Hai pertama Airin kembali bekerja dengan Ken. Dia memulai dengan membereskan meja kerjanya. Datang lebih awal dan bersih-bersih di sana.
Ken membuka pintu. Dia tersenyum mendapati Airin yang sedang sibuk memegang sapu.
"Good morning!" sapanya. Senyumnya terlihat sangat sumringah. Berbeda dari biasanya.
"Morning," balas Airin. Setelah selesai menyapu lantai, dia duduk di bangkunya. Menghela napas.
"Kayaknya ini ruangan nggak pernah dibersihin," kata Airin. Ken mengangguk sebagai jawaban.
"Terlalu sibuk," jawab Ken sekenanya.
"Ken, aku udah lamar pekerjaan di perusahaan penyiaran baru. Belum rilis sih, tapi kayaknya aku punya peluang di sana." Airin membuka topik pagi ini dengan berita itu. Ken mengerutkan kening.
"Jadi, kalau diterima bakal keluar dari sini lagi?" tanya Ken. Airin mengangguk dan tersenyum.
"Apa Brian melarang kamu kerja sama aku?" tanya Ken. Airin menggeleng cepat.
"Enggak, ini murni kemauan aku. Aku nggak bisa terus-terusan jadi kayak gini. Aku ingin punya pekerjaan tetap," kata Airin.
"Rin, ini juga pekerjaan tetap. Aku bayar kamu, apa bayarannya masih kurang?" tanya Ken.
"Enggak! Aku hanya ingin kembali mengejar pekerjaanku. Seperti dulu lagi. Terikat dengan perusahaan," ucap Airin.
Ken mengembuskan napas. Dia tak mungkin melawan keinginan Airin.
"Perusahaan penyiaran TNT, maksud kamu?" tanya Ken. Airin menoleh dan mengangguk bersemangat.
"Trending News Topik, itu perusahaan yang akan rilis akhir tahun ini. Semoga aja aku bisa kerja di sana. Kamu tahu, kan? Perusahaan baru biasanya banyak sekali peluang." Airin menjelaskan. "Apa kamu juga mau gabung ke sana?" tanya Airin.
Ken menggeleng cepat. "Aku lebih baik menjalankan Secret. Penggemarku nanti banyak yang kecewa kalau Secret tutup akun," kata Ken. Airin mengangguk.
"Bukan karena Brian melarangmu untuk bekerja denganku, kan?" selidik Ken.
"Enggak, sama sekali." Airin meyakinkan.
"Tapi, firasatku mengatakan bahwa Brian tak setuju," kata Ken.
Airin menghela napas. "Oke. Benar, dia kurang setuju, kalau aku kembali kerja sama kamu," kata Airin. "Tapi, daftarnya aku di perusahaan baru itu karena memang keinginanku," katanya lagi.
"Oke, oke, kalau memang itu kemauan kamu, aku nggak bisa larang," kata Ken.
"Oh ya, hari ini kita ikuti Giovan. Aktor pendatang baru yang menarik perhatian kaum hawa." Ken menjelaskan.
"Ada yang baru? Kok aku nggak tau," kata Airin.
"Kamu taunya cuma Brian aja," katanya Ken meledek. Airin mengerucutkan bibirnya.
"Oh ya, aku lagi cari tahu tentang Giovan, masa lalunya, keluarganya, dan kehidupan pribadinya," kata Ken.
"Sampai segitunya banget, Ken." Airin tak habis pikir. Ken sangat optimal dalam pekerjaan. Dia selalu menjadi kategori terbaik dalam masalah pekerjaan.
"Sepertinya dia nggak akan bertahan lama di dunia hiburan ini," kata Ken.
"Sok tahu kamu, kayak dukun," ucap Airin. Ken hanya tertawa.
Setelah Ken menyiapkan segala sesuatunya. Dia pun bangkit sembari menutup resleting tas ransel yang akan dibawa.
"Ayo!" ajaknya. Airin yang sudah bersiap, mengangguk dan mengikuti langkah Ken.
Memutari jalanan kota Jakarta adalah sudah pekerjaan Ken. Namanya juga dia sedang mencari informasi.
"Biasanya jam segini dia masih berolahraga di taman dekat rumahnya." Ken menepikan mobilnya.
"Bukankah dia harus syuting? Jam segini masih olah raga?" tanya Airin. Ken mengangguk.
"Dia memulai aktivitasnya jam satu siang. Bangunnya rada kesiangan jadi jam segini masih olah raga," ucap Ken menjelaskan.
"Totalitas banget kamu kalau kerja. Sampai jam tidurnya tahu," kata Airin. Dia bertepuk tangan.
Taman yang sudah terlihat sepi itu menarik perhatian Airin. Bagaimana tidak, Tristan sedang duduk dengan minuman botol di tangannya.
"Tristan?" tanya Airin. Ken mengangguk. Seolah sudah tahu kenapa Tristan ada di sana sekarang.
Airin langsung meminta jawaban.
"Mereka sepupuan, jadi jangan heran kalau bareng kayak gitu." Ken berucap.
"Tapi, di mana Giovan? Dia nggak ada," kata Airin bingung.
"Mungkin masih di dalam. Dia sangat suka berolahraga. Apalagi ini taman kalo jam segini udah sepi," kata Ken.
Airin mengangguk mengerti sekarang.
Tak lama sosok Giovan muncul. Dia duduk bersama Tristan. Berbagi air putih yang sama.
Ken langsung sigap. Mengambil kamera dan diam-diam memotretnya.
"Pasti fans dia tambah gila nih, kalau tahu aktivitas harian dia." Ken tersenyum. Airin mengangguk setuju.
Setelah mengambil beberapa foto. Keduanya tak langsung pergi.
"Kita ke mana lagi?" tanya Airin.
"Ya kita tunggu dia. Kita ikuti jadwal dia selanjutnya." Ken menjawab dengan jelas.
Keahlian dia adalah mengikuti tanpa jejak. Ken paling bisa mengikuti artis tanpa sepengetahuan artis itu. Makanya dia selalu update masalah dunia artis yang ternyata seperti drama.
"Berapa hari kita akan mengikuti dia?" tanya Airin. Ken menggelengkan kepala.
"Enggak, kita perlu waktu cuma satu hari." Ken tengah melihat hasil foto dalam kameranya.
Melihat dua manusia tadi sudah tak berada di tempatnya. Ken melajukan mobilnya. Ternyata dia menuju rumah Giovan.
Dia menunggu hingga hampir dua jam di sana. Setelah sebuah mobil menjemput Giovan. Itu adalah mobil yang dikendarai managernya.
"Tuh, dia mau berangkat syuting," kata Airin. Ken mengangguk.
"Hidup dia normal kok, nggak ada yang istimewa. Bukankah kehidupan artis semuanya sama?" tanya Airin.
"Memang, tapi kita bakal nemuin satu masalah dalam hidup dia." Ken begitu yakin.
"Kamu yakin? Aku takut kamu bakal kecewa kalau nanti hal itu nggak benar," ucap Airin.
Ken menggelengkan kepala. Dia sangat percaya diri. "Aku yakin, karena aku udah kenal banget informan yang dapat dipercaya tentang dia." Ken menjelaskan.
"Namanya juga Ken, nggak mungkin dia nggak kenal sama informan para artis." Airin memuji.
Mereka mengikuti mobil yang ditumpangi Giovan. Ponsel Airin berdering. Dia melihat nama Brian muncul.
"Halo," jawab Airin segera.
"Udah selesai pekerjaannya?" tanya Brian.
"Belum, mungkin aku akan pulang malam, kenapa?" Airin melihat Ken menganggukkan kepala. Seakan memang keduanya akan pulang malam hari.
"Apa kamu lagi sama Ken?" tanya Brian lagi.
"Iya," jawab Airin singkat. "Kamu sudah makan siang?" tanya Airin.
"Belum," jawab Brian sekenanya. "Malam ini aku ingin mengajakmu makan, bagaimana?" tanya Brian.
"Malam ini?" Mata Airin melirik ke arah Ken. Laki-laki itu hanya mengedikkan bahu.
"Oke, nanti aku kabari kalau pekerjaanku selesai," ucap Airin. "Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaan ini," lanjutnya.
"Serius?" Brian tampak bersemangat. "Oke, oke," ucapnya. Dia sangat ingin bertemu Airin. Dadanya sesak mengingat kejadian semalam di taman.
Setelah panggilan terputus. Ken yang sedang sibuk dengan kemudi mobilnya langsung menoleh sebentar.
"Protektif banget," kata Ken.
"Bukan protektif, tapi emang dia orang yang kayak gitu." Airin membela Brian. " Kamu tahu kenapa dia seperti itu?" tanya Airin.
"Karena bekerja sama aku?" tebak Ken. Ken si serba tahu selalu menjawab pertanyaan Airin dengan benar.
"Hebat, sih!" puji Airin. Ken hanya menampakkan wajah sombong.
Ken mengerutkan kening, saat melihat mobil yang ditumpangi Giovan berbelok arah.
"Bukannya syuting ada di jalan Bali, kenapa belok?" tanya Ken. Airin memperhatikan mobil di depannya.
"Mungkin mau mampir di satu tempat kali," kata Airin.
Ken menggelengkan kepala. "Nggak beres." Ken terus mengamati laju mobil di depannya. "Ini jalanan menuju perkampungan," kata Ken lagi.
Ken menghentikan mobilnya.
"Kok berhenti?" tanya Airin.
"Di sini cuma ada satu jalan. Mereka pasti curiga kalau aku ikuti," kata Ken. Airin mengangguk mengerti.
"Lalu?" tanya Airin lagi. Dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ken.
"Kita tunggu beberapa menit, lalu kita jalan ke sana." Ken menginterupsi.
"Ada apa dia di perkampungan sini?" Airin penasaran.
"Kamu tahu, di kampung sini ada apa? Ada bandar narkoba," kata Ken. Airin terkejut.
"Serius?" Airin lagi-lagi tak percaya. "Terus?" tanyanya lagi.
"Ya, aku sih nggak mau menyimpulkan bahwa mereka bertransaksi di sini. Tapi, aku yakin sih kalau Giovan menemui orang itu." Ken berucap pasti.
"Kenapa nggak lapor polisi?" tanya Airin. Ken tersenyum.
"Dia itu bandar narkoba berkedok ustad. Dia juga emang indigo, jadi bisa membaca nasib orang dengan kemampuannya. Makanya mereka percayanya yang datang tuh cuma mau baca nasib, tapi dia sebenarnya juga bandar narkoba." Ken menjelaskan. Airin menganggukkan kepala mengerti.
Ken memutuskan kembali melajukan mobilnya. Di jalanan kecil itu, dengan mudah dia menemukan mobil Giovan lagi.
"Tuh!" tunjuk Ken. Mobil itu terparkir di sebuah gubuk kecil.
Terlihat jelas Giovan sedang ngobrol dengan seorang laki-laki yang menggunakan baju koko dan sarung.
"Itu dia," kata Ken. Dia tak mau melewatkan kesempatan, dia langsung mengambil kamera dan memfokuskannya. Tepat saat Giovan sedang berjabat tangan dengan orang di depannya.
Ken tersenyum puas, melihat hasil foto yang dia ambil tadi.
"Dapet," kata Ken. Dia lantas memutar mobilnya. Tanpa ada yang curiga dengan kedatangannya.
"Kenapa kamu begitu ahli dalam bidang seperti ini?" tanya Airin.
"Kalau nggak kayak gini, gimana mau jadi nomor satu, gimana mau dapat uang, banyak banget yang minta kerja sama dengan Secret. Cuma ya aku milih-milih," kata Ken menjelaskan.
"Ah, berarti aku bisa pulang cepat?" tanya Airin.
"Di hari pertama kerja kamu, minta pulang cepet? Rin," kata Ken. Airin tertawa. Ken pasti mengizinkannya.
"Oke, karena itu kamu, aku turuti," kata Ken.
"Yes," jawan Airin kegirangan.
Sebelum mereka kembali ke studio, mereka lebih dulu mencari makan. Kali ini makanan khas Kota Padang menjadi menu mereka. Makan di warung Padang yang ada di pinggir jalan.
"Ini yang aku kangenin kalo kerja di luar," kata Airin. Nasinya sudah tinggal separuh dimakannya.
Ken mengangguk setuju. "Oh ya, nanti weekend ada reuni, mau datang?" tanya Ken.
"Reuni?" Airin bertanya. Dia adalah adik kelas Ken di universitas. Namun, dengan jurusan yang sama.
"Kayaknya enggak deh," kata Airin.
"Aku sendiri lagi?" tanya Ken. Airin mengangguk sebagai jawaban.
Setelah menikmati nasi Padang mereka membayar dan kembali ke studio. Airin merebahkan tubuhnya di sofa. Sedangkan Ken langsung sibuk di depan komputer. Mengunggah aktivitas Giovan hari itu.
"Apa foto terakhir tadi juga diunggah?" tanya Airin. Ken menggelengkan kepala.
"Enggak, aku harus ngumpulin banyak bukti dulu. Bukti tadi itu nggak cukup kuat." Ken menjelaskan.
Setelah menghilangkan sedikit lelahnya, Airin kembali bekerja. Berkutat pada laptop di depannya. Membuat berita tentang artis Giovan.
Pukul lima sore, Airin mengembuskan napas. Matanya perih karena terlalu lama menatap monitor.
"Sepertinya aku harus pulang," kata Airin.
"Oke," jawab Ken tanpa menoleh. Dia masih sibuk pada layar di depannya.
"Beritanya udah aku kirim lewat E-mail, nanti bisa dicek." Airin bergegas.
Ken hanya mengacungkan jempol.
"Serius nih ya, aku pulang," kata Airin.
"Iya, bawel," jawab Ken. Barulah dia menoleh ke arah Airin.
Airin melenggang pergi.
Brian berjanji akan menjemputnya jam tujuh malam. Dia bahkan sudah memesan tempat di sebuah restoran mewah.
Airin bersiap, dia memilih baju hingga seisi lemari dia keluarkan. Saking bingungnya memadukan baju atas dan bawahnya.
"Perasaan baju banyak, tapi kok gitu ya," kata Airin. Dia hampir putus asa. Dia tak mungkin mempermalukan Brian karena penampilannya. Terlebih hari ini mereka akan makan di tempat mewah. Pasti kalangan atas.
"Milih apa, sih? Mau pergi sama Brian?" Suara Hilda membuat Airin terkejut.
"Mama, kaget," protesnya. "Perasaan baju aku kayak gini semua," kata Airin.
"Semuanya bagus. Semuanya kalo kamu yang pake pasti jadinya bagus," kata Hilda.
"Gimana kalau yang ini?" tanya Airin. Dia mengangkat baju yang berwarna biru muda. Dress selutut yang tampak kelihatan elegan.
"Bagus," jawab Hilda.
"Apa nggak terlalu formal? Ini kan cuma acara makan malam aku sama dia," kata Brian.
Tanpa menjawab pertanyaan Airin. Hilda melirik jam dinding.
"Cepetan, bentar lagi dia datang," kata Hilda. Airin menoleh ke arah jam dinding.
"Ah," keluhnya. Hilda kembali pergi. Airin memutuskan untuk menggunakan dress yang dia pegang.
Dia memoles sedikit wajahnya dengan bedak. Lipstik berwarna pink tanpa blush on.
Benar kata Hilda. Brian datang dengan membunyikan klakson mobilnya. Airin segera bergegas. Dia lantas bergegas turun. Tak lupa mengganti sendalnya dengan heels setinggi tiga sentimeter.
"Ma, aku berangkat." Airin sedikit berteriak. Karena tak mungkin dia menyambangi kamar Hilda.
Airin keluar dan tersenyum saat mendapati Brian sudah berdiri di samping mobilnya. Brian membukakan pintu mobil dan mempersilakan Airin untuk masuk.
Brian berlari mengitari mobil dan membuka pintu kemudi.
"Ayo!" ajaknya. Dia menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
"Kamu cantik hari ini," kata Brian.
Airin tersenyum malu. "Makasih," katanya malu.
Tiga puluh lima menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran bergaya Italia. Brian menggandeng tangan Airin. Mereka berjalan beriringan.
Keduanya lantas menunggu pesanan datang.
"Maaf, aku harus memesan makanan tanpa persetujuan kamu," kata Brian. Airin menggeleng.
"Enggak apa-apa. Semuanya aku suka, kok," kata Airin.
Setelah pelayan datang dengan membawa baki makanan, satu persatu makanan datang dan siap untuk dimakan.
"Wah," kata Airin. Dia melihat makanan di depannya begitu lezat.
Belum juga Brian akan memakan makanannya. Entah apa yang dia lihat, dia membulatkan dua bola matanya sempurna. Hingga, dia menjatuhkan sendok yang dia pegang.
"Dia!" katanya ragu. Wajahnya terlihat ketakutan. Membuat Airin bingung dibuatnya.