Episode 47

2010 Kata
Brian mundur satu langkah, dan Arga maju satu langkah. Brian tampak ketakutan, namun mencoba menyembunyikannya. "Mau kamu apa?" tanya Brian ragu. Dia meneguk saliva berkali-kali. Arga tersenyum, dia menoleh ke arah kanan dan kirinya. "Sikap lo biasa aja," kata Arga. "Gue cuma mau minta maaf," kata Arga. "Maaf?" Suara Brian terdengar bergetar. "Please, jangan ganggu gue," kata Brian. Dia berjalan menjauh dari Arga. Hingga akhirnya dia bertemu Dava. Tentu saja sikap Brian membuat Dava bingung. "Yan, kamu kenapa?" tanya Brian dia celingukan. Di sekitar koridor toilet dia tak menemukan siapapun. "Ayo, kita pergi dari sini," kata Brian terburu-buru. "Kenapa? Liat hantu?" tanya Dava konyol. "Ayo," ajak Brian. Dia menyeret lengan Dava. Setelah duduk di dalam mobil, barulah Brian menghela napas lega. "Ada apa, sih? Ada masalah? Kamu lihat apa di toilet?" Dava sangat penasaran dengan sikap aneh Brian. "Arga, Arga datang lagi," kata Brian tegas. "Apa? Arga? Arga siapa?" tanya Dava lagi. Otaknya bekerja mengingat nama itu. Sepersekian detik, Dava tahu. "Arga? Serius? Kok bisa?" tanya Dava. Sudah pasti Brian banyak bercerita dengan Dava. Dava juga kah yang membuat Brian percaya diri seperti sekarang. "Sepertinya dia masih suka sama Airin," kata Brian. Dava menggeleng cepat. "Bukan masalah itu yang harus kamu khawatirkan, tapi kamu sendiri," ujar Dava. "Aku?" tanya Brian ragu. Dava menganggukkan kepalanya. "Kamu," kata Dava singkat. "Bagaimana keadaan kamu, bagaimana kamu bisa menghadapi trauma kamu," kata Dava serius. Brian terdiam. Dia memang takut dan khawatir dengan kedatangan Arga. Namun, kekhawatirannya malah melebar, atas perasaan Arga kepada Airin. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dava. Brian menggeleng pelan. Dava menghela napas. "Kapan dia kembali?" tanya Dava lagi. "Apa dia akan lama di sini? Aku takut malah menjadi masalah untuk karir kamu ke depannya," kata Dava. "Dia akan menetap di sini," jawab Brian lesu. Dava terdiam. Dia berpikir bagaimana cara mengatasinya. "Apa kita tuntut dia?" tanya Dava. Brian menoleh, dia menggelengkan kepala. "Jangan, dia tak melakukan apapun," kata Brian. "Aku hanya terlalu takut dengan datangnya dia kembali," ucapnya. Dava segera menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya. Dia menelepon Desta untuk datang ke apartemen Brian sekarang juga. "Untuk apa telepon dia?" tanya Brian. Setelah Dava mengakhiri panggilannya bersama Desta. "Kita cari solusi untuk masalah ini. Desta mungkin bisa bantu kita, buat singkirkan dia. Karena dia pasti sudah mengenal Arga daripada aku," kata Dava. Brian menghela napas. Dia sudah memunculkan rasa khawatir dalam diri Dava. Laki-laki itu akan melakukan segala cara jika Brian dalam bahaya. Dava melajukan mobilnya dengan kencang. Tak sampai tiga puluh menit, dia sampai di apartemen Brian. Ternyata Desta sudah berada di sana. "Ada apa manggil aku ke sini?" tanya Desta begitu menyadari Brian dan Dava masuk. Dia sedang menikmati serial televisi dan satu kaleng minuman bersoda. Dava mengisyaratkan agar televisi itu dimatikan. Segera Desta mematikannya. "Ada masalah?" tanya Desta penasaran. Dia juga melihat Brian tak biasa. "Arga kembali," kata Dava. Desta tampak tak terkejut dengan ucapan itu. Dia hanya menatap Brian. "Kenapa? Ketemu dia lagi?" tanya Desta. Brian yang merasa diberi pertanyaan, kini menoleh ke arah Desta. Dia mengangguk pelan. "Lalu?" tanya Desta lebih lanjut. "Dia tahu siapa aku sebenarnya," kata Brian. Desta tampak terkejut. "Serius?" tanya dia penasaran. Brian hanya mengangguk. "Dia bahkan meminta maaf," kata Brian. Desta terdiam. Dia tak bisa berkata apapun. "Des, apa kamu bisa singkirkan dia?" tanya Dava. "Singkirkan?" tanya Desta. "Itu hak dia mau hidup di mana. Aku nggak ada hak, terlebih sikap dia sama aku juga seperti biasa," kata Desta. Dia kini mengarah pada Brian. "Ini saatnya lo kubur Attar!" perintah Desta. Dava mengerutkan kening. "Maksud kamu?" tanya Dava. "Dia adalah Brian. Artis papan atas, percaya diri, dan digilai banyak orang," kata Desta. Dava mengangguk setuju. "Ini saatnya lo buang kebiasaan Attar, rasa ketakutan Attar, sikap insecure Attar," kata Desta tegas. "Ingat! Kamu sekarang Brian." Desta berucap dengan penuh tekanan. Brian terlihat diam. Dia mungkin mencerna ucapan Desta. "Jadilah Brian, orang yang keras kepala, orang yang berani, orang yang memiliki banyak penggemar." Ucapan Desta menyadarkan Brian. Dia mengangguk perlahan. "Gue harus jadi diri gue yang sekarang," kata Brian bertekad. "Arga nggak mungkin melakukan hal bodoh seperti dulu lagi," kata Desta. "Kita semua udah dewasa," lanjutnya. Brian mengangguk. Dava juga ikut mengangguk setuju. Di sisi lain, Airin bimbang, dia terus memikirkan Brian. Dia ingin jujur pada Brian, jujur untuk semua hal. Namun, dia ragu mengatakannya. Dia pun memberanikan diri untuk menelepon Brian. Tak lama panggilannya dijawab. "Halo," jawab Brian. Membuat Airin bersigap. "Oh, sedang apa?" tanya Airin. "Ini lagi sama Kak Dava dan Desta," kata Brian. "Bagaimana tes hari ini, lancar?" tanya Brian penasaran. "Oh, tentu. Bahkan aku keterima kerja," ucap Airin tak bersemangat. "Wah! Selamat! Akhirnya impian kamu bekerja di perusahaan lagi tercapai, selamat!" kata Brian antusias. "Tapi, kenapa kamu nggak bersemangat? Bukankah kamu senang diterima kerja," kata Brian penasaran. "Aku senang. Hanya saja, aku pengen ketemu kamu," kata Airin. "Ketemu? Sekarang? Di mana?" tanya Brian. "Enggak, ini udah malam, kamu harus istirahat," ucapnya. "Ah, bagaimana Keating kamu hari ini?" tanya Airin. "Lancar, belum ada pengumuman sih, tapi aku yakin, bisa dapet peran itu," kata Brian percaya diri. "Wah, selamat!" kata Airin bergantian memberikan selamat. "Enggak, jangan kasih selamat sekarang. Kesannya aku sombong banget, pede banget," kata Brian tertawa. Karena Airin tahu ada Dava dan Desta, dia pun mengakhiri pembicaraannya dengan Brian. Walaupun dia masih galau dengan masalah yang dia alami sekarang. Airin membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit. "Kenapa harus Arga? Kenapa bukan orang lain aja yang jadi pemilik perusahaan itu?" tanya Airin pada dirinya sendiri. "Apa Brian baik-baik aja, setelah nanti dia tahu bahwa Arga tahu jika dia adalah Attar?" tanya Airin lagi. Dia terlalu khawatir. Bayangan masa lalu masih tersimpan jelas di pikirannya. Bayangan saat Arga membuat Attar babak belur, karena berani memegang tangan Airin, bayangan saat Attar dirundung di belakang sekolah oleh Arga dan kawan-kawannya, dan Airin tak bisa menolongnya. Gambaran itu masih sangat jelas. Airin membuang jauh pikirannya itu. "Ah, aku harus gimana?" tanya Airin. "Aku takut Brian ketakutan lagi, dia bakal jadi orang tertutup lagi," katanya. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Baru saja Airin memutuskan untuk tidur, tetapi ponselnya berdering. Segera dia mencari ponsel dan melihat nama pada layar itu. "Brian?" tanyanya. "Apa dia tahu aku lagi mikirin dia?" katanya. Langsung saja dia menjawab panggilan dari kekasihnya itu. "Iya, ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi. "Udah tidur?" tanya Brian. "Baru mau tidur," jawab Airin. "Sebelum tidur, aku mau kamu lihat jendela kamar, langit malam ini indah banget," kata Brian. Airin mengerutkan kening bingung. "Ayo!" perintah Brian. Airin kembali menyalakan lampu kamarnya. Dia membuka jendela dari lantai dua dan menatap langit. "Apanya yang indah? Gelap, bahkan bintang aja nggak muncul," jelasnya. "Tapi aku lihat ada satu bintang di sana," kata Brian lagi. Airin kembali memastikan. Dia mendongak ke atas lagi. "Apaan? Nggak ada," kata Airin. "Padahal ada, apa aku salah liat? Wah, ternyata itu cahaya lampu ponsel," kata Brian. Airin semakin bingung. "Gak jelas," kata Airin. Brian tertawa kecil. "Jangan lupa nanti kunci jendelanya, kenapa harus buka jendela kalau dari kaca aja langit udah keliatan," kata Brian. Mendengar itu Airin langsung melihat arah bawah. Ternyata Brian ada di sana. Di depan rumahnya. Airin tersenyum. "Tunggu aku!" perintahnya. Airin segera menutup kembali jendela kamarnya dan berlari ke bawah. Airin membuka pintu dan berlari ke arah Brian. Dia memeluk Brian erat. Laki-laki itu hanya tersenyum. Memeluk kembali Airin dengan erat. "Kenapa belum tidur?" tanya Brian. Airin mendongakkan kepala. "Kamu baik-baik aja?" tanya Airin. Hal itu membuat Brian mengerutkan kening. "Tentu, kenapa?" tanya Brian. Airin tersenyum. Dia menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Besok, mau ke danau lagi?" kata Airin. "Besok? Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Brian. Airin tersenyum dan menggelengkan kepala lagi. "Oke, aku jemput jam lima sore. Karena besok pagi aku harus ketemu sama sutradara," kata Brian. Airin mengangguk setuju. Brian mengecup kening Airin. "Selamat istirahat," katanya. "Ini udah malem, kamu harus tidur," ucapnya lembut. Airin mengangguk. "Hati-hati di jalan," kata Airin. Brian tersenyum dan mengangguk. Sebelum dia pergi, dia kembali mengecup kening Airin. "Selamat malam," kata Brian. Dia melepaskan pelukan Airin dan masuk ke dalam mobilnya. Sebelum benar-benar melajukan mobilnya, dia melambaikan tangan kepada Airin. Malam itu Airin tertidur dengan pulas. ____ Suasana pagi ini benar-benar tak bersahabat. Langit berubah menjadi abu-abu. Airin hanya menatap nanar jendelanya. "Musim hujan sudah tiba," katanya. "Rin! Bangun!" Suara Hilda berhasil membuat Airin menoleh. Tepat saat Hilda membuka pintu kamarnya. "Oh udah bangun," katanya. "Sudah Mama buatkan sarapan. Hari ini Mama mau bantuin Tante Linda, di rumahnya ada arisan." Hilda memberi tahu. Airin mengangguk. Seharian ini Airin melakukan aktivitas layaknya pengangguran, menonton televisi, makan, beres-beres rumah dan tidur. Pukul satu siang, Hilda pulang dengan membawakan makanan untuk Airin. Namun, anaknya itu sudah terlelap di depan televisi. Hilda menggelengkan kepala. "Anak perempuan kalau tidur begitu banget," ucapnya. "Rin, ini makan," kata Hilda membangunkan. Airin terbangun. "Udah pulang, Ma?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. "Makan, tadi Tante Linda bawain ini," katanya. Satu kotak nasi dengan lauk yang kelihatan sangat enak. "Wah, makasih," ujar Airin. Dia segera bangkit dari tidurnya. Mengambil kotak nasi itu dengan cepat. "Terus Mama?" tanya Airin. "Udah makan tadi di sana," jawab Hilda lalu tersenyum. Airin mengangguk. "Arisannya jam berapa, Ma? Bukannya Mama ikut juga?" tanya Airin. "Nanti sore," jawab Hilda. Dia bangkit dari duduknya. Melihat rumahnya sudah rapi membuat dia tersenyum. "Tumben rumah rapi." Hilda meledek. "Iya dong, kan ada aku," jawab Airin dengan mulut penuh dengan makanan. Setelah makan, Airin membersihkan sisa makanannya. Dia mencuci tangan, hasil tangannya kotor karena makan tanpa sendok. Jam terus berputar, saat sore tiba, Airin cepat membersihkan diri. Bersiap untuk bertemu dengan Brian. "Rin, Mama berangkat dulu," teriak Hilda. Dia sudah rapi dengan baju muslim yang digunakannya. "Mama cantik bener," puji Airin. "Oh ya, aku juga mau pergi, Ma," kata Airin. "Ya sudah, nanti kuncinya bawa ke rumah Tante Linda," perintah Hilda. "Oke," katanya sembari mengerlingkan mata. Belum juga pukul lima sore, ternyata Brian sudah menjemput. Airin segera keluar. Dengan dandanan tipis ala kadarnya, tak membuat dia terlihat jelek, namun sangat manis. Brian selalu tersenyum setiap kali melihat kekasihnya itu. "Aku antar kunci dulu, di gang sebelah," kata Airin. Brian mengangguk. "Nggak bisa pake mobil?" tanya Brian. Airin menggeleng. "Deket," jawabnya singkat. Brian pun memutuskan duduk di teras rumah Airin. Tak sampai sepuluh menit, Airin sudah datang. Mereka pun pergi. "Tumben banget ngajak ke danau?" Brian membuka suara sambil mengemudi. Airin tersenyum, dia mengangguk. "Minggu depan kita pasti sudah sibuk banget sama pekerjaan masing-masing, sudah dipastikan cuma bisa komunikasi via telepon, jadi mumpung belum sibuk, aku ajak ke sana," jawab Airin. "Kenapa harus ke danau?" tanya Brian. "Aku suka tempat itu," jawan Airin dengan jelas. Brian tersenyum. Seperti biasa, Brian menepikan mobilnya. Tempat yang baru kemarin Airin datangi, dan dia kembali datang. Brian menggandeng tangan Airin hingga sampai di danau. "Wah, selalu indah," gumam Airin. Dia sangat senang melihat pemandangan di sana. Brian mengangguk. "Kamu tahu? Aku paling suka pemandangan seperti ini, daripada harus ke mall, ke bioskop, ke tempat-tempat umum, aku lebih suka melihat pemandangan seperti ini," kata Airin. "Berarti aku harus ajak kamu ke sini, sesering mungkin," kata Brian. Airin mengangguk setuju. Keduanya menatap air yang begitu tenang. "Aku akan mengatakan sesuatu dengan jujur," kata Airin kembali membuka pembicaraan. Brian menoleh dan menatapnya lekat. Dia mengangguk sembari tersenyum. "Katakan," perintah Brian. "Pertama, aku mencintaimu, sungguh," ujar Airin pasti. Brian tersenyum. "Terima kasih," jawab Brian. "Kedua, impianku untuk bekerja di sebuah perusahaan penyiaran terwujud." Airin berbicara lagi. Kali ini Brian mengangguk sebagai jawaban. "Tapi, aku mengkhawatirkanmu," ucapnya. Brian menarik garis keningnya lurus. "Kenapa?" tanyanya penasaran. "CEO perusahaan TNT adalah Arga," kata Airin. Tentu saja Brian terkejut. "Apa?" tanya Arga tak percaya. Airin mengangguk mengiyakan. Itu artinya dia akan sering bertemu dengan Arga di perusahaan. "Lalu?" tanya Brian ragu. "Apa kamu keberatan jika kenyataannya seperti itu?" tanya Airin. Kini Brian yang bimbang. Dia ragu untuk menjawabnya. Dia terlalu egois jika dia meminta Airin untuk berhenti. Tetapi, dia tak mau jika Airin terus menerus bertemu dengan lelaki itu. "Arga, tahu bahwa aku adalah Attar," kata Brian. Airin menoleh. "Bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Airin. Brian menatap Airin. "Apa kamu tahu?" tanya Brian. "Maaf," ujar Airin tak enak hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN