Episode 43

1941 Kata
"Arga!" pekik Desta. Arga tersenyum. "Kenapa sekaget itu?" tanya Arga. Dia tersenyum. "Boleh gabung?" Arga mengulangi pertanyaannya. Airin menatap Brian. Dia tampak gelisah, namun menutupinya. "Boleh," jawab Desta ragu. "Des," kata Airin Dia tak setuju dengan jawaban Desta. Namun, Brian memegang tangan Airin. Sehingga wanita itu diam. "Oke," kata Airin menyerah. Arga pun duduk tepat di samping Desta. "Lo apa kabar?" tanya Arga pada Desta. "Oh, gue baik," kata Desta ragu. Dia merasa tak enak karena mengizinkan Arga bergabung. "Bukankah kamu di luar negeri?" tanya Airin. Membuat mata Arga kini menatapnya. "Ah, iya. Gue baru aja pindah satu minggu yang lalu. Mungkin bakal menetap di Jakarta," kata Arga. "Oh ya," ujar Arga. Dia kembali mengarah pada Desta. "Teman lo itu ..." Ucapan Arga terhenti, karena Airin memotong pembicaraan. "Ga, jangan bahas masa lalu di sini, itu buat aku nggak nyaman," kata Airin. "Ah, oke. Maaf,"kata Arga tersenyum. Arga mengira bahwa Airin tak nyaman karena dia adalah mantan kekasihnya. "Oh ya, ini pacar kamu atau suami?" tanya Arga kini dia menatap Brian. Hal itu membuat Brian gugup. Dia meneguk saliva. "Ini calon suami aku," jawab Airin tegas. "Wah, calon suami," kata Arga. Dia mengangguk mengerti. Dia lagi-lagi tersenyum. "Apa lo udah berkeluarga, Ga?" tanya Desta. Arga menoleh, lagi dia tersenyum simpul. "Belum," jawab Arga singkat. "Gue terlalu sibuk ngejar akademik. Lo tau, kan. Gue dulu cuma main-main. Tapi, Bokap gencar banget ngasih ilmu bisnisnya. Mau nggak mau ya, gue pelajarin, gue terima, dan akhirnya gue seperti ini," kata Arga. Desta mengangguk. "Dan sepertinya saya nggak asing sama wajah Anda," kata Arga pada Brian. Laki-laki itu benar-benar terkejut. Serasa detak jantungnya berhenti, dia hanya bisa menelan ludah. "Apa?" tanya Brian ragu. Desta dan Airin juga tampak panik. Tatapan Arga juga tak biasa. "Ah, dia adalah seorang artis, jadi nggak heran kalo kamu familiar sama wajahnya." Desta menjelaskan. "Aktor?" tanya Arga. "Iya, aktor," jawab Desta. "Ah, pantas saja. Mungkin gue pernah lihat di TV," kata Arga lagi. Kecanggungan terjadi diantara mereka berempat. Brian sibuk dengan rasa khawatirnya. "Sepertinya gue mengganggu di sini," kata Arga sadar diri. "Enggak, enggak," jawab Desta segera. "Lagi pula kita sudah selesai," lanjutnya. "Aku permisi dulu, mau ke toilet," kata Brian tiba-tiba. Dia berdiri, berjalan sendirian menuju toilet. "Des, sekarang pekerjaan lo apa?" tanya Arga. "Ah, gue ya gini aja. Nganggur," kata Desta santai. "Gimana kalo kerja sama gue?" ucap Arga menawarkan. "Des, kayaknya kita harus cepet pulang, deh. Soalnya aku takut kemalaman," timpal Airin. "Ah," jawab Desta lalu mengangguk. "Rin, kita baru ketemu, kok buru-buru," kata Arga tak setuju. "Lain kali, nanti bisa ketemu lagi. Lagipula aku ada urusan." Airin meyakinkan. "Yah," keluh Desta kecewa. "Des, kamu samper Brian di toilet, aku tunggu di luar," kata Airin. Desta mengangguk setuju. "Kayaknya kalian dekat banget," kata Arga. Dia berhasil menghentikan langkah Airin, dan mengurungkan niat Desta akan melangkah. Arga mengangguk. "Sepertinya kalian dekat banget sama artis itu," kata Arga mengulangi. "Bukankah dia pernah kena skandal?" tanya Arga. "Ga," jawab Desta. Tapi, Airin melarangnya menjawab. Dia mengisyaratkan Desta untuk tetap pergi. Desta menurut. Airin kini mengarah pada Arga. "Kalau kamu datang buat menghancurkan hidup orang lagi, lebih baik jangan pernah muncul lagi," kata Airin. Lantas dia meninggalkan Arga sendirian di meja itu. Arga melihat punggung Airin semakin menjauh drinya hingga dia menghilang dari balik pintu restoran. "Lo nggak berubah, Rin. Selalu melindungi dia," kata Arga. Airin menunggu Brian dan Desta di depan restoran. Tak lama dua laki-laki itu keluar. "Ayo!" Brian meraih lengan Airin. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Airin pada Brian. Dia hanya mengangguk sembari tersenyum. "Biar aku yang bawa mobilnya," kata Airin. Brian menggelengkan kepala. "Enggak, biar aku aja." Dia tak setuju. "Yan, aku langsung ke tempat lo, ya." Desta berucap. Karena mereka menggunakan mobil yang berbeda, jadi sudah pasti terpisah nanti. "Oh ya, Thanks buat kadonya," kata Desta mengangkat dua buah paper bag di tangannya. Tadi saat acara makan, Airin dan Brian sudah memberikan kado itu. Airin mengangguk sembari tersenyum. "Ya udah, gue antar Airin balik dulu," kata Brian. Desta mengangguk dan berjalan menuju mobil yang dikendarainya. Airin dan Brian terdiam di dalam mobil. Hanya suara mesin mobil dari luar yang menghiasi kesunyian mereka. "Apa kamu baik-baik aja?" tanya Airin membuka pembicaraan. "Tentu, aku baik-baik aja," jawab Brian datar. "Tapi kenapa aku sekhawatir itu melihat kamu, tak apa, sepertinya dia banyak berubah." Airin menenangkan Brian. "Dulu mungkin dia belum dewasa, tapi aku yakin dia nggak akan melakukan hal yang sama kayak dulu," kata Airin. "Kamu mengatakan seperti itu, bukan karena kamu mantan kekasih dia, kan?" tanya Brian. Airin tersenyum dan menggelengkan kepala. "Enggak. Dia cuma masa lalu." Airin tersenyum. "Tapi, emang aslinya dia baik, kok." Airin menjelaskan. Brian menghela napas. Airin mengerti. Dia lebih baik diam dan tak membahas tentang Arga di depan Brian. "Oh ya, hari Minggu nanti, mau temani aku reuni?" tanya Airin penuh harap. Brian menggelengkan kepala. "Maaf, hari Minggu nanti ada casting untuk film baru," ujar Brian. "Ah, serius? Wah, semoga beruntung," kata Airin menyemangati. Brian mengangguk sembari tersenyum. Brian langsung mengantar Airin pulang. Setelahnya dia segera kembali ke apartemennya. Karena memang Desta sudah menunggunya. Sesampainya di apartemen dia menjatuhkan tubuhnya di sofa di mana Desta juga tengah duduk di sana dan menikmati serial televisi. "Udah antar Airin pulang?" tanya Desta tanpa menoleh. "Udah," jawabnya lesu. Desta menoleh. "Kenapa? Karena Arga lagi?" tanya Desta. "Sepertinya dia sudah berubah. Nggak mungkin dia melakukan hal kekanak-kanakan seperti dulu." Desta berucap jujur. "Tapi, apa dia kenal sama gue?" tanya Brian. "Entahlah," jawab Desta sekenanya. "Dan Airin, gue takut perasaan dia goyah karena kedatangan Arga." Brian menatap langit-langit apartemennya. "Maksud lo? Airin bakal balik lagi ke Arga?" tanya Desta. "Enggak mungkin, Airin itu bukan orang yang seperti itu," kata Desta yakin. Brian mengangguk setuju. Airin memang tipe yang setia. Dia tak mungkin menghianati cinta Brian. "Jika dari pihak Airin setia, nggak menutup kemungkinan Arga yang akan mengejar cinta Airin lagi." kata Brian. Desta menatap Brian nanar. "Positif thinking aja, sih. Dia udah jadi milik lo sekarang. Yang harus lo lakukan cuma jagain dia." Desta menasehati. Brian mengangguk lagi. _____ Hari Minggu. Aula yang didesain oleh panitia reuni sudah siap. Meja-meja yang sudah tertata rapi, bahkan makanan sudah delapan puluh persen ada di atas meja. Ken masih sibuk dengan arahan dari ketua reuni. "Pokoknya acara ini harus sukses," kata sang ketua. "Dan lagi, tamu kita ini akan datang sekitar pukul sebelas nanti, itu artinya satu jam setelah acara dimulai." Dia menjelaskan dengan lantang. "Oke, sebentar lagi bakalan pada Dateng, kita harus bersiap menyambut mereka." Laki-laki berkemeja biru tua kotak-kotak itu menginterupsi. Setelah breefing selesai, panitia bubar. Ken bergegas keluar. Dia mengambil ponselnya. Dengan maksud akan menghubungi Airin. Setelah telepon tersambung, dia segera berbicara. "Jadi datang?" tanya Ken. "Iya, ini lagi di jalan," jawab Airin di seberang. "Oke, aku tunggu di depan ya." Ken menawarkan diri. "Nggak perlu, nanti yang ada cewek-cewek pada bergosip." Airin menolaknya dengan halus. Sangat jelas jika Ken tertawa. "Kamu yakin, mau masuk sendiri?" ujar Ken tak yakin. "Enggak sih," jawab Airin bimbang. "Ya udah, tungguin," lanjutnya. Ken tersenyum dan mengiyakan. Lima belas menit kemudian, Airin sampai. Ken menyambutnya dengan lambaian tangan. Banyak yang sudah hadir dan menempati kursi yang disediakan. Airin tersenyum, dia bergegas berjalan ke arah Ken. "Lama banget," protes Ken. "Iya, bisnya lagi nggak bersahabat," kata Airin sekenanya. "Dibilang aku jemput aja," kata Ken. Airin menggelengkan kepala. "Apa CEO-nya udah datang?" tanya Airin penasaran. "Belum, dia katanya datang jam sebelasan." Ken berjalan. Airin terus mengikuti langkah Ken. Setelah memasuki gedung. Seseorang melambaikan tangan kepada Ken. "Ken!" panggilnya lantang. "Surya?" kata Airin. "Kamu masih dekat sama dia?" tanya Airin pada Ken. Ken tersenyum pada cowok bernama Surya. "Jarang komunikasi sekarang," jawab Ken. Mereka mendekat ke arah meja yang diduduki Surya. "Wah, makin serasi aja sekarang," kata Surya tanpa basa-basi. Dua orang yang duduk semeja dengan Surya mengangguk bersamaan. Airin mengambil posisi duduk di samping Ken. "Udah jadian? Atau mau sebar undangan?" tanya Jack si laki-laki kacamata berambut keriting. "Ngaco! Kita cuma teman aja, kok," kata Ken. "Temen tapi menikah?" celetuk Hesty yang saat itu tengah menikmati cemilan di atas meja. Semua orang tertawa. Airin hanya tersenyum tipis. Airin satu tingkatan dengan Jack. Sedangkan Hesty dan Surya sama dengan Ken. Satu tahun di atas Airin. "Oh ya, Secret tambah oke aja," puji Hesty. "Perusahaan gue tempat kerja kalah pamor," katanya lalu ketawa. "Rekrut gue dong, Ken," pintanya. "Kalo gue rekrut lo, bisa-bisa gue diamuk sama Surya. Dia kan yang ngidam pengen satu perusahaan sama lo," kata Ken. Surya terbahak. "Bisa aja lo, Ken." Surya lagi-lagi tertawa. "Oh ya, Rin. Gue denger sama kasus kematian adek lo, gue turut berduka cita." Jack membuka suara. Airin mengangguk. "Itu udah lama banget," katanya. "Iya, gue nggak bisa berbela sungkawa waktu itu. Karena gue masih magang dan ditugasin di Kalimantan sama Bos. Hampir setahun, namanya juga anak baru, jadi harus mau dimana aja," kata Jack menjelaskan. "Terus dipindah lagi ke Surabaya," lanjutnya. "Sekarang sih mending, gue udah netep di kantor. Jadi, nggak bisa ke mana-mana lagi," katanya menjelaskan. Airin mengangguk mengerti. "Oh ya. Iqbal nggak datang?" tanya Hesty. "Mana mungkin dia datang! Apalagi Ken yang jadi panitia," celetuk Surya. Ken tertawa kecil. Surya tahu hubungan Iqbal dan Ken tak akur sejak di kampus. Mereka mengobrol saking asiknya. Terhenti ketika sang ketua membuka acara. Sambutan demi sambutan dibawakan oleh beberapa orang di depan sana. Airin sudah tak sabar karena ingin melihat CEO dari TNT. Namun, sayangnya ada pengumuman jika CEO itu akan datang terlambat, jika memungkinkan. Membuat Airin kecewa. Ken hanya tersenyum. Padahal Airin datang hanya untuk bertemu langsung dengan dia. "Ken, aku mau pulang aja," kata Airin sedikit berbisik. "Lho, kok pulang?" Ken bingung. "Mau gimana? Niatku kan cuma ketemu sama CEO itu." Airin menjelaskan. "Sebentar lagi, biar nanti aku antar," kata Ken. Airin mengangguk setuju. Namun, tak lama ponselnya berdering. Ternyata telepon dari Brian. "Halo," jawab Airin segera. "Masih reuni? Ternyata casting-ku besok sore. Hari ini sutradaranya lagi ada urusan," kata Brian. "Oh gitu, lalu?" tanya Airin. "Pulang jam berapa? Biar aku jemput," kata Brian. "Pengennya pulang sekarang," jawab Airin sekenanya. "Oke, aku jemput. Share lokasi, ya." Brian memerintah. "Oke, oke," kata Airin bersemangat. Setelah telepon terputus, Airin segera mengirimkan lokasinya saat ini. "Aku pulang sekarang. Brian jemput aku," kata Airin berbisik lagi. Mau tak mau Ken mengangguk mengiyakan. Walaupun dia nggak rela. Tiga puluh lima menit, Brian sampai. Dia mengirimkan pesan pada Airin bahwa dia sudah di depan. Brian menunggunya di dalam mobil. Menunggu Airin keluar. Tak lama Airin keluar dan berlari kecil. Brian segera menurunkan kaca pintu mobilnya dan melambaikan tangan. "Jangan lari, nanti jatuh," katanya setelah jarak Airin dekat. Airin tersenyum. Dia segera masuk ke dalam mobil. "Kok bisa diundur?" Pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut Airin. "Katanya istri Pak Derbi di rumah sakit," kata Brian. Derbi adalah sutradara yang akan meng-casting Brian. "Oh gitu," jawab Airin mengangguk mengerti. Brian melajukan mobilnya meninggalkan pelataran gadung itu. "Mau makan siang?" tanya Brian. Airin mengangguk cepat. "Oh ya, tapi kayaknya aku harus mampir dulu ke butik. Karena mau kasih Mama hadiah. Kebetulan dia ulang tahun," kata Brian. Airin hanya menurut, mengangguk mengiyakan. Brian menuju butik langganannya. Kebetulan tak jauh dari tempat Airin menyelenggarakan reuni. "Sebagai hadiah juga, kamu pilih baju yang kamu suka," kata Brian. Airin menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" tanyanya. Brian mengangguk. "Mbak, temani dia memilih baju," pinta Brian pada salah satu pelayan butik. "Baik, Tuan." Pelayan itu menjawabnya dengan ramah. Brian memilih baju untuk ibunya. Sedangkan Airin sibuk memperhatikan si pelayan toko menjelaskan detail baju. Langkah Brian berhenti ketika dia akan berjalan menuju meja kasir. Dia melihat sosok Arga di depannya. Arga tersenyum. Namun, Brian sibuk menyembunyikan rasa takutnya. "Maafin aku," kata Arga tiba-tiba. Hal itu membuat Brian terkejut. Dia bingung kenapa Arga meminta maaf.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN