Malam itu Danil benar-benar mengajak timnya untuk makan malam, dengan menggunakan kartu kredit dari Arga. Mau tak mau, Airin pun ikut.
Airin meminta Danil merahasiakan bahwa dia dan Arga adalah mantan kekasih. Dia tak ingin membuat berita heboh sepihak di perusahaan. Apalagi dengan pesona Arga yang sekarang, menjadi pusat perhatian semua karyawannya. Di elo-elo kan oleh semua karyawan perempuan.
"Andai saja, setiap hari ditraktir makan begini," kata Jessi. Dia tengah menikmati panggangan daging yang sedang Gustav panggang di atas meja.
"Kalau setiap hari namanya nggak ditraktir, tapi minta," kata Henry. Membuat semua orang tertawa.
Mereka menikmati semua makanan yang ada di atas meja dengan lahap. Maklum lah, orang-orang lelah bekerja dan perut mereka kosong. Walaupun hanya diisi air. Tapi, di negara ini, jika bum makan nasi, berarti ya belum makan, seperti itu istilahnya.
"Lalu, apakah Pak Arga akan datang?" tanya Jessi. Semua orang kini mengarah pada Danil. Danil yang merasa tengah ditatap anggota timnya hanya menjawab singkat.
"Mungkin," katanya. Jawaban itu hanya membuat mereka semakin penasaran. Berbagai pertanyaan kembali mereka lempar, rasa penasarannya sudah membuncah karena Arga belum juga datang. Berbeda dengan Airin, dia hanya menikmati makanan yang ada di atas meja dengan santai.
"Itu dia!" Jessi melihat sosok Arga masuk. Yang lain ikut mengarah pada tatap mata Jessi. Airin juga ikut menoleh.
"Ah iya," ucapan itu keluar dari mulut Mila.
"Wah, Bos besar datang," timpal Gustav.
"Sudah, sudah, kalian jaga sopan santun kalian," kata Danil. Mereka mengangguk. Danil melambaikan tangan.
Arga mendekat, dia menebar senyum yang membuat kaum hawa meleleh. Airin tak menyukai kedatangan dia.
"Wah, sepertinya kalian sangat menikmati," ucap Arga.
"Iya, Pak. Silakan Pak Arga juga makan," kata Henry. Membuat Arga tersenyum.
"Dengar-dengar Pak Arga ini teman sekolah Kak Airin?" tanya Jessi polos.
"Jessi!" Dengan kompak Danil, Gustav, Henry, dan Mila mengatakan itu.
"Kenapa? Kan aku nanya," ucapnya lagi.
Arga tertawa kecil. "Iya, aku teman sekolah Airin," katanya jujur.
Airin hanya terdiam. Tak tersenyum, tak berekspresi.
"Rin, kayaknya kamu nggak suka dengan kedatanganku?" tanya Arga.
"Heh, mmm ..." Airin menjawab dengan ragu. "Bukan begitu," jawabnya. Dia tak mungkin berkata kasar atau bernada tinggi di depan teman-temannya.
Arga tersenyum. "Oh ya, waktu meeting kemarin, Good News berhasil menjadi nomer satu. Karena pekerjaan kalian bagus, dan teraktual," kata Arga.
Semua orang bersorak kegirangan. Mereka terlihat bahagia.
"Makanya malam ini aku traktir kalian makan," ucap Arga. Airin terkejut. Dia terlalu percaya diri saat mengatakan 'meng-anak emaskan Good News'.
"Jadi, Pak Arga traktir ini karena kita nomer satu? Wah, kita harus ekstra kerja keras nih, biar ditraktir terus," ujar Jessi sekenanya. Membuat semua orang tertawa.
Acara makan malam berlangsung dengan hikmat. Semua orang menikmatinya. Airin yang tadinya kesal dengan kedatangan Arga, kini mulai luluh dengan candaan Jessi yang membuat semua orang tertawa karena kepolosannya.
Kini saatnya pulang. Airin bergegas untuk pulang. Dia tak ingin Arga mengantarnya.
"Aku duluan," kaya Airin.
"Lho, Kak. Nggak bareng aja?" tanya Jessi. "Daerah sini susah dapet bis." Jessi menjelaskan. "Halte juga jauh banget!" jelasnya.
"Tak apa, aku juga akan berjalan-jalan. Sekalian ada perlu mumpung ada di sini," kata Airin beralasan.
"Aku duluan, ya." Airin benar-benar pergi. Arga seperti tahu maksud dari Airin. Jika Airin tak ingin bersama dengan dirinya.
Satu per satu mereka pulang. Mila dijemput oleh ayahnya. Jessi menumpang pada Gustav karena memang rumah mereka searah. Sedangkan Henry menggunakan motor kesayangannya. Danil yang hanya menggunakan mobil sendiri.
"Pak Arga bawa mobil?" tanya Danil.
Arga mengangguk cepat.
"Terima kasih, Pak." Semua orang mengucapkan hal yang sama. Arga mengangguk dan mengulas senyum manis.
Setelah semua orang pergi, Arga tak menuju mobilnya. Namun, dia memilih untuk berjalan.
Dia berjalan di belakang Airin, jaraknya lumayan jauh. Namun, dengan jelas matanya masih bisa melihat Airin.
"Kenapa kamu suka banget jalan kayak gini?" tanya Arga. "Ini adalah cara kamu menghindari aku, dan itu udah dari dulu," kata Arga.
Matanya terus menatap punggung Airin. Dia ingin berjalan bersama, namun akan membuat Airin semakin kesal melihatnya.
"Rin, aku bisa memulai dari awal," ucap Arga.
Tibalah Airin di sebuah halte. Dia duduk di sana tanpa melakukan apapun. Membuat Arga semakin bingung. Satu bus datang, tapi dia tak menaikinya. Arga mengerutkan kening.
"Apa dia baik-baik aja?" tanya Arga. Terlihat sangat jelas jika Airin sedang memikirkan sesuatu.
Arga pun memutuskan untuk mendekatinya. Hal itu membuat Airin terkejut.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Airin celingukan. Arga mengambil posisi duduk di samping Airin. Alih-alih menjawab pertanyaan Airin, Arga malah melempar pertanyaan kepadanya.
"Apa kamu baik-baik aja?" tanya Arga. "Kenapa memilih ke sini? Kenapa nggak pulang sama teman-teman mu tadi?" tanya Arga lagi. "Apa kamu menghindari ku?" Suaranya sangat lembut.
Airin menoleh. "Enggak," jawab Airin datar. "Aku cuma pengen berjalan kaki, sepertinya makanan tadi akan menambah jumlah kalori dalam tubuhku," ujarnya berasalan. Arga menggelengkan kepala pelan.
"Enggak. Kamu pasti menghindari ku," katanya.
Keduanya lantas terdiam. Airin menghela napas lirih.
"Aku malu," ucapnya tiba-tiba. "Terlalu percaya diri mengatakan hal itu sama kamu," katanya.
"Apa?" tanya Arga bingung.
"Aku pikir kamu meng-anak emaskan Good News karena ada aku. Nyatanya, kamu memberikan mereka hadiah karena mereka jadi nomer satu," ucap Airin. Arga tersenyum tipis.
"Itu juga hasil kerja keras kamu," ucap Arga.
Keduanya lantas terdiam. Sampai Airin membuka suara lagi.
"Untuk masalah Ken, aku akan bantu. Itu hanya untuk pekerjaan," katanya. Arga menoleh, dia mengangguk, bersemangat dan tersenyum.
"Serius?" tanya Arga. Airin mengangguk tanpa menoleh. Namun, sepertinya Airin memikirkan hal lain. Membuat Arga semakin penasaran.
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu yang lain? Apa ada masalah?" tanya Arga. Airin menggelengkan kepala pelan.
"Aku, tak mau memaksakan perasaan ini. Aku sadar, kamu nggak nyaman di dekat aku." Arga berbicara serius. "Maaf, tiba-tiba datang lagi di kehidupan kamu, yang sudah bahagia," katanya. Airin kini menoleh. Menatap Arga serius.
"Ada kamu, atau nggak ada kamu di perusahaan, itu nggak akan berpengaruh. Aku akan tetap menjalani peraturan yang sudah aku buat sendiri," kata Arga. Airin mengangguk. "Benar, aku mengikuti kehidupan kamu sejak kita lulus. Awalnya itu membuatku senang. Bisa tahu kehidupan cewek yang aku sayang. Tapi, penderitaan kamu membuat aku begitu sakit. Aku nggak bisa berbuat apa-apa, dan bodohnya aku mengabaikan itu," ucap Arga.
Airin hanya terus mendengarkannya. "Aku mengenal Ken sebagai partner kerja kamu. Aku tahu jika Brian adalah Attar. Tapi, hal itu tak membuat aku lantas menghancurkan hidup mereka." Arga berbicara.
"Aku ragu," ujar Airin tiba-tiba. Membuat Ken menghentikan ceritanya. Dia kini menatap mata Airin nanar.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Brian terlalu jauh buat aku gapai. Awalnya memang aku ragu jika perasaanku adalah rasa cinta. Tapi, saat dia meyakinkannya, aku percaya. Oke, ini adalah cinta. Tapi, sekarang, melihat kesibukan dia, melihat waktu dia untukku, dalam satu hari aku hanya mendapat pesan dua kali, saat terbangun, dan saat sudah terlelap," kata Airin.
Arga kini menatap Airin serius. Betapa pikirannya kacau dari hal-hal yang harusnya membuat dia bahagia.
"Aku makin ragu, dengan popularitas dia, sedangkan aku cuma jurnalis yang sedang kembali merangkak ke atas," ucapnya.
Arga tak bisa mengatakan apapun. Nyatanya memang seperti itu, dia tak bisa memberi saran.
"Rin, lebih baik fokus sama pekerjaan kamu dulu. Bukannya kamu pengen banget bekerja di perusahaan lagi. Ini kesempatan kamu buat jadi yang terbaik lagi. Dulu, kamu dipecat begitu aja, tapi tunjukan sama mereka kalau kamu bisa lebih baik dari waktu itu," kata Arga. Airin mengangguk.
"Lebih baik kita pulang. Udah malam juga, rawan buat perempuan masih di luar," kata Arga. Airin mengangguk.
"Karena nggak ada bus yang lewat, mending bareng aku," kata Arga. Dia ragu menawarkan. Tapi, mau gimana lagi, karena malam itu benar-benar tak ada bus lewat.
"Bukankah kamu juga jalan kaki?" tanya Airin. Arga tersenyum.
"Mobil aku, aku tinggal di depan restoran tadi," katanya.
"Jadi aku jalan lagi ke sana?" tanya Airin sedikit meledek. Arga mengedikkan bahu.
"Mau gimana lagi," katanya lalu tersenyum.
Kali ini mereka berjalan bersama.
"Aku sebenarnya nggak nyaman di samping kamu," kata Airin. Arga mengangguk mengerti. "Tapi, aku penasaran."
"Penasaran apa?" tanya Arga.
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Aku penasaran dengan sikap kamu yang sekarang, dan penasaran orang seperti apa kamu sekarang," kata Airin. Arga tersenyum.
"Aku nggak mau, dengan aku memaksa perasaan aku sendiri, kamu malah semakin jauh." Arga menjawabnya dengan jelas. "Aku, ingin kita tetap seperti ini walaupun menjadi teman," ujarnya lagi. Airin mengangguk perlahan.
Mereka sampai di mobil Arga yang masih terparkir di depan restoran. Arga membukakan pintu mobil untuk Airin, sebelum akhirnya dia berputar mengelilingi mobil dan masuk melalui pintu kemudi.
Arga melajukan mobilnya, meninggalkan jalanan itu yang sudah tampak sepi.
"Kamu tahu, apa yang aku lakukan setelah kita lulus?" tanya Arga. Airin menggelengkan kepala.
"Aku mengambil kuliah di Seoul. Aku dipaksa tinggal di sana. Yang lebih menariknya aku ketemu Attar di sana," kata Arga.
Airin terkejut. "Serius? Lalu?" Airin penasaran.
"Tentu saja aku nggak berani nemuin dia. Secara dia pindah lebih dulu dari aku, dia lebih berpengalaman di sana, teman dia lebih banyak," kata Arga. "Dia masih menjadi Attar, tapi dia sudah berubah. Lebih percaya diri," kata Arga. "Dan lagi-lagi aku hanya jadi penguntit. Aku mengikuti semua kegiatan dia."
"Jadi, dari awal kamu udah tahu dia?" tanya Airin. Arga mengangguk.
"Aku nggak ada hak buat ganggu dia lagi." Arga tersenyum. "Waktu itu aku belum dewasa, sampai akhirnya setelah aku berpikir, benar-benar keterlaluan aku," katanya.
Airin tersenyum. "Ternyata benar, sikap seseorang itu bisa berubah setelah dia dewasa," ucapnya. Arga mengangguk setuju.
Arga mengantar Airin pulang. Mereka mengobrol banyak. Sampai akhirnya sampai.
"Oke, jadi kita jadi teman sekarang?" tanya Arga. "Jangan pernah menghindar lagi di depanku," katanya. Airin tersenyum dan mengangguk.
"Thanks ya, udah antar aku pulang," kata Airin. Arga mengangguk.
"Ah, satu lagi. Kalau kamu butuh Tan curhat, aku bisa dengerin, semuanya!" ujarnya tegas. Airin kembali tersenyum dan lagi-lagi mengangguk.
"Aku pulang," ucap Airin. Arga melambaikan tangan.
Arga menatap Airin hingga masuk ke dalam rumahnya.
"Maafkan aku Rin. Oke, sekarang kita menjadi teman, tapi aku yakin suatu saat nanti, kamu bisa menerimaku lagi." Arga berucap sebelum benar-benar pergi.