. "Nanti jam tiga," ujar Desta. "Nggak jadi jam satu?" tanya Airin. "Enggak, katanya Tristan ada urusan." Desta menjelaskan. "Oke," jawab Airin. Setelah panggilan terputus, Airin segera membersihkan diri. Mengenakan pakaian santai adalah menjadi gaya andalannya. Airin menuruni anak tangga. Dia tak mendapati ibunya. "Pasti udah belanja sayur di pengkolan," kata Airin. Perempuan itu segera menuju meja makan. Mendapati satu piring nasi goreng dan melahapnya habis. Disela-sela makannya, dia terganggu dengan bunyi bel rumahnya. Airin mengerutkan kening. "Siapa yang datang? Brian?" tanyanya. Karena penasaran, dia berjalan menuju pintu depan. Bel terus berbunyi, membuat Airin cepat-cepat membukanya. "Siapa?" tanya Airin. Dia berlari kecil. meraih kenop pintu. Dia membuka pintu dan mendapati Tristan di depannya. Dia terkejut. Tampak laki-laki itu menyapa Airin dengan menganggukkan kepala. Airin masih dengan rasa terkejutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN