Ken mengantar Airin. Dia menepikan mobilnya di jalanan taman.
"Langsung pulang aja, biar nanti aku pulang naik taksi," kata Airin.
Ken mengangguk. "Sampai ketemu besok," kata Ken. Airin mengangguk sembari menebar senyum.
Airin turun, dia berjalan melewati orang-orang yang sedang asik beraktivitas malam hari di taman itu.
Perempuan itu mencari sosok Tristan di sana. Namun, sepertinya cowok itu belum datang. Hingga sampai Airin pada danau kecil di sana.
Tristan sudah duduk menunggunya. Airin berdehem agar Tristan mengetahui keberadaannya. Mendengar itu, Tristan menoleh dan segera bangkit. Dia mempersilakan Airin untuk duduk.
"Silakan, Kak."Tristan mempersilakan dengan sopan.
Airin duduk, dan Tristan mengikutinya. Duduk berdampingan.
Keduanya saling terdiam. Hingga akhirnya Airin lebih dulu membuka suara.
"Apa kamu benar-benar mencintai Irene?" tanya Airin. Tristan menoleh lalu mengangguk. Pandangannya kini sudah pada danau lagi.
"Dia anak baik, pintar, juga sangat penyayang," kata Tristan menerawang. "Kita memang merahasiakan hubungan kita. Itu aku yang meminta," lanjutnya. "Karena aku nggak mau dia dirundung sama siswa perempuan waktu itu. Aku nggak mau dia jadi bulan-bulanan mereka, karena pacaran sama aku." Tristan mengenang.
"Cinta dia sangat tulus. Tapi, bodohnya aku yang ninggalin dia," kata Tristan. Dia hampir menangis. Matanya berkaca-kaca. "Aku menyesal," pungkasnya.
"Menyesal udah ninggalin dia, atau karena dia udah nggak ada?" tanya Airin.
"Yang jelas dua-duanya. Aku nggak bisa ketemu dia lagi, aku nggak bisa lihat senyum dia lagi, dan aku nggak bisa bersama dia lagi, itu hal yang paling aku sesali sekarang," kata Tristan. Dia menangis, air matanya jatuh tak tertahankan.
"Aku nggak pernah merasakan cinta setulus itu dari seorang perempuan," kata Tristan.
"Lalu kenapa kamu ninggalin dia?" tanya Airin. Dia mulai emosional. Semua ucapan Tristan benar-benar fakta. Bahwa Irene adalah orang yang memang seperti itu.
"Waktu itu aku belum dewasa. Kita takut akan janin yang di dalam perut dia. Aku takut, takut akhirnya dibuang sama Ayahku." Tristan terisak. "Aku mau tanggung jawab, tapi enggak saat itu juga," katanya. "Tapi, mungkin rasa takutnya dia melebihi apapun. Sampai dia nekat ..." Belum sempat Tristan meneruskan. Airin sudah menjawabnya.
"Harusnya kamu ada di dekatnya. Harusnya kamu nggak menghindar, dan harusnya kamu menemani dia!" ucap Airin.
Tristan mengangguk. Dia memang sangat bersalah.
"Apa kamu tahu dia akan mengakhiri hidupnya seperti itu?" tanya Airin. Tristan mengangguk lemas.
"Apa?" Airin terkejut. "Dan kamu membiarkannya!" bentaknya.
"Maaf," kata Tristan. Tangisnya benar-benar pecah.
***
Hampir satu Minggu Tristan menghindari Irene. Akhirnya dia mau menemui gadis itu.
_Temui gue di atap sekolah._ Itu adalah pesan terakhir yang dikirim Irene. Karena penasaran, kenapa harus malam, dan kenapa harus atap sekolah, Tristan akhirnya mengabulkannya.
Irene menangis hari itu. Tristan hanya terdiam. Dia bingung harus menghadapinya dengan cara seperti apa.
"Tan, kalau lo terus menghindar, gue akan mengakhirinya malam ini," kata Irene.
"Maksud lo apa? Ren, lo tahu Bokap gue seperti apa, kan? Dia orang paling kejam. Gue nggak bisa melanjutkan masa depan gue karena dia, jika gue berulah!" Tristan menjelaskan.
Irene menggelengkan kepala. "Masa depan? Lo egois," katanya. "Bagaimana bisa lo memikirkan masa depan lo, sedangkan di dalam sini ada anak kita," kata Irene menunjuk perutnya.
"Gue tahu, gue akan tanggung jawab, gue janji itu," kata Tristan. "Tapi, nggak sekarang, ngerti?" tanyanya lagi.
"Tan, perut ini bakal terus membesar, apa gue harus menjalaninya sendirian? Bagaimana dengan keluarga gue? Gue takut," kata Irene. Dia kembali menangis. "Lo jahat," tegasnya.
Sepertinya hari itu Tristan memang tak bisa berpikir jernih. Dia hanya terdiam.
"Lalu lo mau apa?" tanya Tristan.
"Mau lo?" Irene balik bertanya.
"Enggak, lo gugurkan saja kandungan itu," ucap Tristan lagi.
"Tristan! Ini anak kita!" bentak Irene.
"Ren! Ini belum saatnya kita punya anak. Kita masih SMA, jalan kita masih panjang," kata Tristan tegas. "Gue yang akan mengurus semua," katanya.
Irene menggelengkan kepalanya pelan. "Gue nggak mau," kata Irene.
Dia masih menangis. Lemas, saat mendengar Tristan ingin menggugurkan janin yang ada dalam perutnya.
"Kita akhiri saja hari ini," kata Irene. Dia terus melangkah mundur.
"Maksud lo apa, Ren?" tanya Tristan. Irene mengangguk sembari tersenyum.
"Ren, jangan main-main," ujar Tristan. Dia panik.
Irene menggelengkan kepala, dia terus tersenyum. "Kita akhiri dan semuanya akan selesai," kata Irene.
"Ren," kata Tristan. Dia mendekat. Namun, Irene melarangnya.
"Semuanya terjadi karena kecerobohan kita. Kita berdua enggan tanggung jawab. Jadi, salah satu dari kita harus mengakhiri, ngerti?" ucap Irene. Tristan menggelengkan kepalanya.
"Oke, kita bicarakan baik-baik. Please, lo ke sini," pinta Tristan.
"Semuanya sudah terlambat, Tan."
Airin memutuskan untuk terjun dari atap lantai tiga itu.
"Irene!" teriak Tristan.
Tristan segera berlari. Menuruni anak tangga yang entah berapa jumlahnya.
"Ren, Irene," ucapnya penuh kepanikan.
Langkah Tristan berhenti, ketika dia melihat darah Irene mengalir.
"Ren, Irene," ujar Tristan ragu. "Ren, apa lo denger gue?" tanya Tristan ragu. "Irene," panggilnya lagi.
Rupanya Irene tak meresponnya. Tristan terkejut, dia ketakutan, dan dia melangkah mundur.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanyanya panik. Dia menjauh dari tempat yang sekarang. "Gue harus pergi dari sini," katanya ketakutan.
Tristan menjauh, berlari sekuat tenaga, sampai dia terjatuh.
"Apa yang harus gue lakukan?" Tristan berada di sebuah ruangan. Dia ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.
Tristan menelepon polisi dengan nomor yang akhirnya dia putuskan tak lagi menggunakannya.
***
Tristan menangis sejadi-jadinya. "Aku menyesal, Kak." Suara Tristan tampak tertahan.
"Kenapa kamu nggak mencegahnya! Kalau saja kamu melakukan hal yang tepat, Irene akan ada sampai sekarang! Ngerti?" bentak Airin. Dia terisak.
Dia tak bisa menahan tangisnya. Perempuan itu menelungkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Maaf, maaf," ucap Tristan. "Aku akan menebus semua dosaku untuk Irene. Rutuk aku jika perlu, umpat aku agar Kakak puas," kata Tristan.
Setelah Airin sedikit tenang. Dia menatap pemandangan di depannya dengan nanar.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Airin. "Aku nggak bisa menyalahkan siapapun, karena ini sudah terlanjur." Airin mencoba tenang. "Tapi, aku harap, hidup kamu nggak akan bahagia, ingat itu!" kata Airin tegas.
Tristan mengangguk. Dia sangat mengerti perasaan Airin sekarang. Tristan menyia-nyiakan nyawa orang yang sangat Airin sayang.
"Jangan pernah muncul di depanku lagi," kata Airin. Dia bangkit dari duduknya. Tubuhnya lemas, tangisnya pecah. Dia masih menyesali semuanya. Dia tak habis pikir, jika Tristan juga ada di sana malam itu.
Airin hampir saja terjatuh. Namun, Ken menolongnya.
"Tak apa, ikhlaskan saja," kata Ken. Airin mengangguk sembari terisak. Ken menariknya dalam pelukan.
"Kenapa harus bunuh diri, aku salah dalam menjaga dia," kata Airin. Ken menggelengkan kepala.
Ingatan Airin begitu tajam. Kejadian tiga tahun lalu, masih sangat jelas dalam otaknya, seperti baru kemarin terjadi. Airin mengingat semuanya. Tentang darah, wajah pucat Irene, dan senyum Irene.
"Dia bahagia, dia sudah bahagia," kata Airin. Ken mengangguk.
Dari tempat lain, netra milik Brian menatapnya tajam. Tentu saja laki-laki itu cemburu. Dia tak bisa berbuat apa-apa melihat kekasihnya dalam pelukan laki-laki lain.
Ken mengantar Airin pulang. Brian tak mungkin menampakkan dirinya di depan Airin. Karena pasti kekasihnya akan kesal, jika diam-diam dia mengikuti.
Setelah melihat mobil yang dikendarai Ken melaju, Brian menghela napas.
Brian pulang. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Menatap langit-langit mewah apartemen.
"Mereka hanya berteman," kata Brian. "Buat apa aku cemburu," katanya menenangkan diri.
Brian menggelengkan kepala cepat. Dia membuang jauh pikiran negatifnya.