Episode 48

1895 Kata
Brian menggelengkan kepala. "Tak apa-apa." Brian lantas memandang air danau yang begitu tenang. "Aku," kata Brian. "Aku akan menjadi Brian sekarang." Ucapan itu membuat Airi. Menatap Brian lekat. Seolah tahu dia sedang ditatap, Brian mengangguk. "Mulai sekarang, aku akan hidup menjadi Brian selamanya. Aku bakal kubur Attar, aku akan kubur kenangan buruk tentang dia." Brian menerawang. "Aku yakin, aku bisa," katanya lagi. Airin mengangguk. Itu adalah keputusan paling tepat yang diambil oleh Brian. Laki-laki itu tak ingin lagi masa lalu menghantuinya di masa sekarang, terlebih dengan hadirnya Arga kembali. "Lalu apa yang akan kamu rencanakan?" tanya Airin. Brian menoleh, dia tersenyum. "Enggak, aku hanya harus hidup sebagai Brian. Artis papan atas yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, memiliki keberanian, dan nggak mengkhawatirkan apapun," katanya. Airin mengangguk, dia tersenyum. Perempuan itu meraih tangan Brian. Dia mengusapnya lembut. "Aku akan selalu ada di samping kamu, aku bakal dukung kamu, aku bakal selalu ada buat kamu, aku pastiin itu," kata Airin. Brian mengangguk. Dia menarik Airin dalam pelukannya. "Kamu, harus jauh-jauh dengan Arga," kata Brian manja. Airin mendongakkan kepalanya. "Tentu, kalau dia gangguin aku, aku bakal buat berita heboh supaya dia kapok," kata Airin. Brian tersenyum dan mengangguk. ____ Hari ini adalah hari pertama Airin bekerja. Dia terlihat sangat rapi dengan baju kantor yang dulu sering dia pakai. Walaupun terlihat kuno, tapi, saat sudah melekat di tubuh dia, terlihat pantas dan cantik. Dia mengucur kuda rambutnya. Mengoleskan bedak tipis pada wajah, dan memakan lipstik berwarna senada dengan bibirnya. Dia menatap dirinya sendiri di depan cermin. Menghela napas setelah semuanya selesai. "Semangat! Ini adalah impian kamu untuk bekerja lagi di perusahaan," ujarnya pada dirinya sendiri. "Benar, abaikan Arga. Kalau dia berulah, ancam!" Airin tertawa kecil. Merasa lucu dengan perlakuannya. Airin menuruni anak tangga. Dia sudah mendapati Hilda sibuk dengan apa yang ada di dalam rumah. "Ayo! Sarapan, sudah Mama siapkan," kata Hilda. Airin mengangguk, dia berjalan menuju meja makan. "Ma, doain ya. Hari pertama kerja lancar," kata Airin. Hilda yang sedang memegang sapu hanya tersenyum dan mengangguk. Melihat jawaban itu Airin ikut tersenyum. Dia menyantap nasi goreng pagi buatan ibunya, telur dadar, dan s**u putih. Baginya itu adalah makan besar yang wajib dia makan sebelum berangkat kerja ke kantor. Bukan berarti waktu dulu di Secret dia tak pernah memakan makanan seperti itu. Tapi, Airin terlalu santai waktu itu, sehingga dia selalu bangun kesiangan dan jarang untuk melakukan sarapan pagi. Setelah selesai, dia bergegas. Karena dia tak ingin terlambat datang ke kantor pagi ini. "Aku berangkat," ucap Airin sembari mencium tangan ibunya. "Hati-hati," jawab Hilda lembut. Airin mengangguk dan mencium pipi Hilda. Dia bergegas untuk pergi. Airin berjalan menuju jalan besar. Di mana dia harus menunggu bus yang datang untuk menuju kantornya. "Masih sangat pagi, jadi bisa santai." Airin berbicara sendiri. Padahal hari ini adalah acara perusahaan yang baru akan launching. Dipastikan tak ada pekerjaan. Hanya acara makan dan lain-lain. Namun, Airin sudah sangat penasaran dengan meja kerjanya yang sekarang. Tak sampai dua belas menit, bus datang. Airin melihat jurusan yang ada di bus itu. Ternyata, jalur bus itu melewati jalanan kantornya, walaupun masih harus berjalan. Namun, hanya bus itu satu-satunya yang melewati jalanan dekat kantornya. Jadi, Airin segera menaiki. Karena masih pagi, dia mendapatkan tempat duduk. Airin menghela napas lega. "Seberuntungnya aku pagi ini," katanya lirih. Dia tersenyum senang mendapat tempat duduk. Jadi, dia tak capek-capek untuk berdiri hingga setengah jam kemudian. Pagi itu jalanan tak terlalu macet. Lancar, membuat sang supir bebas bergerak melajukan bus yang dia kemudi. Airin sampai di halte tepat sesuai perhitungannya. Dia masih harus berjalan menuju kantor. Untungnya sepatu yang dia gunakan bukan heels yang membuat kaki sakit, melainkan sepatu flat yang dia sukai karena kenyamanannya. Walaupun terbilang masih pagi, perusahaan itu terlihat sudah ramai oleh karyawannya. Banyak sekali berjejer karangan bunga ucapan selamat. "Wah!" gumam Airin. Dia berjalan, matanya membaca satu persatu karangan bunga itu dari pengirimnya. Acara pasti diadakan di lobi utama. Karena jika dilihat, lobi itu memiliki luas seperti lapangan futsal, malah lebih. Airin terus berjalan. Dia bertemu teman seangkatannya, sehingga berjalan bersama. "Kita beruntung banget, bisa keterima kerja di sini," kata Airin kepada temannya itu. Dia mengangguk. "Bener banget. Aku nggak nyangka banget, Kak. Mahasiswa baru lulus kayak aku juga bakal keterima," ucap Devina bersemangat. Airin mengangguk. "Jadi, kita harus semangat kerjanya," kata Airin. Penerimaan karyawan baru kemarin memang didominasi oleh lulusan mahasiswa terbaru. Karyawan seperti Airin hanya beberapa saja dan yang memiliki pengalaman paling menarik. Airin sendiri tak percaya bahwa dirinya akhirnya diterima. Baru masuk ke dalam lobi, Airin sudah menganga, melihat tatanan lobi yang sederhana namun sangat cantik. "Wah," gumamnya lagi. Ada sebuah panggung kecil dan sebuah pita yang direntangkan panjang di depan panggung itu.ada bunga segar, dan banner atas nama perusahaan. "Sesuai arahan waktu itu, kamu ada di lantai berapa?" tanya Airin. Jumat lalu, saat dia datang ke kantor, semuanya sudah diberi tahu lantai berapa meja kerja yang mereka tempati. Bagian yang mereka dapat, dan semua perlengkapan kantor. "Aku lantai tiga, Kak." Devina menjawab. Airin mengangguk. "Aku ada di lantai dua," jawab Airin. "Ayo!" ajak Airin. Mereka berjalan menuju elevator. Sudah banyak karyawan yang datang. Mereka juga kebanyakan adalah karyawan baru yang masih bingung dengan gedung perusahaan. Airin keluar dari pintu elevator di lantai dua. "Aku duluan," kata Airin. Devina mengangguk tersenyum, dia juga melambaikan tangan. Airin berjalan menuju ruangannya. Dia selalu mengingat nama ruangannya yaitu Good News. Itu artinya dia ada di bagian itu. Ada tujuh orang karyawan dan satu atasan yang akan memimpin. Airin mengembuskan napas sebelum dia benar-benar membuka pintu. Hatinya sangat bahagia bisa kembali mengalungkan id card di leher, bisa kembali duduk di meja kerja kantoran, dan bisa memiliki tim kerja. Saat dia membuka pintu, dia melihat tatanan meja yang begitu rapi. Di ruangan itu hanya ada satu meja yang terpisah. Dan sudah pasti pemilik meja itu adalah sang ketua tim. Airin duduk di meja di mana terdapat namanya di sana. Kursi yang dia duduki sangat nyaman. Furniture yang perusahaan pakai sangat bagus dan mahal. "Wah." Lagi-lagi Airin bergumam. Tak lama, satu persatu karyawan datang. Saling menyapa, paling heboh saat Jessi datang. Dia langsung mendatangi Airin dan memeluknya. "Seneng banget, bisa bareng sama Kakak," ujarnya manja. Airin mengangguk tersenyum. Jessi menempati tepat duduknya. Dia terlihat sangat senang. Tak lama seorang pria masuk. Penampilannya sangat gagah dan juga tegas. "Selamat pagi semuanya," sapa dia dengan suara berat. Airin sampai melongo dengan wajah maskulinnya. Dia berdiri di balik meja paling depan. "Perkenalkan, saya Danil, saya adalah ketua tim di Good News ini," ujarnya memperkenalkan diri. Semua orang bertepuk tangan. Dia tersenyum. "Mohon kerja samanya." Dia mengakhiri perkenalannya pagi ini. "Oh ya," ujar Danil kembali berdiri. Anggota tim yang lain kembali mengarah padanya. "Hari ini adalah hari di mana perusahaan baru akan launching. Jadi dari pagi sampai nanti istirahat makan siang. Kalian bisa menikmati makanan yang sudah disediakan, mengikuti serangkaian acara di bawah sana, dan setelah istirahat baru kita mulai bekerja untuk menyiapkan esok hari," kata Danil mengatakan jadwalnya. "Oke," jawab semua anggota tim dengan kompak. Mendengar itu, Danil tersenyum. Dia hanya mengacungkan jempol dan kembali duduk. Acara launching perusahaan segera di mulai. Semua karyawan sudah berkumpul di lobi utama gedung. Makanan serta minuman untuk menjadi makanan mereka hari itu sudah berjejer rapi. Kursi-kursi untuk para tamu juga sudah dipersiapkan. Tamu yang datang hari itu adalah dari investor dan para sponsor. Airin berdiri bersama karyawan lain. Jessi selalu menempel dengannya. Keduanya melihat MC tengah berbicara di depan sana, memandu acara hari itu. Tibalah saat Arga harus menyampaikan sambutannya. Airin terlihat malas, berbeda dari karyawan lain yang berantusias memberikan tepuk tangan. Arga tersenyum sebelum dia berbicara. "Selamat pagi semua," sapa Arga dalam pembukaan pidatonya. Dijawab dengan kompak oleh semua karyawan perusahaan. "Pagi!" "Trending News Topic, adalah perusahaan penyiaran yang saya bangun sendiri. Atas kreasi saya, atas kerja keras saya. Namun, untuk hasil yang memuaskan seperti sekarang, tentu saja saya dibantu orang-orang hebat di sekitar saya. Saya bersyukur, saya berterima kasih juga pada kalian semua yang mensupport saya." Arga berbicara panjang. "Kenapa saya harus mendirikan perusahaan penyiaran? Bukan yang lain? Bukankah yang lebih laku adalah perusahaan makanan?" kata Arga tersenyum. Arga menjelaskan panjang lebar dalam pidatonya. Hingga dia mengucapkan kata terakhir untuk penutupan pidato hari ini. "Sekali lagi, saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang membantu, mensupport, dan berada di samping saya sampai sekarang," kata Arga. "Sebelum saya tutup, saya akan jujur, bahwa ada seseorang yang menjadi inspirasi saya untuk mendirikan perusahaan ini," kata Arga. "Dia adalah seorang jurnalis yang dipecat dari perusahaan besar, karena alasan yang tidak masuk akal," ujar Arga. Airin terkejut. Dia menatap Arga tajam. Melihat senyum Arga saja membuat Airin kesal. "Aku?" tanyanya dalam hati. "Nggak mungkin, kan?" batinnya terus penasaran. Arga mengakhiri sambutannya hari itu. Dia tersenyum dan turun dari panggung. Waktunya peresmian perusahaan. Arga dan dua orang investor sudah berdiri di balik pita dan siap untuk mengguntingnya. Tanda perusahaan sudah resmi dibuka. Semua orang bertepuk tangan dengan semangat. Airin hanya terdiam, dia kalut dalam pikirannya. Jessi menyenggol lengannya. "Tepuk tangan," bisiknya. Airin mengangguk dan bertepuk tangan dengan malas. Setelah acara selesai, dilanjut makan siang. Kantin hari itu sangat antre. Karena memang semua karyawan berkumpul. Melihat antrean saja Airin sudah lelah, apalagi kalau harus mengantre. "Aku makan nanti saja," ucap Airin. "Terus Kakak mau ke mana?" tanya Jessi. "Makannya gimana?" "Nanti, setengah jam lagi aku ke sini," jawab Airin lalu tersenyum. Dia berjalan keluar wilayah kantin. Menuju lantai dua di mana ruangannya berada. Airin menikmati waktu istirahatnya. Dia hanya memainkan ponsel. Mengirim pesan singkat kepada Brian. Mereka saling berbalas pesan. Saking asyiknya, dia sampai tak menyadari ada seseorang masuk ke ruangan itu. "Kayaknya asik banget chat-an." Seorang laki-laki tengah berjalan ke arahnya. Airin terkejut dengan kedatangan Arga. "Ngapain ke sini?" tanya Airin. Dia celingukan, tak ada siapapun di sekitarnya. "Tadi lewat, terus liat kamu ada di sini," kata Arga santai. Memang semua dinding di ruangan itu menggunakan kaca. Jadi, seluruh isi ruangan bisa terlihat dari luar. "Pergi, sebelum ada yang melihat. Aku nggak mau nanti timbul fitnah," kata Airin. "Kenapa? Fitnah? Bukankah kita sama-sama masih single," kata Arga. "Apa?" tanya Airin, dia menatap tajam Arga. "Enggak, maksud aku, aku masih belum berkeluarga, jadi nggak ada yang mau fitnah," kata Arga. "Ga," kata Airin. Dia ingin menjelaskan maksudnya. Namun, Arga sepertinya mengerti. "Oke, oke," kata Arga. "Dan lagi, aku mau tanya," kata Airin serius. "Apa?" Arga bersiap. Dia menatap Airin. "Soal yang kamu tadi omongin di lobi, itu siapa?" tanya Airin ketus. "Ah, itu ..." Arga menjawabnya dengan ragu. "Kenapa?" tanyanya. "Siapa?" tanya Airin mengulangi. "Apa mungkin, kamu berpikir itu adalah kamu?" tanya Arga. Airin mengerutkan kening. "Enggak!" sangkalnya. Arga tersenyum. "Itu kamu," kata Arga tegas. "Apa?" tanya Airin. Arga mengangguk. "Jadi kamu, selama ini mencari tahu tentang aku? Mengikuti semua kegiatan aku? Tidak, mencari tahu tentang aku?" tanya Airin kesal. "Rin," jawab Arga. Dia ingin menjelaskan. Namun, Airin kembali membuka suara. "Kenapa kamu melakukan itu? Apa hidup kamu membosankan sampai cari tahu tentang masa lalu? Apa kamu juga melakukan hal yang sama dengan Attar? Sampai kamu tahu semuanya?" tanya Airin tak habis pikir. "Rin dengerin aku," kata Arga. Airin menggeleng cepat. "Pergi!" kata Airin sinis. "Rin," ucap Arga. "Kamu nggak berubah, Ga. Protektif, melakukan apapun sesuka hati kamu," kata Airin kesal. "Itu karena aku masih cinta sama kamu!" ujar Arga. Dia berbicara dengan nada sedikit tinggi. Airin terkejut. "Apa?" kata Airin ragu. "Aku masih cinta sama kamu," ujar Arga menekankan. "Apapun bakal aku lakukan supaya bisa dapetin kamu lagi," katanya tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN