Episode 44

1142 Kata
Brian mundur satu langkah. Kakinya tampak ragu untuk berdiri. Dia ketakutan, namun mencoba menyembunyikannya. "Apa? Kenapa meminta maaf?" tanya Brian ragu. "Karena ..." Belum selesai Arga berbicara, Airin datang. "Apa ini bagus?" tanya Airin. Dia tak menyadari adanya Arga di sana. Brian segera menoleh, wajahnya penuh keringat. "Apa? Oh, bagus," jawabnya ragu. Airin bingung. Dia mendapati Arga setelah Brian sedikit menggeser tubuhnya. "Arga?" pekiknya. Arga tersenyum. Senyum yang membuat Airin sangat muak. "Sepertinya Jakarta sangat sempit. Kenapa kita selalu bertemu di saat waktu yang tak terduga," kata Arga santai. "Ngapain kamu di sini?" tanya Airin ketus. "Ah, aku? Lagi beli baju, kebetulan aku dapat undangan acara. Tapi, aku terlambat karena baju yang aku pesan, nggak bisa diambil sama sekretaris pribadiku," ujar Arga santai "Well, aku yang ambil sendiri," lanjutnya. "Apa kamu sudah selesai?" tanya Airin pada Brian. Brian mengangguk. "Ayo! Aku suka yang ini," katanya mengangkat satu baju ditangannya. Airin menggandeng tangan Brian menuju tempat kasir. Melewati Arga yang tengah menatap mereka berdua. Arga tersenyum pada tempatnya. Dia mengedikkan bahu, sebelum akhirnya pergi dari tempat itu. Brian terlihat lega, ketika melihat Arga sudah pergi. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Airin. Dia selalu melempar pertanyaan yang sama ketika Brian bertemu dengan Arga. Brian tersenyum tipis. Dia menganggukkan kepala pelan. "Kenapa dia selalu muncul di saat yang tepat?" tanya Airin lirih. Dia terlihat kesal. Setelah Brian membayar semua belanjaannya. Dia dan Airin kembali ke mobil. "Apa kamu mau ikut menemui Ibuku?" tanya Brian. Airin menoleh. Dia sudah duduk di samping Brian. "Apa nggak masalah?" tanya Airin balik. "Kenapa?" Brian bingung. "Sepertinya Ibu kamu nggak suka sama aku," kata Airin. Brian menatap Airin. Dia tersenyum, lalu berkata, "Dia memang seperti itu dengan orang baru. You know, lah," kata Brian. Airin mengangguk mengerti. "Cuma mau nganterin hadiah aja, kok." Brian memberi tahu. Airin pun akhirnya setuju dengan anggukan. Brian segera melajukan mobilnya menuju rumah Ibunya. Airin terlihat gugup. Namun, berkali-kali Brian menenangkan. Sampai akhirnya mereka sampai pada rumah mewah bernuansa putih. Rumah itu tampak sangat bagus, namun sepi. Bak istana yang dijaga oleh dua orang satpam. Brian menekan klakson mobil agar sang satpam membukakan pintu. Setelah melihat Brian yang datang hari itu, pintu segera dibuka. "Wah," gumam Airin. Dia melihat halaman rumah Brian begitu besar. "Ini rumah kamu?" tanya Airin konyol. "Iya," jawab Brian singkat. "Dari dulu?" Mendengar pertanyaan itu, Brian tertawa. "Iya, lah. Dari dulu rumah aku," katanya. "Ayo!" ajaknya. Airin mengikuti Brian membuka pintu mobil dan keluar. Airin masih kagum melihat rumah di depannya. Begitu megah untuk ditinggali. "Tapi, percaya deh. Kamu nggak bakal betah, walaupun cuma satu jam di dalam," kata Brian. Airin tak percaya. "Serius?" tanyanya. Brian mengangguk sembari tersenyum. Airin jadi ingin membuktikan. Brian masuk tanpa mengetuk pintu. Dalam rumah itu benar-benar megah. Membuat Airin lagi-lagi melongo. Furniture yang digunakannya terlihat serba mahal. "Wah," gumamnya lagi. Ada lukisan sangat besar. Tapi tak ada satupun foto keluarga di sana. "Apa benar ini rumah dia?" tanya Airin dalam hati. "Rupanya yang datang Tuan Muda," sapa sang kepala pelayan di rumah itu. Brian tersenyum dan mengangguk. "Ini orang yang aku percaya di rumah ini," kata Brian memperkenalkan Ami. "Namanya Bu Ami. Dia udah senior di sini. Ngurus aku dari kecil sampai udah besar," ucap Brian menjelaskan. Airin tersenyum dan menjabat tangan Ami. "Aku Airin," katanya memperkenalkan diri. "Airin? Sepertinya namanya familiar banget," kata Ami. Brian tersenyum dan mengangguk. Ami tak percaya. Dia membulatkan matanya. "Serius? Gadis itu?" tanya Ami. Brian mengangguk lagi sebagai jawaban. "Oke, kamu tunggu di sini. Bu Ami yang akan temani kamu. Aku ketemu Mama dulu," kata Brian. "Sepertinya jangan sekarang," kata Ami. Brian mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya penasaran. Belum sempat Ami menjawab, terdengar suara teriakan yang sontak membuat Airin terkejut. "Tadi pagi sebelum Ayahmu ke kantor, mereka bertengkar hebat," ujar Ami. "Jadi, ya seperti itu. Sampe sekarang ngamuk-ngamuk." Brian mengangguk. Dia mempersilakan Airin untuk duduk. Dengan cepat, Ami mengambilkan minuman. Airin ingin bertanya, tentang foto keluarga. Dia lagi-lagi memandang tembok berwarna putih hanya terdapat beberapa lukisan kecil. "Kenapa? Kenapa nggak ada foto keluarga?" tanya Brian, seolah dia tahu apa yang ada dipikiran Airin. Airin menoleh segera, dia tersenyum simpul dan mengangguk. "Ada di dalam, kata Bokap, kalau ada foto di ruang tamu, bisa-bisa keluarga kita terekspos. Di dalam juga foto lama banget," kata Brian menjelaskan. "Mau lihat?" tanya Brian. "Lihat apa?" timpal Ami dengan dua gelas minumannya. "Airin bingung, kenapa nggak ada foto keluarga di sini," ucap Brian lalu tersenyum. Ami tersenyum. "Tuan nggak mau keluarganya diekspose orang lain. Dia malas menjawab pertanyaan tamu-tamu yang datang saat menanyakan keluarga." Ami menjelaskan. Airin mengangguk mengerti. "Kalian sudah makan?" tanya Ami. "Sudah Bu," jawab Airin. "Tapi aku masih lapar, aku juga kangen banget masakan Ibu," kata Brian. Brian memang memanggil Ami dengan sebutan Ibu. Ami adalah pengasuh Brian sedari kecil. Hubungan mereka dekat, melebihi hubungan antara Febi dan Brian. Ami tersenyum. "Aku siapkan dulu," kata Ami lalu beranjak dari duduknya. "Ini rumah emang sepi banget?" tanya Airin. Dia tak melihat siapapun di rumah itu. Kecuali Ami. Brian mengangguk. "Bokap kalo Minggu main golf, ada banyak pembantu di belakang. Tapi, pasti mereka lagi sibuk." Brian menjelaskan. "Semuanya sudah siap," kata Ami sembari berjalan menuju keduanya. "Ayo!" ajak Brian. Airi. Mengikuti langkah Brian. Mereka menuju tempat makan. Rumah besar itu memang sangat sepi. Airin baru menemukan foto keluarga di ruang keluarga. Ada wajah Attar di sana. "Itu Kakak kamu?" tanya Airin menatap foto berukuran sekitar 12R. Brian mengangguk. "Dia udah nggak ada," kata Brian. "Kenapa?" tanya Airin penasaran. "Dia dibuat gila sama Ayah." Brian menjawab sembari berjalan. Airin kembali mengikuti langkahnya. "Kenapa?" Keingintahuan Airin ternyata mengakar. "Kita mau makan," kata Brian. Mereka sampai di meja makan. Masakan yang disajikan seperti di restoran mewah. Ada buah-buahan juga untuk mencuci mulut. "Kenapa bisa gitu?" tanya Airin lagi. Brian menatap Airin, hingga akhirnya dia menjawab. "Dia memiliki gangguan bipolar seperti Mama. Tempramental, emosinya berubah dalam seketika. Ayah membawa dia ke rumah sakit jiwa," kata Brian. "Lalu meninggal di sana?" tanya Airin. Brian menggelengkan kepala. "Sejak saat itu, kita nggak tahu lagi kabar dia. Ayah melarang kita datang ke sana. Entahlah dia masih hidup atau sudah mati," kata Brian. "Apa kamu nggak pengen ke sana?" tanya Airin. Brian terdiam. Dia menghela napas sebelum akhirnya kembali berbicara. "Aku takut, pas ketemu dia nanti, dia nggak kenal sama aku," ucap Brian. "Makan," kata Brian mempersilakan. Airin menyantap makanan di depannya. Namun, saat tengah menikmati makanan itu, terdengar suara teriakan dari lantai dua. Suara pintu digedor-gedor mungkin dengan kursi. Brian menghela napas. Dia menghentikan makannya. "Siapa?" tanya Airin lirih. Teriakan itu semakin intens. Membuat Brian akhirnya berdiri. Airin mengikutinya. Dia menaiki anak tangga. Suara itu semakin kencang. Airin terkejut. Dia melihat Brian begitu marah. "Diam!" teriak Brian. Seketika teriakan dari dalam ruangan itu hening. "Attar, selamatkan Mama. Mama, nggak gila," kata Febi memelas. "Buka pintunya," pintanya. Airin terkejut. Ibunya Brian memang sengaja dikunci dari luar. Terlihat kunci itu masih tergantung di pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN