Episode 50

1622 Kata
Dokter keluar dari ruangan UGD. Airin segera berlari mendekat. "Mama bagaimana, Dok?" tanya Airin. "Bisa ke ruangan saya. Saya jelaskan di sana," kata sang dokter yang hari itu menangani Hilda. Airin mengangguk, lantas mengikuti langkah dokter itu. Langkahnya ragu, pikirannya penuh kekhawatiran. "Semoga aja, nggak ada yang serius," batin Airin. Setelah sampai, Airin duduk di kursi tepat depan dokter itu. "Kamu anaknya?" tanya Dokter Richard. Seorang dokter spesialis syaraf. Airin mengangguk. "Betul, Dok." Dia menjawabnya dengan serius. "Mama saya enggak apa-apa, kan?" tanyanya. Richard mengembuskan napas. "Gula darahnya sangat tinggi, apa ada keturunan diabetes?" tanya Richard. "Setahuku tidak ada," kata Airin. "Apa selama ini dia pernah sakit, atau memang sudah berobat jalan mungkin?" tanya Richard lagi. Airin menggelengkan kepala. "Dia nggak pernah berobat. Cuma kadang dia merasa ada syaraf ditubuhnya yang kaku, sehingga jika kelelahan, seperti semuanya pegal dan sakit," kata Airin. "Mama juga nggak pernah ngeluh di depan aku," katanya lagi. "Kadar kaliumnya sangat rendah, itu sebabnya dia tak sadarkan diri. Tadi saya sudah menyuntikkan obat, kita tunggu. Jika nanti gula darahnya turun, dan jika tubuhnya kuat menerima obat itu, masa kritisnya akan terlewat." Richard menjelaskan. "Lalu? Kalau Mama ..." Ucapan Airin terhenti. Seakan tahu apa yang akan diucapkan Airin, Richard mengangguk. Airin terkejut. "Dok, apa nggak ada cara lain? Berapa lama kita tunggu respon Mama?" tanya Airin. "Besok pagi paling lambat," kata Richard. "Hari ini dia akan dipindahkan ke ICU," lanjutnya. "Nanti biar dokter dan suster yang mengkontrol," Perasaan Airin campur aduk. Dia keluar dari ruangan Richard dengan lemas. Bagaimana bisa orang sehat seperti ibunya tiba-tiba sakit parah. Dia duduk lemas. Tak mempedulikan yang lain. Airin memikirkan ibunya yang terbaring lemas. "Bagaimana? Apa kata dokter?" tanya Linda mendekat. Dia terlihat khawatir. Pasalnya Linda adalah orang yang paling dekat dengan Hilda di komplek perumahannya. _____ Di perusahaan. Danil terdiam. Setelah tadi menerima telepon dari Arga. "Kenapa harus Pak Arga langsung?" tanyanya. Semua anak buah yang sudah di mejanya kini tengah menatap dirinya. "Kenapa Airin nggak masuk, harus Pak Arga yang memintakan ijin?" tanya Danil bingung. "Mungkin mereka tetangga," celetuk Gustav. "Atau mereka tadi ketemu di jalan?" Jessi mencari jawaban. Danil menggeleng cepat. "Pasti ada apa-apa, nih!" Dia berasumsi. "Semoga cepat sembuh saja, buat ibunya Kak Airin." Diandra menimpali. Jessi mengangguk dan disusul oleh yang lain. "Nanti pulang kerja, kita ke sana aja. Sekalian perkenalan," kata Gustav. "Boleh, boleh," jawab Danil. Yang lain juga setuju dengan usulan Gustav. Airin duduk terdiam di ruang tunggu. Dia meminta Linda untuk pulang. Tak lupa berterima kasih sudah membantu. Bagaimana jika tadi Linda tak datang dan ibunya masih tergeletak di lantai. Arga mengambil posisi duduk di samping Airin. "Kenapa kamu nggak ke kantor?" tanya Airin lemah. Yang biasanya dia kesal melihat Arga, entah kenapa hari itu sangat berterima kasih. "Dan kenapa kamu ada di rumahku sepagi itu?" tanya Airin lagi. "Aku berniat mau jemput kamu, tapi malah kamu udah berangkat." Arga menjelaskan. "Lain kali jangan seperti itu," ujarnya. "Maaf," kata Arga menyesal. Keduanya terdiam. Hanyut dengan perasaan masing-masing. Pasalnya, baru kali ini pertemuan mereka yang tak menguras amarah, sejak pertemuannya kembali. "Dulu aku benar-benar mencintai kamu," kata Airin. Hal itu membuat Arga menoleh. "Kamu baik, kamu cowok paling keren di sekolah. Beruntung nggak sih, dapatin kamu. Benar, dan aku beruntung," kata Airin. "Tapi, setelah perlakuan kamu ke Attar benar-benar menyebalkan, membuat aku kesal." "Maaf, waktu itu aku belum dewasa," kata Arga. "Aku nggak mau kamu tergoda sama cowok cupu itu," ucap Arga. "Nyatanya aku tergoda. Berawal dari rasa kasihan, dan akhirnya menjadi cinta." Airin berucap tegas. "Rin, aku bisa memulainya lagi dari awal," kata Arga. Airin tersenyum. "Sudah terlambat Ga," kata Airin. Keduanya kembali terdiam. Ruang tunggu sangat sepi. Bukan karena tak ada pengunjung hari itu. Tapi memang ruang ICU seringkali sepi tanpa penunggu. "Apa ibu kamu baik-baik, saja?" tanya Arga. Airi menggeleng kepala ragu. Belum juga dia bercerita. Ponsel Arga berdering. Arga mengambilnya dari saku celana. "Iya, Sal, jawab Arga. Ternyata Faisal yang menghubunginya. Sang sekretaris pribadi. "Pak, bukannya hari ini ada meeting jam sepuluh? Apa Bapak tidak ke kantor?" tanya Faisal. "Astaga. Aku akan ke kantor sekarang," ucap Arga. Panggilan terputus. Arga memasukan kembali ponselnya. "Maaf, aku harus ke kantor," ucap Arga. Airin mengangguk. "Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu." Arga berdiri. "Izinkan aku, buat temani kamu di rumah sakit. Karena pacar kamu pasti sangat sibuk," ucap Arga. Airin hanya terdiam. Setelah Arga benar-benar pergi. Airin hanya duduk terdiam. Dia mencoba menghubungi Brian, namun tak bisa. Memang kalau saat syuting, ponsel Brian selalu dimatikan atau dipegang oleh Desta atau Dava. Airin mencoba menghubungi Desta. Hasilnya nihil. Dia juga tak bisa dihubungi. Airin menghela napas. Dia sangat stress. Terlebih mengingat perkataan dokter tadi di ruangannya. "Mama, kenapa sakit nggak pernah bilang? Nggak pernah ngeluh, bahkan selalu terlihat kuat di depan aku," kata Airin. Dia menyesali, tak peka terhadap penyakit ibunya. Airin memejamkan matanya sebentar. Dia merenungi semua permasalahan hidupnya. "Mama," ucapnya lirih. Dia lantas menatap pintu ICU yang benar-benar hening. "Kenapa Mama nggak pernah bilang?" tanya Airin. Menjelang sore hari, kondisi ibunya tak juga sadar. Dokter sudah menyuntikkan obat untuk menaikkan kadar kalium di tubuhnya. Namun, tak ada perubahan. "Dok, apa Mama bisa selamat?" tanya Airin. "Dia nggak pernah ngeluh sakit, dia nggak pernah sakit parah, kenapa tiba-tiba begini?" lanjutnya. Dokter Richard yang baru saja keluar dari ICU hanya mengusap punggungnya. "Kamu yang sabar. Harus banyak berdoa," katanya datar. Arga ternyata datang lagi. Dia langsung menghampiri Airin setelah dokter itu pergi. "Bagaimana? Ada kemajuan?" tanya Arga. Airin menggelengkan kepala. Arga tak tinggal diam. Dia menelepon seseorang. Entah siapa yang dia hubungi. Airin tak ingin kepo. "Halo, Om." Arga mulai berbicara saat panggilannya di jawab. "Siapa dokter yang menangani?" tanya Arga pada Airin. "Dokter Richard," jawab Airin. "Om." Arga kembali berbicara di telepon. "Kenal Dokter Richard, dari Rumah Sakit Medical Nusantara?" tanya Arga. "Dokter Richard? Ah, iya." Orang diseberang menjawabnya dengan tegas. "Kenapa?" "Tanyakan pada dia. Apa pasien bernama Hilda bisa dibawa ke rumah sakit Om sekarang juga?" Arga terlihat panik. "Ga, ngga bisa. Harus ada prosedurnya!" Harris si pemilik rumah sakit terbesar dan terlengkap di Jakarta ini adalah paman Arga. "Om, please! Sekali ini saja, coba Om hubungi dia!" pintanya memohon. Arga adalah keponakan kesayangannya. Semua permintaan anak itu akan dapat dikabulkan jika memungkinkan. "Siapa dia?" tanya Harris. "Om, please!" Arga memohon. Jika Arga sudah memohon, sudah dipastikan itu adalah orang terpenting untuk hidupnya. "Oke," jawab Harris singkat. "Ga, apa maksud kamu?" tanya Airin. Setelah dia melihat Arga mengakhiri panggilannya. "Om aku, Dokter terbaik. Dia juga memiliki rumah sakit jauh lebih lengkap dari pada di sini. Kita pindahkan Ibumu ke sana, oke." Arga menjelaskan. "Tapi, Ga." Airin tak bisa berkata apa-apa. Dia terlalu pasrah. "Rin, kita harus berusaha. Apapun hasilnya nanti. Kita serahkan ke Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha." Arga meyakinkan. Beberapa menit berlalu. Richard kembali datang. Airin langsung menghampirinya sebelum dia sampai di pintu ICU. Begitu juga Arga. "Ada apa Dok?" tanya Airin. Alih-alih menjawab pertanyaan Airin, Richard menatap Arga, lalu kembali menatap Airin. "Berdoa lebih baik. Jangan khawatirkan takdir yang sudah digariskan." Richard berpesan. "Penyakit Ibumu ini memang tak bisa dirasakan. Hanya merasa lelah, seluruh badannya pegal, atau tulangnya sakit. Terlebih dia adalah penderita gula darah tinggi. Kita sudah semampu kita mengobati. Namun, Tuhan yang menentukan." Richard menjelaskan. "Dok, Apa Mama separah itu?" tanya Airin. Richard lagi-lagi mengusap punggungnya. "Temui Ibumu. Ajak dia bicara," kata Richard. Seketika Airin langsung lemas. Dia yakin, sang dokter sudah mengetahui kondisi ibunya. Air mata Airin menetes begitu saja. Dia menoleh ke arah Arga. Laki-laki itu hanya menguatkannya dengan sebuah ekspresi. "Tak apa," ucapnya tanpa suara. Airin masuk bersama sang dokter. Dokter pula mengijinkan Arga masuk. Airin menangis melihat kondisi ibunya. "Kenapa hanya satu hari bisa separah ini? Penyakit apa yang Mama sembunyiin dari aku?" tanya Airin lemah. Dia terisak. Richard hanya menyaksikan interaksi Airin dengan Hilda. Arga merasa iba. Dia terus-menerus mengusap punggung Airin. Bermaksud menguatkan wanita itu. "Ma, kenapa tiba-tiba Mama seperti, kata Mama tadi pagi nggak apa-apa. Katanya cuma pusing, cuma butuh istirahat," kata Airin terbata. Suaranya bergetar hebat. Air mata semakin deras mengalir. "Bangun Ma," ucap Airin semakin melemah. "Ayo, ngomel lagi. Bakal Airin dengerin. Cerita lagi, bakal Airin dengerin. Airin udah masuk TV lagi, itu Mama seneng banget, kan? Mama bisa cerita ke temen-temen Mama, kalau anak Mama masuk TV." Airin terisak. Terlihat air mata Hilda menetes dari sudut matanya. "Please bangun, Ma." Airin memohon. "Alloh, Alloh," ucap Hilda nyaris tak terdengar. "Ma," kata Airin. Dia panik. Richard melihat tanda-tanda aneh. Dia segera bertindak. Richard menekan tombol untuk memanggil suster atau dokter lain. Tak lama dua orang suster datang. "Sepertinya tubuh pasien tidak bisa menerima obat itu," kata Richard panik. "Lalu bagaimana, Dok?" Airin semakin ketakutan. Arga menarik lengan Airin agar dia mundur. "Biar Dokter yang tangani," katanya. Tujuannya menarik lengan Airin agar dia tak mengganggu jalannya pengobatan yang dilakukan suster atau dokter. "Kakinya sudah dingin," kata seorang suster panik. Richard memeriksa anggota tubuh lain. "AED (Automated External Defibrillator)," ujar Richard. Dua orang suster itu segera menyerat meja roda yang berisi alat medis untuk mengejutkan detak jantung. Didekatkannya dengan Richard. Sang dokter mulai beraksi dengan mengambil alat itu. Airin semakin tak kuasa melihat ibunya seperti itu. Beberapa kali Richard menempelkannya di area d**a Hilda namun tak ada perubahan. Setelah tiga kali, Richard berhenti. Dia menggelengkan kepala pelan. "Maaf," ucap Richard lemah. Wajahnya penuh keringat. Melakukan PCR pada pasien tidaklah mudah. Airin terduduk lemas. Dia menangis sejadi-jadinya. Dua suster tadi membagi tugas. Satu mencopot alat yang terpasang pada tubuh Hilda. Satu lagi menggeser meja alat medis tadi. Arga ikut berjongkok menenangkan Airin. Arga memeluk Airin erat. Sampai akhirnya Airin tak sadarkan diri. Dia segera membawa Airin di atas brangkar. Richard turut menyadarkannya. Tubuh Hilda sudah tertutup rapat. Arga menangis iba. Seperti gambaran untuk dirinya jika suatu saat nanti dia kehilangan orang yang dia sayangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN