Tristan tersenyum canggung. Sedangkan Airin sedang menahan amarahnya yang membuncah.
"Lho! Ada tamu kok dibiarkan berdiri?" Suara Hilda berhasil membuat Tristan menoleh.
Anak muda itu menahan kesedihan yang amat dalam. Dia langsung bersimpuh meminta maaf. Hal itu tentu saja membuat Hilda kebingungan.
"Ada apa, Nak? Ayo, bangun," kata Hilda. Dia mencoba membangunkan Tristan.
Rasa marah Airin berujung menitikkan air mata.
Tristan terisak. Hilda berusaha membangunkannya.
"Ada apa?" tanya Hilda. Dia masih bingung siapa Tristan, kenapa dia datang dan kenapa dia menangis.
"Masuk!" perintah Airin.
Tristan masih menunduk. Dia sangat terpukul dan juga rasa penyesalannya terlihat jelas pada wajahnya yang tampan.
Hilda membawa Tristan masuk. Dia masih bingung siapa sebenarnya laki-laki ini.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya Hilda pada Airin. Tristan sudah duduk di samping Hilda.
"Kenapa kamu menangis?" Kini Hilda beralih kepada Tristan. "Apa anak Tante melakukan kesalahan?" tanya Hilda khawatir. Tristan menggeleng. Dia rupanya masih belum siap membuka suara.
Hilda mengembuskan napas lega. "Apa kalian saling kenal? Tante baru lihat kamu datang ke sini," kata Hilda. Dia mengulas senyum tipis.
"Ada apa datang ke sini?" tanya Airin. Dia sudah menangis. Dia ingin meledakkan amarahnya, namun tetap ia tahan.
"Rupanya Kakak sudah tahu? Maksud kedatanganku ke sini?" tanya Tristan.
"Kenapa? Kamu merasa bersalah? Kamu mau minta maaf? Kenapa nggak dari dulu?" Suara Airin meninggi. Membuat Hilda terkejut.
"Airin, apa masalahnya besar, sampai kamu harus teriak?" Hilda bingung.
"Ma, dia penyebab Irene bunuh diri!" kata Airin tegas. Hilda sangat terkejut.
"Apa?" tanyanya ragu. Dia menatap Tristan lekat. Dia melihat Tristan kembali menangis. Rasa bersalah yang selama ini dia rasakan kini pada puncaknya.
"Maaf, maaf, maaf," ucap Tristan tertahan. "Aku salah, aku bersalah," ucapnya terbata.
"Kenapa? Kenapa? Apa Irene begitu menyebalkan?" tanya Hilda. Tristan menggelengkan kepala cepat.
"Aku sangat mencintai Irene. Tapi, dulu aku belum bisa berpikir dewasa. Aku sangat mencintai dia," kata Tristan tegas.
Tangis Airin sudah pecah. Perasaannya campur aduk. Dia marah, dia sedih, dia juga menyesal atas semua yang terjadi.
"Aku bersalah," kata Tristan lagi.
****
Irene menangis sejadi-jadinya. Padahal jam sekolah sudah lewat lebih dari tiga puluh menit. Siswa yang lain mungkin sudah pulang dan area sekolah pun juga sudah sepi. Terlebih hari itu semua ekstra kulikuler memang libur.
"Ren, gue janji bakal tanggung jawab. Tapi nggak sekarang," kata Tristan.
Irene hanya menangis tersedu-sedu.
"Lo tau, kan? Bokap gue bakal buang gue jauh-jauh kalo gue bermasalah," ucap Tristan. Wajahnya sangat panik.
"Gue janji, janji, gue bakal tanggung jawab. Jangan khawatir, gue bakal tanggung jawab," kata Tristan menekankan.
"Tapi gimana? Perut ini bakal terus membesar, gue takut," ucap Irene terbata.
Keduanya tak bisa berpikir jernih. Tristan mencari cara untuk menenangkan Irene. Namun, gagal. Cewek itu ketakutan.
"Gue bakal cari cara, jangan khawatir. Please, kasih gue waktu," pinta Tristan. "Ingat! Gue bakal tanggung jawab," kata Tristan lagi meyakinkan.
"Lo tetap tenang, dan ikuti perintah gue nanti, oke," katanya lagi. Irene mengangguk. Tristan memeluk Irene yang masih menangis. Dia memenangkan gadis itu.
"Jangan khawatir," ucapnya sembari mengusap kepala Irene.
Setelah kejadian itu, Tristan menghindari Irene. Sangat jelas jika cowok itu menghindarinya. Membuat Airin takut.
Setiap hari dia ketakutan karena melihat Tristan kini yang bersikap masa bodoh. Biasanya, selalu mau saat diajak ketemu pada jam pulang sekolah di belakang gedung. Namun, sekarang dia mengabaikan semua pesan dari Irene.
Hal itulah yang membuat Irene frustasi dan ketakutan setiap hari. Sehingga akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri.
****
Tristan kembali menangis. Dia sangat menyesal. Dia tak bisa menjelaskan panjang lebar. Terlebih saat tangis Hilda pecah. Wanita paruh baya itu hanya melayangkan tangannya di lengan Tristan.
"Kenapa kamu tega?" ucap Hilda terbata. Hal yang membuat Airin semakin terisak. Tristan ikut terisak.
"Aku janji, aku akan menebus rasa bersalahku," kata Tristan.
"Apa? Apa dengan kamu menebus rasa bersalah kamu itu, Irene bakal kembali? Tidak," kata Airin tegas. "Kenapa nggak dari dulu kamu datang!" bentaknya.
"Aku takut," kata Tristan. "Aku minta maaf," ucapnya.
"Irene, mungkin sudah bahagia di sana. Jadi tolong jangan pernah datang ke makam dia, jangan pernah muncul lagi," kata Airin tegas.
"Apa Irene mencintai kamu?" tanya Hilda datar. Air mata masih membasahi pipinya.
Tristan mengangguk. "Kita saling mencintai, tapi cara kita menyelesaikan masalah salah," kata Tristan.
"Dia pernah cerita, bahwa ada satu cowok yang benar-benar buat hidup dia berubah. Dia cowok tampan, yang selalu buat Irene tersenyum." Hilda menjelaskan. "Apa itu kamu? Tante nggak pernah mendengar cerita teman laki-laki Irene selain dia. Apa benar itu kamu?" tanya Hilda.
Tristan mengangguk mengiyakan. "Kita menjalani hubungan rahasia. Irene anak baik, aku nggak pengen cewek-cewek di sekolah gangguin dia karena dekat sama aku, jadi kita pilih diam-diam menjalin hubungan," kata Tristan.
Hilda mengangguk. Dia kembali menitikkan air mata. "Kamu boleh datang ke makam Irene, kapanpun kamu mau, kamu boleh temui Tante sesuka hati kamu," kata Hilda.
"Ma!" Airin tak setuju.
Hilda mengangguk. "Hanya dia satu-satunya orang yang berharga buat Irene. Irene pasti bahagia saat tahu anak ini dekat dengan kita," kata Hilda lagi.
"Tapi Ma," protes Airin.
Hilda mengusap punggung Tristan. Dia mengulas senyum yang terpancar dengan tangisnya. "Maaf, seharusnya Tante meminta Irene membawamu lebih awal ke sini," kata Hilda.
Bak malaikat yang berhati mulia, dengan tegar Hilda menerima Tristan. Padahal sudah sangat jelas jika Tristan penyebab kematian Irene.
"Aku harus bicara banyak sama kamu, temui aku sore nanti di taman kota," kata Airin. "Sekarang kamu pulang," perintahnya.
"Airin," ujar Hilda tak setuju.
"Ma, dia harus berpikir dengan apa yang dia lakukan," kata Airin.
"Pulang!" perintahnya.
Tristan hanya menuruti kata-kata Airin. Dia keluar dari rumah itu.
Setelah Tristan benar-benar pergi, Dua wanita sang pemilik rumah hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Mama, sudah tahu," kata Hilda membuka perbincangan. Airin menoleh.
"Sudah tahu? Tahu apa?" tanya Airin penasaran.
"Bahwa Irene Hamil," ucapnya. Hal itu membuat Airin terkejut.
"Mama, tahu? Tahu darimana?" tanya Airin.
Hilda menemukan kotak milik Irene yang tersimpan di kolong tempat tidur Airin. Karena penasaran kenapa kotak itu berpindah dari tempatnya. Hilda pun membuka. Mendapati semua yang bisa dia baca, mendapati ponsel yang bisa dia lihat semuanya.
"Dia pasti ketakutan waktu itu," kata Hilda. "Kenapa aku sebagai orang tua nggak peka sama perasaan dia. Aku bodoh!" Hilda memaki dirinya sendiri.
Airin menggelengkan kepala. "Bukan, ini sudah jalan yang diambil sama dia. Airin yakin, dia sudah bahagia sekarang," katanya.
Airin membatalkan janjinya bersama Desta. Dia menjelaskan semuanya. Jadi dia tak perlu membuntuti Tristan. Namun, Brian ingin menemui Airin hari itu. Dia tahu persis perasaan Airin sekarang. Dia ingin menyemangati kekasihnya.
Brian memutuskan mengajak Airin berjalan-jalan. Setelah kekasihnya itu setuju, dengan penuh semangat Brian menjemput Airin.
Tak menunggu sampai satu jam, Brian sudah sampai rumah Airin. Terlihat sangat jelas jika perempuan itu habis menangis. Matanya sembab. Kedatangan Brian nyatanya tak bisa menemui Hilda. Perempuan itu masih syok dengan fakta yang terkuak. Dia masih mengurung diri di kamarnya.
"Apa Mama kamu ada?" tanya Brian. Dia merasakannya bahwa rumah itu sepi.
"Dia ada, sedang beristirahat," jawab Airin berbohong.
"Apa aku nggak bisa menemuinya?" tanya Brian lagi. Airin menggeleng.
"Nanti, jika waktunya tepat," ucap Airin. Dia mengembuskan napas.
"Apa ada masalah?" tanya Brian. Airin hanya tersenyum.
"Kenapa tiba-tiba membatalkan pertemuan dengan Tristan?" tanya Brian. Nyatanya laki-laki itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya.
"Kita jadi pergi?" tanya Airin.
"Ah, iya." Brian segera mempersilakan Airin untuk masuk ke dalam mobil.
Brian mengajak Airin memutari jalanan kota. Mencari tempat yang menurutnya aman.
"Ah, aku punya tempat yang bagus," kata Brian mengingat sesuatu. Airin menoleh dan mengerutkan kening.
"Tempat apa? Di mana?" tanya Airin.
"Ada," jawab Brian santai. Dia lantas melajukan mobilnya menuju tempat itu.
Airin sama sekali tak pernah melewati jalanan yang saat ini dia lewati. Dia bingung. Begitu indah jalanan itu.
"Kita mau ke mana?" tanya Airin.
"Bukit Hati," kata Brian. Airin kembali menarik garis keningnya.
"Bukit Hati?" tanya Airin. Brian mengangguk.
"Sebenarnya itu aku yang kasih nama. Setiap aku ke sana, hati aku tenang banget. Indah, serasa semua masalahku hilang kalau sampai sana," ujar Brian. Airin mengangguk. Dia penasaran dengan tempat itu.
Hampir dua jam akhirnya mereka sampai. Airin dan Brian harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer dengan jalanan menanjak.
"Wah!" puji Airin. Lelahnya terbayar ketika melihat pemandangan di depannya. "Indah banget," katanya lagi tanpa berkedip.
Brian mengangguk. Dia tampak senang melihat Airin menyukainya.
"Apa ada masalah?" tanya Brian lagi. Airin menoleh dan tersenyum. Lantas dia menggeleng.
"Aku udah ikhlas dengan kepergian Irene," kata Airin. "Aku nggak menyalahkan siapapun di sini, itu udah takdir dan jalan buat dia." Airin menerawang jauh.
Brian memeluk Airin dari belakang. "Aku yakin, Irene udah bahagia di sana, percaya deh," kata Brian. Airin mengangguk.
"Lalu, karena itu? Kamu membatalkan pertemuan itu dengan Tristan?" tanya Brian.
Airin menggelengkan kepala. "Tristan, tadi pagi ke rumah. Sepertinya, mereka saling mencintai," kata Airin lagi.
"Tristan ke rumah? Lalu bagaimana dengan Ibumu?" tanya Brian.
"Mama sudah tahu, dia itu orang paling baik, yang pernah aku kenal." Airin kembali meneteskan air mata. "sepertinya aku harus banyak belajar dari dia," kata Airin.
Brian mengangguk. "Aku yakin, kamu bisa seperti Ibu kamu," kata Brian. Airin tersenyum.
Keduanya lantas terdiam. Hingga Airin kembali membuka suara. "Aku masih belum percaya, kalau kita pacaran," kata Airin. "Aku masih melihat kamu sebagai Brian, bukan Attar," kata Airin.
Brian menatap Airin manja. "Lantas kalau kamu melihatku sebagai Attar, apa akan berpengaruh buat perasaan kamu?" tanya Brian. Brian menggeser tubuhnya. Dia kini tepat berada di depan Airin, menjulurkan tangannya.
"Perkenalkan namaku Brian," kata Brian percaya diri. "Aku adalah artis top yang punya pacar seorang wartawan," ucap Brian lagi. Airin tersenyum. Dia menjabat tangan Brian.
"Aku Airin, seorang wartawan yang dipecat, dan kini pengangguran. Punya pacar seorang artis yang ganteng banget," kata Airin. Keduanya tersenyum. Brian menarik Airin dalam pelukannya.
Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam. Berbicara banyak. Benar kata Brian, jika di atas bukit itu, masalah terasa hilang. Dia melihat Airin tertawa lepas di sana.
"Sepertinya kita harus pulang, karena aku ada janji ketemu Tristan," kata Airin.
"Buat apa lagi?" tanya Brian penasaran.
"Kita harus memperbaiki hubungan." Airin tersenyum.
"Apa perlu aku temani?" tanya Brian menawarkan diri.
Airin menggelengkan kepala. "Kita cuma ketemu di taman kota. Kita bakalan selesaikan semuanya," kata Airin. Brian tersenyum. Dia mengangguk dan mengusap kepala Airin.
Brian mengantarkan Airin pulang. Airin meminta Tristan menemuinya jam tujuh malam. Karena biasanya sore hari taman masih ramai.
Tepat pukul lima sore mereka sampai di rumah Airin.
"Sepertinya belum saatnya kamu ketemu Mama, lain kali, oke," kata Airin. Brian mengangguk setuju.
"Kamu yakin nggak aku antar nanti malam?" tanya Brian.
Airin lagi-lagi menggeleng.
"Oke." Akhirnya Brian mengalah.
Setelah Brian pulang. Airin masuk ke dalam rumah. Dia mendapati Hilda tengah bersama Ken.
"Ada tamu rupanya," kata Airin. Ken menoleh.
"Udah pulang?" tanya Ken. Airin mengangguk. Dia mengambil posisi duduk di depan Ken.
"Jadi mulai kapan akan berkerja?" tanya Ken.
"Besok," jawab Airin singkat.
Mereka berbincang hingga malam tiba. Airin teringat janjinya dengan Tristan.
"Maaf, aku harus menemui seseorang," kata Airin tergesa.
"Siapa? Mau aku antar?" tanya Ken. Airin menggeleng cepat.
"Biar Ken yang antar, Mama tahu betul sikap kamu. Mama takut, kamu nggak bisa kontrol nanti," timpal Hilda.
"Ma." Airin tak setuju. Tapi Hilda menggelengkan kepala. Itu artinya dia menolak jawaban Airin.
"Oke, hanya antar," kata Airin.
Ken mengangguk pasti.