Episode 41

2000 Kata
Brian ketakutan hebat. Membuat Airin akhirnya menoleh. Dia juga terkejut dengan apa yang dilihat oleh Brian. "Arga?" Airin terkejut. Dia kembali menatap Brian. Laki-laki itu tampak ketakutan. Sangat jelas bahwa dia panik sekarang. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Airin ragu. "Oh," jawab Brian singkat. Dia mengangguk perlahan. "Kamu masih ingat dia?" tanya Airin lagi. Brian mencoba tenang. Dia menghela napas. "Iya," jawabnya singkat. Airin merasa iba melihatnya. Lalu dia tersenyum, dia memenangkan Brian dengan meraih tangannya dan mengusapnya lembut. "Tak apa, dia nggak akan mengenali kamu, inget, kamu adalah Brian bukan Attar," kata Airin. Brian mengulas senyum tipis. Walaupun senyum itu terlihat ketir, namun ucapan Airin benar. "Tapi," kata Brian. "Bukankah pemberitaan tentang masa laluku sudah beredar. Aku takut," kata Brian. Airin menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, jangan khawatir. Brian itu bukan penakut, dia itu adalah artis top, yang tegas, dan memiliki senyum paling manis," kata Airin. "Benarkah?" tanya Brian. Airin mengangguk cepat. "Apa perlu kita pergi dari sini? Kita cari tempat yang lebih nyaman untuk kamu," ucap Airin. "Tapi, semua makanan ini belum kita sentuh," ujar Brian. Airin tersenyum, dia memiliki ide untuk membungkus semuanya. Airin melambaikan tangan kepada pelayan yang tengah berdiri. Segera pelayan itu mendekat. "Ada yang bisa dibantu?" tanya pelayanan itu ramah. "Mas, tolong bungkus ini semua," perintah Airin. "Apa ada masalah Nona? Baru pertama kali saya menemukan tamu yang membungkus makanan," kata pelayan itu panik. "Dan, bukankah Tuan adalah artis papan atas itu? Brian," tebaknya mengenali. Brian tersenyum dan mengangguk. Pelayan itu kembali menatap Airin. Perempuan itu hanya tersenyum. "Nggak ada masalah. Ternyata ada meeting mendadak. Jadi, kita harus segera pergi." Airin beralasan. "Baik, saya akan bungkus semuanya." Pelayan itu lantas memanggil temannya agar membantu. Dia membawa semua pesanan yang ada di atas meja. Tak sampai sepuluh menit, pelayan itu kembali dengan beberapa kantong plastik berisi kotak, kotak makanan tadi. "Makasih, ya." Airin tersenyum ramah. Pelayan tadi mengangguk. Keduanya lantas segera pergi dari tempat itu. Padahal mereka sudah berjalan cepat. Namun, langkah keduanya berhenti ketika seseorang memanggil Airin. "Airin?" ucap seseorang ragu. Airin menghentikan langkahnya. Dia harus menoleh karena orang yang memanggilnya tadi berada di belakang. Airin begitu terkejut bahwa Arga ada di depannya. "Benar, kamu Airin," kata Arga. Dia tersenyum lebar melihat teman sekolah sekaligus mantan pacar Airin. "Apa kabar? Wah, kamu banyak berubah, tambah cantik," puji Arga. Brian saat mendengar itu geram. Dia mengepalkan tangannya kuat, memegang erat plastik yang dibawanya. Airin tahu, saat tanpa sengaja melihat tangan Brian terkepal. Dia segera memegangnya. Mengusap dengan jemarinya untuk menenangkan. Hal itu cukup menarik perhatian Arga. Dia tersenyum. "Siapa?" tanya Arga. Brian benar-benar panik hari itu. Dia sulit untuk membuka mulut. Namun, Untung saja Airin menjawabnya dengan tegas. "Dia pacar aku," jawab Airin. "Wah, ganteng banget. Pinter kamu milih cowok," kata Arga sedikit meledek. Brian terus-menerus mengatur napasnya. Dia tak ingin meledakkan emosi di depan Arga dan Airin. "Sepertinya aku harus pergi. Maaf," kata Airin. Baru beberapa langkah, dia berhenti lagi. Karena Arga kembali bersuara. "Oh ya, aku bakal menetap di Jakarta," kata Arga. Airin mengabaikannya, dia lantas kembali berjalan tanpa merespon ucapan terakhir Arga. Arga terlihat tersenyum kecut. Di dalam mobil, Brian mencoba tenang. Dia mengatur napasnya yang sedari tadi dia tahan. "Nggak apa-apa, orang bisa berubah. Mungkin saja dia sudah lupa masa lalu," kata Airin. Brian menoleh. Dia mengangguk mengerti ucapan Airin. "Ayo," ajak Airin. Brian mengangguk dan melajukan mobilnya. Di tempat tadi, Arga duduk dengan seorang laki-laki paruh baya. Dia tampak menggunakan setelan jas rapi. Menikmati makan malam di sana. Namun, siapa sangka pikirannya ada pada Airin tadi. Saat laki-laki di depannya mengajak berbicara, Arga langsung kembali fokus. Arga berbicara sangat banyak. Dia bahkan menunjukan laptop yang dia bawa di tasnya. "Saya suka misi Pak Arga. Semoga kita bisa bekerja sama," kata laki-laki paruh baya itu. Arga tersenyum, dia mengangguk mantap. "Saya sudah tidak sabar ingin segera membuka perusahaan saya," jelas Arga. _____ Wajah Desta berubah. Dia panik, namun terlihat iba melihat Brian. "Pasti dia ketakutan tadi," batinnya. Setelah mengantar Airin pulang tadi, Brian menyuruh Desta datang ke tempatnya. Dia bercerita semua tentang pertemuannya dengan Arga. "Dia nggak mungkin kenal gue, kan?" tanya Brian. Wajah ketakutannya tak bisa dihindari. Desta tampak tengah berpikir. "Des, dia nggak mungkin kenal gue, kan?" tanyanya lagi. "Yan, gue nggak mau buat lo tenang dengan jawaban bohong gue. Secara lo artis, berita lo kemarin tuh udah berhasil buka masa lalu lo," kata Desta tegas. "Oke, mungkin kemarin Arga nggak kenal sama lo, tapi kalau dia cari tahu tentang lo, sudah dipastikan berita itu yang akan muncul," lanjutnya. "Lalu gue harus gimana?" tanya Brian. "Tenang, bukankah Attar udah nggak ada. Lo inget! Sekarang lo adalah Brian, Brian," ucap Desta menekankan. Brian menghela napas berat. "Dia akan menetap di Jakarta? Kenapa? Kenapa harus Jakarta?" tanya Desta. Brian hanya menggelengkan kepala. "Gue yakin dia udah berubah. Dia bukan anak remaja lagi, nggak mungkin dia melakukan hal yang sama seperti dulu. Tapi, gue nggak yakin dengan Airin." Desta menerawang. Brian menoleh secepat kilat. "Maksud lo?" tanya Brian penasaran. Desta mengangguk. "Airin adalah mantan kekasih dia. Jika dia single, sudah pasti bakal ngejar Airin. Lo ingat kan, betapa gilanya dia suka sama Airin. Sampai cowok yang dekat sama Airin berakhir pindah sekolah," kata Desta. Brian mengangguk. Itu juga yang dirasakan oleh dia dulu. "Jadi, lo jaga Airin semampu lo, jangan sampai ada celah dia masuk lagi dikehidupan Airin," perintah Desta. Brian mengangguk lagi. Keesokan harinya, seperti biasa Airin berangkat ke studio. Kali ini Brian menjemputnya. Sebelum dia sibuk dengan aktivitas keartisannya. Dia meluangkan waktu untuk Airin. Awalnya Airin menolak, namun akhirnya dia setuju. Brian menghentikan mobilnya ketika Airin meminta menghentikannya. "Udah sampai," kata Airin. Brian melihat di sekitar komplek itu. Dia yakin bahwa gedung berlantai dua itu adalah tempat kerja Airin. Karena dilihat di sekitarnya hanya terdapat rumah dan ruko berjualan. "Jadi ini tempat kerja kamu?" tanya Brian. Airin tersenyum dan mengangguk cepat. "Tapi, aku lagi nunggu dapat panggilan kerja. Perusahaan penyiaran baru yang akhir tahun ini bakal buka. Peluangku banyak di sana. Jadi, sepertinya aku akan bisa kembali bekerja di perusahaan penyiaran," kata Airin. "Beneran? Wah, semoga beruntung," kata Brian. Airin mengangguk. Sebelum Airin turun Brian memegang tangan Airin. "Rin, apa pun yang terjadi, tetap di samping aku, oke," kata Brian. Airin bingung dengan ucapan Brian pagi itu, namun akhirnya dia mengangguk dan tersenyum. Brian tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Airin. Dia mengecup bibir Airin sebentar. Tentu saja wanita itu gugup. "Brian," ucapnya ragu. Brian pun malu. "Pergilah," perintahnya. Dia sangat malu hari itu. Airin segera bergegas pergi. Dia langsung turun dari mobil. Seketika tubuhnya lemas. Dia malu. Begitu juga Brian yang gugup. Ken melihat Airin sembari tersenyum. Hal itu membuat pria kelahiran bulan Agustus itu menarik garis kening. "Kenapa?" tanya Ken. "Ada hal yang bagus?" lanjutnya. Airin terkejut. Dia segera menarik kembali senyuman di bibirnya. "Enggak," jawab Airin. Dia segera duduk di mejanya. "Ah, tumben udah datang?" tanya Airin mengalihkan perhatian Ken. "Oh, hari ini aku ada urusan," kata Ken. Kini giliran Airin yang mengerutkan kening. "Urusan apa? Tante baik-baik aja, kan? Kirana juga nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Airin panik. Ken tersenyum. "Mereka sehat," jawab Ken sekenanya. "Aku cuma mau reservasi tempat untuk reuni nanti." Ken menjelaskan. "Karena aku dipercaya jadi panitia, jadi ya harus berkorban untuk sibuk." Airin mengangguk. "Kamu yakin nggak mau datang?" tanya Ken. Airin menggelengkan kepala. "Yakin," ucapnya pasti. Keduanya lantas sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya ada suara musik yang sengaja Ken putar agar tak terlalu sunyi. "Ken, sepertinya kita juga harus membuat program khusus," kata Airin memberikan pendapat. "Program khusus? Yang bagaimana?" tanya Ken. Dia lantas memandang ke arah Airin. "Kita mengunggah semacam aktivitas idol atau artis, bukan mengikuti diam-diam." Airin menjelaskan. "Giovan kan lagi digandrungi para remaja, kita minta kerja sama dengan pihak manajemen dia, supaya kita bisa ikut dalam jadwal dia," ucap Airin. Ken menggeleng. "Jangan Giovan. Perangai dia buruk. Suatu saat nanti, kita yang akan menguak tentang pribadi dia. Dia bakal kena kasus besar nanti." Ken tak setuju. "Apa kamu indigo? Sampai tahu masa depan dia seperti apa," kata Airin. Ken tertawa. "Dari pada mengikuti artis atau idol, mending kita kupas tentang film yang bakal tayang, film yang benar-benar ditunggu sama pemirsa, atau sinetron yang benar-benar digilai masyarakat Indonesia ini," kata Ken. Airin mengangguk setuju. "Oke, jadi kita meminta izin mereka untuk mengambil gambar di lokasi syuting," kata Airin. Ken mengangguk. "Bagaimana dengan film yang akan dibintangi oleh Brian. Bukankah itu yang paling ditunggu? Mereka menunggu comeback-nya Brian di dunia akting." Ken memberi saran. "Ah, iya. Boleh, aku yang akan minta izin ke Kak Dava nanti. Biar dia yang menyampaikan ke pihak perfilman," kata Airin menawarkan diri. Ken mengangguk setuju. "Tapi, dulu juga Secret yang menguak masalah pribadi Brian. Apa tidak masalah?" tanya Airin ragu. Ken tersenyum. Dia menggelengkan kepala, lalu berkata, "Enggak masalah, itung-itung ini aku lagi menebus rasa bersalahku." Airin mengangguk setuju. "Oke, nanti aku bilang ke Kak Dava," ujar Airin. Setelah Ken menyelesaikan pekerjaannya, dia pulang. Airin tinggal di studio. Dia mencari bahan untuk mereka bisa unggah. Tepat jam lima sore, Airin bergegas untuk pulang. Hari ini Brian akan datang ke rumahnya untuk makan malam bersama ibunya. Menggantikan acara makan malam kemarin yang sempat tertunda. Airin menaiki bis seperti biasa. Menikmati jalanan kota Jakarta sore hari. Tak lupa, dia harus mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang kurang. Sesuai pesanan Hilda. Airin berhenti di supermarket dekat rumahnya. Dia mengambil beberapa bahan makan yang akan dia beli. Ponselnya berdering saat dia sedang mengantre di kasir. Nama Brian tertera di sana. Segera Airin menyeret tombol hijau dan mendekatkan ponsel pada telinganya. "Halo," jawab Airin. "Udah pulang? Perlu aku jemput?" tanya Brian. "Udah pulang, kok. Ini lagi di supermarket," kata Airin. "Aku kok deg-degan ya mau ketemu Mama kamu," kata Brian. Airin tersenyum. Walaupun Brian tak melihatnya. "Kenapa? Di depan banyak orang aja nggak gugup, masa mau ketemu Mama aja gugup?" kata Airin meledek. "Kan beda. Kalo yang sekarang karena dia Mama kamu," jawab Brian sekenanya. "Pokoknya aku nggak boleh telat, nggak boleh terlihat bodoh di depan Mama kamu," kata Brian. Airin kini tertawa, dengan jelas juga Brian mendengarnya. "Kenapa ketawa?" tanya Brian. "Mama nggak gitu kok orangnya. Dia mah santai," ucap Airin. "Tapi, tetap aja harus kelihatan perfect di depan Mama kamu," kata Brian lagi. "Iya, iya," jawab Airin. Dia sudah berada di meja kasir sekarang. Sehingga dia mengakhiri panggilannya. "Udah dulu ya, udah mau bayar, terus pulang. Sampai ketemu nanti," kata Airin. "Oh oke," jawab Brian. Dia menutup panggilannya. Setelah membayar semua belanjaannya, Airin bergegas pulang. Dia memilih berjalan kaki karena memang sudah dekat dengan tempat tinggalnya. Sesampainya di rumah, dia mendapati ibunya tengah sibuk di dapur. "Aku pulang!" ujarnya seraya meletakkan kantong belanjaan di atas meja makan. "Ini cicipi dulu, Mama rasa udah pas deh," kata Hilda. Airin segera mendekat. Dia mencolek sedikit masakan yang diambil Hilda dengan sendok. "Enak," kata Airin. "Mama paling bisa masak steak gitu, nggak kalah sama restoran kelas atas pokoknya." Airin memuji. Hilda tersenyum. "Aku udah beli semua yang Mama bilang," kata Airin. "Ada yang perlu aku bantu?" tanyanya. "Bersihkan saja semua peralatan masak itu," kata Hilda menunjuk tempat cucian piring. Airin menghela napas. "Siap Bos," jawab Airin. Dia bersiap di depan cucian piring yang numpuk. Sebelum memegang sabun, dia lebih dulu menggulung lengan bajunya. Mencuci piring satu demi satu. Saking banyaknya sampai keringat keluar dari pelipis rambutnya. "Ma, kayaknya Brian gugup banget mau ketemu Mama. Jadi, nanti jangan tanya macam-macam ya," perintah Airin. "Kenapa?" tanya Hilda. "Pokoknya nanya yang wajar aja. Terus, jangan nanya masalah keluarganya, oke." Airin memerintahkan. "Iya, iya," jawab Hilda tak memperpanjang pertanyaan. Setelah semuanya siap, Airin juga sudah selesai mencuci semua piring dan peralatan dapur, akhirnya kedua wanita itu sibuk dengan dirinya masing-masing. Airin sibuk dengan pakaian yang akan digunakannya. Hingga dia muncul dari balik kamarnya. Ternyata Hilda sudah menunggunya di ruang keluarga. Rumah itu terlihat sangat rapi. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit. Tak lama bel rumah Airin berbunyi. Dia segera berlari membukanya. Saat membuka pintu, dia mendapati Brian dengan seorang perempuan yang sangat cantik dan elegan. Itu sebabnya Airin terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN