Episode 52

1635 Kata
Satu minggu kemudian ... Airin sudah mulai kembali bekerja. Dia tak mungkin terus-menerus meratapi kepergian Hilda. Memang dunia dia seakan hancur waktu itu. Namun, dia masih memiliki masa depan yang harus dia capai. Kepergian Hilda mengubah hidup Airin. Sebatang kara yang harus mandiri dan kuat. Memang Airin masih memiliki bibi dan paman, namun kehidupan mereka jauh ada di kota Makassar. Waktu kematian Hilda pun, mereka tak bisa datang karena faktor ekonomi. Airin memakluminya. Airin berjalan menuju ruangannya. Dia disambut oleh para tim di divisi nya. Tujuannya hanya memberikan semangat Airin. Dia tersenyum saat semua tim ternyata datang lebih pagi darinya. Terlebih saat mereka memberikan kejutan berupa sarapan bersama yang sudah sengaja dipersiapkan. Jessi berhambur memeluk Airin manja. "Aku kangen banget," ucapnya. Walau Jessi anaknya rada lebay, namun dia sangat serius dalam hal pekerjaan. Airin mengusap tangan Jessi dan tersenyum. "Wah, kita sudah seperti sangat dekat, ya." Danil membuka suara. "Ayo! Kita santap sarapan pagi ini," kata Danil. Yang lain menyerbu dengan semangat. Airin duduk bersebelahan dengan Jessi, dan Gustav. Dia memakan nasi kuning khas Betawi. "Enak kan Rin?" tanya Danil. Airi. Mengangguk dan tersenyum. "Tapi, aku penasaran akan satu hal," kata Jessi tiba-tiba. Membuat semua orang mengarah padanya. "Apa?" tanya Gustav penuh selidik. "Hubungan antara Kak Airin dan Bos," kata Jessi. "Jessi!" pekik Danil. Membuat semua orang tertawa. Jessi sangat berani mengungkapkan hal-hal sensitive. Namun, demikian menambah keakraban diantara mereka. Airin mulai menjawab setelah suapan terakhir di mulutnya habis. "Apa perlu aku jawab?" tanya Airin. Membuat semua orang mengangguk cepat. Airin tertawa kecil. "Aku pun penasaran, kenapa Bos ada di sana? Kenapa Bos juga yang minta Izin ke Pak Danil, dan ..." Gustav mulai mengekspresikan rasa penasarannya. "Jadi, dia itu teman sekolahku dulu," kata Airin. Semua orang terkejut. "Serius!" Dijawab kompak oleh semua orang. Airin mengangguk. "Dan kalian ketemu dengan nasib yang berbeda? Antara Bos sama karyawannya?" Jessi tak percaya. "Udah kayak sinetron," cakapnya. Airin tersenyum. "Ah, iya. Aku juga menemukan kejanggalan," kata Gustav mengangkat tangan. Kini semua orang mengarah padanya. "Dan kenapa ada artis Brian di sana juga? Sepertinya seorang wartawan tak semuanya dekat dengan artis, bahkan hal yang langka," ujar Gustav. Airin tersenyum lagi. "Dia juga teman sekolahku," jawabnya datar. Rasa penasaran mereka terjawab sudah. "Tapi, bukan berarti kamu adalah teman Pak Arga, dan kamu akan bekerja seenaknya ya," kata Danil. Airin menoleh dan menggelengkan kepala. "Enggak, lah. Aku harus profesional." Airin tersenyum. "Asal kalian tau, aku juga menghindari dia," kata Airin berbisik. "Aku denger, lho!" Tiba-tiba sosok Arga sudah berada di belakang Airin. Padahal Danil, Henry, dan Mila melihat Arga masuk. Tapi, Arga dengan sigap mengisyaratkan pada mereka untuk tetap tenang dan diam. "Arga!" ucap Airin spontan. "Oh, Maaf." Airin sadar keberadaanya sekarang ada di kantor. "Pak Arga," ujarnya ragu. Membuat Arga tersenyum. "Kayaknya enak banget, piknik di dalam kantor," kata Arga. "Maaf, Pak. Kita akan bereskan semuanya sekarang," ujar Danil segera bangkit. "Enggak, enggak. Nggak masalah." Arga berucap. Danil kembali duduk, setelah Arga memerintahkannya. "Oh ya, Pak Danil, nanti ke ruangan saya, oke." Arga kembali ke luar. Dia menghilang lagi dari balik pintu. Rasa khawatir Danil muncul. Anggota tim yang lain juga turut khawatir. "Ada apa? Apa gara-gara ini?" tanya Jessi. Diangguki oleh anggota lain. Danil mulai panik. Dia mengembuskan napas berat. Anggota yang lain mulai ikut khawatir. "Bereskan!" perintahnya datar. Dia lantas bangun dan menuju ruangan Arga yang berada di lantai lima. Berkali-kali meneguk saliva. Setelah sampai, dia menarik napas terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu. "Benar, jika aku dipecat, aku harus terima." Danil pesimis. Tok... Tok... Tok... "Masuk!" perintah Arga. Suaranya saja membuat jantung Danil berdesir. Daniel perlahan membuka pintunya. Ternyata Arga tak sendiri. Dia bersama Faisal, sang sekretaris pribadi. "Pagi, Pak." Danil menyapa sopan. Padahal belum waktunya bel masuk. "Ya sudah, saya segera ke lobi," kata Faisal. Arga mengangguk. "Lha, kan belum bel. Ngapain ke sini?" tanya Arga. Faisal baru saja menghilang dari balik pintu. "Ah, maaf. Aku pikir, harus langsung ke sini," kata Danil gugup. Arga tersenyum. "Nggak apa-apa," jawabnya tiba-tiba. Hal itu sontak membuat Danil bingung. Kenapa Arga tersenyum, dan kenapa pula jawabannya seperti itu. "Makasih, ya. Sudah menyambut Airin dengan baik," kata Arga. "Apa?" Danil benar-benar bingung. "Walaupun hal tadi, makan di dalam ruangan kerja secara bersama-sama tidak dibenarkan. Tapi, kali ini saya maafkan," kata Arga. "Serius, Pak?" Danil tak percaya. Arga mengangguk. Ada peraturan yang mengatakan bahwa tuangan kerja tak boleh digunakan untuk makan bersama-sama, karaoke, atau untuk hal-hal yang mengganggu pekerjaan orang lain. Tapi, dibolehkan hanya untuk minum di meja masing-masing. "Terima kasih, sudah membuat Airin tersenyum, menyambut dia dengan baik, dan teruslah seperti itu." Arga berucap. Danil tersenyum. "Arga mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya yang diambil dari saku celana. "Ini, traktir semua anggota tim kamu makan malam," kata Arga menyodorkan kartu itu di atas meja. Danil benar-benar terkejut lagi. "Tapi, Pak." Dia ingin menolak. "Bawa mereka makan sampai kenyang nanti," kata Arga. Danil mau tak mau menerimanya. "Bagaimana jika Bapak juga ikut nanti?" tanya Danil. "Saya?" tanya Arga. Danil mengangguk cepat. Lalu dia tersenyum. "Lihat saja nanti," kata Arga. "Kembalilah, dan bekerja." Arga memerintahkannya. Danil mengangguk dan pergi membawa kartu kredit milik Arga. Dia tersenyum lega. Dia pikir akan dimarahinya habis-habisan karena melanggar peraturan. Danil berjalan kembali, kali ini dia menuruni anak tangga dengan cepat. Tidak seperti tadi, yang menyeret langkahnya karena rasa khawatir. Semua anggota sudah menunggunya, termasuk Airin. Mereka kepo. Jika ekspresi Danil murung, sudah pasti dia dimarahi. Namun, yang terjadi sebaliknya. Danil tersenyum lebar saat membuka pintu. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang baik," kata Gustav penasaran. Danil mengangguk cepat. Dia mengangkat kartu kredit milik Arga. "Kita ditraktir makan, dan karaoke malam ini!" ujarnya antusias. "Serius?" Jawaban itu berhasil kompak keluar dari mulut para anggota. Danil mengangguk cepat. "Kok bisa?" tanya Airin lirih. Semua orang bersorak kegirangan, kecuali Airin. Setelah bel masuk. Mereka sudah sibuk di depan komputernya masing-masing. "Oh ya, hari ini kita akan Kita akan ke gedung DPR. Kita akan meliput para demonstran di sana," kata Danil. "Gustav, Jessi, dan Henry bisa berangkat, kan?" tanya Danil. "Siap, Pak!" Ketiganya menjawab dengan kompak. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya. Jessi, Gustav, dan Henry pergi dengan menggunakan mobil perusahaan. Ada dua mobil yang diberangkatkan. Bukan hanya dari divisi Hot News melainkan, ada dua divisi yang dikirim, serta maintenance untuk berjaga. Sedangkan anggota lain seperti biasa bekerja. Mereka membuat berita ter-update untuk minggu ini. Airin sangat fokus pada pekerjaannya. Danil juga sibuk dengan telepon dan laptop di depannya. Dia selalu sibuk. "Ada yang mau kopi? Aku mau ke pantry sekarang," kata Mila sambil berdiri. Airin mengangkat tangan, dengan isyarat mau. Sedangkan Danil yang tengah berbicara di telepon, melambaikan tangan dengan arti tidak. "Oke," kata Mila. Dia pun keluar ruangan. Tak lama Mila keluar, Arga masuk. Dia melihat ruangan itu begitu sepi. Melihat kedatangan Arga. Danil segera berdiri dan membungkukkan sedikit badannya tanda hormat. Airin menghela napas. Melihat Arga kini mendekat ke arahnya. "Bisa ke ruangan saya?" tanya Arga pada Airin. "Tapi ..." Airin menolak, dia menoleh ke arah Danil. Melihat Danil hanya menganggukkan kepala, Airin akhirnya setuju. "Oke," jawabnya lemah. Arga tersenyum. Dia lantas pergi. Airin mengembuskan napas kasar selepas kepergian Arga. "Kenapa?" tanya Danil. "Aku malas, dia seenaknya banget!" kata Airin. Danil tersenyum. "Sepertinya hubungan kalian nggak baik," tebak Danil. Airin hanya mengedikkan bahu. "Kenapa? Apa karena dulu ..." Ucapan Danil terhenti ketika Airin mengangguk. Seolah tahu apa yang akan dikatakan Airin. "Benar, kita adalah mantan kekasih," kata Airin malas. Danil terkejut, dia membulatkan dua bola matanya sempurna. "Serius?" tanyanya. Airin mengangguk. "Udah ah, mau ke ruangan dia. Sebelum nanti berubah pikiran," kata Airin berlalu. Danil tersenyum. "Pantas saja, Pak Arga kayak perhatian gitu," kata Danil melihat Airin keluar. Airin dengan malas menaiki anak tangga. Sampai dia menghitung jumlah anak tangga itu. Terlihat sangat berat untuk dia naik ke atas. Sampai di lantai di mana ruangan Arga berada. Airin mengembuskan napas berat. Elevator di perusahaan itu hanya digunakan untuk orang penting. Seperti tamu, para management dan direktur utama. Airin yang seorang karyawan biasa hanya diperbolehkan menggunakan tangga. Airin mengetuk pintu ruangan itu dua kali. "Masuk!" teriak Arga dari dalam. Airin masuk dan melihat Arga tengah duduk di sofa. "Duduk!" perintahnya. Airin gaya menurut. Dia mengambil posisi duduk di depan Arga. "Ada apa?" tanya Airin datar. "Ga, please! Jangan seenaknya gini manggil aku ke kantor kamu," kata Airin memohon. "Apa? tanya Arga. "Kenapa? Aku hanya ingin mengatakan sesuatu," jawab Arga santai. "Apa?" tanya Airin. "Ken." Arga mengucap nama Ken. Airin bingung, mengerutkan kening untuk mengekspresikan rasa bingungnya. "Ken? Kenapa?" tanya Airin. "Aku ingin bekerja dengan dia," kata Arga. "Apa?" tanya Airin tak percaya. "Kenapa harus Ken?" tanyanya lagi. "Dia yang memegang kendali atas Secret, bukan? Aku melihat profil dia. Cukup menarik, kompeten, dan kreativ. Aku suka, aku ingin dia bekerja denganku di sini," kata Arga. Airin tersenyum tipis. "Lalu kenapa kamu bilangnya sama aku? Ngomong langsung aja sama dia!" kata Airin. "Aku bukan juru bicara dia, aku bukan manager dia, dan aku nggak bisa ngerayu dia," kata Airin tegas. "Tapi kamu satu-satunya orang yang selalu dituruti sama dia. Satu-satunya orang yang selalu nomor satu buat dia, dan satu-satunya orang yang selalu ada di hati dia," kata Arga. "Apa? Ga, seberapa jauh kamu mengikuti kehidupanku?" tanya Airin. "Aku makin nggak nyaman dekat sama kamu," kata Airin kesal. "Aku nggak mengikuti kehidupan kamu terlalu jauh. Bukankah, waktu itu sudah terlihat, perlakuan dia sama kamu seperti apa. Bukan iba, tapi sayang," kata Arga. "Dan semua itu bukan urusan kamu!" kata Airin. "Rin!" Arga kini mulai kesal. Dia menahannya. "Oke, maaf." Arga menyesal sudah berbicara dengan nada tinggi. "Aku mau kamu bujuk dia." Arga memohon. "Please," pintanya. Airin terdiam. "TNT butuh dia! Kita bisa dongkrak popularitas kita jika bekerja dengan dia," ucap Arga. "Akan aku pikirkan," kata Airin. Dia beranjak dari duduknya. Namun, mengurungkan niatnya untuk melangkah. "Dan satu lagi. Jangan meng-anak emaskan Good News, karena adanya aku di sana," kata Airin lalu pergi meninggalkan ruangan Arga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN