Episode 51

1250 Kata
Rumah duka Airin didatangi banyak pelayat. Mulai dari tetangga dan rekan kantornya. Ken yang mendengar kabar itu juga langsung meluncur ke kediaman Airin. Airin memutuskan untuk mengebumikan ibunya keesokan hari. Arga terus berada di samping Airin. Saat Ken datang. Airin langsung berhambur memeluk Ken. Dia menangis sejadi-jadinya. Ken juga tak bisa menahan kesedihannya. "Ken, Mama." Suara Airin bergetar hebat. Ken mencoba kuat. Dia memeluk Airin erat dan mengusap punggung perempuan itu. "Masih ada aku," kata Ken. "Masih ada Mama aku, dan masih ada Kirana," katanya lagi. Airin memeluk Herlin saat dia datang. Wanita paruh baya itu menangis. Saking dekatnya Airin dan Ken, membuat kedua ibu mereka juga dekat. Bahkan mereka selalu menginginkan jika Ken dan Airin menjadi sepasang suami istri. Airin duduk terdiam di depan keranda yang sudah tertutup rapat. Tetangga yang lain ikut menemani dan melantunkan ayat suci Alquran. Ken tak melihat keberadaan Brian dan Desta di sana. Hingga waktu menjelang larut. Ken yang duduk di samping Airin, menarik tubuhnya ke belakang, hanya untuk bertanya pada Arga yang duduk di samping kanan Airin. "Maaf, apa kamu teman Airin?" tanya Ken. Dia sedari tadi memperhatikan Arga juga sangat sedih. Terlebih selalu di samping Airin, sesekali mengusap punggung Airin saat dia kembali menangis. "Ada apa?" tanya Arga. "Enggak," jawab Ken mencoba tersenyum canggung. Ken menghela napas. Lantas dia memberanikan diri bertanya pada Airin. "Apa Brian udah tau?" tanya Ken sedikit berbisik. Airin menggelengkan kepala pelan tanpa menoleh. Ken mengembuskan napas berat. Dia memutuskan untuk pergi. Di luar Ken mencoba menghubungi Desta. Tak ada jawaban. Beberapa kali dia mencoba menghubunginya. "Kenapa? Ada apa?" tanya Desta tanpa basa-basi begitu menjawab panggilan Ken. "Des, Brian mana?" tanya Ken. "Brian? Ada, mau apa?" tanya Desta. "Kita baru mau pulang," katanya lagi. "Nyokap Airin meninggal dunia," kata Ken. "Innalilahi wa Innailaihi Rojiun," kata Desta. "Oke, oke, kita segera ke sana." Desta tampak panik. Brian yang duduk di kursi penumpang belakang hanya heran. Penasaran siapa penelepon yang menghubungi Desta. "Siapa?" tanya Dava yang sudah duduk di samping Desta. "Nyokapnya Airin meninggal dunia," kata Desta. Brian sangat terkejut. Dia segera meminta Desta melajukan mobilnya. Brian meminta ponselnya yang masih disimpan oleh Dava. "Kak, ponsel aku mana?" pinta Brian. Segera Dava mengeluarkan barang canggih itu dari tas yang dia bawa. Brian segera mengaktifkan ponsel miliknya. Dia merasa sangat menyesal tak ada di samping Airin saat dia sedang tertimpa musibah. Satu persatu pesan masuk dari Airin. Panggilan tak terjawab juga sangat banyak di sana. Brian membaca pesan Airin. -Yan, Mama masuk rumah sakit- -Yan, aku takut. Dokter bilang Mama parah- -Yan, Dokter bilang aku harus banyak berdoa, aku semakin takut- -Yan, Mama udah nggak ada- Brian menangis. Dia merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Airin. Dia tak ada di sana ketika kegundahan hati Airin merasukinya. Ketika Airin ketakutan, dia tak bisa menjaganya. Brian menutup matanya. "Maafin aku," kata Brian. Dari lokasi syuting hingga ke kediaman Airin memakan waktu hingga satu setengah jam. Brian sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja hitam. Memang stok pakaian di mobilnya sudah seperti lemari baju. Lengkap, dan juga tertata rapi. Dava dan Desta hanya sampai teras rumah. Mereka memilih duduk bersama para tetangga Airin yang sedang mengaji. Brian langsung masuk, dia sampai melewati beberapa orang hingga sampai di samping Ken. Setelah menyadari kedatangan Brian. Ken berpindah tempat. Sehingga kini dia ada di samping Airin. "Maafin aku," kata Brian sedikit berbisik. Airin terkejut. Dia menoleh. Sisa air matanya masih membasahi pipi. Dia mengangguk lemah. Brian merasa sangat iba. Malam itu Brian memutuskan untuk tetap bersama Airin. Dia tak menghiraukan keberadaan Arga di dekatnya. Yang saat ini dia pikirkan adalah hati Airin. Airin tak mau beranjak dari tempatnya duduk. Dia terus menatap kosong keranda yang sudah tertutup kain berwarna hijau itu. "Rin. Kamu belum istirahat dari pagi, sebaiknya kamu istirahat," ujar Arga. Airin menggeleng lemah. "Setidaknya kamu makan," kata Arga lagi. Airin lagi-lagi menggelengkan kepala. Airin terus menangis sepanjang malam. Pagi harinya, Faisal datang. Dia mengatakan bahwa makam untuk mendiang ibunya Airin sudah siap. "Semuanya sudah siap," kata Arga. Dia memang memerintahkan pada sekretaris pribadinya untuk mengurusi semua pemakaman Hilda. Airin mengangguk. Faisal juga mengatakan kepada ustadz setempat. Agar memandu jalannya pemakaman. "Baiklah, karena jenazah harus segera dikebumikan. Kita bawa ke masjid dulu, untuk disholatkan." Ustad itu memberi arahan. Ken, Arga, Desta, dan Brian turut serta mengangkat keranda jenazah Hilda. Tangis Airin terus mengiringi langkah para jamaah menuju masjid. Herlin juga turut mendampingi Airin sekarang. Dia memang semalam pulang, dan kembali lagi saat jenazah akan dibawa ke masjid terdekat. Prosesi pemakaman berlangsung histeris. Airin benar-benar seperti orang kesurupan. Herlin terus memeluknya, menenangkannya. Ken yang juga tak kuasa menahan kesedihannya, hanya bisa memeluk Airin erat. "Ada aku, ada Mama," ucapnya. "Please, jangan menangis seperti itu," ucapnya. Dia tak tega melihat Airin seperti itu. "Ken, Mama." Suara Airin bergetar. Ken memeluk Airin erat. Hubungannya dengan Hilda juga sangat dekat. Dia merasa sangat kehilangan. Nyatanya Brian hanya bisa melihat pemandangan di depannya, tanpa cemburu. Dia mengerti perasaan Airin. Setelah Hilda dimakamkan, semua orang pergi kecuali Airin dan teman-temannya. Desta dan Arga hanya terdiam di belakang. Sedangkan Ken masih bersama Airin. Hingga Brian juga ada di samping Airin. Airin masih meratapi batu nisan Hilda. "Ma!" ucap Airin lemah. "Kenapa Mama ninggalin aku begitu cepat?" tanyanya. Dia terus terisak. Brian mencoba menenangkan Airin dengan mengusap punggungnya. "Rin, kamu harus ikhlas. Mama pasti bahagia di sana," kata Ken. "Banyak orang masih sayang sama kamu," kata Ken lagi. Airin hanya terus menangis. Keadaan Airin sangat lemas. Dia bahkan tak bisa berkata banyak. Hanya merespon ucapan orang-orang dengan gerak tubuh. Kematian Hilda yang sangat mendadak membuat dia sangat terpukul. Terkejut, dan benar-benar instan. Airin duduk terdiam di rumahnya. Kini Ken yang sibuk di dapur membuatkan minum untuk tamu Airin. Arga dan Desta masih duduk berdua di teras. Sedangkan Brian menemani Airin. "Maafkan aku, aku tak menjawab langsung panggilanmu kemarin," kata Brian menyesal. Airin mengangguk lemah. "Tak apa," jawabnya lirih. Ken datang dengan lima gelas teh manis. "Des, masuk dulu," ujar Ken memerintahkan. Otomatis Desta mengajak Arga juga ikut masuk. "Rin, sebaiknya kamu istirahat. Daripada nanti kamu malah sakit," kata Arga menyarankan. Airin menggelengkan kepala pelan. "Iya, Rin. Lebih baik kamu beristirahat," kata Brian. Lagi-lagi Airin menggelengkan kepala. "Yan!" panggil Desta lirih. Dia mengisyaratkan tentang jam. Dia menunjuk lengannya tepat di atas jam tangan. Brian mengangguk. Itu artinya Brian harus segera kembali syuting. "Rin, aku harus kembali syuting. Maaf," ujar Brian tak enak hati. Airin mengangguk mengiyakan. Desta pun turut pamit beserta Brian. Setelah keduanya pergi. Tinggallah Airin, Ken dan Arga. "Rin, kamu istirahat, ya. Please, jangan siksa diri kamu seperti itu," ucap Ken. Arga mengangguk setuju. Airin mengangguk. Ken mengantarnya sampai tempat tidur. Dunia Airin seolah hancur hari itu. Dia begitu kehilangan Hilda. "Aku ada di bawah. Kalau butuh apa-apa panggil aja," kata Ken. Setelah sampai di depan pintu kamar Airin. Airin lagi-lagi mengangguk. Ken menemani Arga di bawah. "Sepertinya kamu juga butuh istirahat," kata Ken. Dia melihat Arga sangat lelah. Sudah pasti, karena Arga juga tak pulang sedari kemarin. "Apa kamu teman Airin?" tanya Arga ragu. Ken mengangguk. "Benar, aku Ken." Dia memperkenalkan diri. "Aku Arga," ucapnya. "Arga? Sepertinya kita pernah ketemu," ucap Ken. Setelah mengingat. "Ah, CEO TNT?" Ken mengingat semua. Arga tersenyum tipis. Dia mengangguk. "Maaf, aku lagi kacau banget. Jadi nggak inget kalau kita pernah ketemu," kata Ken. "Bukan pernah ketemu, tapi aku pernah liat kamu," ucapnya lagi. Arga mengangguk. "Kamu pasti dekat banget sama Airin?" tanya Arga penasaran. Ken mengangguk. "Sudah seperti saudara," kata Ken. "Wah, beruntung sekali bisa sedekat itu dengan dia." Arga tersenyum. Ken mencoba mencerna ucapan Arga. Dia mengerutkan kening.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN