Brian mengeluarkan senyum manisnya.
"Maaf, aku nggak bilang kalo mau ajak Mama ke sini," kata Brian. Airin lantas tersenyum. Dia menggelengkan kepala.
"Enggak, enggak apa-apa. Ayo! Silakan masuk," ucap Airin mempersilakan masuk. Brian menggandeng tangan ibunya untuk masuk.
Mereka disambut oleh Hilda dengan senyuman. Sebelum ke meja makan, Hilda lebih dulu mempersilakan masuk. Airin yang duduk di sebelah Hilda langsung berbisik-bisik
"Aku nggak tahu kalo dia bawa Ibunya," bisik Airin. Hilda hanya tersenyum. Pasti Airin sangat gugup. Hilda menceritakan Airin panjang lebar. Hal itu membuat Airin tambah malu. Sedangkan Ibu dari Brian hanya tersenyum menanggapinya.
"Mama, jangan banyak bicara," bisik Airin. "Jangan memancing Ibunya Brian untuk cerita, karena mereka tak sedekat itu," bisiknya. Tentu saja hal itu membuat Brian dan Ibunya bingung. Hilda hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ah, mending kita makan malam dulu, semuanya sudah aku siapkan," kata Hilda. Brian dan ibunya setuju. Mereka pun menuju tempat makan.
"Wah," gumam Brian saat melihat hidangan di meja makan. "Ini semua Tante yang masak?" tanyanya polos.
"Tentu saja," jawab Hilda percaya diri.
"Sepertinya semua lezat." Brian melihat semua makanan itu satu persatu.
"Jelas, Mama paling jago masak." Airin menimpali. Tiba-tiba saja Ibu dari Brian memegang sendok sangat erat. Hal itu mengundang keterkejutan dua wanita di depan Brian.
Brian tersenyum. Dia hanya menurunkan tangan ibunya dan mengusapnya perlahan. Benar, emosi ibunya belum stabil. Terkadang dia terlalu bahagia, terkadang tiba-tiba dia marah dan kesal.
"Mama makan, ya." Brian berucap dengan nada suara super lembut. "Mama dari tadi siang belum makan, kan?" tanyanya.
Wanita itu mengatur napas. Ia mengangguk sebagai jawaban.
Hilda dan Airin memutuskan makan malam tanpa bercerita. Mereka hanya menikmatinya dan berbicara jika perlu.
Setelah selesai. Hilda membawa ibunya Brian untuk kembali ke ruang tamu. Sedangkan Brian membantu Airin membereskan semua sisa makanan dan membersihkan piring bekas makan.
"Mama, memiliki tempramental yang buruk. Dia memiliki gangguan jiwa yang buat dia bisa marah dan tersenyum di waktu yang bersamaan." Brian menjelaskan. Airin mengangguk. Ia baru menyadarinya.
"Maaf, aku nggak tahu. Pasti dia sangat kesal Mamaku banyak omong," kata Airin. Brian menggeleng cepat.
"Enggak, enggak, dia suka jika ada yang banyak bicara. Baginya dia sedang didongeng sama seperti waktu kecil." Brian tersenyum.
Setelah semuanya selesai, keduanya kembali ke ruang tamu. Mengobrol sebentar hingga akhirnya Brian pamit untuk pulang.
Di dalam perjalanan, Brian hanya terdiam. Hingga akhirnya wanita di sampingnya membuka suara.
"Tadi wanita yang kamu suka?" tanya Febi. Brian menoleh sebentar hingga akhirnya kembali fokus ke jalan.
Dia mengangguk. "Iya," jawab Brian singkat.
"Cantik, dia juga sangat sopan," kata Febi lagi. "Tapi, Mama sudah memilihkan calon untuk kamu," kata Febi. Hal itu membuat Brian menoleh secepat kilat.
"Ma, apa? Calon?" tanya Brian. "Kita nggak sedekat itu! Sampai Mama harus pilihin calon untuk Brian?" Brian tersenyum tipis.
"Tapi, dia anak baik. Lulusan terbaik di Inggris, dia juga seorang ..." Belum sempat meneruskan Brian kembali berucap.
"Dokter? Ma, ingat, hidup Brian tanpa Mama selama ini baik-baik aja, Brian bebas menentukan apapun dalam hidup ini. Kenapa aku minta Mama tetap tinggal? Itu karena Jonathan sebentar lagi berumah tangga! Nggak mungkin dia mengurus Mama setiap hari, dan kalau Mama di sini, sikap Papa nggak akan sebebas biasanya. Jadi, jangan berkhayal bisa mengatur kehidupan pribadiku," kata Brian tegas.
Febi terlihat sangat kesal. Dia mengepalkan tangan erat. Membuat Brian sedikit menurunkan kekesalannya.
"Ma, Mama hanya perlu fokus sama pengobatan Mama," ucap Brian datar. "Kalau Mama sembuh, Mama balas semua perbuatan Papa," lanjutnya. Febi mencoba berusaha mengontrol emosinya. Dia berkali-kali menarik napas dan membuangnya.
"Oke, please. Jangan buat hidup Brian lebih berantakan lagi. Dia adalah wanita yang sangat Brian cintai, bahkan sejak SMA," kata Brian pelan. Keduanya kembali terdiam.
Bukannya Brian ingin melawan Febi. Namun, kenyataan hubungannya dengan Febi terpisah sejak dia sekolah menengah atas. Mereka tak dekat. Tak juga saling berkomunikasi.
____
Pagi ini ada yang berbeda dari Airin. Dia terlihat lebih cerah dan bersemangat. Melenggangkan kakinya menuju lantai dua studio tempatnya bekerja.
Ken sudah pasti bertanya-tanya. Melihat tingkah aneh Airin.
"Ada apa? Sepertinya dia sesuatu yang bagus," kata Ken penasaran. Airin mengangguk cepat.
"Oh ya, ternyata CEO perusahaan penyiaran yang baru itu anak dari pengusaha Pertamina." Ken memberi tahu.
"Apa?" Airin tak mengerti.
Ken mengangguk. "Tau deh, lupa namanya. Katanya anak yang punya Pertamina," ucapnya. "Kamu, kenapa sebahagia itu pagi ini?" tanya Ken, dia masih penasaran dengan apa yang dilihatnya dalam diri Airin.
"Aku dapat panggilan dari TNT!" kata Airin bersemangat.
"Apa?" Ken terkejut, namun dia segera tertawa. "Wah, selamat," ucapnya.
Airin mengangguk cepat. "Tapi, aku harus mengikuti tes wawancara dulu," kata Airin.
"Enggak apa-apa, wawancara biasanya berkaitan sama pekerjaan, dan kamu sudah sangat hapal dengan pekerjaan bukan? Nggak perlu ragu dalam menjawab, jujur, dan harus logis. Itu kuncinya," kata Ken. Airin mengangguk mengerti.
"Memangnya kapan mau tes wawancara?" tanya Ken.
"Hari Senin nanti," jawab Airin. "Kok aku gugup ya, semoga aku keterima," kata Airin.
"Kayaknya pengen banget lepas dari aku," timpal Ken. Airin menoleh segera, dia menggelengkan kepala cepat.
"Enggak, enggak, impianku kembali bekerja di perusahaan besar," kata Airin.
"Dan sepertinya aku harus merekrut karyawan baru," ujar Ken.
"Betul banget, kamu nggak bisa gunain freelance untuk bekerja. Percayakan pada mereka menjadi pekerja tetap kamu," kata Airin. Ken mengangguk menerima saran Airin.
"Oke, sepertinya aku harus menata kembali Secret. Ingat, kalau kamu nggak betah di TNT, kamu bisa balik ke sini," ujar Ken. Airin tersenyum, dia memberi hormat pada Ken.
"Siap Bos," jawabnya tegas.
Disela-sela pekerjaan, Airin mendapat pesan dari Brian. Pacarnya itu mengatakan jika dia akan menjemputnya. Airin langsung meresponnya cepat. Dia mengiyakan.
"Sepertinya kalian saling mencintai," kata Ken. Dia tengah berjalan dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Airin yang sedari tadi menatap layar ponsel kini beralih.
"Siapa? Aku?" tanya Airin memastikan. Ken mengangguk. Dia mengambil posisi duduk di depan Airin.
"Brian begitu mencintai kamu, kan?" tanya Ken. Airin hanya mengedikkan bahu.
"Mungkin," jawab Airin singkat.
"Lalu, apakah kamu juga mencintai dia, sangat," kata Ken.
"Ken," jawab Airin. Dia tak ingin menjawab pertanyaan yang akan menyakiti hati Ken.
"Oke, oke," kata Ken. "Oh ya, Sabtu ini libur. Kamu yakin, nggak akan ke reuni? Padahal di sana nanti ketemu teman-teman kamu. Bisa nanya kabar, pekerjaan, dan ..."
"Ken kamu tahu, kan? Teman-teman aku cuma iri lihat aku dekat sama kamu, jadi kalau aku datang terus datangnya sama kamu, wah bisa-bisa aku trending di sana." Airin menjelaskan. Ken tertawa renyah.
"Ya namanya aja perginya sama cewek beken macam aku." Ken menyombongkan diri.
"Tapi, aku dengar, CEO TNT akan datang juga. Kebetulan di sana dia sebagai tamu undangan. Dia akan memperkenalkan perusahaannya. Siapa tahu aja kan, dengan kalian lebih dulu kenal, terus bakal diterima, " ujar Ken.
"Serius!" Airin langsung berantusias. Mendengar nama TNT membuat dia menggebu.
Ken mengangguk pasti. "Serius, aku denger dari ketua reuni," katanya meyakinkan.
"Oke, kalau kayak gitu aku pikir-pikir lagi," jawab Airin sembari nyengir.
Ken ikut tersenyum.
Airin kembali pada pekerjaannya setelah istirahat makan siang tadi. Dia membuat sebuah konten baru untuk menarik perhatian followers-nya.
Jam empat, Ken sudah bersiap untuk pulang.
"Lha, kok pulang?" tanya Airin. Dia melihat Ken sudah memakai tas ranselnya.
"Iya, aku ada urusan," kata Ken.
"Terus aku?" tanya Airin.
"Bukankah kamu dijemput? Ya tunggu aja," kata Ken. Membuat Airin menghela napas.
Airin terpaksa sendirian di studio. Dia coba mengatakan pada Brian untuk menjemputnya sekarang. Walaupun Brian mengiyakan, tapi tetap saja Airin harus menunggu.
Kurang dari lima puluh menit, Airin menunggu Brian. Akhirnya laki-laki itu datang. Airin bergegas untuk turun. Sebelum dia pulang, tak lupa mengunci pintu tempat kerjanya.
Brian sudah menunggunya, berdiri di samping pintu mobil. Dia menyambutnya dengan senyum manis.
Brian lantas membuka pintu untuk Airin. Sebelum akhirnya dia masuk ke pintu pengemudi.
"Kok minta dijemput lebih awal? Apa Ken ada di dalam?" tanya Brian, dia menyalakan mesin mobil dan mulai melakukannya.
"Dia udah pulang," kata Airin. "Oh ya, akhir weekend ini aku mau datang ke acara reuni universitas," kata Airin. Brian menoleh sebentar.
"Reuni? Tumben? Sama Ken?" tanya Brian penasaran. Airin mengangguk.
"Ah, sebelum aku cerita tentang reuni. Jadi, aku dapat panggilan wawancara dari perusahaan TNT, aku seneng banget. Semoga aja lulus nanti," kata Airin.
"Serius?" Rupanya Brian juga bersemangat. "Wah, selamat. Jadi, udah nggak kerja sama Ken lagi nanti," katanya. Airin tersenyum lalu mengangguk.
"Jadi awalnya aku malas buat datang. Tapi, katanya CEO dari TNT bakal datang. Kesempatan emas dong buat aku, bisa kenal langsung. Apalagi Ken bakal bantu aku ketemu langsung sama dia," kata Airin. Brian mengangguk. Dia tersenyum dan menatap Airin.
"Semoga beruntung," ucap Brian. Airin mengangguk bersemangat.
"Oh ya, hari ini adalah ulang tahun Desta. Aku udah pesen restoran dan kita makan malam bareng di sana," kata Brian.
"Oh ya? Yampun, aku nggak tahu. Tapi, aku belum beli kado, gimana dong?" tanya Airin. Brian tersenyum.
"Aku udah siapin kado spesial buat dia, jadi tenang aja," jawabnya.
Brian melajukan mobilnya pelan, macet sore hari itu membuat dia harus mengantre menunggu giliran.
"Kenapa artis seperti kamu bebas banget kencan?" tanya Airin. "Padahal wartawan bisa aja ikutin kamu," kata Airin. Brian tertawa.
"Ini Indonesia, bukan Korea. Netizen di sini banyak yang mendukung hubungan artisnya. Malah mereka kebawa baper kalo mereka lihat di sosial media. Beda kalau di Korea, mereka harus diam-diam berkencan. Kalau ketahuan ya, resikonya karir mereka terancam, fans mereka bubar. " Brian menjelaskan.
"Tapi, fans kamu juga fanatik banget," ujar Airin. Brian mengangguk.
"Memang," katanya singkat. "Ah sudah lah, kalaupun kita tertangkap, ini bukan tindak kriminal," ucap Brian. Airin mengangguk.
Airin memutuskan untuk berhenti di toko jam tangan. Dia ingin memberikan kado untuk Desta. Walaupun Brian mengatakan sudah membelikan hadiah, tetap saja Airin harus membawa juga.
Setelah memilih, dan menemukan yang cocok. Brian dan Airin kembali menuju restoran yang sudah dijanjikan.
Pukul enam lewat lima belas, mereka sampai. Airin beserta Brian berjalan menuju restoran itu dengan diantar ke meja pesanan oleh pelayan.
"Apa Desta sudah datang?" tanya Airin.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Brian.
Mereka berjalan dan akhirnya sampai. Reservasi atas nama Brian tertulis di atas meja.
"Oh ya, Mas, jangan lupa pesanannya sudah siap semua, kan?" tanya Brian pada pelayan.
Pelayan itu mengangguk sembari tersenyum ramah.
"Nanti Tuan bisa klik tombol ini saja, pesanan akan segera diantar," kata pelayan itu menunjuk sebuah tombol di atas meja.
"Ah, oke, oke," jawab Brian mengerti.
Setelah pelayan itu berlalu. Desta datang. Dia tersenyum cengengesan di depan kedua temannya itu.
"Kenapa?" tanya Airin aneh.
Desta mengambil posisi duduk di depan Brian.
"Nggak perlu repot-repot kali buat kejutan," kata Desta.
Brian tersenyum. Dia bahagia melihat Desta senang atas undangan makan malamnya.
"Oh ya, Kak Dava nggak diundang?" tanya Desta.
"Dia lagi ketemu sutradara film Cinta yang Lain. Katanya mereka mau pake aku, jadi Kak Dava konfirmasi ke sana," kata Brian menjelaskan.
"Wah, sepertinya bakal top lagi nih nama Brian," ujar Desta. Airin hanya bertepuk tangan.
"Selamat," kata Airin.
Setelah Brian menekan tombol yang diinterupsikan oleh pelayan, tak lama pesanan datang. Satu persatu makanan dihidangkan. Hingga yang terakhir adalah sebuah kue ulang tahun.
"Astaga," kata Desta melihat pelayan itu membawa kue ulang tahun, tertulis di sana umur Desta yang ke tiga puluh satu. "Aku udah tua, ngapa ada kue segala," katanya tertawa.
"Sekali-kali. Biasanya kalo ulang tahu tuh kamu selalu ada di lokasi syuting, dan Kak Dava bawa kue ulang tahun yang berujung berantakan," kata Brian. Membuat Desta tertawa. Airin ikut saja tertawa.
Mereka menikmati makan malam begitu nikmat. Desta bahkan banyak makan hari itu. Bercerita masalah mereka dan tertawa. Namun, gelak tawa itu berubah, ketika seseorang datang menghampiri.
"Wah, sepertinya ada yang berulang tahun, boleh gabung?" tanya Arga. Hal itu membuat Desta panik, dia menatap Brian yang benar-benar terkejut. Airin pun turut terkejut.