"Separah itukah?" batin Airin.
Brian menatap pintu itu dengan nanar. "Memalukan!" pekiknya lirih. Airin meraih tangannya, membuat kekasihnya itu menoleh. Airin mencoba menenangkan Brian. Berhasil, ketika laki-laki itu tersenyum.
"Maaf, kamu jadi tahu kegaduhan di rumah ini," ujar Brian. Airin tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Nggak apa-apa," jawabnya. Ami berjalan tergopoh-gopoh. Dia ngos-ngosan menaiki anak tangga.
"Biar aku aja yang urus," kata Ami. Brian menggelengkan kepala.
"Aku yang akan masuk, Bu." Brian lalu membuka kunci pintu itu. Baru membuka pintu, Febi langsung memeluknya.
"Attar, selamatkan Mama. Ayo! Kita pergi dari sini, kita tinggalkan Ayahmu sendirian," kata Febi.
"Ma, Mama harus istirahat." Brian mencoba tenang. Febi menggelengkan kepala cepat.
"Ma," ucap Brian mencoba melepaskan pelukannya.
Febi tampak ketakutan.
"Besok, jadwal Mama ketemu dokter, pastiin Mama datang. Desta yang akan jemput nanti," kata Brian. Febi menggeleng lagi.
"Mama mau kamu yang antar," kata Febi tegas.
"Nggak bisa, Ma. Aku ada kerjaan besok." Brian menolaknya dengan halus. "Hadiah ulang tahun Mama ada di bawah. Aku harus pulang," kata Brian lalu menggandeng tangan Airin.
Mereka menuruni anak tangga. Sedangkan Febi diambil alih oleh Ami. Wanita itu lantas menuntun Febi ke dalam kamar lagi.
"Nyonya harus istirahat," kata Ami halus.
"Wanita itu merebut Attar dariku!" gerutu Febi. "Aku harus menjauhkan mereka kan, Bi?" tanya Febi. Ami tak menjawab.
"Iya, aku harus menjauhkan mereka. Biar Attar hanya memperhatikan ku," kata Febi lagi. Ami menuntun Febi hingga tempat tidur, dan membantu membaringkannya.
Di bawah, Airin dan Brian tak melanjutkan makan.
"Ayo, kita pulang," ajak Brian.
"Lalu, bagaimana dengan makanan kita?" tanya Airin.
"Nanti Ibu yang akan membereskan," kata Brian. Airin mengangguk saja. Dia hanya bisa mengikuti langkah Bria keluar dari rumah itu.
Rumah mewah tanpa kedamaian, mungkin bagi Brian yang tak betah di dalam rumah itu.
Keduanya lantas masuk ke dalam mobil. Brian menghela napas lega.
"Miris ya, kehidupan keluarga gue?" ujar Brian. Dia bersandar pada kursi kemudi.
"Yan," jawab Airin. Dia berniat untuk menghibur. Namun, Brian berbicara lagi.
"Semua karena Ayahku. Dia ingin menjadi nomor satu di negara ini, dia ingin menjadi yang terbaik di negara ini, dan dia ingin menguasai negara ini, dengan menghancurkan keluarganya sendiri." Brian menyalakan mesin mobil.
"Mungkin Ayah kamu ingin melakukan yang terbaik untuk kalian. Tapi, dengan cara yang salah," kata Airin. Brian melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya.
Dia menekan klakson untuk menyapa scurity yang tengah bertugas. Dua orang scurity sudah membuka pintu dan berdiri memberikan hormat pada Brian dengan membungkukkan sedikit badannya.
"Benar,makanya jangan percaya sama orang di rumah ini," kata Brian. Dia benar-benar keluar dari gerbang sekarang.
"Lalu Ibu Ami?" tanya Airin.
"Dia pengasuhku sejak kecil. Kita dekat, dia orang yang baik. Tapi, Ayah memanfaatkan. Orang yang polos dan hanya butuh uang. Seringkali menjadi mata-mata Mama, untuk dilaporkan ke Ayah." Brian bercerita. "Tapi, dia tak pernah melaporkan semua kenakalanku dulu, mungkin," kata Brian.
Airin mengangguk. Dia mengerti kini. Ya memang kelakuan Wiratayudha arogan. Dia benar-benar ingin menghancurkan keluarganya sendiri.
"Oh ya, besok mau aku antar ke perusahaan baru itu?" tanya Brian mengalihkan pembicaraan.
Airin menggelengkan kepala cepat. "Enggak. Aku mau merasakan sensasi baru, tes wawancara kayaknya karyawan baru," kata Airin.
Brian mengerutkan kening. "Maksudnya? Bukannya aku nggak bantu apa-apa?" tanya Brian bingung.
"Karyawan baru yang datang dengan bus, yang memakai seragam hitam putih, seperti anak yang baru akan menerima pekerjaan." Airin berucap sembari tersenyum. Brian tersenyum, dia mengangguk mengerti sekarang.
Brian mengajak Airin berjalan-jalan sebentar, sebelum akhirnya nanti dia mengantarnya pulang.
"Kita mau ke mana lagi?" tanya Airin.
"Mumpung lagi di luar, aku tunjukkin satu tempat buat ngilangin stress," kata Brian.
"Ada tempat yang seperti itu?" tanyanya polos. Brian mengangguk sembari tersenyum.
Brian melajukan mobilnya kencang. Sebelum akhirnya berhenti karena lampu merah.
"Di sana, kamu bisa tanyakan apapun ke aku. Dan aku akan jawab dengan jujur," kata Brian. Airin semakin penasaran dengan tempat yang akan dia datangi ini. Airin hanya mengangguk mengerti.
Brian menepikan mobilnya. Airin hanya menurut, keluar dari mobil mengikuti Brian. Di sekeliling tempat itu sepi, sepanjang jalannya hanya pohon Pinus. Entah apa yang akan dilakukan oleh Brian.
"Kita mau ke mana? Memang nggak apa-apa, kalo parkir mobil di sini?" tanya Airin bingung.
"Nggak apa-apa, ayo," ajak Brian. Airin menelusuri jalan yang benar-benar kanan kirinya itu pohon Pinus.
"Kita mau ke mana, sih?" tanya Airin.
"Ikut aja," kata Brian.
"Kamu kok tau-tauan tempat kayak gini," katanya. Brian menoleh dan tersenyum.
Mereka sampai pada satu danau. Pemandangannya indah banget. Airnya tenang, dan berwarna kehijauan. Namun, sangat bersih.
"Wah!" kata Airin. Dia benar-benar baru melihat tempat ini.
"Bagus banget," katanya lagi bergumam.
Brian mengangguk. "Aku menamainya danau kejujuran," kata Brian. "Apapun yang aku katakan disini semuanya bersifat rahasia, dan itu jujur dari lubuk hati aku," ucap Brian.
Airin mengangguk.
"Apa kamu nggak ingin ketemu Kakak kamu?" tanya Airin. Brian menoleh dan menatap Airin.
"Kenapa?" tanya Brian. "Iya, aku pengen sekali aja ketemu sama dia. Pengen tahu gimana keadaan dia, itu kalau dia masih hidup," kata Brian.
"Mau aku bantu? Tidak, aku antar ke sana," kata Airin. Brian mengerutkan kening.
"Serius?" tanya Brian.
Airin mengangguk segera. "Jika kita punya waktu senggang, kita ke sana," kata Airin. Brian tersenyum dan mengangguk.
Keduanya lantas menatap danau, air yang tenang itu membuat pikiran mereka benar-benar ikut tenang.
"Apa kamu sangat mencintaiku?" tanya Airin lagi. Brian menoleh lagi ke arah Airin.
"Tentu, aku sangat mencintai kamu," kata Brian. Dia menatap Airin lekat.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin aku," kata Brian. Airin tersenyum dan mengangguk.
____
Pagi ini Airin sudah sangat ribut. Dia mencari kemeja berwarna putih, hingga seluruh lemarinya berantakan.
"Perasaan ada di sini," kata Airin panik. Hingga Hilda masuk dan menampakkan kepalanya.
"Cari ini?" tanya Hilda. Kini dia sudah sempurna ada di mata Airin. Tangannya memegang kemeja putih yang masih digantung.
Airin menghela napas lega. "Iya," jawabnya singkat.
"Cepat! Nanti bisa terlambat," kata Hilda. Airin segera bergegas.
Jam enam lewat empat puluh lima menit, Airin keluar dari rumah. Padahal tes interview dilakukan jam sepuluh hari ini. Dia sengaja datang sebelum jamnya. Karena sudah pasti nanti banyak peserta. Berlatih untuk persiapan, dan santai saat di jalan.
Airin sampai di depan perusahaan, pukul delapan. Sudah lebih dari lima puluh orang pelamar, dengan seragam sama seperti dirinya tengah menunggu di lobi utama. Gedung itu sangat besar. Airin bergabung dengan mereka.
Seorang petugas keamanan memberikan nomor antrian. Nanti nomor itu digunakan untuk mengikuti tes wawancara.
Airin tersenyum pada wanita muda yang tengah duduk. Dia mengambil posisi duduk di sampingnya.
"Interview juga?" tanya Airin. Wanita itu mengangguk sembari tersenyum.
"Sama, semangat," katanya menyemangati dirinya dengan Airin. Airin tersenyum.
Pukul sembilan, seorang karyawan yang berpakaian kantor datang.
"Semuanya berjumlah seratus lima orang, apa ada nomor urut seratus lima?" tanyanya dengan suara lantang. Yang memiliki nomor urut itu pun mengangkat tangan.
"Ada Bu," jawabnya pasti.
"Oke, sekarang ikut saya ke lantai tiga. Nanti interview akan diadakan di sana," katanya lagi. Dengan kompak peserta hitam putih pun mengikuti langkahnya. Alih-alih menggunakan elevator untuk naik ke lantai tiga, dia sengaja menggunakan tangga darurat untuk sampai ke sana.
Mereka menurut mengikuti tanpa bersuara. Gedung itu tampak sangat bagus, mewah, dan juga besar.
Beruntung yang akan bekerja di sana nanti. Airin juga berharap akan diterima di perusahaan baru ini, sama seperti yang lainnya.
Interview dilakukan per lima orang, jadi dari nomer urut satu sampai lima, begitu seterusnya. Airin yang mendapat giliran nomor antrian empat puluh empat menunggu giliran.
Dia masih bisa belajar interview. Gugup sudah pasti, namun dia mencoba tenang.
Kegugupannya semakin bertambah saat nomor yang dia pegang semakin mendekat. Airin mencoba menenangkan diri dengan mengatur napas, menghirup dan membuangnya. Dia melakukannya berulang-ulang.
"Empat puluh satu, dua, tiga, empat, lima, silakan masuk!" teriak orang tadi dengan suara lantang.
Airin bangkit, dia gugup tapi masih bisa mengendalikannya. Sebelum masuk ke ruangan, mereka diberi pengarahan.
"Ada lima orang yang akan meng-interview kalian, jangan gugup, kalian harus fokus, dan jawab pertanyaan mereka dengan jelas, mengerti?" kata orang tadi. Airin dan keempat rekannya mengangguk mengerti.
"Tarik napas! Relaks," perintahnya sebelum masuk. Semuanya melakukan hal itu untuk menjadi relaks.
Airin masuk dan duduk berjejer dengan empat rekannya. Satu per satu pertanyaan dilemparkan oleh pihak perusahaan. Keempatnya menjawab dengan jawaban yang pasti dan tegas. Termasuk juga Airin.
Namun, saat ditanya pengalaman kerja di perusahaan lama, Airin ragu untuk menjawabnya.
"Waktu itu saya dipecat. Karena saya dianggap tidak proporsional. Mungkin, memang benar, tapi keadaan saya waktu itu tidak memungkinkan. Saya tak bisa meliput dan membawakan berita kematian adik saya sendiri di waktu yang sangat mengejutkan. Waktu itu saya drop, sempat pingsan karena benar-benar terkejut. Dan saya dipecat karena itu." Airin menjelaskan. "Setelah itu, saya bekerja sama dengan temanku, menjalankan blog, menjadi paparazi dan mengikuti artis tanpa sepengetahuan mereka," kata Airin.
Semua orang di ruangan itu tentu berkasak-kusuk tentang pengalaman Airin.
"Kalau boleh tau, apa nama Blog atau sosial media yang kamu jalankan? Sekarang banyak sekali para wartawan yang menjalankan pekerjaannya sendiri, untuk mereka unggah di media sosial," tanya si pewawancara yang duduk di kursi paling tengah.
"Secret," jawab Airin tegas.
"Wah Secret," kata peserta lain.
"Secret? Bukankah sekarang semakin nomor satu? Banyak banget investor yang ingin bergabung dengan dia, benar, kan?" tanya pewawancara perempuan.
Airin mengangguk sembari tersenyum. Dia bangga Secret dikenal banyak orang. "Betul sekali," kata Airin.
Setelah sesi wawancara Airin selesai. Semuanya pun keluar. Mereka merasa lega. Langsung saja Airin diserbu pertanyaan oleh keempat orang yang tadi masuk bersamanya.
"Wah, Kakak dari Secret?" tanya peserta laki-laki bernama Zyan.
Airin mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.
"Aku tuhpenasaran banget sama cara kerja Secret. Bisa tepat, bisa benar-benar fakta, dan bisa banget bikin berita panas," kata Zyan lagi.
"Padahal aku nggak banyak kerja, temanku yang kerja, aku hanya buat berita dan mengunggah," kata Airin.
"Wah, berarti Kakak udah ahli banget," timpal si Marsya yang menggunakan kaca mata.
Airin menggelengkan kepala. Dia tak mau sombong di depan teman barunya.
"Oke, oke, waktunya makan siang. Kalian bisa menikmati makanan di kantin perusahaan. Tunjukan saja kartu pengenal kalian." Suara sang HRD menggema di ruang tunggu. "Istirahat sampai jam satu, kembali lagi untuk wawancara selanjutnya. Hari ini juga langsung pengumuman, jadi diharap semuanya menunggu," katanya lagi. Peserta semuanya mengiyakan dan berhambur bubar dari ruang tunggu.
"Kak, aku Jessi," kata seseorang mendekat ke arah Airin. Dia mengimbangi jalannya Airin. "Aku yang tadi masuk sama Kakak," kata Jessi lagi.
Airin tersenyum. Dia menyambut tangan Jessi. "Aku Airin," kata Airin.
Mereka berjalan bersama menuju kantin.
Kantin itu terlihat sangat besar, tak banyak karyawan di sana. Mungkin karena memang perusahaan masih baru, dan hari ini dikhususkan untuk tamu peserta wawancara. Kantin itu sangat rapi dan bersih.
"Benar-benar bonafit," kata Airin. "Perusahaan tempat kerjaku dulu, nggak seperti ini," katanya.
"Serius, Kak?" tanya Jessi. "Maklum lah, aku belum pernah kerja di perusahaan," katanya.
Airin tersenyum dan mengangguk. Mereka mengantre untuk bergantian mendapatkan makanan dari kantin yang sudah dipersiapkan. Tak sampai setengah jam Airin sudah bisa mendapatkan nasi dan lauknya. Terlihat sangat enak masakannya juga.
Airin mengambil posisi duduk di meja paling depan. Dia tak ingin mencari tempat duduk yang jauh dan hanya membuang waktu untuk berjalan.
Jessi terus mengajaknya berbicara. Airin dengan sabar menjawab semua pertanyaan Jessi. Maklum saja, dia baru lulus dan rasa keingin tahuannya begitu besar.
Namun, tiba-tiba aktivitas makan Airin terhenti. Karena ada seseorang yang mengenalinya.
"Airin? Sedang apa di sini?" tanya seornag laki-laki berpakaian rapi dan sangat formal. Setalan jas yang dia gunakan terlihat sangat mahal, wajahnya menjadi pusat perhatian hari itu karena ketampanannya. Dia adalah Arga.
"Arga?" pekik Airin. "Ngapain kamu di sini?" tanya Airin penasaran. Dia terkejut dengan kedatangan Arga di sana. Penasaran apa yang tengah laki-laki itu lakukan di sana.
"Aku?" tanya Arga. Dua orang yang berjalan di belakangnya lantas ingin menegur Airin. Tapi dihentikan oleh Arga.