"Pergi!" perintah Airin lirih. "Jangan mengucapkan kata-kata yang nggak penting," kata Airin.
"Rin, aku serius!" ucap Arga tegas.
"Ga, aku udah punya Brian." Airin lebih tegas.
"Kalian baru pacaran, kan? Bukankah kamu menerima dia karena kasihan?" tanya Arga.
Airin menatap Arga tajam. "Apa kamu bilang?" tanya Airin. "Apa kamu gila!"
Arga tersenyum. "Kenapa, kenapa tiba-tiba kamu terima dia? Apa karena dia udah ganteng, udah jadi artis, dan dia udah ..."
"Stop!" kata Airin tegas. "Pergi!" perintah Airin. Dia sama sekali tak menatap Arga. "Sebelum ada orang yang lihat," katanya lagi. Arga menghela napas.
"Oke," kata Arga. "Aku nggak mungkin melakukan hal yang sama seperti dulu dengan Attar. Tapi, aku bisa merebut kamu dari dia." Arga meninggalkan Airin.
Penyesalan Airin bertambah. Penyesalan kenapa dia kembali bertemu dan menjadi bawahan Arga. Airin menghela napas berat. Dia menyandarkan kepalanya di kursi yang dia duduki, menatap langit-langit kantor.
"Seharusnya aku makan aja tadi, jadi nggak ketemu dia," kata Airin seketika menyesal. "Kenapa harus dia yang jadi Bos aku?" tanyanya. Lagi-lagi Airin menghela napas.
"Bahkan rasa lapar ini hilang, gara-gara ucapan dia barusan," kata Airin.
Dia tak berminat apapun. Bahkan dia enggan membuka layar ponsel yang sudah terkunci. Ia membiarkan ponselnya di atas meja. Padahal ponsel itu bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Sampai akhirnya Jessi masuk dengan anggota yang lain.
"Kakak nggak makan juga?" tanya Jessi.
Airin menoleh. Dia menggelengkan kepala pelan. "Nggak pengen makan," jawabnya datar.
"Hari pertama kerja, lesu gitu," timpal Henry yang duduk di samping Airin.
Perempuan itu hanya tersenyum.
"Kak, bisa kenalkan aku dengan pendiri Secret?" tanya Henry sesudahnya.
"Ada apa ini? Saya mendengar kata Secret," kata Danil saat masuk ruangan.
Henry hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ada karyawan Secret di sini?" tanya Danil lagi.
"Mantan karyawan, Bos." Jessi menjawab jujur. Danil mengurungkan niatnya untuk duduk di meja. Dia kembali menoleh setelah mendengar jawaban Jessi.
"Siapa?" tanya Danil penasaran.
Henry dan Jessi dengan kompak menunjuk Airin.
"Serius? Jadi benar? Di divisi ini ada mantan karyawan Secret," kata Danil. Airin mengulas senyum tipis.
"Wah, kita harus banyak berguru dengan dia," kata Danil. Dia melanjutkan niatnya, dan duduk di kursi kerjanya.
Airin lagi mengulas senyum.
"Oh ya, nanti sebelum pulang kita meeting dulu." Danil menginterupsi. Diangguki oleh Jessi, Airin, dan Henry.
Waktu menunjukan pukul satu. Semua anggota divisi sudah menempati mejanya masing-masing.
Tak lama, sebuah telepon berdering. Bunyinya dari arah meja Danil. Sang pemilik meja mengangkatnya. Dia berbicara sangat serius.
"Oke, baik," katanya lalu mengakhiri.
"Hari ini kita harus meliput sebuah kecelakaan di persimpangan jalan MH Thamrin. Kabarnya, adalah seorang artis.
Airin langsung terdiam. Dia terkejut.
"Airin, Gustav, dan saya hari ini terjun langsung ke TKP," kata Danil lagi. Gustav mengangguk cepat. Dia segera mengambil langkah. Airin mengangguk ragu.
"Cepat!" perintah Danil. Airin segera bergegas mengikuti langkah Gustav.
Untung saja sepatu Airin menggunakan yang nyaman. Jadi, dia bebas bergerak bahkan hingga bisa berlari.
"Benar, artis itu banyak. Dan yang di Jakarta bukan cuma Brian," batin Airin berkecamuk. Dia berjalan cepat menuju pintu lobi utama. Gustav dengan satu tas ransel berisi kamera dan satu tas besar yang dia bawa berisi peralatan rekam lainnya berjalan beriringan dengan Airin.
Danil membawa surat keluar dan ditunjukannya pada bagian resepsionis karena harus ada stempel perusahaan. Dia segera menyusul Airin dan Gustav yang harus saja duduk di dalam mobil yang sudah menunggu mereka.
"Ayo!" perintahnya pada sang supir.
Mobil melaju, meninggalkan pelataran perusahaan. Untung saja TKP dari gedung mereka tidaklah jauh. Hanya berjarak sekitar tiga kilometer. Sehingga mereka sampai tak memakan banyak waktu.
Di tempat kejadian itu sudah banyak sekali mobil polisi dan satu ambulan. Ada juga wartawan yang sudah berada di sana.
"Ayo! Kita harus bergegas," kata Danil memerintah. Langkah Airin ragu. Namun, saat dia melihat mobil yang rusak karena kecelakaan bukanlah milik Brian. Dia tenang, dia segera bergegas.
Pertama kalinya Airin kembali tampil di layar kaca. Dia menyiarkan berita tanpa salah satu katapun. Cara bicaranya yang fasih, dan bahasa yang inovatif membuat Danil mengacungkan jempol.
Gustav juga tak banyak mengedit video yang dia rekam. Berita kecelakaan yang berhasil mereka tayangkan benar-benar detail. Karena sebelum menayangkan. Airin memberi tahu Danil untuk berpencar mencari informasi. Itu adalah hal yang dilakukannya dulu di perusahaan lama. Jadi, informasi yang didapat bukan hanya dari satu narasumber, melainkan beberapa narasumber. Tugas Airin adalah merangkai kata, dan menyatukannya agar terdengar detail, dan komplit.
"Wah! Hebat juga kemampuan kamu," puji Danil. Mereka baru saja selesai menampilkan berita live di televisi.
Airin tersenyum. Gustav mengangguk setuju, tangannya masih sibuk dengan beberapa kabel yang sedang dia gulung.
Setelah tampilnya Airin kembali di layar kaca. Dia mendapat banyak sekali pesan masuk dari teman-temannya. Kebanyakan si pengirim adalah teman sejawatnya dulu di perusahaan yang lama.
Airin sampai tak mampu membalasnya satu-satu.
-Primadona Berita sudah kembali-. Tulis Ken.
-Sudah dipastikan, fans Airin lovers akan bertambah-. Imbuhnya mengirim pesan kedua.
Airin hanya tertawa kecil melihat tingkah Ken.
Pukul empat lebih lima belas menit, Airin kembali ke kantor. Padahal waktu pulang sudah lima belis menit yang lalu. Danil juga memutuskan untuk membatalkan meetingnya tadi bersama anggota lain, dan membiarkan mereka pulang.
Airin duduk di kursinya. Sedangkan Gustav sibuk merapikan kembali barang-barang yang tadi dia bawa. Begitu pula Danil, dia langsung sibuk di depan laptop miliknya.
Airin membereskan barang-barang. Setelah selesai, ia berdiri dan berpamitan dengan Danil.
"Pak, aku langsung pulang, ya." Airin berpamitan. Danil menoleh.
"Oke, terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini," ujarnya. Airin tersenyum dan mengangguk.
Airin berjalan keluar di ruangan itu. Dia masih melihat Gustav sibuk.
"Pulang dulu, ya," sapanya pada Gustav. Laki-laki itu mengangguk dan mengacungkan jempol. Hingga akhirnya Airin menghilang dari balik pintu.
Airin menuju elevator dan berjalan santai. Dia bahkan menyapa beberapa karyawan yang masih bekerja walaupun hanya dengan tersenyum.
Ponselnya bergetar, Airin segera mencari di dalam tasnya. Nama Brian muncul di sana.
"Halo," jawab Airin. Dia terlihat senang Brian menelepon.
"Iya. Udah pulang?" tanya Brian.
"Ini baru mau pulang," kata Airin. "Kamu udah pulang?" tanyanya.
"Udah. Mau ketemu?" tanya Brian.
"Ketemu?" Airin mengerutkan kening. "Kapan?" tanyanya.
"Sekarang, aku udah ada di depan perusahaan kamu," kata Brian.
"Serius?" tanya Airin tak percaya. Dia mempercepat langkahnya. "Sebentar," ujarnya.
Di tempat lain, Arga menatapnya penuh rasa cemburu.
Airin keluar dari pintu lobi. Benar, netranya langsung menangkap sebuah mobil sport milik Brian. Airin segera berlari ke sana.
Dengan sangat percaya diri, Airin membuka pintu mobil penumpang. Dia mendapati Brian tengah tersenyum ke arahnya.
"Wah, kejutan banget. Kamu jemput aku," kata Airin setelah duduk. Brian mengangguk.
"Mumpung aku udah pulang. Karena besok bakalan syuting sampai malem," jawabnya. Airin mengangguk mengerti.
"Oh ya, selamat! Pacar aku cantik banget masuk TV." Brian memberi selamat. Dia tersenyum lebar. Begitu juga Airin, dia tersenyum. Mengangguk cepat.
"Untuk perayaannya, aku traktir kamu makan," kata Brian.
"Setiap waktu juga kamu yang traktir," ujar Airin. Brian tertawa kecil.
Mereka makan di sebuah restoran siap saji. Airin sengaja memilih meja paling pojok agar tak menjadi pusat perhatian. Walaupun sekarang wajah Brian ditutupi oleh masker, topi, dan kacamata. Namun, Airin harus tetap menjaga privasi Brian. Terlebih sekarang dirinya juga mulai akan sering muncul di layar kaca.
Brian duduk menghadap tembok. Sedangkan Airin duduk di depannya.
"Kamu bawain beritanya enjoy, fasih, dan juga good banget," puji Brian. Airin tersenyum malu.
"Makasih," katanya. Makanya aku senang banget pas keterima kerja lagi," katanya bersemangat. Brian mengangguk.
Makanan satu persatu disajikan. Mereka memesan dua chicken, dua minuman kopi, dan satu eskrim, juga dua kentang goreng berukuran besar.
"Sebanyak ini?" tanya Airin. Brian tersenyum.
"Makan, pasti kamu lapar," ujarnya.
"Yan, kalo Kak Dava tahu kamu makan seperti ini, bisa-bisa kena omel." Airin berceramah. "Kamu nggak boleh gendut dalam sekejap,"lanjutnya. Brian mengangguk lagi.
"Iya ngerti," jawab Brian sekenanya.
Mereka menikmati makanan itu. Airin lebih banyak makan dari pada Brian. Selain makanan kesukaannya, Airin juga sedang dilanda kelaparan. Dari tadi siang dia belum makan.
"Apa kamu bertemu Arga?" tanya Brian ragu. Airin yang sedang menikmati kentang goreng segera berhenti. Dia menoleh ke arah Brian. Mengangguk sebagai jawaban.
Brian tersenyum. "Iya pasti, karena kalian kan satu perusahaan," ucapnya. Airin menggelengkan kepala.
"Tapi, posisi kita sangat jauh." Airin berkata jujur. Brian mengangguk.
"Ngapain aku tanya hal yang nggak penting," kata Brian. Membuat Airin mengangguk setuju.
Langit sudah berubah warna menjadi gelap. Setelah makan tadi, Brian mengajak Airin berjalan-jalan sebentar, sampai akhirnya dia mengantar Airin hingga rumahnya.
"Thanks, ya. Udah antar sampai rumah," kata Airin. Brian mengangguk.
"Kalau aku pulang cepet, udah pasti aku jemput kamu," kata Brian. Airin mengangguk.
Keesokan harinya. Airin tak mendapati ibunya di dapur. Dia heran. Biasanya Hilda selalu ke kamarnya untuk memastikan dia sudah bangun atau masih tidur.
"Ma!" panggil Airin. Tak ada jawaban.
"Ma!" panggil Airin lagi. Dan tak ada jawaban lagi. Airin memutuskan untuk ke kamar Hilda.
Dia mendapati ibunya tengah berbaring.
"Ma!" panggilnya. "Mama sakit?" tanya Airin. Hilda rupanya tak tertidur pulas. Dia langsung merespon pertanyaan Airin.
"Enggak. Cuma rada pusing, jadi Mama tiduran dulu," kata Hilda.
"Ah, udah minum obat?" tanya Airin lagi.
"Iya, nanti Mama minum," ujarnya. Airin mendekat.
"Ya udah, Airin berangkat kerja dulu," kata Airin. Dia menyalami Hilda. Lalu pergi, menggilang dari balik pintu kamar Hilda.
Seperti biasa, Airin menggunakan bus untuk datang ke kantornya. Dia berjalan santai. Setelah bekerja di perusahaan itu, Airin selalu bangun lebih awal. Agar tak terburu-buru.
Untung saja bus hari itu tak terlalu ramai,dia bisa kebagian tempat duduk. Jalanan tak macet, membuat awal hari Airin semakin bersemangat.
Namun, baru saja dia masuk pintu lobi. Ponselnya berdering. Segera dia mencari ponsel yang ada di dalam tasnya. Berharap Brian yang meneleponnya. Namun, salah. Sebuah nomor baru muncul di layar ponsel Airin.
"Siapa?" tanyanya. Akhirnya dia menyeret tombol hijau dan mendekatkan ponsel pada telinga.
"Halo," jawab Airin.
"Rin, Ibu kamu," kata orang yang meneleponnya.
"Ibu? Siapa ini?" tanya Airin.
"Ini aku, Arga." Suara Arga tampak panik.
"Ga, kenapa lagi? Nggak capek drama terus. Ibu aku? Kenapa dengan Ibu?" tanya Airin kesal.
"Ini Ibu kamu dibawa ke rumah sakit," kata Arga.
"Apa?" Airin terkejut. "Jangan bercanda."
"Serius!" Suara Arga tegas. "Ini aku yang antar," katanya.
"Rumah sakit mana?" tanya Airin.
"Pokoknya yang paling dekat rumah kamu, kita ketemu di sana," ucap Arga, dia mengakhiri panggilannya.
Tanpa berpikir panjang, Airin bergegas keluar. Dia nampak panik. Bahkan sekuriti yang bertugas, melihat Airin aneh.
Airin menghentikan taksi yang kebetulan berhenti di depan perusahaan, hasil mengantar penumpang yang sama-sama bekerja di perusahaan ini.
"Pak, kita ke Rumah Sakit Medical Nusantara," kata Airin. Di rumah sakit ini memang paling dekat keberadaannya dari rumah Airin. Sudah dipastikan Arga membawa mamanya ke sana.
Sang supir memutar balik mobilnya. Lalu melaju dengan kencang. Hampir dua puluh lima menit, akhirnya mereka sampai. Airin membayar taksi terlebih dahulu sebelum keluar.
Dia berlari menuju rumah sakit. Tepat di depan ruang UGD dia mendapati Linda dan Arga tengah duduk menunggu.
Napas Airin memburu. Dia mencoba tenang. Namun, rasa paniknya tak bisa dia sembunyikan.
"Bagaimana Mama?" tanya Airin pada Linda. Arga yang dari tadi duduk, kini berdiri.
"Lagu ditangani dokter." Linda merasa khawatir.
"Kenapa dengan Mama Tan?" tanya Airin lagi.
Linda menggelengkan kepala. "Tadi, Tante mau balikin piring yang kemarin Tante pinjam untuk arisan. Tante kaget, pas liat Mama kamu tergeletak di lantai." Linda menceritakan kronologinya. "Udah Tante coba sadarkan, tapi gagal. Tubuhnya demam sangat tinggi, wajahnya pucat pasi," kata Linda. Airin tampak kepanikan.
"Untung aja ada teman kamu, tepat dia datang, Tante minta tolong aja," kata Linda. Yang dimaksud dia adalah Arga. Airin segera menoleh ke arah Arga.
"Makasih ya," ucapnya lemah. Arga mengangguk.