Airin masih menatap Arga tajam.
"Apa kamu daftar di perusahaan ini?" tanya Arga penasaran. Airin sebenarnya malas meladeni. Terlebih dia sekarang menjadi pusat perhatian oleh peserta lain.
"Iya," jawabnya singkat. "Pergi, kenapa harus muncul di depan aku?" tanya Airin ketus. Arga tersenyum tipis.
"Rin, kayaknya kamu benci banget sama aku," kata Arga. "Jangan nyesel kalau tau fakta baru tentang aku," lanjutnya.
Airin mengangguk cuek. "Pergi," perintahnya. Tanpa menatap mata Arga. Lagi-lag Arga tersenyum.
"Oke," katanya.
Arga pergi dengan dua orang di belakangnya. Airin terlihat kesal. Dia kembali melanjutkan makannya.
"Oh ya, Kak. Dengar-dengar CEO di sini ganteng banget, lho!" Jessi membuka suara. Sedari tadi dia memperhatikan Arga, dan dalam pikirannya adalah sosok CEO itu.
Airin tersenyum. "Nggak mungkin orang tadi, kan?" katanya. "Lagian di sini mau niat kerja atau ketemu CEO-nya?" tanya Airin. "Palingan juga galak, nyebelin, apalagi kalo CEO-nya masih muda, udah pasti rewel, banyak permintaan." Airin berprasangka.
Jessi nyengir. "Kerja," jawabnya singkat. "Iya, sih. Biasanya kalo CEO muda katanya banyak tuntutannya.
Acara istirahat hampir selesai. Pukul dua belas lebih lima puluh lima menit, Airin sudah ada di ruang tunggu tadi. Hanya saja sekarang rasa deg-degannya sudah hilang karena sudah melakukan interview. Untuk hasil nanti, dia optimistis dan percaya diri. Berserah pada sang pencipta.
"Aku baru kenal orang seberani Kakak," kata Jessi. Dia terus-menerus menempel dengan Airin. Terlebih sikap Airin yang tak cuek, membuat gadis itu betah di sampingnya.
Airin mengerutkan kening. "Maksud kamu?" tanya Airin.
"Tadi, Kakak jujur banget. Aku kaget, lho! Pas Kakak bilang dipecat dari perusahaan lama. Kata dipecat itu, kan bisa jadi nilai negatif buat perusahaan yang sekarang." Jessi menjelaskan.
Airin tersenyum. "Nggak apa-apa, kalau nanti aku nggak keterima, ya belum rezeki," jawab Airin santai.
"Dan Kakak berhasil bangkit dengan Secret, itu hebat banget," kata Jessi.
Airin menggeleng. "Aku nggak banyak bekerja, aku hanya menuruti semua perintah Bosku," kata Airin.
Tepat pukul empat sore, akhirnya sesi interview selesai. Semua peserta sudah kembali berkumpul di ruang tunggu. Menunggu hasil dari interview itu.
Kini orang yang berbeda. Menggantikan orang sebelumnya.
"Yang saya sebutkan nomor urutnya silakan ke meeting room untuk mendapatkan informasi selanjutnya." Laki-laki ber-id card dengan nama Haikal menjelaskan. "Dan yang tidak saya sebutkan, silakan pulang," katanya lagi. "Jadi, dengarkan baik-baik, ingat nomor urut kalian, mengerti?" Haikal mulai membacakan semua nomor-nomor yang artinya keterima bekerja.
Bermacam-macam ekspresi dari peserta. Senang, sedih, bangga, bahagia, mereka merasakannya.
Jessi melompat kegirangan. Dia memeluk Airin. Pasalnya nomor dia dan nomor Airin ada pada daftar penerima.
"Kakak!" teriaknya kegirangan. Tak kalah bahagia bagi mereka yang juga diterima. Airin tak menyangka bahwa dia masih beruntung.
Perempuan itu sampai tak percaya, dengan apa yang dialaminya sekarang. Sekitar empat puluh orang diterima di perusahaan itu.
Mereka dikumpulkan dalam satu ruangan. Mendapat sebuah informasi lanjutan.
Haikal masih memimpin breefing sore itu.
"Pertama, perkenalkan saya Haikal. Dari departemen HRD," kata Haikal memperkenalkan. "Karena tadi Ibu Naila ada urusan mendadak, jadi saya gantikan," katanya lagi. "Peserta yang ada di sini, itu artinya sudah diterima. Bekerja sama dengan perusahaan," ucapnya tegas. "Jadi, mohon kerja samanya, mohon kerja kerasnya, dan kembangkan kreativitas kalian di perusahaan ini," ujar Haikal.
Suaranya sangat fasih. Membuat yang mendengarkan hari itu langsung mengerti maksudnya.
"Untuk informasi selanjutnya, kalian akan dibagikan buku ini," kata Haikal mengambil satu buku di atas meja. "Ini adalah cara kerja kalian, peraturan kerja untuk kalian, dan semua visi misi perusahaan ada di sini." Haikal menjelaskan.
"Nanti, kalian akan dibagi per-departemen. Jadi, nggak semua peserta di sini, satu departemen, tapi akan dibagi-bagi sesuai kemampuan," lanjutnya. "Itu nanti, bersamaan dengan pembagian id card kalian, lusa nanti," katanya.
"Kalian akan aktiv bekerja, mungkin mulai hari Senin depan. Jadi siapkan mental, siapkan tenaga, dan siapkan pikiran kalian untuk fokus bekerja," kata Haikal lagi. "Sebelum saya bagi buku ini, CEO kita hari ini akan memperkenalkan diri. Memberikan selamat untuk kalian," katanya. "Karena waktu sudah sore, ya. Jadi bisa langsung saja," kata Haikal. "Sebentar." Haikal keluar dari ruangan itu. Dia mungkin memanggil sang CEO yang sudah berada di depan ruangan.
Airin terkejut. Dia hanya membulatkan dua bola matanya tak percaya.
"Apa ini?" tanya Airin lirih. Sudah jelas Jessi mendengarnya.
"Tuh, kan. Itu pasti CEO-nya. Orang yang tadi Kakak temui di kantin," kata Jessi.
Arga tersenyum pada semua peserta. Dia berdiri di depan dan mulai merangkai kata.
"Selamat sore semua, bagaimana? Masih semangat?" tanyanya.
"Semangat!" Jawaban kompak dari peserta.
Arga tersenyum puas. "Perkenalkan saya Arga Widiatmaja, saya CEO perusahaan ini," katanya. Airin benar-benar tak percaya. Dia ingin menolak kenyataan.
"Selamat untuk kalian yang resmi bergabung dengan perusahaan. Semoga dengan bergabungnya kalian, perusaahan maju, berkembang di negara ini. Saya meminta semangat kalian, kreativitas kalian, dan kedisiplinan kalian untuk memajukan perusahaan ini." Arga berbicara panjang.
"Saya pikir sudah sore. Kalian pasti lelah, dari pagi sampai sekarang masih di perusahaan. Pasti sangat bosan," kata Arga. "Sama, saya pun begitu." Dia mencoba melawak, buktinya peserta dan ajudannya tersenyum.
"Dipersingkat saja, setelah Pak Haikal membagikan buku panduan untuk kalian, semuanya boleh langsung pulang. Beristirahat di rumah," kata Arga.
Haikal dengan sigap membagikan buku panduan kepada seluruh peserta. Setelah selesai. Arga kembali berbicara.
"Oke, sekali lagi terima kasih, dan selamat bergabung di Trending News Topic," katanya. "Di buku itu semua ada penjelasannya, jadi dibaca baik-baik," katanya. "Sekian, terima kasih." Arga lalu pergi meninggalkan ruangan.
Haikal mengambil alih dan menutup pertemuan sore itu.
Airin seperti tengah merasakan penyesalan. Dia tak mungkin keluar dari perusahaan, karena fakta bahwa Arga adalah pemilik perusahaan itu. Bagaimana dengan Brian nanti jika tau.
"Apa yang Kakak pikirkan?" Suara Jessi berhasil membuyarkan lamunannya.
"Heh, ada apa?" tanya Airin bingung.
"Dari tadi aku panggil. Kakak nglamun aja, mau naik bus?" Pasalnya Airin sudah ada di halte bus. Dia tak sadar bahwa ia sudah melangkah lebih dari dua ratus meter.
Airin mengangguk sebagai jawaban.
"Mau bareng aku? Kebetulan aku dijemput sama pacar aku," kata Jessi. Airin tersenyum. Dia menggelengkan kepala.
"Enggak, makasih," tolaknya dengan halus.
Jessi sedikit kecewa. Namun, dia harus segera pergi karena pacarnya sudah datang.
"Ya udah, aku duluan," kata Jessi bergegas untuk berlari kecil menuju mobil Xenia berwarna hitam.
Airin lagi-lagi menghela napas berat.
"Aku nggak mungkin ngomong masalah ini ke Brian. Dia lagi casting film, aku nggak mau merusak konsentrasinya," kata Airin. "Tapi, gimana nanti kalau dia tahu dari orang lain? Atau dari mulut Braga?" Airin semakin bimbang. Dia galau.
"Aaargh," gerutunya. Dia menyesal sudah mendaftarkan diri dengan penuh semangat ke perusahaan ini.
Tin... Tin...
Suara klakson mobil berbunyi nyaring. Hal itu membuat Airin terkejut.
"Mau bareng?" tanya Arga. Airin tentu saja menolaknya. Dia mengabaikan Arga.
Arga hanya tersenyum. "Dasar anak kecil," kata Arga. Walaupun Airin tak mendengarnya, dia lagi-lagi tersenyum.
"Ayo! Di sini jarang ada bus yang lewat. Karena ini perusahaan baru, jadi nggak ada karyawan yang naik bus,". Kata Arga.
Airin tetap menggelengkan kepala. "Pergi!" perintahnya.
"Rin, nggak ada lho karyawan yang berani nolak ajakan Bos-nya," ujar Braga. Dia masih di dalam mobil.
"Kalo Bos-nya kamu, ya sah-sah aja, boleh-boleh aja," kata Airin.
"Kenapa? Takut ketahuan pacar kamu?" kata Arga. Airin tak menjawab.
"Oke, oke, emang udah kebiasaan ya, kamu selalu melindungi dia, dari dulu," kata Arga. Hal itu membuat Airin terkejut.
"Maksud kamu?" tanya Airin. Dia mencoba mencari jawaban dari mulut Arga.
"Ayo!" Lagi Arga mengajaknya untuk pulang bersama.
Mau tak mau Airin setuju, karena rasa penasarannya dengan apa yang baru saja Arga ucapkan.
"Maksud kamu apa?" tanya Airin. Arga melajukan mobilnya segera sebelum Airin berubah pikiran.
"Ya, pacar kamu artis, jadi aman dong kalau punya pacar seorang wartawan." Arga berbicara.
"Ga, jangan ngada-ngada. Bukannya perusaahan kamu tidak hanya menyorot kehidupan artis. Tapi membawakan berita kriminal, berita bencana, dan berita kejadian yang ada di dalam negeri, iya, kan?" kata Airin tegas.
Arga mengangguk. "Bukankah sebelumnya pacar kamu itu kena skandal?" kata Arga lagi. Airin menoleh secepat kilat.
"Apa?" tanya Airin ragu.
"Bully, operasi plastik, dan ..." Arga menggantungkan ucapannya.
"Mau kamu apa?" tanya Airin. Arga tersenyum.
"Enggak, aku nggak mau apapun." Arga mencoba mengelak.
"Kamu udah tau? Bahwa dia adalah anak itu?" kata Airin. Arga menepikan mobilnya. Untungnya jalanan hari itu sepi.
Dia lagi-lagi tersenyum, membuat Airin kesal.
"Berhenti tersenyum. Itu membuatku muak," pinta Airin.
"Hidup dia indah banget, kayak di sinetron. Cinta SMA-nya terwujud di masa sekarang," kata Arga.
"Ga, nggak mungkin, kan. Kamu melakukan hal yang sama pada waktu SMA?" tanya Airin khawatir. Dia memikirkan Brian terus menerus.
"Enggak. Waktu itu aku belum dewasa, pasti itu menjadi trauma buat dia, iya, kan?" tanya Arga.
"Tolong jangan ganggu dia," kata Airin memohon. "Maaf, aku harus turun di sini," katanya. Dia keluar dari mobil. Untung saja ada taksi yang lewat, sehingga langsung dia hentikan dan naik. Airin panik, dia memikirkan Brian.
Dia tak mungkin mengatakan jika Arga tahu identitas dia yang sebenernya. Airin mulai panik, bingung harus berbuat Apa. Arga orang yang memiliki ambisi kuat. Dia bisa menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya. Namun, di sisi lain, dia memiliki hati yang lembut, dan baik. Walaupun terkadang kalah dengan rasa ambisi itu.
Di tempat lain, Brian telah menyelesaikan kestingnya dengan apik. Dia merasa puas, kembali berakting di depan sang sutradara. Dava yang haru itu mengantar juga terlihat puas, walaupun hasilnya belum keluar. Namun, sudah dipastikan Brian akan mendapat peran itu.
"Buat merayakan comeback Brian, aku traktir makan malam," kata Dava. Brian mengerutkan kening.
"Bukannya belum ada pengumuman?" tanyanya polos. Dava mengangguk.
"Kenapa? Kamu diterima atau tidak, yang penting sudah berusaha. Yakin, optimis, dan percaya diri itu kuncinya." Dava mengeluarkan dalilnya.
Brian hanya manggut-manggut mengerti. Dia setuju Dava mentraktirnya makan. Walaupun hanya berdua dengan dia.
Mereka makan di sebuah restoran bergaya Korea Selatan. Brian menikmatinya dengan lahap.
"Sepertinya aku harus ke toilet," kata Brian. Dava hanya mengangguk. Dia sedang sibuk dengan daging yang sedang dia panggang.
Brian berjalan menuju toilet. Restoran itu sepi, bukan karena nggak laku, namun memang yang datang hanya orang-orang berduit karena harga di dalamnya sangat fantastis.
Setelah membuang hajat kecil, Brian berdiri di depan cermin. Dia membasuh tangannya sembari menatap wajahnya di sana.
Namun, status suara menarik perhatiannya. Suara yang selalu membuat dia ketakutan.
"Sepertinya takdir memang selalu mempertemukan kita?" Suara itu terdengar tak asing. Brian ragu untuk menoleh. Namun, dia ingin memastikan.
"Arga?" tanyanya tertahan. Brian kembali panik.
"Kenapa? Kenapa begitu terkejut?" tanya Arga. "Apa aku begitu menyeramkan?" tanyanya lagi.
Brian menggelengkan kepala cepat. Dia ingin pergi.
"Maaf," kata Brian. Dia permisi untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Arga kembali mengucapkan sesuatu.
"Maaf, Karena telah membuatmu ketakutan," kata Arga. "Maaf atas masa laluku," ucapnya. Brian terkejut. Dia tak ingin menoleh. Tak ingin ketakutannya menjadi-jadi.
"Maaf karena sudah membuatmu trauma yang parah," kata Arga. "Dulu aku belum dewasa," katanya.
Brian mengumpulkan keberanian. Dia ingin mempertahankan identitas barunya. Dia memutar tubuhnya. Menatap Arga serius.
"Maksud kamu apa?" tanyanya penuh ketegasan. "Semua yang kamu omongin, maksudnya apa? Masa lalu?" tanya Brian.
Arga mengangguk. Dia melangkahkan kakinya satu langkah maju. Dia lantas tersenyum ragu. "Attar, berhenti menyembunyikan bahwa kamu adalah dia," kata Arga. Brian benar-benar terkejut. Serasa dunia Brian yang dia bangun hancur ketika orang yang paling dia benci mengetahui identitasnya.